Pacar Palsu, Jodoh Asli
Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Bukan Kebetulan
Suasana di sudut ruangan itu mendadak hening seketika.
Angin AC seolah berhenti berembus.
Almira dan Reynard membeku di posisi masing-masing, lalu perlahan mereka saling melemparkan pandangan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya yang amat sangat.
"Video?" tanya Almira, suaranya terdengar datar namun ada nada ancaman tersembunyi di sana.
"Iya, video TikTok yang kemarin siang!" pria muda itu tertawa kecil, menganggap situasinya sangat menyenangkan.
"Kalian berdua ini pasangan viral yang sedang hits banget, kan? Sumpah, aslinya kalian serasi sekali!"
"Kami BUKAN pasangan," jawab Almira dan Reynard secara bersamaan, dengan nada suara yang sama-sama tegas dan penuh penekanan pada setiap suku katanya.
Mendengar bantahan yang kompak dan kompak tersebut, pria muda itu justru semakin melebarkan senyumnya, tampak luar biasa puas.
"Nah! Lihat itu! Cara kalian membantah saja persis sekali dengan apa yang ditulis netizen di kolom komentar! 'Benci tapi cinta', katanya!"
Almira memegang pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut nyeri.
Ia merasa kepalanya mulai sakit karena kadar absurditas hari ini sudah melewati batas toleransinya.
Dan yang membuat situasi ini bertambah parah seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan, setelah pria muda itu selesai mengambil foto dan mengucapkan terima kasih, orang-orang lain yang berada di area coffee break mulai menyadari apa yang sedang terjadi.
Bagaikan efek domino, satu per satu orang mulai berdatangan mendekati sudut jendela tersebut.
Satu orang eksekutif muda.
Dua orang staf panitia.
Lima orang delegasi dari perusahaan asing.
Hingga dalam waktu singkat, hampir sepuluh orang sudah mengantre dengan ponsel di tangan mereka, semuanya meminta hal yang sama: berfoto bersama "pasangan viral".
Mereka semua datang bukan karena ingin berdiskusi tentang ekspansi bisnis Pradipta Corporation.
Bukan pula karena ingin mendengar presentasi Reynard mengenai strategi investasi Mahardika Group.
Melainkan murni karena mereka terhibur oleh drama video parkiran.
Bahkan, seorang wanita paruh baya dengan pakaian batik sutra mewah sempat berbisik kepada mereka sebelum berfoto,
"Saya dan tim divisi saya di kantor sudah masuk Tim Kalian, lho. Kami dukung garis keras!"
"Kami bukan tim apa pun, Bu," jawab Almira dengan senyum yang dipaksakan hingga otot pipinya terasa kaku.
"Belum, Bu. Sekarang mungkin belum," sahut wanita itu sambil mengedipkan sebelah matanya dengan jenaka sebelum melangkah pergi.
Reynard yang berdiri di samping Almira, tidak bisa lagi menahan dirinya.
Sebuah tawa renyah lolos dari bibirnya, terdengar begitu lepas dan jujur.
Sementara Almira, yang sekarang sudah berada di puncak batas kesabarannya, menatap pria itu dengan pandangan yang seandainya bisa mewujud menjadi benda tajam, pasti sudah membuat Reynard terkapar di lantai.
Ia benar-benar memiliki keinginan yang sangat kuat untuk menyiramkan sisa kopi hitamnya yang sudah dingin tepat ke wajah tampan bin menyebalkan milik Reynard Arsenio Mahardika.
Menjelang sore hari, setelah melewati rangkaian seminar yang melelahkan dan menguras energi mental, sesi yang paling dinantikan sekaligus paling formal akhirnya dimulai: Exclusive Networking and Focus Group Discussion.
Para peserta kehormatan dikumpulkan dalam sebuah aula khusus yang dirancang dengan meja-meja bundar berkapasitas terbatas.
Sesi ini ditujukan agar para pemimpin muda dapat berdiskusi secara intensif mengenai peluang kemitraan strategis dan kolaborasi antar-korporasi besar.
Seorang wanita perwakilan dari panitia penyelenggara berdiri di depan ruangan, memegang sebuah map kulit hitam berisi daftar pembagian kelompok yang telah ditentukan oleh sistem kurasi panitia pusat.
"Selamat sore, para hadirin sekalian. Untuk mempermudah jalannya diskusi dan memastikan bahwa setiap sektor bisnis mendapatkan mitra dialog yang relevan, pihak panitia telah membagi Anda semua ke dalam beberapa kelompok kecil berdasarkan analisis portofolio perusahaan," jelas panitia tersebut melalui pengeras suara.
Mendengar penjelasan itu, Almira yang baru saja duduk di salah satu kursi tunggu di barisan belakang langsung merasakan sebuah firasat buruk yang teramat sangat menyengat instingnya.
Sebuah firasat yang membuat bulu kuduknya meremang.
Panitia mulai membacakan daftar nama dengan suara yang menggema jelas di seluruh ruangan.
"Kelompok satu, berdiskusi di Ruang Mawar..."
"Kelompok tiga, berdiskusi di Ruang Melati..."
"Kelompok lima, berdiskusi di Ruang Tulip..."
Lalu, setelah jeda beberapa detik yang terasa seperti siksaan bagi Almira, suara panitia itu kembali terdengar.
"Selanjutnya, Kelompok Tujuh."
Almira secara otomatis menegakkan posisi duduknya, menahan napasnya dalam-dalam dengan perasaan cemas yang memuncak.
"Almira Valencia Pradipta dari Pradipta Corporation."
Almira langsung memejamkan matanya rapat-rapat, merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada seperti sedang berdoa dengan sangat khusyuk.
Tolong... siapa pun di atas sana yang mengatur jalannya hari ini... tolong jangan lakukan ini padaku. Jangan.
"Reynard Arsenio Mahardika dari Mahardika Group."
Mendengar nama itu diucapkan tepat setelah namanya, Almira sentak membuka matanya lebar-lebar.
Di seberang ruangan yang berjarak beberapa meter, Reynard yang biasanya selalu memiliki ekspresi tenang dan terkontrol, kali ini juga terlihat membeku dengan gurat wajah yang menunjukkan rasa tidak percaya yang sama besarnya.
Pandangan mata mereka bertemu di udara.
Saling mengunci satu sama lain.
Lima detik berlalu dalam keheningan yang tegang.
Sepuluh detik berlalu tanpa ada satu pun dari mereka yang berkedip.
Dan kemudian, seperti sebuah skenario yang sudah dilatih ribuan kali, mereka berdua mengucapkan dua kata yang sama secara bersamaan dengan nada frustrasi yang tertahan:
"Tidak mungkin."
Namun, panitia di depan ruangan tentu saja tidak mendengar keluhan batin mereka dan melanjutkan pembacaan daftar tanpa memedulikan drama yang sedang terjadi di antara dua pewaris takhta tersebut.
"Untuk Kelompok Tujuh, silakan segera berkumpul dan menuju ke Ruang Anggrek di lantai dua."
Almira mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat berat, bahunya merosot lemas seolah seluruh energinya telah dihisap habis oleh ruangan itu.
Sementara itu, di sudut sana, Reynard hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dengan senyum getir yang tersungging di bibirnya.
Seolah-olah seluruh takdir dan semesta alam ini memang benar-benar sedang bekerja sama, berkomplot dengan cara yang sangat rapi untuk mempermainkan hidup mereka berdua.
Namun, di tengah semua kekacauan dan kekesalan yang melanda pikiran Almira dan Reynard, ada satu detail kecil yang luput dari perhatian mereka.
Di sudut ruangan dekat pintu keluar, berdiri seorang pria paruh baya dengan setelan jas formal bergaya klasik.
Pria itu, yang kebetulan merupakan salah satu penasihat senior di forum tersebut sekaligus sahabat karib dari kedua orang tua mereka, tampak sedang memperhatikan interaksi Almira dan Reynard sejak awal.
Melihat bagaimana kedua anak muda itu terkejut dan mengeluh karena ditempatkan dalam satu kelompok yang sama, sebuah senyuman kecil senyuman yang sangat tipis namun sarat akan arti dan kepuasan perlahan terukir di wajahnya yang mulai berkerut.
Ia menyesap sisa minumannya dengan santai, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan dengan langkah yang sangat ringan.
Sebab, bagi sebagian besar orang yang berada di dalam aula tersebut, apa yang terjadi hari ini mungkin memang terlihat seperti sebuah kebetulan yang lucu atau sekadar permainan nasib yang menggelikan.
Namun, bagi sebagian kecil orang lainnya yang berada di balik layar... itu sama sekali bukan kebetulan.
Itu adalah sebuah babak pembuka dari sebuah rencana besar yang telah disusun dengan sangat matang, dan kini... roda rencana tersebut perlahan-lahan mulai berjalan tepat seperti yang mereka harapkan.