Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Jatuhnya Musuh
Kaizan membuka pintu.
Moreno berdiri bersama kepala keamanan dan penasihat hukum. "Revan tertahan di ruang penyimpanan. Paket masih berada di dalam tas. Kami belum menyentuhnya. Polisi sudah dalam perjalanan."
"Wenny?"
"Nomornya aktif. Pesan terakhir masuk dua menit lalu, menanyakan apakah foto sudah dikirim."
Kaizan mengenakan jas tanpa mengganti perban di tangannya. "Simpan seluruh komunikasi melalui salinan forensik. Tidak ada yang membalas tanpa persetujuan penyidik."
Mereka turun ke pusat pengawasan. Di layar utama, Revan tampak mondar-mandir di antara dua pintu yang terkunci. Dia baru menyadari kamera bekerja setelah petugas keamanan berbicara melalui pengeras suara.
"Saudara Revan, letakkan ponsel di lantai dan menjauh dari loker."
"Kalian tidak bisa mengurung saya!"
"Area ini terbatas. Petugas dan saksi sedang menuju lokasi. Ikuti instruksi keselamatan."
Revan mencoba pintu sekali lagi. Gagangnya tidak bergerak.
Dua petugas keamanan masuk bersama satu petugas kepatuhan dan perwakilan hukum. Kamera tubuh mereka menyala. Revan diminta berdiri menghadap dinding sementara ponsel, kartu akses, serta jaket teknisi difoto di posisi awal.
Tidak seorang pun merogoh tas milik Keira dengan tangan kosong. Mereka menutup area, mencatat orang yang masuk, lalu menunggu penyidik tiba untuk membuka dan mengambil paket sebagai barang bukti.
"Itu bukan milik saya," kata Revan.
"Kami belum menanyakan kepemilikan," jawab petugas hukum.
"Loker itu atas nama Keira. Kalian seharusnya memeriksa dia."
Di pusat pengawasan, Kaizan menatap layar tanpa berkedip.
"Dia bahkan menyiapkan alasan sebelum paket ditemukan," kata Moreno.
"Biarkan rekaman yang menjawab."
Penyidik tiba pukul tiga lewat dua puluh. Setelah surat tugas, identitas, dan proses serah terima dicatat, loker dibuka. Paket ditemukan tepat di bawah bantalan tas. Foto di ponsel Revan menunjukkan tangannya sendiri sedang menyelipkannya. Pesan dengan Wenny masih tampak pada layar yang belum terkunci.
Petugas mengemas paket, ponsel, dan kartu akses secara terpisah. Nilai hash salinan video dibuat di hadapan saksi. Revan dibawa ke ruang keamanan untuk pemeriksaan awal sebagai orang yang tertangkap berada di area terbatas, bukan dipaksa mengaku oleh perusahaan.
Dia tetap berteriak bahwa semuanya salah paham.
"Saya datang untuk memeriksa perlengkapan!"
Petugas kepatuhan membuka jadwal. "Anda bukan teknisi, tidak terdaftar untuk tugas malam, dan kartu yang digunakan milik kontraktor yang sudah tidak aktif."
"Wenny meminta saya mengambil barangnya. Saya tidak tahu isi paket."
"Baru tadi Anda mengatakan paket itu milik Keira," kata penasihat hukum.
Revan terdiam.
Tidak ada satu pun petugas yang perlu meninggikan suara. Setiap kebohongan patah oleh waktu, gambar, atau pesan yang dia buat sendiri.
Ketika diberi tahu bahwa pemeriksaan polisi akan dilanjutkan sesuai haknya memperoleh penasihat hukum, Revan mencoba cara lain.
"Saya punya informasi tentang perusahaan. Saya mau bicara dengan pemilik baru. Langsung."
Permintaan itu disampaikan kepada Kaizan.
"Dia mencoba menukar informasi," kata Moreno. "Kita tidak membutuhkan pengakuannya untuk membuktikan penanaman paket."
"Aku tahu."
"Bos tidak perlu menemuinya."
Kaizan melihat jam anak-anak di balik mansetnya. Pesan terakhir Keira masih tersimpan di sana: jangan lupa pulang.
"Bawa dia ke kantor. Pastikan penyidik dan penasihat hukum hadir. Pertemuan tetap direkam."
Pukul empat lewat, Revan masuk ke lantai eksekutif dengan dua petugas di sisinya. Kesombongannya kembali sedikit saat melihat pintu besar bertuliskan Direktur Utama.
"Saya tahu siapa yang membocorkan data vendor," katanya. "Kalau pemilik baru mau membuat kesepakatan, saya bisa..."
Pintu terbuka.
Kaizan duduk di belakang meja. Jas gelap menutupi kemeja yang tadi dipakai keluar dari apartemen. Tidak ada topi, masker, atau kacamata hitam. Di sampingnya berdiri Moreno. Dinding belakang memuat foto resmi dan nama lengkap Kaizan Tanujaya.
Revan berhenti melangkah.
Wajahnya kehilangan warna.
Dia mengenali pria yang menolong Keira di pesta, pria yang menunggunya di apartemen, pria yang menyebut diri Kai, dan sosok yang selama ini dibicarakan seluruh NusAir sebagai pemilik baru.
"Jadi kamu itu..."
Kaizan menyandarkan punggung. "Sekarang kamu tahu. Tapi terlambat."
Mulut Revan terbuka, tetapi tidak ada suara.
"Duduk," perintah penyidik, bukan Kaizan.
Revan jatuh ke kursi. Tatapannya bergerak dari jam biru di tangan Kaizan ke foto resmi di dinding.
"Keira tinggal denganmu."
"Informasi yang kamu tawarkan?" tanya Kaizan.
"Kamu suaminya?"
"Ini bukan tempat membahas kehidupan pribadinya."
"Dia tahu?"
Kaizan tidak menjawab.
Senyum tipis dan buruk muncul di wajah Revan. Untuk pertama kalinya sejak tertangkap, dia merasa menemukan sesuatu yang dapat melukai lawannya.
Lalu matanya jatuh pada miniatur pesawat di meja dan dokumen akuisisi NusAir yang masih terbuka. Semua kejadian beberapa minggu terakhir tersusun ulang di kepalanya.
"Pesawat yang datang ke Bandung," gumamnya. "Kartu hitam itu. Reformasi perusahaan. Semua karena kamu."
"Reformasi dilakukan karena perusahaan membiarkan orang seperti Teguh berkuasa," jawab Kaizan. "Bukan untuk memberi Keira nilai."
"Dia menang evaluasi karena tidur dengan pemilik!"
Moreno bergerak, tetapi Kaizan mengangkat tangan.
"Nilainya dibuat dua penguji independen, rekaman simulator, ujian teori, dan data penerbangan. Semua sudah diaudit sebelum aku melihat hasilnya. Kamu sudah mencoba merampas pencapaiannya saat menjadi pacarnya. Sekarang kamu mencoba lagi saat menjadi tersangka."
Revan menggertakkan gigi. "Kalau bukan karena Keira, hidup saya tidak akan hancur."
"Keira tidak menyuruhmu membawa perempuan yang kehilangan kesadaran ke Teguh. Dia tidak menyuruhmu memalsukan pesan, mencuri kartu akses, atau menanam obat. Kamu berjalan ke setiap kehancuranmu sendiri."
Kaizan tidak membentak. Dia menyebut tindakan satu per satu sampai Revan tidak punya tempat menyembunyikan tanggung jawab.
"Kamu datang meminta kuasa untuk menyelamatkanmu," lanjutnya. "Sayangnya, kuasaku hanya kupakai memastikan aturan bekerja tanpa bisa dibeli."
"Informasi Anda," ulang penasihat hukum. "Jika tidak ada, pertemuan selesai."
Revan menyebut dua nama vendor dan satu rekening perantara. Moreno meletakkan salinan audit di meja. Ketiganya sudah ditemukan minggu lalu.
"Ada lagi?" tanyanya.
Tidak ada.
Revan akhirnya menyadari bahwa dia tidak memiliki apa pun untuk ditukar.
Pagi menjelang ketika rapat disipliner darurat dimulai melalui sambungan aman. Tim kepatuhan mempresentasikan rekaman masuk, bukti loker, pesan Wenny, pemalsuan tangkapan layar, dan pelanggaran akses. Revan diberi kesempatan mengirim tanggapan melalui pendamping hukumnya. Wenny dipanggil terpisah dan menolak hadir, tetapi penerimaan panggilan serta jawabannya tercatat.
Wenny sempat mencoba menghapus percakapan dari perangkatnya. Upaya itu tidak menghapus pesan yang sudah diterima ponsel Revan, salinan cadangan akun perusahaan, atau metadata koneksi yang telah dikunci sejak penyelidikan surat anonim. Surat anonim tentang Cloud, akses rekomendasi pemecatan Keira, dan instruksi malam ini menunjuk pola pembalasan yang sama.
Komisaris yang dulu diam karena saham Benny kini tidak punya alasan berlindung. Benny sendiri mengirim pernyataan tertulis bahwa dia menerima penyelidikan atas suapnya, mencabut kuasa Wenny, dan tidak menentang keputusan disipliner. Pernyataan itu bukan pengampunan bagi dirinya. Itu hanya menutup jalan terakhir yang biasa dipakai putrinya.
Keputusan korporasi tidak menyatakan mereka bersalah secara pidana. Keputusan itu menyatakan pelanggaran berat terhadap keamanan, pemalsuan, pembalasan kepada pelapor, dan percobaan merusak keselamatan operasional terbukti berdasarkan standar internal.
Kontrak kerja Revan dan Wenny dihentikan pada hari yang sama. Seluruh akses, fasilitas, serta kewenangan perwakilan mereka dicabut. Perusahaan mengajukan laporan pidana dan menyerahkan bukti kepada penyidik. Penentuan dakwaan tetap berada pada aparat dan jaksa.
Sebuah pemberitahuan internal dikirim kepada karyawan tanpa menyebut detail korban. Isinya menjelaskan bahwa dua pegawai diberhentikan karena pelanggaran keamanan berat dan tindakan balasan, bahwa bukti telah diserahkan kepada aparat, serta bahwa hasil evaluasi dan seleksi penerbang tidak berubah oleh fitnah mereka.
Nama Keira tidak perlu dipakai sebagai tontonan untuk membersihkan namanya. Sistem yang dapat diverifikasi sudah berbicara.
Kepatuhan juga membuka masa keberatan bagi pegawai yang pernah menerima ancaman dari Revan atau Wenny. Semua laporan diarahkan ke pihak independen, bukan ke atasan lama mereka. Kaizan menolak usul seorang komisaris untuk mengumumkan bahwa kasus telah selesai.
"Perusahaan selesai memecat mereka," katanya. "Proses pidana baru dimulai. Jangan mengambil kesimpulan yang menjadi kewenangan pengadilan."
Moreno memastikan pemberitahuan yang sama tersedia bagi seluruh kru di luar Jakarta.
Pada jalur terpisah, perangkat asli dari brankas Benny, transaksi vendor, dan kesaksian awal lima korban Teguh resmi diserahterimakan. Kepolisian menerima laporan gabungan untuk penyelidikan lebih lanjut. NusAir mengumumkan pencopotan permanen Teguh dari seluruh fungsi perusahaan dan membuka kanal dukungan korban tanpa menyebut identitas siapa pun.
Wenny mencoba menelepon ayahnya dari luar gedung. Benny tidak menjawab. Untuk pertama kalinya, nama Sutanto tidak membuka satu pintu pun.
Revan dibawa melewati lobi eksekutif menjelang pukul delapan. Kaizan berdiri di depan kantor bersama Moreno. Petugas berhenti sebentar untuk memeriksa dokumen pengawalan.
"Aku bisa memberi tahu Keira sekarang," kata Revan. "Satu kalimat saja."
"Ponselmu menjadi barang bukti," jawab Moreno.
"Aku bisa bicara saat diperiksa. Aku bisa menyuruh pengacara menghubunginya."
Kaizan berjalan satu langkah mendekat. "Kalau tujuanmu masih menyakitinya, kamu belum belajar apa pun."
Revan tertawa pendek. "Kamu pikir kamu lebih baik? Aku berbohong dan kehilangan dia. Kamu berbohong sambil tidur di rumahnya."
Kata-kata itu mengenai tempat yang tidak dapat dilindungi jabatan.
Petugas memberi isyarat agar Revan bergerak. Dia menurut, lalu berhenti tepat sebelum pintu lift.
Tatapannya mengunci Kaizan.
"Dia nggak tahu siapa kamu, kan? Suatu hari dia bakal tahu. Waktu itu, kamu bakal nyesel."