NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Pilihan Terburuk

Arya tidak sempat menjawab panggilan Keisha malam itu.

Beberapa menit kemudian ia mengirim pesan singkat: Sedang ada urusan. Saya telepon balik?

Keisha menatapnya lama, lalu membalas: Tidak perlu. Salah tekan.

Pagi berikutnya, ia tahu dirinya telah menyia-nyiakan satu-satunya kesempatan untuk meminta bantuan sebelum perang dimulai.

Tiga mobil berhenti di depan rumah lama Bekasi pukul sepuluh tepat. Pak Sugiarto turun dari mobil pertama mengenakan batik cokelat mengilap. Dua kerabat membawa kotak buah, kain, perhiasan, dan bingkisan yang disusun seperti lamaran sungguhan.

Tetangga mulai keluar ke teras. Tirai jendela bergerak. Pesan di grup WhatsApp perumahan pasti sudah beredar lebih cepat daripada tamu-tamu itu berjalan ke pintu.

Della menyambut mereka dengan senyum lebar. "Silakan masuk, Pak. Anggap rumah sendiri."

Herman berdiri di ruang tamu, rapi seperti ayah yang hendak melepas putri tercinta. Sherina tidak tampak. Mungkin ia cukup pintar untuk tidak menyiarkan transaksi manusia secara langsung.

Keisha tetap berdiri di dekat meja makan yang retak.

"Saya sudah bilang tidak," katanya.

Pak Sugiarto memandangnya dari atas ke bawah. "Perempuan kadang bilang tidak karena malu. Setelah keluarga bicara, biasanya mengerti."

"Saya tidak malu. Saya menolak."

Salah seorang kerabatnya tersenyum canggung. Della segera menyela, "Icha sedang lelah karena banyak jaga. Jangan dimasukkan hati."

"Tante Della tidak berhak menjawab untuk saya."

Herman mengangkat tangan. "Duduk dulu. Kita bicarakan baik-baik demi nama keluarga."

"Nama keluarga siapa? Mama tidak pernah menjadikan anaknya alat bayar utang."

Bisik-bisik terdengar dari halaman. Pintu sengaja dibiarkan terbuka agar tetangga melihat bingkisan, tetapi sekarang keterbukaan itu memakan pemilik sandiwara.

Keisha mengambil salinan surat utang dari tas. "Pak Sugiarto, kalau ini benar lamaran terhormat, jelaskan kenapa jumlah utang perusahaan berkurang kalau saya menikah dengan Bapak."

Wajah pria itu berubah. "Itu urusan bisnis antara saya dan Pak Herman."

"Tepat. Jadi jangan bungkus penagihan utang sebagai pernikahan."

Seorang tetangga di pagar berbisik cukup keras, "Astaghfirullah, jadi anaknya buat bayar utang?"

Della buru-buru menutup pintu, tetapi terlalu terlambat.

Herman merampas kertas dari tangan Keisha. "Kamu mempermalukan keluarga sendiri."

"Orang yang membuat utang palsu dan menawarkan anak angkatnya kepada kreditur yang mempermalukan keluarga."

"Palsu?" Pak Sugiarto berdiri. "Jaga tuduhanmu."

"Tunjukkan bukti penerimaan barang dan arus dana. Kalau semuanya benar, saya akan diam soal utang. Tapi saya tetap tidak akan menikah dengan Bapak."

Pak Sugiarto mendorong kotak perhiasan di meja sampai bergeser. "Kamu pikir banyak laki-laki mau menerima perempuan dengan keluarga berantakan dan ibu yang terus menghabiskan uang?"

Keisha merasakan darah naik ke kepala.

"Lebih baik tidak ada satu pun daripada menerima laki-laki yang menghitung napas ibu saya sebagai kerugian. Bawa pulang semua bingkisan Bapak."

Ia membuka pintu lebar-lebar. Para tetangga yang masih mengintip segera pura-pura menyiram tanaman.

Pak Sugiarto pergi dengan wajah gelap. Kerabatnya mengangkat kembali kotak-kotak hadiah tanpa berani menatap Keisha. Sebelum masuk mobil, ia menoleh kepada Herman.

"Utang jatuh tempo besok. Jangan minta kelonggaran lagi."

Ancaman itu membuat Della pucat.

Begitu mobil terakhir pergi, Herman mengunci pintu dan berbalik. Telapak tangannya menghantam meja hingga bingkai foto Anindita bergetar.

"Puas?"

"Saya tidak akan menikah untuk menutup kesalahan Pak Herman."

"Kalau begitu tanggung akibatnya." Ia mengangkat ponsel. "Saya hentikan pembayaran kamar Anin hari ini. Saya juga akan meminta evaluasi penghentian perawatan tambahan."

"Mama punya hak sebagai pasien. Pak Herman tidak bisa mencabut semua tindakan sesuka hati."

"Tindakan dasar mungkin tetap berjalan. Tapi perawat tambahan, nutrisi pilihanmu, fisioterapi, semua biaya di luar BPJS berhenti. Kalau rumah sakit butuh tanda tangan wali untuk keputusan berikutnya, mereka menghubungi saya, bukan kamu."

Keisha ingin membantah, tetapi ia tahu bagian terakhir itu benar.

Della berdiri di belakang Herman. "Seharusnya kamu menerima orang yang mau membantu. Sekarang jangan salahkan kami kalau Bu Anin dipindahkan ke fasilitas yang lebih murah."

"Jangan pindahkan Mama."

"Bayar sendiri," kata Herman.

Keisha meraih tas dan keluar sebelum amarah membuatnya melakukan sesuatu yang akan dipakai melawannya. Ia memesan kendaraan menuju Bandung, sepanjang perjalanan menghitung saldo, cicilan, dan jumlah hari yang bisa dibeli oleh uang muka Arya.

Tak ada angka yang cukup jika Herman terus memegang tanda tangan.

Di rumah sakit, Anindita masih terbaring seperti kemarin. Namun lembar administrasi baru terselip di ujung ranjang: penanggung biaya keluarga meminta penghentian beberapa layanan tambahan mulai akhir pekan.

Keisha membaca setiap baris dengan tangan dingin.

Herman benar-benar melakukannya.

Ia membawa lembar itu ke meja perawat. "Apakah layanan Mama langsung dihentikan hari ini?"

Perawat jaga memeriksa sistem. "Perawatan dasar dan terapi yang masuk paket BPJS tetap berjalan, Dok. Tapi pendamping tambahan, jadwal fisioterapi di luar paket, dan beberapa pilihan nutrisi belum mendapat jaminan pembayaran berikutnya. Bagian administrasi memberi waktu dua hari."

"Bagaimana dengan pemindahan fasilitas?"

"Tidak bisa mendadak. Harus ada penilaian dokter, ketersediaan tempat, rujukan, dan persetujuan wali. Tapi Pak Herman sudah meminta konsultasi untuk opsi itu."

"Tolong catat bahwa saya menolak pemindahan sebelum ada evaluasi lengkap."

Perawat itu menatap Keisha dengan iba. "Kami catat keberatan Dokter sebagai keluarga. Untuk keputusan yang memerlukan wali, bagian hukum rumah sakit tetap akan menghubungi suami pasien."

Kata suami pasien menekan luka yang sama. Herman tidak merawat Anindita, tetapi hukum masih memberinya kursi paling dekat dengan keputusan.

Ia duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangan Mama. Telapak itu ringan, tulang-tulangnya terasa jelas di bawah kulit.

"Aku bisa jual motor," bisiknya. "Aku bisa ambil lebih banyak jaga. Tapi kalau dia memindahkan Mama atau menolak prosedur penting, uang saja tidak cukup."

Monitor menjawab dengan bunyi teratur.

Air mata jatuh ke seprai. Keisha mengusapnya cepat, marah pada dirinya sendiri karena menangis tidak mengubah satu tanda tangan pun.

Pak Sugiarto adalah jurang yang terbuka.

Arya adalah jalan yang belum ia kenal, licin dan penuh syarat. Namun pria itu sudah memberinya hak keluar, tidak menggunakan uang untuk menahan, dan berjanji semua batas ditulis. Jika lamaran keluarga Arya dibuat nyata, Herman tak akan bisa lagi menjualnya kepada Sugiarto. Jika kontrak memberi perlindungan hukum dan dana, ia bisa membeli waktu untuk menyelamatkan Mama serta membongkar AnHome.

Bukan pilihan baik.

Hanya pilihan yang paling sedikit menghancurkannya.

Keisha menempelkan tangan Anindita ke pipinya. "Mama, aku pasti jaga kamu. Aku tidak akan menikah dengan orang yang menjijikkan itu."

Ia berdiri, menarik napas sampai dadanya tidak lagi bergetar, lalu menekan nomor Arya.

"Soal tanggung jawab itu," katanya ketika nada sambung mulai terdengar, "aku mau bicara serius."

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!