NovelToon NovelToon
Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Menjadi NPC
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Arvella Mengirim Masalah

Anna masih hidup.

Itu kabar baik.

Anna tidak sadar, mulutnya berbusa tipis, dan tabib kerajaan berkata ia mungkin baru bisa bicara besok atau lusa.

Itu kabar buruk.

Anna ditemukan dengan botol racun di samping tubuhnya, seolah ia sangat sopan hingga sempat meninggalkan petunjuk sebelum pingsan.

Itu kabar yang terlalu mencurigakan.

Aku berdiri di taman belakang istana, menatap tempat Anna ditemukan. Rumputnya masih basah. Beberapa pengawal menutup area dengan tali. Seraphina tidak ada. Katanya terlalu terguncang mendengar pelayannya terluka. Aku ingin percaya, tapi saat ini kepercayaanku pada Saintess berada di bawah kepercayaanku pada roti penjara.

Lucien berdiri di dekat tabib. Wajahnya tegang. Cassian memeriksa tanah dengan ekspresi dingin. Mira memegang payung di atas kepalaku, padahal tidak hujan.

"Mira," kataku. "Kenapa pakai payung?"

"Untuk melindungi Nona dari nasib buruk."

"Nasib buruk bisa ditembus payung?"

"Hamba tidak tahu. Tapi ini membuat hamba merasa berguna."

Aku membiarkannya. Setiap orang butuh mekanisme bertahan. Mira memilih payung.

Cassian menunjuk jejak di tanah. "Anna diseret. Bukan jatuh sendiri."

Lucien mendekat. "Dari mana?"

"Dari arah lorong pelayan. Tapi jejaknya sengaja dibuat kacau. Pelakunya cukup tahu cara menyamarkan rute, tapi tidak cukup rapi untuk menghapus bekas sepatu."

Aku melihat jejak samar di lumpur. "Sepatu pria?"

"Kemungkinan. Ukurannya lebih besar dari pelayan perempuan biasa."

"Jadi bukan Anna yang mencoba bunuh diri?"

Cassian menatapku. "Saya tidak percaya pada bunuh diri yang meninggalkan bukti terlalu rapi."

Aku mengangguk. "Saya juga tidak percaya pada orang yang pingsan tepat saat bukti mengarah padanya."

Lucien melirikku, tahu siapa yang kumaksud, tapi tidak membantah. Perkembangan menarik.

Tiba-tiba seorang pengawal datang membungkuk. "Lady Evangeline, ayah Anda datang."

Tubuhku menegang sebelum pikiranku sempat bereaksi.

Marquess Damian Arvella.

Ayah Evangeline.

Dalam novel, dia muncul hanya sebentar setelah eksekusi, mengatakan bahwa keluarga Arvella menyesali dosa putrinya dan akan tetap setia pada kerajaan. Waktu itu aku membacanya sambil makan keripik, lalu berpikir, "Ayah macam apa itu?"

Sekarang aku akan bertemu langsung dengan jawaban dari pertanyaan itu.

Kami dibawa ke ruang kunjungan khusus. Bukan penjara, bukan ruang tamu juga. Ruang itu seperti dibuat untuk keluarga bangsawan yang ingin menunjukkan perhatian tanpa benar-benar menyentuh masalah.

Marquess Arvella berdiri di dekat jendela. Rambutnya perak gelap, wajahnya tegas, matanya sama merah keunguan seperti Evangeline, tetapi jauh lebih dingin. Ia memakai mantel hitam dengan lambang keluarga Arvella: burung gagak membawa mahkota.

Aku memandang lambang itu terlalu lama.

Simbol yang sama dengan kertas yang ditemukan Cassian.

Marquess menoleh. Tatapannya menyapu diriku dari kepala sampai kaki, bukan seperti ayah melihat anak yang hampir mati, tetapi seperti pedagang menilai barang rusak.

"Evangeline."

Tidak ada pelukan. Tidak ada kekhawatiran. Tidak ada, "Anakku, kamu baik-baik saja?"

Hanya nama.

Aku tersenyum tipis. "Ayah."

Kata itu terasa asing di lidahku. Mungkin bagi Evangeline juga.

Mira berdiri di belakangku dengan wajah gugup. Cassian ada di sisi kanan, diam. Lucien tidak ikut masuk, tetapi dua pengawal kerajaan berjaga di luar.

Marquess berjalan mendekat. "Kau membuat keluarga kita berada dalam posisi memalukan."

Aku hampir tertawa. "Senang bertemu Ayah juga. Saya baik-baik saja, terima kasih sudah bertanya."

Mira mengeluarkan suara kecil. Cassian tampak menahan senyum.

Marquess menyipitkan mata. "Jangan bermain-main. Tuduhan ini serius."

"Saya tahu. Saya yang akan dieksekusi, bukan lambang keluarga di mantel Ayah."

Wajahnya mengeras. "Kau sejak kecil selalu tidak tahu batas."

Kalimat itu menusuk. Lagi-lagi bukan sepenuhnya perasaanku. Ada sisa Evangeline yang ingin menciut, ingin meminta maaf, ingin didengar.

Tapi aku bukan Evangeline lama.

"Ayah datang untuk membela saya atau memastikan saya diam?" tanyaku.

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Marquess menatapku tajam. "Apa maksudmu?"

Aku melangkah lebih dekat. "Ayah hadir di pesta. Ayah tahu saya dituduh. Ayah tidak datang menjenguk sampai sekarang. Jadi saya hanya ingin tahu, saya masih anak Ayah atau sudah menjadi dokumen kerugian politik?"

Mira menutup mulut. Cassian menatapku dengan mata yang sulit dibaca.

Marquess tidak menjawab selama beberapa detik. Lalu ia berkata, "Jika kau bersalah, keluarga Arvella tidak akan melindungimu."

"Dan jika saya tidak bersalah?"

"Buktikan."

Aku tersenyum. "Menarik. Putra Mahkota berkata hal yang sama. Semua orang menyuruh saya membuktikan diri, tapi tidak ada yang bertanya siapa yang paling diuntungkan jika saya mati."

Untuk pertama kalinya, mata Marquess berubah sedikit.

Takut?

Marah?

Atau terkejut karena anak yang biasanya sibuk mengejar Putra Mahkota tiba-tiba bisa menyusun kalimat politis?

Cassian akhirnya bersuara. "Marquess, apakah Anda mengenali simbol ini?"

Ia mengeluarkan salinan gambar gagak membawa mahkota patah. Bukan lambang keluarga Arvella yang resmi, tetapi variasinya lebih gelap.

Wajah Marquess tetap tenang. Terlalu tenang.

"Itu simbol lama. Tidak penting."

Aku menatapnya. "Simbol itu ditemukan terkait kasus racun."

"Kebetulan."

"Ayah bahkan belum bertanya di mana ditemukan."

Diam.

Kali ini, aku yakin. Dia tahu sesuatu.

Marquess melangkah mendekat sampai suaranya hanya terdengar olehku. "Jangan menggali hal yang tidak kau pahami, Evangeline. Kau sudah cukup banyak menghancurkan hidupmu sendiri."

Aku menatapnya balik. "Mungkin. Tapi hidup saya memang sudah dijadwalkan berakhir tiga hari lagi. Sulit menghancurkan sesuatu yang hampir dibakar orang lain."

Tangannya mengepal.

Mira tampak siap menangis. Cassian sedikit bergerak, halus tapi jelas, siap menghalangi jika Marquess melakukan sesuatu.

Marquess menarik napas, lalu melemparkan sebuah amplop ke meja.

"Ini dokumen yang mungkin kau perlukan. Setelah ini, jangan sebut namaku dalam penyelidikanmu."

Aku membuka amplop itu. Di dalamnya ada daftar nama lama. Beberapa nama dicoret. Salah satunya: Lord Veyran Blackwell. Di bawahnya ada catatan pendek.

Perjanjian pendanaan proyek sayap utara. Rahasia. Jangan sampai diketahui dewan kerajaan.

Cassian membaca dari bahuku. Matanya langsung berubah tajam.

"Blackwell," gumamnya.

Marquess berbalik pergi.

"Ayah," panggilku.

Ia berhenti.

Aku menelan ludah. Pertanyaan ini bukan hanya dariku. Ini mungkin pertanyaan Evangeline yang tidak pernah berani keluar.

"Apakah Ayah percaya saya meracuni Seraphina?"

Punggung Marquess tetap menghadapku.

Lama sekali ia diam.

Lalu ia menjawab, "Aku percaya kau cukup bodoh untuk membuat semua orang berpikir begitu."

Pintu tertutup di belakangnya.

Aku berdiri kaku.

Kalimat itu seharusnya lucu jika tidak terasa menyedihkan.

Mira langsung mendekat. "Nona..."

Aku mengangkat tangan. "Jangan menangis. Kalau kamu menangis, aku mungkin ikut menangis dan itu merusak citra villainess yang sedang membangun ulang reputasi."

Mira mengangguk sambil menangis juga. "Baik, Nona. Hamba tidak menangis dengan sangat keras."

Cassian mengambil dokumen itu. "Blackwell dekat dengan keluarga Anda dan hadir di pesta. Jika dia terhubung dengan simbol ini, kasusnya lebih besar dari sekadar membunuh Saintess."

"Apa proyek sayap utara?"

"Sebuah proyek pertahanan lama di wilayah perbatasan. Resmi dihentikan lima tahun lalu karena dana hilang. Banyak bangsawan terlibat. Beberapa orang mati dalam kecelakaan yang sangat nyaman."

Aku menatapnya. "Sangat nyaman?"

"Jenis kecelakaan yang selalu terjadi tepat sebelum saksi bicara."

Aku merinding.

Jadi ini bukan hanya soal Seraphina. Bukan hanya soal Evangeline. Ada faksi politik, proyek rahasia, uang, dan kemungkinan orang-orang yang siap membunuh siapa saja.

"Kenapa menjebakku?" tanyaku.

Cassian menatap dokumen. "Karena Anda mudah dibenci."

Aku memegang dada. "Terima kasih. Itu menghancurkan tapi benar."

"Dan karena Anda anak Marquess Arvella. Jika Anda dihukum sebagai penjahat, keluarga Anda melemah. Jika keluarga Anda melemah, dokumen-dokumen lama bisa lebih mudah dikendalikan."

"Jadi aku kambing hitam bangsawan."

"Kambing hitam yang sangat berpakaian mahal."

Mira menyeka air mata. "Nona tetap kambing tercantik."

"Mira, jangan pernah menghibur orang dengan menyebut mereka kambing."

Sebelum kami bisa membahas lebih jauh, seorang pengawal masuk membawa kabar baru.

"Lady Evangeline, Duke North, Putra Mahkota memanggil kalian. Pelayan Anna sudah sadar sebentar. Ia menyebut satu nama sebelum pingsan lagi."

Aku langsung menegakkan tubuh.

"Nama siapa?"

Pengawal itu menelan ludah.

"Lady Evangeline Arvella."

Mira hampir menjatuhkan payungnya.

Aku menutup mata.

Tentu saja.

Bahkan saat hampir mati, Anna masih sempat menyeretku lebih dalam.

Tapi kali ini, aku tidak takut.

Karena orang yang sedang sekarat dan hanya menyebut namaku mungkin tidak sedang menuduh.

Mungkin dia sedang memberi peringatan.

Atau memanggil satu-satunya orang yang bisa mengungkap kebenaran.

1
E H Mukti
Lady evangeline 👌👌👌
Carina Yuda: hi kak, makasih udah mampir
total 1 replies
E H Mukti
😍😍😍👌
Carina Yuda: selamat membaca :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!