NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Keputusan Jena

Malam semakin larut. Rumah keluarga Jovian yang beberapa jam lalu dipenuhi tawa dan ucapan selamat kini mulai lengang. Gelas-gelas bekas minuman sudah dibereskan para asisten rumah tangga. Hanya keluarga inti Jovian dan keluarga Michelle yang masih bertahan di ruang keluarga.

Di atas meja, beberapa katalog dekorasi, contoh undangan, dan tablet berisi referensi konsep pertunangan terbuka.

Michelle tampak paling bersemangat. "Aku maunya konsep garden party yang elegan," ujarnya antusias. "Dekorasinya dominan putih sama bunga-bunga segar. Terus malam harinya ada live orchestra. Biar kelihatan mewah, tapi tetap romantis."

Mayang mengangguk setuju. "Mami setuju, Sayang. Pokoknya pertunangan kalian harus jadi perbincangan semua orang."

Michelle mengangguk. "Iya, Mi."

"Dan kalau cuaca tidak mendukung, kita bisa sewa ballroom hotel bintang lima," sambung Mario Suroso.

Bimo tersenyum puas. "Tidak masalah. Soal biaya, anggap saja investasi untuk kebahagiaan anak-anak."

"Kalau perlu, acaranya dibuat semewah mungkin," timpal Sifa. "Sekalian memperkenalkan Michelle secara resmi kepada publik."

Michelle tersenyum lebar. "Terima kasih, Om ... Tante. Aku benar-benar senang."

Jihan ikut menimpali. "Aku udah nggak sabar pengen lihat semewah apa pesta pertunangan Mas Jo dan Kak Michi."

Michelle memberikan finger heart kepada Jihan sambil berkedip-kedip manja.

Semua orang tampak larut membahas konsep, menu makanan, daftar tamu, hingga kemungkinan tanggal terbaik untuk pertunangan.

Namun tidak dengan Jovian. Lelaki itu duduk bersandar di sofa sambil sesekali mengangguk ketika pendapatnya diminta. Namun sejak tadi tatapannya kosong.

"Jovian." Suara ayahnya membuat ia tersadar.

"Iya, Pa?"

"Kamu setuju kalau pertunangannya diadakan akhir bulan depan?"

Jovian terdiam sepersekian detik. "Iya ... terserah Papa saja."

Michelle menoleh sambil tersenyum. "Mas, nanti kita survei venue bareng ya?"

"Iya." Jawabannya singkat.

Michelle sedikit mengerutkan kening. Biasanya Jovian tidak sependiam ini. Tapi malam ini pria itu justru lebih banyak diam.

Sementara percakapan kembali berlanjut, pikiran Jovian melayang entah ke mana. Tanpa sadar, bayangan wajah Jena kembali hadir.

Wajah gadis itu saat tersenyum. Saat tertawa karena candaan recehnya. Saat menatapnya penuh kepercayaan.

Lalu berganti menjadi wajah Jena beberapa jam lalu ... yang perlahan memucat ketika mengetahui semuanya.

Dada Jovian terasa sesak. "Apa dia sudah sampai di rumah?" batinnya. "Apa sekarang dia sedang menangis?" Tangannya yang berada di atas paha mengepal pelan. Ia ingin menghubungi Jena. Ingin memastikan perempuan itu baik-baik saja. Namun ia tahu, kini ia sudah tidak memiliki hak untuk melakukan itu.

"Mas?" Michelle kembali memanggilnya. "Kamu dengar nggak? Aku tanya warna cincin tunangan kita mau white gold atau platinum."

Jovian mengalihkan pandangan. "Dua-duanya bagus."

Michelle tertawa kecil. "Jawabannya kok nyari aman banget."

"Iya ... terserah kamu saja."

Michelle hanya tersenyum, tetapi jauh di lubuk hatinya mulai muncul tanda tanya. "Apakah Jovian sedang memikirkan Jena?" Ia mendecak dalam hati. "Ck! Terserah lah. Yang jelas sekarang, aku lah yang akan jadi pendamping hidup Jovian. Gadis miskin itu sudah kalah."

Jovian kembali menundukkan kepala.

Di tengah pembahasan tentang pesta pertunangan yang semakin meriah, ia justru merasa seperti sedang kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa ia dapatkan kembali. "Aku tidak bisa terus di sini." Ia berdeham kecil, berusaha mengalihkan kegelisahan yang sejak tadi mengusik pikirannya. "Michi, aku ke kamar mandi bentar ya. Perutku agak mules."

Michelle mengangguk santai. "Oke."

Jovian segera bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur. Namun, baru beberapa langkah lagi sampai, seseorang memanggilnya.

"Den ..."

Jovian menoleh. "Iya, Mbok?"

Mbok Yati mendekat dengan raut wajah sedikit bersalah. "Tadi Non Jena 'kan pulang duluan. Dia titip pesan sama Mbok supaya disampaikan ke Aden, atau ke Tuan sama Nyonya. Tapi ... Mbok baru ingat sekarang."

Jovian mengangguk pelan. "Iya, Mbok. Memangnya Jena ngomong apa?"

Mbok Yati kembali berkata dengan nada penuh perhatian. "Wajah Non Jena tadi pucat banget, Den. Katanya dia pusing."

Kalimat itu bagaikan menghantam dada Jovian. Jantungnya berdegup lebih cepat. Tangannya perlahan mengepal, sementara rasa sesak memenuhi rongga dadanya. "Iya, Mbok ..." jawabnya lirih. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.

Begitu sendirian, Jovian langsung mengeluarkan ponselnya. Jemarinya bergerak cepat mencari nama Jena di daftar kontak. Ia menekan tombol panggil.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu terdengar suara operator.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif ..."

Jovian memejamkan mata. Napasnya terasa berat. Ia mencoba sekali lagi.

Hasilnya tetap sama. Nomor Jena tidak aktif. Kepalanya tertunduk lemah. "Jena ..." bisiknya lirih. "Aku harap kamu baik-baik saja." Ia menggenggam ponselnya semakin erat. "Aku ingin ke tempatmu ..." Suara Jovian mulai bergetar. "Tapi aku nggak bisa." Setitik air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.

Bayangan wajah Jena terus bermunculan di benaknya.

Senyumnya.

Tatapan matanya yang selalu penuh kepercayaan.

Dan wajahnya malam ini ... yang pasti telah ia lukai.

"Aku minta maaf, Jena ..." bisiknya parau. "Maaf ... karena aku telah menghancurkan semua harapanmu. Maaf ... karena aku sudah mengingkari semua janjiku dan mengkhianati cinta kita. Maaf juga, karena setelah sembilan tahun bersama ... yang kamu dapatkan hanyalah luka." Ia memejamkan mata beberapa saat, membiarkan rasa sesak itu memenuhi dadanya.

Setelah menarik napas panjang beberapa kali, Jovian mengusap cepat air mata di pipinya. Ia menatap bayangannya sendiri di cermin. "Aku sudah memilih jalan ini," gumamnya pelan. "Sekarang aku harus bertanggung jawab atas semua konsekuensinya."

Dengan wajah yang kembali berusaha tenang, Jovian membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar, menyimpan semua gejolak hatinya di balik ekspresi yang nyaris tak terbaca. Namun jauh di lubuk hatinya, nama Jena masih terus bergema, seolah menolak untuk pergi.

***

Jena mengembuskan napas panjang setelah ritsleting koper kedua tertutup rapat. Ia berdiri memandangi dua koper berukuran besar yang kini berjajar rapi di dekat pintu kamar. Tidak banyak barang yang ia bawa. Hanya pakaian, dokumen penting, dan beberapa benda yang benar-benar ia perlukan. "Beres-beres semua barangku sudah selesai. Sekarang tinggal membereskan apartemen." Sebelum beranjak keluar dari kamar, ia melirik sebuah amplop putih yang tergeletak di atas nakas.

Matanya kembali berkaca-kaca. Di dalam amplop itu tersimpan sepucuk surat yang telah ia tulis dengan penuh pertimbangan. Sebuah surat yang akan menjadi penutup dari babak hidup yang baru saja ia lewati.

Perlahan ia menghampiri nakas, lalu mengusap lembut permukaan amplop itu dengan ujung jarinya. "Ya Allah ..." bisiknya lirih. Ia menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. "Bismillah ..." Jena menengadah, berusaha menahan air mata yang kembali menggenang. "Semoga keputusan yang kuambil ini adalah jalan terbaik." Ia memejamkan mata sejenak, menyerahkan segala kegundahan yang masih tersisa kepada Sang Maha Kuasa.

Tak lama kemudian, ia membuka matanya kembali. Tatapannya kini jauh lebih tenang, meski masih menyimpan luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Ia menoleh ke arah dua koper di dekat pintu, lalu kembali memandang amplop putih di atas nakas. Keputusan itu sudah bulat. Tak ada lagi yang bisa membuatnya mengurungkan niat.

1
nunik rahyuni
siapa sih..ganggu aja?klo jo yg datang simbur pakai banyu cucian j jena...orang g tau diri..😡
Nining Sariningsih
jangan sampai si jovian yang datang ganggu orang aja kalau bener,kalo bener si Jo tendang aja jena jangan kasih kesempatan orang gila itu tuk masuk lagi ke hidup mu,,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Inarrr Ulfah
waduh siapa.tuh apa si Jo
Ama Apr: besok ya🤭
total 1 replies
mama
kyk kerbau aj km jo jo nurut amat jdi laki..gk ada tegas2 ny sm sekali,gk sreg blas sm karakter ny di Jovian ..laki2 kok lembek amat
Ama Apr: anak mami
total 1 replies
nunik rahyuni
lgsg di buat part kawinan j thor...bosen sma micin nag g punya harga diri mau maunya jd tempat pembuangan limbah j..habis dipke lgsg di tinggal .mana merengek rengek supaya di masuki..kan g ada harga dirinya..murahan.....di obral.
Ama Apr: biarin kk😂, itu gambaran klo manusia nggk ada yg sempurna. Michelle boleh punya sglanya, tapi dia nggak punya malu🤭
total 1 replies
Kota Tegalan
nungguin part Jihan Toto Jena nihhh , apalagi Jihan ngarep banget di jodohkan sama anak tunggal dari keluarga milyader gongnya Toto Jena yg nikah padan muka tuh Ardhana family 🤣🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: wkwwk🤭
total 3 replies
Yeyet Rohaeti
iya sama, saya juga pas si jovian ama si Michelle aku skip sebel banget.
Ama Apr: hehe jng gitu kk😂
total 1 replies
partini
jujurly Thor kalau pas part si Jo aku skip kalau Jena aku baca
Ama Apr: jangan dong😂
total 1 replies
nunik rahyuni
toto anak ceo yg menyamar ya thor🤔🤔
yg di incer sifa buat jihan...
Ama Apr: hihi, tunggu sj kk
total 1 replies
nunik rahyuni
itu jatahnya jena thor...awas lo klo di kasihkn kutu kupret itu...😡
Ama Apr: hahaha🤭
total 1 replies
nunik rahyuni
ya mereka sangat cocok...yg satu g punya pendirian satunya tukang memaksakan kehendak
.cocok kan
Ama Apr: betul, klop
total 1 replies
falea sezi
buang berlian demi jalang 🤣🤣 tinggal nunggu penyesalan mu joo😒
Ama Apr: pastii itu😂
total 1 replies
Nining Sariningsih
jijik sama keluarga si jovian,tuhan masih sayang ma jena makanya segera dijauhkan sama keluarga tonik itu,Thor jangan2 Toto itu yang punya perusahaan taksinya🤭,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Eneng Farida
thor jangan bilang toto yg punya perusahaan taksi itu dia yg menyamar trus d jodohin sm jihan ngga rela smpqi itu terjadi
Ama Apr: belum tentu jg kk🤭
total 1 replies
partini
keluarga gila harta dan tahta mau jodohin juga bagus sih biar tambah kaya raya 👍👍👍👍
Ama Apr: kayknya semua negara y kk😂
total 5 replies
falea sezi
kuat Jena lupain laki bego bekasss itu mas toto siap menanti🤣
Ama Apr: iya hihi
total 1 replies
Nining Sariningsih
betul,,,banget jena lupakan orang2 serakah itu,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Yeyet Rohaeti
semangat Jena 💪💪
Ama Apr: siappp
total 1 replies
aku
ngiris bawang 😭😭😭😭
Ama Apr: huhuhuhu
total 1 replies
Dartihuti
Ma sya'allah Tabarakallah Jenna...
q gk sekuat itu...sempat terpuruk,masih ada cinta didasar hati tp udah iklas...mesti rmh tgg mereka hancur datang ingin kembali,bagi q cukup kita bkn barang dibuang lalu mo dipungut mending sendiri menikmati sendiriqn...aaa jd ingat deh
😥🤭 moga ttp pd pendirian menjauh💪Authour...Alhamdulillah panjang banget salam sehat🙏
Ama Apr: 🫰🫰🫰🥰🥰🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!