Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.
Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.
Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan yang Belum Padam
Zhou Ren masih menatap Sha Nuo beberapa saat. Sorot matanya menunjukkan keterkejutan yang belum sepenuhnya hilang.
Melihat ekspresi sang kaisar, Lan Suya buru-buru melangkah setengah langkah ke depan.
"Yang Mulia."
Ia kembali menangkupkan kedua tangannya.
"Senior Sha Nuo datang ke Kekaisaran Zhou bukan untuk urusan lain."
Lan Suya tersenyum tipis, berusaha membuat penjelasannya terdengar meyakinkan.
"Senior Boqin Changing hanya memintanya untuk melihat perkembangan Kelompok Harta Langit di wilayah Kekaisaran Zhou."
"Itulah alasan Senior Sha Nuo datang ke sini."
"..."
Tentu saja semua itu hanyalah karangan Lan Suya.
Bahkan dirinya sendiri sama sekali tidak mengetahui tujuan sebenarnya Sha Nuo datang ke Kekaisaran Zhou. Namun, menurutnya alasan tersebut adalah penjelasan yang paling masuk akal dan dapat menenangkan pihak kekaisaran.
Zhou Ren mendengarkan dengan tenang. Beberapa saat kemudian, ia menganggukkan kepala pelan.
"Aku mengerti."
Ia memang telah lama mengetahui bahwa salah satu pemilik Kelompok Harta Langit adalah Boqin Changing. Apabila Boqin Changing mengirim orang kepercayaannya untuk memeriksa perkembangan usaha tersebut, tentu bukan sesuatu yang aneh.
Zhou Ren kemudian melirik ke arah Jenderal Go Mu. Tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun, Go Mu langsung memahami maksud tatapan itu. Ia menganggukkan kepalanya pelan.
Kemudian, Zhou Ren kembali memandang Lan Suya.
"Nyonya Ya. Ada satu hal yang ingin kami bicarakan denganmu...”
"Kebetulan kita bertemu di tempat ini, izinkan kami memanfaatkan kesempatan tersebut."
Nada suaranya tetap tenang.
"Masalah ini cukup penting."
Tatapannya kemudian beralih kepada Yuang Dao. Lalu kepada Sha Nuo.
"Kami juga berharap Senior Yuang Dao dan Senior Sha Nuo bersedia ikut serta."
Lan Suya segera tersenyum.
"Tentu saja. Kalau Yang Mulia berkenan, kita bahkan bisa membicarakannya sekarang."
Namun...
"Tunggu."
Suara berat Sha Nuo tiba-tiba terdengar.
Semua orang langsung menoleh kepadanya. Sha Nuo menggaruk pipinya pelan sebelum berkata,
"Bagaimana kalau... malam ini saja?"
Ia tersenyum canggung.
"Aku ingin beristirahat terlebih dahulu."
"..."
Suasana mendadak menjadi hening. Semua mata tertuju kepada Sha Nuo. Bahkan Go Mu sedikit mengangkat alisnya.
Di seluruh Kekaisaran Zhou, hampir tidak ada orang yang berani menunda permintaan seorang kaisar. Terlebih lagi, orang yang baru pertama kali bertemu dengannya. Namun Sha Nuo mengucapkannya dengan nada yang begitu santai, seolah sedang meminta perubahan jadwal kepada teman lamanya.
Akan tetapi, tidak seorang pun benar-benar menganggap sikap itu sebagai bentuk penghinaan. Bagaimanapun juga, pria yang berdiri di hadapan mereka dikenal sebagai tangan kanan Boqin Changing.
Seorang tokoh yang kini disebut-sebut sebagai salah satu Kaisar Wilayah. Status seperti itu memang berbeda dengan pendekar biasa.
Lan Suya tampak sedikit gugup. Ia membuka mulutnya, namun tidak tahu harus mengatakan apa.
Di luar dugaan semua orang, Zhou Ren justru tersenyum.
"Tidak masalah."
Nada suaranya tetap hangat.
"Senior Sha Nuo tidak menolak. Senior hanya meminta agar pembicaraan ditunda sampai malam."
"Itu sudah lebih dari cukup."
Kemudian ia melanjutkan,
"Malam ini, aku akan datang ke Penginapan Kayu Mawar. Aku ingin berbincang langsung dengan kalian di sana."
Mendengar itu, wajah Lan Suya langsung berubah.
"Yang Mulia!"
Ia buru-buru menangkupkan kedua tangannya.
"Bagaimana mungkin kami membiarkan Yang Mulia datang sendiri? Biarlah kami yang menghadap ke istana."
"Itu jauh lebih pantas."
Namun Zhou Ren hanya menggeleng pelan.
"Tidak perlu."
Tatapannya menyapu wajah Lan Suya, Yuang Dao, Rou Xi, hingga Sha Nuo.
"Justru akan lebih baik jika aku yang datang ke tempat menginap Kelompok Harta Langit. Anggap saja... kunjungan dariku.”
Senyum tipis kembali menghiasi wajah Kaisar Zhou, membuat suasana yang semula terasa kaku perlahan menjadi lebih santai.
...******...
Beberapa saat kemudian, Sha Nuo akhirnya kembali ke Penginapan Kayu Mawar.
Tidak seperti biasanya, ia tidak berhenti di halaman depan ataupun berbincang sejenak dengan orang-orang di sekitarnya. Ia hanya menganggukkan kepala singkat sebelum berjalan lurus menuju kamarnya.
Krek...
Pintu kamar terbuka perlahan. Sha Nuo masuk, lalu menutupnya kembali.
Ruangan itu sunyi. Cahaya senja masuk melalui jendela yang sedikit terbuka, menerangi sebagian lantai kayu.
"..."
Tanpa berkata apa pun, ia berjalan menuju tempat tidur.
Bruk.
Tubuh besarnya langsung merebah di atas kasur. Kedua tangannya diletakkan di belakang kepala. Tatapannya menembus langit-langit kamar.
"..."
Sejujurnya, alasan ia meminta pembicaraan dengan Kaisar Zhou Ren ditunda hingga malam bukan karena dirinya membutuhkan istirahat. Pertarungan melawan Yuang Dao memang menyenangkan, tetapi sama sekali tidak menguras tenaganya hingga harus berbaring seperti ini.
Bahkan jika harus bertarung sekali lagi saat itu juga, ia masih sanggup melakukannya.
"..."
Sha Nuo perlahan mengangkat tangan kanannya. Telapak tangan itu kemudian menempel di dadanya.
Deg...
Deg...
Ia dapat merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"..."
Perlahan, ia memejamkan mata. Namun, semakin ia mencoba menenangkan pikirannya, semakin jelas sosok itu muncul di benaknya, Lan Suya.
Senyumnya, sorot matanya, dan cara wanita itu menangkupkan kedua tangan saat memberi hormat. Bahkan suara lembutnya semuanya, terlalu mirip.
"..."
Ingatan yang terkubur di sudut hatinya perlahan kembali muncul. Ia kembali melihat sosok seorang wanita dari masa lalu.
Wanita yang pernah mengisi seluruh isi hatinya. Wanita yang diam-diam selalu ia lindungi dari kejauhan. Namun, tidak sekali pun ia pernah mengucapkan perasaannya.
"..."
Saat itu, tubuhnya masih seperti monster sebelum Boqin Changing mengubahnya. Wajah yang bahkan membuat anak-anak kecil menangis ketakutan. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana setiap orang akan menyingkir saat dirinya berjalan melewati jalanan.
Tatapan jijik, tatapan takut, tatapan benci, semua itu telah menjadi bagian dari hidupnya. Bagaimana mungkin orang seperti dirinya berani berharap dicintai?
"..."
Ia bahkan tidak pernah memiliki keberanian untuk berdiri di samping wanita itu. Yang bisa ia lakukan hanyalah memperhatikannya dari kejauhan. Memastikan wanita itu tetap tersenyum. Memastikan tidak ada seorang pun yang menyakitinya. Itu saja sudah cukup baginya saat itu.
"..."
Sha Nuo mengembuskan napas panjang. Kelopak matanya masih tertutup. Namun bayangan wajah Lan Suya terus bertumpuk dengan wajah wanita dari masa lalunya. Semakin lama, semakin sulit dibedakan.
"Hah..."
Ia mengusap wajahnya pelan.
"Sudah lama sekali..." gumamnya lirih.
"Aku pikir... semuanya sudah kulupakan."
Namun ternyata, satu pertemuan singkat hari ini telah membangkitkan kembali kenangan yang selama ini terkubur jauh di dalam hatinya.
Sha Nuo kembali mengembuskan napas panjang. Ruangan itu kembali dipenuhi keheningan.
Dari balik jendela, angin sore berembus perlahan, membuat tirai tipis bergoyang lembut. Cahaya matahari yang semula menyinari lantai kayu sedikit demi sedikit bergeser, menandakan waktu terus berjalan.
"..."
Sha Nuo tetap memejamkan matanya. Ia tidak lagi berusaha memikirkan apa pun. Tidak tentang Lan Suya dan tidak tentang wanita di masa lalunya. Ia hanya membiarkan pikirannya menjadi kosong.
Perlahan, napasnya mulai kembali teratur. Degupan jantungnya yang semula terasa cepat juga mulai melambat.
"..."
Entah sudah berapa lama ia berbaring seperti itu. Suara angin yang berembus dari luar, aroma kayu tua di dalam kamar, serta keheningan yang jarang ia rasakan perlahan membuat seluruh tubuhnya menjadi rileks.
Kelopak matanya terasa semakin berat. Kesadarannya mulai memudar sedikit demi sedikit.
"..."
Tanpa ia sadari, ingatan tentang masa lalu yang semula memenuhi benaknya perlahan menghilang, berganti dengan kegelapan yang tenang. Tak lama kemudian Sha Nuo benar-benar tertidur.
Di atas ranjang kayu sederhana itu, wajahnya yang biasanya selalu dihiasi senyum percaya diri kini terlihat begitu damai. Seolah seluruh beban yang selama ini dipendamnya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk beristirahat, meski hanya untuk sesaat.
Di luar kamar, matahari perlahan tenggelam di balik pegunungan. Langit berubah jingga, lalu sedikit demi sedikit diselimuti warna keunguan, menandai datangnya malam yang sebentar lagi akan membawa pertemuan baru.