"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak yang terkikis
Rayyan Wijaya berjalan menyusuri lorong di antara kubikel kerja dengan langkah yang santai namun penuh wibawa. Kepala divisi audit di sampingnya terus berbicara, memberikan laporan singkat mengenai performa kerja tim minggu ini. Namun, pandangan mata Rayyan sama sekali tidak tertuju pada kepala divisi tersebut. Mata elangnya bergerak lurus, mengunci pada sudut ruangan di mana meja kerja Aira berada.
Rayyan melihat bagaimana gadis itu berdiri dengan wajah yang sedikit pucat, memegangi ujung kardigannya dengan erat seolah sedang menahan rasa dingin yang teramat sangat atau sedang menyembunyikan sesuatu dari pandangannya.
"Bagaimana progres audit untuk laporan keuangan triwulan dari sektor manufaktur?" tanya Rayyan kepada kepala divisi, namun langkah kakinya terus berjalan hingga akhirnya dia berhenti tepat di depan meja kerja Aira.
Kepala divisi ikut menghentikan langkahnya dengan bingung, melihat sang bos besar berhenti di kubikel anak magang baru. "Ah, untuk laporan itu sedang diselesaikan oleh tim senior, Pak Rayyan. Dan ini... ini adalah meja kerja anak magang baru yang direkomendasikan oleh kampus utama, Aira Kirana," jelas kepala divisi mencoba mencairkan suasana.
Rayyan menatap Aira dari jarak yang sangat dekat—hanya terpisah oleh meja kerja kayu tipis. Dari jarak sejauh ini, Rayyan bisa melihat dengan jelas bulu mata lentik Aira yang bergetar karena gugup, serta napas gadis itu yang naik turun dengan tidak teratur.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini, Aira Kirana?" tanya Rayyan, menyebut nama lengkap gadis itu dengan nada suara yang terdengar begitu dalam dan personal di telinga Aira, membuat beberapa karyawan senior di sekitar mereka diam-diam melirik dengan rasa penasaran yang besar.
Aira menelan ludahnya dengan susah payah. Dia menundukkan kepalanya sedikit, tidak berani menatap langsung ke dalam manik mata hitam Rayyan yang seolah bisa membaca seluruh isi jiwanya.
"P-Pekerjaan saya berjalan lancar, Pak Rayyan. Terima kasih atas kesempatannya," jawab Aira dengan suara yang diusahakannya terdengar seprofesional mungkin, meski di dalam dadanya jantungnya berdegup sangat kencang bagai dikejar monster.
Rayyan tidak langsung menjawab. Matanya bergerak turun perlahan, memperhatikan bagaimana tangan kecil Aira meremas erat kain kardigan abu-abunya tepat di depan area perutnya. Pilihan busana Aira hari ini kembali menarik perhatian Rayyan. Gaun longgar bergaya A-line itu memang menyembunyikan bentuk tubuh aslinya, namun saat Aira bergerak sedikit untuk mengambil napas, lipatan kain itu membentuk siluet lengkungan yang tidak biasa bagi seorang gadis berusia 20 tahun yang belum menikah.
Sebuah kecurigaan yang sangat besar, sebuah teka-teki yang selama ini berputar di kepala Rayyan, mendadak mulai menemukan titik terang di dalam benaknya. Namun, Rayyan adalah pria yang sangat sabar. Dia tidak akan membongkar rahasia ini di depan umum.
"Bagus jika berjalan lancar," ucap Rayyan akhirnya, senyuman tipis yang sangat misterius terukir di bibirnya. Dia mendekatkan tubuhnya sedikit ke arah meja kerja Aira, membuat jarak di antara mereka terkikis hingga Aira bisa merasakan kehangatan tubuh sang CEO. "Jika kamu merasa kesulitan atau merasa... tidak nyaman dengan lingkungan di sini, kamu bisa langsung datang ke ruanganku di lantai teratas. Pintuku selalu terbuka untukmu, Aira."
Setelah mengucapkan kalimat yang sarat akan makna tersembunyi itu, Rayyan berbalik dan melanjutkan langkah kakinya meninggalkan divisi audit, meninggalkan Aira yang berdiri mematung dengan sekujur tubuh yang gemetar karena rasa syok dan takut yang luar biasa.