"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.
Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.
Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027: Proposal dari Nishikura
Pertemuan dengan Nishikura dimulai di ruang tamu Rumah Anggrek dengan teh mahal dan senyum yang terlalu halus.
Ratna Hartono duduk paling tegak.
Ia sudah mengganti pakaian dua kali sebelum tamu datang, memilih kebaya modern yang terlihat anggun di depan kamera meski tidak ada kamera. Bimo duduk di sampingnya dengan jas abu-abu, wajahnya menunjukkan jenis keramahan yang lahir dari rasa takut melewatkan peluang.
Di hadapan mereka, Pak Nishikura meletakkan sebuah map putih di atas meja.
Ia bukan orang yang berbicara keras. Usianya sekitar empat puluhan, tubuhnya ramping, rambutnya rapi, dan setiap gerakannya seperti sudah dihitung agar tidak terlihat tergesa-gesa. Ia memperkenalkan diri sebagai perwakilan keluarga Nishikura untuk Indonesia, membawa mandat langsung dari kantor regional mereka di Jakarta dan Singapura.
"Kami sudah lama mengamati PT Hartono Group," katanya. "Keluarga Hartono memiliki merek lama, jaringan retail, dan akses sosial yang tidak bisa dibeli dengan uang baru."
Ratna tersenyum.
Kalimat seperti itu selalu terdengar indah ketika ditujukan kepada keluarga yang sedang takut kehilangan tempat.
"Kami juga tahu Nishikura keluarga bisnis yang sangat kuat," kata Ratna. "Bu Agung tentu menghargai perhatian seperti ini."
Bimo batuk kecil. "Namun kami perlu memahami bentuk kerja samanya."
Pak Nishikura membuka map.
Halaman pertama berisi ringkasan niat investasi.
Kemungkinan injeksi dana.
Kerja sama distribusi.
Akses pasar regional.
Restrukturisasi lini mode.
Angka-angka di halaman itu cukup besar untuk membuat Ratna mencondongkan tubuh tanpa sadar.
"Ini serius?" tanyanya.
"Sangat serius."
Bimo membaca lebih pelan. Ia tidak sepenuhnya bodoh. Ia tahu uang besar jarang datang hanya untuk mengagumi sejarah keluarga orang lain.
"Apa syaratnya?"
Pak Nishikura tersenyum lebih tipis.
"Bagi keluarga bisnis seperti kita, kerja sama jangka panjang membutuhkan kepercayaan yang tidak hanya tertulis dalam kontrak."
Ratna mengerti lebih cepat daripada Bimo.
Matanya menyala.
"Anda maksud hubungan keluarga?"
"Kami percaya aliansi keluarga dapat memperkuat stabilitas. Keluarga kami memiliki seorang pewaris yang sedang dipersiapkan untuk memimpin ekspansi regional. Kiara Hartono adalah figur yang kami nilai cerdas, berpengaruh, dan memiliki posisi operasional yang kuat di PT Hartono Group."
Bimo meletakkan kertas.
"Kiara sudah menikah."
Ratna menoleh cepat. "Secara hukum prosesnya belum selesai, tapi semua orang tahu hubungan itu hanya perjanjian."
Kalimat itu diucapkan terlalu mudah.
Seolah dua tahun hidup seseorang bisa dihapus dengan satu label.
Pak Nishikura tidak bereaksi kasar. Justru karena itu, kata-katanya terasa lebih berbahaya.
"Kami tentu menghormati status hukum yang berlaku. Karena itu, proposal ini tidak meminta keputusan tergesa-gesa. Kami hanya ingin keluarga Hartono mempertimbangkan masa depan dengan kepala jernih."
Ratna mengambil map itu.
"Saya rasa Kiara akan mengerti kalau dijelaskan dengan benar."
Bimo tampak ragu. "Kiara tidak suka urusan pribadinya dibawa ke meja bisnis."
"Kiara terlalu lama dibiarkan keras kepala," kata Ratna. "Kalau ini bisa menyelamatkan perusahaan dan martabat keluarga, dia harus belajar melihat gambaran besar."
Pintu ruang tamu terbuka sebelum Pak Nishikura menjawab.
Kiara berdiri di ambang pintu.
Ia pulang lebih awal setelah Sinta mengirim pesan singkat bahwa ada tamu Nishikura di Rumah Anggrek. Wajahnya tenang, tetapi matanya langsung jatuh ke map putih di tangan ibunya.
"Apa yang harus aku lihat dengan gambaran besar?" tanyanya.
Ratna sedikit terkejut, lalu segera menyusun senyum.
"Kia, kebetulan sekali. Ini Pak Nishikura. Beliau membawa peluang kerja sama besar untuk Hartono."
Kiara masuk dan duduk tanpa menunggu dipersilakan.
"Saya sudah mendengar nama keluarga Nishikura. Apa bentuk kerja samanya?"
Pak Nishikura menilai Kiara dengan sopan.
"Investasi strategis, distribusi regional, dan potensi aliansi keluarga."
"Aliansi keluarga?"
Ratna menyela, "Maksudnya hubungan yang bisa memperkuat kepercayaan. Ini hal biasa di keluarga besar."
"Keluarga besar siapa?" suara Kiara dingin. "Keluargaku atau keluarga yang ingin membeli pengaruh di perusahaanku?"
Wajah Ratna berubah. "Jaga bicaramu."
Kiara mengambil map itu dari meja. Ia membalik halaman sampai menemukan bagian yang disembunyikan dalam bahasa paling lembut.
Pertimbangan hubungan keluarga jangka panjang.
Kesesuaian figur penerus.
Stabilitas pasca-restrukturisasi.
Tidak ada kata pernikahan di sana.
Justru karena itu, Kiara semakin muak.
"Kalian bahkan tidak berani menulis kata sebenarnya," katanya.
Pak Nishikura tetap tersenyum. "Dalam bisnis, beberapa hal lebih baik disebut secara elegan."
"Kalau maksud Anda saya harus menikah dengan pewaris Nishikura agar Hartono mendapat dana, jawabannya tidak."
Ratna berdiri. "Kiara."
"Tidak," ulang Kiara. "Saya sudah punya suami."
Kalimat itu jatuh ke ruang tamu seperti gelas pecah.
Bimo menatapnya.
Ratna tampak seperti baru ditampar.
Pak Nishikura akhirnya berhenti tersenyum, tetapi hanya sedikit.
"Saya diberi tahu pernikahan itu sedang dalam proses berakhir."
"Belum berakhir."
"Dan jika nanti berakhir?"
"Itu urusan saya. Bukan klausul investasi Anda."
Untuk sesaat, Kiara mendengar suara dirinya sendiri dan menyadari betapa jauh ia telah berjalan dari malam ketika ia membiarkan keluarganya mendorong berkas perceraian ke depan Arga. Dulu, kata suami terasa seperti formalitas. Sekarang, di hadapan orang asing yang mencoba mengubah hidupnya menjadi jaminan transaksi, kata itu menjadi pagar.
Ratna menahan marah. "Kamu tidak paham seberapa besar peluang ini."
"Aku paham. Justru karena paham, aku menolak."
"Kamu memilih Arga dibanding masa depan keluarga?"
"Aku memilih tidak dijual."
Bimo menutup mata sebentar.
Pak Nishikura merapikan mapnya. Ia tidak tampak tersinggung. Orang seperti dia tidak perlu tersinggung untuk menjadi ancaman.
"Keputusan pribadi tentu kami hormati," katanya. "Namun PT Hartono Group bukan hanya milik satu orang. Jika para pemegang saham melihat kondisi perusahaan dengan lebih jelas, mungkin mereka akan memiliki pandangan berbeda."
Kiara menatapnya.
"Itu ancaman?"
"Itu observasi bisnis."
"Kalau begitu bawa observasi Anda keluar dari rumah saya."
Ratna hampir berseru, tetapi Bimo menahan lengannya. Bahkan ia mengerti bahwa terlalu banyak tekanan di depan tamu akan membuat mereka terlihat lemah.
Pak Nishikura berdiri.
"Kami akan menunggu respons resmi dari keluarga Hartono."
"Anda sudah mendapat respons dari saya," kata Kiara.
"Dari Anda, ya. Dari seluruh keluarga, belum tentu."
Ia pergi dengan langkah tenang.
Setengah jam kemudian, Kiara berada di ruang rapat kecil PT Hartono Group. Ia tidak pulang untuk berdebat dengan Ratna. Ia memilih kembali ke kantor karena di sana setidaknya kemarahan bisa berubah menjadi dokumen.
Sinta Rahayu masuk dengan wajah tegang.
"Kia."
Kiara mengangkat kepala.
"Ada lagi?"
Sinta menutup pintu rapat.
"Aku dengar beberapa pemegang saham keluarga sudah dihubungi orang Nishikura. Bukan baru hari ini."
Kiara menggenggam ujung map putih yang dibawanya dari Rumah Anggrek.
Kertas itu tiba-tiba terasa lebih berat.
Jadi proposal itu bukan awal.
Itu hanya saat mereka memutuskan untuk menunjukkannya.
Sinta bicara lebih pelan, "Kalau mereka mulai mengumpulkan suara dari dalam, ini bukan lagi soal pernikahan. Ini soal kekuasaan."
Kiara menatap tulisan halus di dalam kerja sama itu.
Untuk pertama kalinya sejak menjadi CEO, ia merasa ruang rapat yang biasa ia kuasai mulai mengecil di sekelilingnya.