NovelToon NovelToon
Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:697.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!

Demi menikahi Lavanya, Aditya tega memberikan obat anti-ovulasi kepada Kemuning, agar tidak pernah bisa punya anak. Aditya juga memanipulasi hasil tes kesuburan Kemuning.

Namun, takdir berkata lain ketika kecelakaan menimpa Kemuning. Dari hasil pemeriksaan diketahui kalau ada zat berbahaya di dalam rahimnya.

Dengan bantuan Arkatama, Kemuning menyusun pembalasan kepada Aditya dan Lavanya. Membuat mereka merasakan pembalasan yang tak disangka-sangka.

Niat ingin menguasai harta milik Kemuning, yang Aditya dapatkan malah gigit jari.

Akankah rahim Kemuning bisa subur kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

“Aditya, kapan kalian kasih Ibu cucu?” tanya Bu Ratih sedikit mengeluh dan kesal.

Aditya yang duduk di sofa hanya menghela napas pendek. Dia bersandar, satu tangan masih memegang ponsel, seolah pertanyaan itu hanyalah angin lalu yang sudah terlalu sering lewat.

“Ya, mau bagaimana lagi, Bu,” jawab pria itu santai, nyaris tanpa beban. “Kemuning sampai sekarang belum hamil juga.”

Di balik pintu depan, langkah Kemuning terhenti. Tangannya yang sudah menyentuh gagang pintu mendadak kaku dan dingin. Dia tidak jadi masuk.

“Kalau Kemuning tidak bisa kamu kasih anak,” lanjut Bu Ratih, nada suaranya turun, namun justru lebih menusuk, “cari saja wanita lain yang subur!”

Kalimat itu menghantam seperti petir. Napas Kemuning tercekat. Dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menekan kuat dari dalam. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Dia menelan ludah, tetapi tenggorokannya terasa ada yang mengganjal.

“Bu, tidak semudah itu!” balas Aditya, kali ini sedikit lebih serius. “Pastinya Kemuning enggak akan setuju kalau dipoligami.”

Sejenak ada harapan kecil yang menyelinap di hati Kemuning. Namun, harapan itu runtuh bahkan sebelum sempat tumbuh.

“Ya, salah dia!” potong Bu Ratih cepat. “Enggak bisa memberi keluarga kita keturunan!” Suara Bu Ratih meninggi. 

“Jadi wanita mandul itu harusnya tahu diri!” lanjut wanita paruh baya itu ketus, penuh penekanan. “Orang berumah tangga itu ingin memiliki penerus.”

Kata “mandul” itu seperti dilempar tepat ke wajah Kemuning. 

Di balik pintu, Kemuning masih diam mematung. Dadanya semakin terasa sesak dan sakit mendengar ucapan barusan. Tidak pernah terlintas dalam benaknya ibu mertuanya akan bilang begitu.

Kemuning tidak bisa membendung air matanya. Sebelah tangannya menutup mulutnya erat-erat agar suaranya tidak lolos keluar. Niat dia kembali ke rumah untuk membawa dompet yang tertinggal, malah mendengar pembicaraan suami dan ibu mertuanya yang menyakitkan.

Sementara itu, di dalam suasana mendadak hening. Aditya tidak menjawab atau membantah, apalagi membela istrinya. Pria itu hanya diam. Dan diamnya jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata.

“Jangan sampai keturunan keluarga kita terputus di kamu, Aditya,” ujar Bu Ratih lagi, kali ini lebih pelan, tetapi setiap katanya terasa tajam. “Kamu harus punya anak.”

Kemuning memejamkan mata. Selama lima tahun dia bertahan dalam rumah ini, menelan hinaan dan menyimpan luka. Selalu memaksa untuk tersenyum di depan mereka yang terus menyudutkannya.

Padahal bukannya dia tidak pernah berusaha. Mereka sudah tiga kali pergi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan. Tiga kali pula dia menggenggam hasil pemeriksaan dengan tangan gemetar.

Setiap kali melakukan pemeriksaan hasilnya selalu sama, normal. Dokter mengatakan mereka hanya perlu bersabar. Namun, kesabaran itu seolah tidak pernah cukup bagi keluarga ini.

“Ya, akan aku usahakan, Bu.” 

Suara Aditya memecah lamunan Kemuning.

“Aku harus segera pergi ke peternakan. Sekarang semakin banyak permintaan ayam potong dari pasar induk.”

“Lihatlah!” Suara Bu Ratih kembali meninggi, diiringi bunyi kursi yang didorong. “Harta kamu sudah banyak, usaha kamu juga maju. Buat apa itu semua kalau tidak punya keturunan!”

“Iya, Bu,” balas Aditya singkat dan datar. Seolah semua itu tidak penting untuk diperdebatkan.

Terdengar langkah kaki semakin mendekat ke arah pintu. Kemuning tersentak dan panik. Dia mundur cepat, hampir tersandung kakinya sendiri. Tanpa berpikir panjang, wanita itu berlari memutar ke samping rumah. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tidak beraturan.

Pintu belakang didorong pelan, Kemuning segera masuk. Rumah itu masih sama, tetapi terasa berbeda. Seolah dinding-dindingnya baru saja membisikkan rahasia yang selama ini disembunyikan darinya.

Tubuh Kemuning masih gemetar. Air matanya belum berhenti. Di atas meja dapur, dompetnya tergeletak begitu saja. Dia menatap benda itu beberapa detik dengan tatapan kosong. 

Dari depan rumah, suara motor terdengar dinyalakan. Kemuning tersentak kecil. Dia buru-buru menghapus air mata dengan punggung tangan, meski jejaknya masih jelas di pipi. Dia meraih dompet itu cepat. 

Suara motor Aditya semakin menjauh. Kemuning berdiri diam beberapa detik. Lalu, melangkah keluar lagi, masih lewat pintu belakang. Dia tidak ingin bertemu Bu Ratih.

Langkah Kemuning pelan saat menyusuri jalan kecil menuju pasar. Jaraknya hanya satu kilometer, tetapi hari ini terasa lebih jauh.

Kata-kata ibu mertuanya terus terngiang. “Wanita mandul harus tahu diri!”

Bibir Kemuning bergetar. “Aku tidak mandul,” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. Tangannya tanpa sadar mengepal. Hatinya juga terasa perih.

Namun, di balik luka itu ada sesuatu yang perlahan tumbuh. Sebuah rasa yang belum sempat ia kenali. Sesuatu yang terasa ganjil dan tidak beres.

Langkah Kemuning terhenti sejenak di tepi jalan. Tatapannya kosong, tetapi pikirannya mulai berputar.

Tiga kali pemeriksaan semuanya normal. Lalu kenapa dirinya belum juga hamil? Napas Kemuning tertahan. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun pertanyaan itu muncul.

Selama belanja pikiran Kemuning kacau. Beberapa kali dia salah menyebut barang yang akan dibeli atau tertukar ukuran beratnya. 

Sepulang dari pasar, Kemuning buru-buru memasukan pakaian ke dalam mesin cuci. Lalu, ditinggal dengan melakukan pekerjaan lainnya, menyapu rumah dan halaman, kemudian memasak. Setelah matang, dia baru mengepel. Karena Bu Ratih tidak suka jika lantai dapur licin.

"Sudah selesai masaknya?" Tiba-tiba saja Bu Ratih muncul di dapur. 

Kemuning yang baru saja masuk ke rumah, selesai menjemur pakaian, dibuat terkejut. "Sudah, Bu," jawabnya sopan. "Ibu makannya mau di sini atau mau sambil nonton TV?"

"Kamu bawakan ke depan! Ibu mau makan sambil nonton acara gosip pagi."

Kemuning pun dengan cekatan menyiapkan makanan untuk ibu mertuanya. Dia sudah hafal betul bagaimana kebiasaan Bu Ratih. Wadah nasi, sayuran, atau lauk lainnya harus dipisah-pisah. Lalu, air minumnya juga harus teh tawar hangat.

Bu Ratih tersenyum lebar ketika melihat acar ikan patin, nasi hangat, tahu goreng, sambal, lalapan segar, dan kerupuk. Setelah Kemuning menjadi menantunya, dia sering dimanjakan dengan makanan enak.

"Cepat kamu antar makanan untuk Aditya! Kasihan dia belum makan. Dia yang capek cari uang. Harus diperhatikan makanannya," ucap Bu Ratih. Dia tidak perduli sang menantu juga lapar dan lelah.

"Iya, Bu. Ini aku bersiap mau pergi," balas Kemuning.

Di atas meja makan sebuah rantang bersusun berisi makanan untuk Aditya sudah disiapkan oleh Kemuning. Selama ini dia selalu bersemangat jika melakukan pekerjaannya karena itu baktinya sebagai seorang istri dan menantu. Namun, ucapan Aditya dan Bu Ratih tadi pagi membuat Kemuning kehilangan semangat.

Dari rumah ke peternakan jaraknya cukup jauh, sekitar dua setengah kilometer. Jadi, Kemuning naik motor ke sana.

Sementara itu, Aditya sedang berpelukan dan berciuman mesra dengan seorang wanita, di ruang dapur. Namanya Lavanya, satu-satunya karyawan wanita yang bekerja di sana.

“Mas, kapan mau menikahi aku?” tanya Lavanya manja sambil mengelus pipi Aditya.

“Kamu harus sabar, Sayang,” jawab Aditya sambil menjawil dagu wanita itu.

“Apa sulitnya menceraikan Mbak Kemuning?”

Kemuning memarkirkan motor dekat pintu pagar, beberapa orang menyapanya ramah. Dia harus berjalan sekitar 100 meter untuk sampai ke sebuah pondok yang dijadikan kantor oleh Aditya. 

Ketika masuk, tidak ada siapa-siapa di sana. Bahkan Kemuning tidak mendapati suaminya di ruang kerjanya.

"Mas Aditya di mana, ya?" batin Kemuning sambil berjalan ke arah ruangan paling belakang.

Terdengar suara tawa dari arah dapur. Kemuning mengerutkan kening, lalu berjalan cepat ke sana.

1
antha mom
Aditya,, kalau ada perempuan yang mau Kamu ajak selingkuh,,itu namanya perempuan yang nggak benar, perempuan yang mau enaknya aja,ada uang abang sayang nggak ada uang abang di tinggal kabur 🤣🤣, nikmatilah hasil perselingkuhan mu Aditya 😄😄
niktut ugis
bukan berbahagia karena anaknya Lavanya meninggal tapi itu lebih baik buat kelanjutan hidup baby.. semoga takdir baik mulai menyelimuti Lavanya
niktut ugis
mewek baca cerita Steve tapi celetukan Arya bikin mata melotot.. tolong kemuning atau arka bantu q ketok kepalanya Arya 😡😂
niktut ugis
Arka coba buka otak Arya isi nya apa 😂😂😂
niktut ugis
Aryaaaaa ya ampun 😡😂😂😂
ayu cantik
bagus
Yani Suryani
makannya punya mulut dijaga sering ngerendahin orang sekarang mulutnya perot kan
Yani Suryani
syukurlah tak kirain baru ketemu dimatiin, ternyata ada solusi lain
Steven semangat ya buat sembuh
aku baca udah tamat gak tau akhirnya gimana soalnya walau komen pun sudah selesai ceritanya
ini hanya sekedar meninggalkan jejak, walau ceritanya sudah selesai tapi masih ada pembaca yg baru nemuin cerita ini
semangat juga buat kak Santi dengan karya" yg 👍
🌸 Sunshine 🌸: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
Yani Suryani
lah masak mati Stevennya kan orang kaya berobat diluar negri siapa tau ada yg donor, setelah itu berteman dengan Arya biar gak kesepian 🤭
Yani Suryani
disaat air mataku ikut menetes karena Steven ehhh ada iklan Arya yg bikin ngikik
Yani Suryani
apapun yg terjadi sama orang tua anak yg jadi korban, walau hidup bergelimang harta dan dibesarkan ibu kandungnya sendiri tapi justru hidup Arya lebih bahagia karena berlimpah kasih sayang, sedang Steven di hidup dalam kesunyian dan menyedihkan
Yani Suryani
kalau sekolah bisa antar jemput itu Arya bisa saja diculik, tapi bisa jadi kemuning jadi sasaran
kok jadi tegang tapi suka ceritanya bukan lagi bucin"an lagi jadi makin seru dan ada gregetnya,biasa cerita awal konflik habis itu bucin" hingga selesai tapi ini beda jadi lebih menarik ceritanya 👍
Yani Suryani
ingat dia yg membuangmu,dia datang cuma mau memanfaatkan mu Arya,yg keluarga sesungguhnya ya kakakmu itu
Yani Suryani
ya ampun ikut tegang, kalau jaman dulu mungkin orang bisa hilang dengan mudah tapi sekarang beda jaman, semua bisa viral dan cepat terbongkar
Yani Suryani
lah kayak Adit gini bangkit dan menyesali perbuatannya, berusaha untuk menjadi lebih baik setelah apa yg terjadi, Adit jika sukses lagi jangan sombong jangan sok, tapi jadi rendah diri itu buat kamu tambah sukses
niktut ugis
jalang Lavanya beneran cari mati
Ila Lee
bagus aditya mula kn baru bertaubat jgn lagi berbuat dosa pasti tuhan akan memurahkan rezeki MU jadi yg lebih baik 💪💪💪💪
Ila Lee
akhirnya ketemu mantan Aditya sama kn kemuning dengan diri MU yg tidak kuat iman mudah tergoda
Ila Lee
pergi kemna cari kemuning sesal dulu pendapatan sesal kemudian tidak berguna nasi sudah menjadi bubur 😭😭😭😭
Ila Lee
jalani ajer dulu kemuning tak semestinya pacaran akan bahagia aku juga dijodoh n.kn cuma kenal 2 bukan langsung nikah Alhamdulillah sekarang sudah 30 tahun menikah Thor jadi yg lepas biar menjadi masa lalu aku yakin arkatama lelaki yg baik terima kemuning ❤️❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!