NovelToon NovelToon
MY ALTER EGO

MY ALTER EGO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Wanita / Wanita Karir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: FantasiKuyy

Judul: My alter ego

Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.

Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Senyum Sang Predator

​Reza mematung di ambang pintu. Matanya bergerak bergantian menatap Hira dan Anita dengan ekspresi pias.

​Tangan pria itu masih mencengkeram gagang pintu dengan buku-buku jari yang memutih. Kemeja kusut yang tadi pagi dipertanyakannya kini terasa seperti mengikat lehernya sendiri.

​Hira menegakkan tubuhnya secara perlahan. Ia menarik tangannya dari atas meja kerja Anita dan merapikan lipatan roknya.

​{Pria pengecut. Wajahnya seperti baru melihat hantu di siang bolong.}

​"Masuklah, Reza," sapa Hira dengan nada datar. "Kenapa berdiri di sana? Bukankah kau mau memberikan laporan... mingguan?"

​Reza menelan ludah. Langkah kakinya terasa kaku saat ia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Matanya menghindari tatapan Hira, memilih menunduk menatap ujung sepatunya sendiri.

​"Hira... kamu sedang apa di sini?" suara Reza terdengar bergetar.

​"Bu Anita yang memanggilku," jawab Hira santai. Ia menoleh ke arah Anita yang masih setengah berdiri dari kursinya. "Beliau sangat peduli pada pernikahan kita. Beliau bahkan tahu betapa tertekannya kau melihatku bersedih belakangan ini."

​Anita menggertakkan giginya. Tangannya mengepal kuat di atas meja.

​"Cukup, Hira," desis Anita. "Keluar dari ruangan saya. Sekarang."

​Hira memiringkan kepalanya. Seringai tipis kembali menghiasi bibirnya yang dipulas lipstik merah gelap.

​"Tentu saja, Bu Anita. Saya permisi."

​Hira membalikkan badan dan berjalan menuju pintu. Saat ia melewati Reza, pria itu mengangkat tangannya, berniat menahan lengan Hira.

​Hira langsung menoleh. Matanya menatap tajam ke arah tangan Reza yang menggantung di udara. Sebuah peringatan bisu yang sangat mematikan.

​Reza buru-buru menarik tangannya kembali ke sisi tubuh. Ia menunduk semakin dalam.

​Hira memutar gagang pintu dan membukanya. Sebelum benar-benar melangkah keluar, ia menoleh kembali dari balik bahunya.

​"Oh, satu hal lagi untuk kalian berdua," ucap Hira pelan namun suaranya menggema jelas di ruangan luas itu. "Jika salah satu dari kalian mencoba menggangguku atau posisiku di kantor ini, aku pastikan seluruh dewan komisaris menerima pesan berisi foto sofa remang-remang itu."

​Mata Reza terbelalak lebar. Ia tersentak kaget dan langsung menatap Anita. Wajah Anita kini sepucat kertas, kehilangan seluruh sisa arogansinya.

​Tanpa menunggu jawaban, Hira melangkah keluar dan menutup pintu kayu ganda itu dengan rapat.

​Ketukan sepatu hak tinggi merah marunnya kembali menggema di lorong, meninggalkan dua orang yang kini terjebak dalam kepanikan mereka sendiri.

​{Bagus. Biarkan mereka saling menyalahkan di dalam sana. Kita punya target yang lebih besar sekarang.}

​Di sebuah gedung acara pertemuan bisnis elit, suara dentingan gelas kaca terdengar bersahutan.

​Teran Honigan duduk menyilang kaki di sebuah sofa kulit tunggal. Jas hitam yang membalut tubuh tinggi tegapnya dijahit dengan presisi sempurna. Wajahnya yang tegas dengan garis rahang tajam terlihat sangat datar.

​Matanya menatap lurus ke depan, sama sekali tidak memedulikan beberapa orang yang berdiri mengelilinginya.

​"Teran, perkenalkan. Ini Valencia. Putri dari Direktur Utama Grup Mahendra. Dia baru saja menyelesaikan gelar masternya di London," ucap seorang pria paruh baya berbaju abu-abu sambil tersenyum lebar.

​Di samping pria itu, seorang wanita bergaun merah tersenyum anggun. Wanita itu menunduk sedikit, mencoba mencari kontak mata dengan Teran.

​"Halo, Pak Teran. Saya sering mendengar tentang Anda," sapa Valencia dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin.

​Teran bahkan tidak menoleh sedikit pun. Tangannya hanya memutar pelan gelas air putih di genggamannya.

​{Membosankan. Kenapa orang-orang selalu membuang waktuku dengan wanita-wanita manja yang hanya tahu cara menghabiskan uang orang tua mereka?}

​"Terima kasih atas perkenalannya, Pak Mahendra," ucap Teran dengan suara rendah dan sangat dingin. "Tapi saya sedang tidak ingin berbasa-basi."

​Senyum di wajah Valencia langsung kaku. Pria paruh baya di sebelahnya terlihat salah tingkah.

​"Ah... b-begitu. Baik, kami tidak akan mengganggu waktu istirahat Anda, Pak Teran," ucap pria itu terbata-bata sebelum segera menarik Valencia menjauh.

​Teran meletakkan gelasnya di atas meja kecil. Ia menyandarkan kepalanya, merasa muak dengan acara ini. Sebagai CEO perusahaan induk, ia selalu menjadi incaran orang-orang yang ingin menjodohkan putri mereka.

​Bagi Teran, wanita-wanita itu tidak ada bedanya dengan manekin di etalase toko. Tidak ada yang setara dengannya. Tidak ada yang bisa mengimbangi jalan pikirannya.

​Seorang pria muda berkacamata bergegas mendekati sofa Teran. Ia adalah Leo, asisten pribadinya.

​"Pak Teran, maaf mengganggu," ucap Leo sambil menyodorkan sebuah tablet digital.

​Teran menatap layar tablet itu tanpa minat. "Ada apa?"

​"Ada kekacauan di salah satu anak perusahaan kita. Di kantor cabang yang dipimpin oleh Direktur Anita," jelas Leo cepat.

​Teran mengerutkan kening. "Anita? Wanita tidak kompeten itu membuat ulah apa lagi?"

​"Bukan Bu Anita, Pak. Ada seorang staf divisi pemasaran yang langsung mengirimkan email ke divisi audit internal pusat pagi ini."

​Jari Leo menggeser layar tablet tersebut.

​[Laporan Penyelewengan Dana Kampanye Digital - Divisi Pemasaran]

​"Staf ini membongkar korupsi yang dilakukan manajernya di depan seluruh karyawan saat rapat. Dia menyertakan bukti transfer dan kontrak fiktif," lanjut Leo.

​Teran mengambil tablet itu dari tangan Leo. Matanya membaca deretan angka dan penjelasan pada layar. Laporan itu disusun dengan sangat rapi, tajam, dan langsung menyerang titik kelemahan.

​"Berani sekali. Dia melewati hierarki perusahaannya sendiri," komentar Teran pelan.

​"Benar, Pak. Dan bukan hanya itu," Leo menekan sebuah tombol di tablet. Layar kini menampilkan sebuah rekaman CCTV tanpa suara dari lorong lantai direksi.

​"Beberapa menit setelah rapat itu, dia dipanggil ke ruangan Bu Anita. Tapi dia keluar dari sana dengan wajah seperti ini, sementara Direktur Anita terekam membatalkan semua jadwal rapatnya hari ini dan terlihat sangat panik."

​Teran menatap layar yang menampilkan rekaman tersebut.

​Di sana, ia melihat sosok seorang wanita berjalan keluar dari pintu ruang direktur. Postur wanita itu sangat tegak. Kemeja hitam dan rok pensilnya terlihat biasa, namun cara berjalannya mengisyaratkan dominasi absolut.

​Teran menekan layar, menghentikan video itu tepat saat wanita tersebut menoleh ke arah kamera CCTV di ujung lorong.

​Mata wanita di layar itu menatap tajam. Ada sebuah senyum miring yang sangat dingin di bibirnya.

​Teran terdiam. Matanya terkunci pada wajah di layar tablet itu.

​{Menarik. Sangat menarik. Dia sama sekali tidak terlihat ketakutan setelah mengacaukan seisi kantornya.}

​"Siapa namanya?" tanya Teran tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.

​Leo segera melihat catatan di ponselnya. "Hira Lione, Pak. Staf biasa di divisi pemasaran."

​Jari telunjuk Teran mengusap pelan layar tablet, tepat di wajah Hira. Rasa bosan yang sejak tadi menyelimutinya mendadak menguap tanpa sisa.

​Ujung bibir Teran perlahan tertarik ke atas. Sebuah senyum tertarik yang sangat jarang ia perlihatkan kini muncul dengan jelas.

​"Leo," ucap Teran pelan.

​"Ya, Pak Teran?"

​"Kosongkan jadwalku besok pagi." Teran meletakkan tablet itu di pangkuannya. "Aku akan melakukan sidak langsung ke kantor cabang Anita. Aku ingin melihat sendiri, seberapa jauh wanita bernama Hira Lione ini bisa membuat kekacauan."

1
Kustri
ayo UP lg💪
lg seru nih
Kustri
koq msh siang
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
Kustri
dilanjut bsk ra, sdh saat'a pulang
Kustri
cepet bgt hira dpt smua info penyelewengan🤔🤔🤔
kodammu luar biasa!
Kustri
💪💪💪thor
Kustri
👏👏👏
🤝
Kustri
vote u hira💪
Kustri
dgn senang hati kutrima tantanganmu presdir💪
Kustri
klo teran cenayang pasti bisa merasakan alter ego'a hira🤣
Kustri
☕dl hira.... semangat💪
Kustri
ketemu jodoh🤣
Kustri
hlaaa... istri'a sdg berduka bukan'a ditemeni ini malah nyari hiburan sendiri, dasar suami durhaka🤣👊👊👊
Kustri
siapa yg kirim foto yaa🤔🤔🤔
Kustri
tunggu... tunggu berarti hira & suami 1 bos gitu thor🤔
ampe qu ulang baca part 1 hlo
JihanSan: betul cekali teman
total 1 replies
Kustri
awal yg menarik
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!