NovelToon NovelToon
Aku Tidak Mandul, Mas!

Aku Tidak Mandul, Mas!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:535.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.

Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.

Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Suara mobil Darto Erlangga perlahan menghilang meninggalkan halaman mansion.

Malam kembali terasa sunyi. Hanya suara gemerisik angin dan aroma mawar dari taman yang masih tersisa di udara. Annisa berdiri cukup lama di ruang tamu sambil memandangi pintu depan yang sudah tertutup.

Entah kenapa hatinya terasa hangat malam itu. Setelah bertahun-tahun, dirinya kembali merasakan rasanya dipeluk ayahnya. Namun, di tengah lamunannya, langkah kaki terdengar mendekat.

Emran Richard baru saja kembali dari mengantar Darto keluar. Pria itu masih mengenakan jas hitamnya dengan ekspresi tenang seperti biasa.

Tatapannya langsung jatuh pada Annisa.

“Annisa,"

Wanita itu refleks menoleh.

“Hm?”

Emran terdiam sebentar sebelum berkata singkat, “Masuk ke ruang kerja saya.”

Annisa sedikit terkejut. Tetapi, pria itu sudah lebih dulu berjalan menuju tangga besar mansion tanpa menjelaskan apa pun lagi. Langkahnya tenang dan tegas seperti biasanya. Annisa menatap punggung pria itu beberapa detik sebelum akhirnya mengikuti perlahan dari belakang.

Suasana mansion terasa jauh lebih sunyi sekarang. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar di anak tangga besar berlapis marmer itu. Annisa diam-diam menggenggam jemarinya sendiri gugup.

Tatapan Annisa sejak tadi tidak pernah benar-benar lepas dari punggung Emran.

Ruang kerja milik Emran Richard terasa jauh lebih tenang dibanding ruangan lain di mansion itu. Lampu temaram berwarna hangat menerangi rak-rak buku besar dan meja kerja hitam yang terlihat elegan.

Sementara di luar jendela, hujan kecil masih turun perlahan. Annisa Erlangga duduk di sofa dengan posisi cukup kaku. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Tatapan matanya terlihat gugup sejak tadi.

Emran yang menyadari itu akhirnya menatapnya datar sambil menuangkan teh hangat ke dalam cangkir.

“Tidak perlu setegang itu,"

Annisa refleks menoleh.Emran menyerahkan cangkir itu padanya lalu berkata tenang,

“Saya tidak memakan orang,”

Annisa langsung tersenyum canggung, dan untuk pertama kalinya malam itu, suasana terasa sedikit lebih ringan.

“Maaf...” gumam wanita itu pelan sambil menerima teh.

Emran duduk di sofa seberangnya dengan tenang. Tatapan pria itu lurus menatap Annisa beberapa detik sebelum akhirnya masuk ke inti pembicaraan.

“Sekarang katakan,” nada suaranya kembali serius

“Apa rencanamu untuk membalas Haikal dan keluarganya?”

Annisa menundukkan pandangan pada cangkir teh di tangannya.

“Aku tidak mau membalas mereka dengan tangisan lagi.”

Emran diam mendengarkan. Annisa menggenggam cangkir itu sedikit lebih erat.

“Aku ingin mereka kehilangan apa yang paling mereka banggakan.” Tatapannya mulai memanas.

“Haikal sangat terobsesi dengan jabatan dan uang.”

Senyum tipis pahit muncul di bibir wanita itu.

“Jadi aku ingin dia jatuh tepat saat dia merasa hidupnya paling sempurna.”

Emran masih diam, tatapannya terlihat semakin dalam memperhatikan Annisa.

“Aku ingin dia tahu...” suara Annisa mulai bergetar menahan luka, “wanita yang dia hina dan buang dulu sebenarnya jauh lebih tinggi dari dirinya...”

Napas wanita itu perlahan memburu.

“Dan ibu mertuaku...” matanya mulai memerah lagi, “aku ingin dia menyesal karena memperlakukanku seperti pembantu.”

Ruangan kembali hening. Lalu Annisa mengangkat wajahnya perlahan menatap Emran, sorot matanya benar-benar serius.

“Aku butuh bantuan Anda,”

Tatapan Emran langsung bertemu dengan milik Annisa. Wanita itu menggigit bibirnya pelan sebelum melanjutkan,

“Aku tidak bisa melakukan semuanya sendiri...”

Kalimat permintaan bantuan itu terdengar begitu berat bagi seseorang seperti Annisa yang selama ini selalu menahan semuanya sendirian.

Pria itu menyandarkan tubuhnya ke sofa.

“Saya bisa membantumu...”

Mata Annisa langsung sedikit membesar, kalimat berikutnya membuat napasnya tercekat.

“Tetapi tidak gratis,"

Jemari Annisa langsung menegang di atas cangkir teh hangatnya. Tatapan wanita itu berubah gugup. Karena cara Emran mengatakannya terdengar begitu serius.

“Apa ... yang Anda inginkan?” tanyanya pelan.

Emran tidak langsung menjawab. Pria itu justru bangkit berdiri lalu berjalan perlahan mendekati jendela besar ruang kerja. Punggung tegapnya terlihat tenang di bawah cahaya lampu kota malam. Annisa menatap pria itu gugup dari belakang. Jantungnya mulai berdetak tidak karuan. Dirinya merasa jawaban Emran bukan sesuatu yang sederhana. Beberapa detik kemudian, Emran akhirnya membuka suara tanpa menoleh.

“Saya akan mengatakannya saat malam ulang tahun ayahmu,”

Kening Annisa langsung berkerut bingung.

“Malam ulang tahun Ayah?”

Emran akhirnya menoleh sedikit.

“Iya.”

“Hanya itu?”

“Sampai waktunya tiba,” jawab pria itu datar.

Annisa semakin penasaran. Tetapi, melihat ekspresi Emran yang jelas tidak ingin membahas lebih jauh, wanita itu akhirnya hanya menggenggam cangkirnya pelan sambil menunduk kecil.

Sementara di sisi lain, Emran diam-diam memperhatikan Annisa dalam hening. Pria itu merasa dirinya benar-benar tidak ingin melepas wanita itu lagi.

Annisa masih duduk diam sambil memikirkan ucapan Emran tadi. Sedangkan, Emran Richard berjalan kembali menuju meja kerjanya dengan langkah tenang.

Pria itu lalu mengambil ponselnya. Tanpa banyak bicara, Emran langsung menekan nomor seseorang.

Panggilan tersambung.

“Satrio.” Suara Emran langsung berubah dingin dan penuh tekanan.

Annisa refleks mengangkat pandangan.

[Iya, Tuan Emran?] suara Satrio terdengar hormat dari seberang sana.

Emran duduk santai di kursinya sambil menyilangkan kaki.

“Besok mulai perlakukan Haikal lebih rendah lagi.”

Napas Annisa langsung tertahan kecil. Tatapannya otomatis tertuju pada Emran.

Sementara pria itu tetap berbicara dengan wajah tenang seolah sedang membahas pekerjaan biasa.

“Pindahkan dia sementara ke bagian gudang.”

Suara Emran terdengar datar, justru itu yang membuat kalimatnya terasa lebih menekan.

“Beri pekerjaan yang paling melelahkan.” Lalu Emran kembali berkata tanpa belas kasihan,

“dan buat dia merasa dirinya tidak lebih layak dari sampah.”

Jemari Annisa langsung menegang di pangkuannya. Dia bisa mendengar semuanya dengan jelas. Cara Emran memberi perintah begitu tenang.

Di seberang telepon, Satrio sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab hati-hati,

[Baik, Tuan.]

Panggilan langsung diputus.

Emran meletakkan ponselnya pelan di atas meja seolah tidak baru saja menghancurkan hidup seseorang perlahan.

Sementara Annisa menatap pria itu diam-diam. Dia benar-benar menyadari sebesar apa kekuasaan Emran sebenarnya.

Setelah panggilan itu berakhir, suasana ruang kerja kembali sunyi. Hanya suara hujan kecil di luar jendela yang terdengar samar. Annisa masih duduk diam sambil menatap Emran Richard. Semakin lama mengenal sisi pria itu, semakin sulit pula Annisa memahami dirinya. Emran bisa terlihat begitu dingin dan menakutkan.

Pria itu juga yang menariknya keluar dari hujan malam dan memberinya tempat berlindung.

Emran kembali merapikan beberapa berkas di meja kerjanya sebelum akhirnya mengangkat pandangan.

“Kamu harus tidur,”

Annisa sedikit tersadar dari lamunannya.

“Hm?”

Emran menatapnya tenang.

“Besok kamu harus ke rumah sakit...” Nada suaranya kembali datar namun terdengar jelas penuh perhatian.

“Saya akan mengantarmu.”

Jantung Annisa berdegup kecil mendengar kalimat itu. Wanita itu lalu mengangguk pelan.

“Terima kasih...”

Emran berdiri dari kursinya lalu berjalan menuju pintu ruang kerja.

“Jangan terlalu banyak berpikir malam ini,"

Annisa terdiam sesaat. Lalu perlahan berdiri mengikuti pria itu keluar ruangan. Koridor mansion terlihat jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya. Lampu-lampu malam menyala redup hangat.

Saat tiba di depan kamar Annisa, Emran berhenti.

“Kunci pintu kalau mau tidur,”

Annisa menatap pria itu beberapa detik sebelum mengangguk kecil.

“Baik.”

Sebelum masuk ke kamar, wanita itu sempat menoleh lagi.

“Tuan Emran...”

Pria itu menatapnya.

“Kenapa Anda membantu saya sejauh ini?”

Tatapan Emran terlihat sulit dibaca. Lalu pria itu hanya menjawab singkat,

“Tidurlah,”

Setelah itu, Emran langsung berbalik pergi meninggalkan koridor. Annisa berdiri diam cukup lama di depan pintu kamarnya. Dengan jantung yang entah kenapa kembali berdebar tidak tenang malam itu.

1
Sri Widjiastuti
ayah emeli ganti nama?? Rendra jd louis kah?? 🤭
Aisyah Alfatih: perasaan ku Louis lah ayah Emeli, karena ini cuma muncul tiga kali ampai lupa 🤣
total 2 replies
Putri Handayani
bagus
Nani Te'ne
suka
ken darsihk
Horang kaya mah bebasss 😍😍
ken darsihk
Ulat keket minta di garuk 😂😂😂
ken darsihk
Bahagia untuk kalean Anissa Emran 😍😍
Enny Suhartini
sudah hadir kak 👍
Enny Suhartini
Alhamdulillah terima kasih cerita nya 👍
Isabela Devi
emang semua manusia boleh kaya dan tidur di atas uang tetapi doa tidak bisa di beli oleh siapapun 🙏
Isabela Devi
kadang memang aneh
Isabela Devi
semoga ga terjadi keributan antara Anisa dan emran
Atmita Gajiwi
/Rose//Rose//Kiss/
Fia Ayu
Ok, ok, ok, yg 2 dah happy ending
Nie bakalan crazy up, aku akan baca, sepertinya ngeri2 sedap nie alurnya😁
Yunita Sophi
terima kasih thor... suka cerita bagus
Yunita Sophi
happy ending tp sayang aja blm di lahirkan... makin seru kali yah
Yunita Sophi
Nisa coba bisikan aq... jgn pelit deh 😅
Yunita Sophi
itu ibu knp belum berubah jg bu... kasian anak nya klo ibu begitu terus
Yunita Sophi
hanya doa tulus yg tdk dapat di beli itu betul Emran... sekaya apa pun qta tdk akan bisa membeli doa...
Raden
sadar anisa, kdrt sudah itu, ditampol loh, sadar heh istri hadeeeh
Raden
makan tuh cinta anisa, mau aja di tindas orang, bodohnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!