Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Kehidupan Baru di Istana
Sejak hari keputusannya di ruang singgasana, kehidupan Elara berubah total dalam sekejap mata. Ia tidak lagi menjadi gadis biasa yang bebas melangkah ke mana saja di dunianya, melainkan seseorang yang harus memulai segalanya dari nol di tempat yang asing, penuh aturan, dan dikelilingi kemegahan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Istana Kerajaan Aetheris yang tampak indah dari luar ternyata memiliki disiplin yang sangat ketat di dalamnya.
Segera setelah pertemuan itu, Elara diserahkan kepada Ibu Lira, kepala pengawas seluruh pelayan wanita di istana. Wanita paruh baya itu memiliki wajah yang tegas, rambutnya diikat rapi ke belakang, dan mengenakan pakaian berwarna cokelat tua sederhana dengan lencana bunga perak yang melambangkan jabatannya. Sikapnya dingin namun terlihat adil, tidak pernah berlebihan dalam memuji maupun menghukum, namun membuat siapa pun yang berhadapan dengannya merasa segan.
“Ingat baik-baik kata-kataku ini, Elara,” ujar Ibu Lira sambil berjalan menyusuri lorong panjang yang lantainya terbuat dari batu pualam mengkilap. “Di sini tidak ada belas kasihan bagi mereka yang malas atau ceroboh. Kau harus bangun satu jam sebelum matahari terbit, membersihkan ruangan, menyiapkan kebutuhan penghuni istana, hingga malam tiba. Tidak boleh berjalan sembarangan di sayap terlarang, tidak boleh menyentuh barang milik bangsawan tanpa izin, dan yang paling penting—ketika berhadapan dengan Yang Mulia Raja, pandangan harus tetap tertunduk dan bicara seperlunya saja. Apakah kau mengerti?”
Elara mengangguk dalam-dalam, merasakan beban baru yang terasa berat di pundaknya. “Saya mengerti, Ibu. Saya akan berusaha sebaik mungkin.”
Ia pun diberikan pakaian baru berwarna krem polos, yang meskipun sederhana, terasa lembut dan nyaman dikenakan. Tempat tinggalnya kini adalah sebuah ruangan sempit yang ditempati bersama tiga pelayan wanita lain. Tempat tidurnya hanyalah alas jerami yang dilapisi kain tipis, namun bagi Elara itu sudah jauh lebih baik daripada tidur di semak-semak di luar tembok istana.
Hari-hari pertama terasa sangat melelahkan baginya. Ia belum terbiasa dengan cara kerja di dunia ini. Sering kali ia salah mengatur susunan peralatan makan yang terbuat dari emas dan porselen halus, tersesat di lorong-lorong yang terlihat hampir sama, atau terlalu lambat menyelesaikan tugas hingga mendapat teguran dari rekan kerja yang lebih senior. Namun Elara tidak pernah mengeluh. Ia sadar bahwa menjadi pelayan adalah satu-satunya jalan agar ia bisa bertahan hidup di tempat ini, sekaligus satu-satunya kesempatan untuk mencari tahu apakah ada cara agar ia bisa kembali ke dunianya kelak.
Dua minggu berlalu dengan cepat. Elara perlahan mulai terbiasa dengan ritme kehidupan baru itu. Ia mulai hafal setiap sudut lorong, tahu tugas mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu, dan mampu mengikuti langkah rekan-rekannya dengan lebih tenang. Ia dikenal sebagai gadis yang rajin, pendiam, dan tidak banyak tanya—sifat yang membuatnya perlahan diterima meski tetap dianggap sebagai orang asing yang datang entah dari mana.
Hingga suatu pagi, Ibu Lira datang menghampirinya dengan perintah yang membuat jantung Elara seketika berdebar kencang.
“Elara, hari ini kau ditugaskan untuk membersihkan ruang kerja pribadi Yang Mulia Raja Valerius,” ujarnya dengan nada datar.
Mata Elara terbelalak. “Ruangan… ruangan Yang Mulia?” tanyanya gugup. “Apakah saya diperbolehkan masuk ke sana? Bukankah itu tempat yang sangat dijaga kerahasiaannya?”
“Memang benar, namun ruangan itu perlu dibersihkan, dan hari ini giliranmu yang mendapat tugas itu,” jawab Ibu Lira. “Ingat peringatanku: jika Yang Mulia sedang tidak ada, kerjakanlah dengan hati-hati. Jika ia sudah ada di dalam, ketuklah pintu, minta izin, dan jika diizinkan masuk, tetaplah menjaga jarak. Jangan sampai menyentuh satu pun barang di atas meja kerjanya. Satu kesalahan saja bisa berakibat fatal. Paham?”
“Paham, Ibu,” jawab Elara dengan suara yang sedikit bergetar.
Dengan tangan gemetar memegang peralatan kebersihan, Elara melangkah menuju bagian paling dalam dan paling sunyi dari istana. Udara di lorong ini terasa lebih sejuk, dipenuhi aroma kayu cendana dan bunga yang lembut. Di sepanjang dinding tergantung lukisan-lukisan indah yang menggambarkan pemandangan alam kerajaan dan sejarah para raja terdahulu. Setelah berjalan cukup jauh, ia tiba di depan sebuah pintu kayu besar yang kokoh, diukir dengan motif bintang dan awan yang tampak hidup.
Elara menarik napas panjang berulang kali, berusaha menenangkan detak jantungnya yang terasa semakin kencang. Ia mengetuk pintu tiga kali dengan lembut. Tidak ada jawaban. Ia mendorong daun pintu itu perlahan hingga terbuka sedikit, lalu melongokkan kepalanya ke dalam.
Ruangan itu luas dan megah, namun tidak terasa mewah secara berlebihan. Rak-rak buku kayu menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit, berisi ribuan jilid buku dan gulungan naskah kuno. Di tengah ruangan berdiri meja kerja besar dari kayu ek yang dipoles hingga mengkilap, ditata rapi dengan pena tinta, segel lilin, dan gulungan peta yang terbentang lebar. Jendela kaca setinggi dinding membiarkan cahaya matahari pagi masuk dengan melimpah, menerangi debu-debu halus yang melayang di udara. Ruangan itu tampak kosong dan sunyi.
Elara melangkah masuk perlahan, menutup pintu di belakangnya tanpa menimbulkan suara. Ia mulai bekerja dengan sangat hati-hati, menyapu lantai, membersihkan debu dari tepi rak buku, dan menyeka perabot dengan kain lembut. Matanya sesekali melirik sekeliling, kagum melihat banyaknya pengetahuan yang tersimpan di tempat ini. Namun ia tetap berusaha tidak melangkah terlalu dekat ke meja kerja utama.
Namun nasib berkata lain. Saat ia berbalik untuk mengambil ember air, siku lengannya tanpa sengaja menyenggol tepi meja. Sebuah vas bunga kecil yang terbuat dari kristal bening, yang tergeletak di ujung meja, tergelincir dan jatuh ke lantai dengan suara keras yang memecah kesunyian.
KRAK!
Vas itu pecah menjadi ratusan kepingan kecil yang menyebar ke mana-mana.
Darah Elara seolah berhenti mengalir sesaat. Wajahnya seketika memucat, tubuhnya terasa lemas. Ia langsung berlutut, panik mencoba mengumpulkan pecahan itu dengan tangan kosong tanpa memedulikan risiko tergores. “Astaga… kenapa bisa terjadi…” gumamnya lirih, matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan yang meluap.
Belum sempat ia mengumpulkan semuanya, suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat dari luar. Pintu terbuka lebar, dan sosok tinggi yang dikenalnya dengan baik muncul di ambang pintu.
Itu adalah Raja Valerius.
Ia berdiri diam, mengenakan jubah panjang berwarna biru tua yang menjuntai hingga ke lantai, rambut keperakannya disisir rapi ke belakang, dan matanya yang sewarna danau tenang itu langsung menatap kekacauan di lantai. Suasana menjadi sunyi senyap, hanya terdengar napas Elara yang terengah-engah karena panik.
Ia langsung menjatuhkan diri bersimpuh di lantai, kepalanya menunduk sedalam mungkin. “Maafkan saya, Yang Mulia! Ini kesalahan saya—saya tidak sengaja menyenggol vas itu, saya benar-benar minta maaf!” suaranya bergetar hebat, siap menerima hukuman apa pun yang akan dijatuhkan padanya.
Namun reaksi yang ia duga tidak terjadi. Valerius tidak berteriak, tidak melototkan mata, bahkan tidak terlihat marah. Ia melangkah masuk perlahan, melirik sebentar ke arah pecahan kristal itu, lalu menatap gadis yang masih gemetar ketakutan di hadapannya.
“Angkat kepalamu,” perintahnya dengan suara yang tetap tenang dan rendah.
Elara perlahan mengangkat wajahnya, matanya basah namun tetap menatap dengan tatapan jujur dan penuh penyesalan.
Valerius berjongkok sebentar, mengambil sepotong kecil kristal, lalu meletakkannya kembali dan berdiri tegak. “Vas itu memang barang warisan nenek moyang, namun ia hanyalah benda mati yang bisa diganti. Yang tidak bisa diganti adalah keselamatan seseorang.” Ia menatap tangan Elara yang masih berusaha mengumpulkan pecahan itu. “Tanganmu bisa terluka. Berhentilah mengumpulkannya dengan tangan kosong.”
Elara tertegun, matanya terbelalak tak percaya mendengar kata-kata itu. “Tapi… saya sudah merusak barang milikmu, Yang Mulia…”
“Kecerobohan adalah hal biasa bagi mereka yang baru beradaptasi dengan lingkungan baru,” potong Valerius lembut namun tegas. “Hukuman hanya pantas bagi mereka yang berbuat jahat dengan sengaja, bukan bagi mereka yang berusaha namun keliru. Sekarang bersihkan sisa ini dengan hati-hati, dan lain kali lebih waspada. Mengerti?”
Rasa lega yang luar biasa seketika menyelimuti dada Elara, disertai rasa heran yang mendalam. Ia mengangguk cepat, air matanya kini jatuh bukan lagi karena takut, melainkan karena rasa syukur yang tak terkira. “Terima kasih… terima kasih banyak, Yang Mulia.”
Valerius hanya mengangguk singkat, lalu berjalan menuju kursi di belakang mejanya dan mulai membuka gulungan kertas. “Lanjutkan pekerjaanmu. Aku akan tetap berada di sini, jadi jangan terkejut lagi.”
Elara pun melanjutkan tugasnya, namun kali ini dengan perasaan yang sangat berbeda. Saat ia bergerak pelan di sudut ruangan, matanya sesekali melirik ke arah Raja yang duduk tenang bekerja. Di balik wibawanya yang tinggi dan sikap dinginnya di hadapan orang banyak, ia mulai melihat sisi lain dari Valerius—sosok yang bijaksana, tenang, dan jauh lebih baik dari apa yang dibayangkan orang.
Tanpa disadari, detak jantungnya kini berdebar bukan lagi karena rasa takut semata. Ada perasaan lain yang mulai tumbuh perlahan di sudut hatinya, perasaan yang samar namun terasa nyata, dan kelak akan menjadi benih dari kisah yang melampaui segala batas dunia dan kedudukan.