Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Senin pagi, Zain kembali mengenakan jaket ojolnya. Bedanya, kini di pergelangan tangan kirinya terpasang sebuah gelang sensor. Bentuknya sangat sederhana sehingga orang lain akan mengira itu hanya jam tangan murah. Padahal, setiap detik alat itu terus mengirimkan data langsung ke laboratorium.
Hari pertama berjalan biasa saja. Mengantar pegawai kantoran, mahasiswa, hingga ibu-ibu yang pulang dari pasar. Tak ada kejadian aneh, dan grafik di laboratorium pun tetap stabil mendatar.
Profesor hanya sesekali melirik layar. "Masih normal."
Ardi mengangguk. "Tidak ada perubahan."
...
Hari kedua tetap sama tanpa anomali. Zain bahkan mulai terbiasa dan melupakan keberadaan gelang itu. Ia kembali menikmati rutinitas harian sebagai pengemudi ojol—berhenti di lampu merah, mengobrol dengan sesama rekan pengemudi, hingga menunggu pesanan masuk sambil meminum kopi sachet.
Sesekali ia teringat ucapan kakeknya: *Dulu tahun sembilan puluhan, mangkal becak sama ojek pangkalan ya begini. Bedanya dulu belum ada aplikasi.*
Zain tertawa kecil sendirian. Kalau benar mesin waktu itu berhasil diciptakan, mungkin suatu hari ia bisa melihat secara langsung suasana masa lalu itu dengan mata kepalanya sendiri.
...
Malam harinya, Zain mampir ke rumah sang kakek. Mereka duduk bersantai di teras sambil menikmati teh hangat.
"Akhir-akhir ini kamu sering ke kampus," kata sang kakek.
"Iya, Kakek. Masih bantu Profesor."
Kakek mengangguk-angguk pelan. "Orangnya baik."
"Sangat baik."
"Jarang ada orang sepintar dia yang masih mau meluangkan waktu ngobrol sama orang tua seperti Kakek."
Zain tersenyum hangat. "Itu juga yang buat saya respek sama beliau."
...
Keesokan paginya di laboratorium, Ardi sedang memeriksa rekaman data terbaru dari gelang Zain.
"Hm..."
Profesor menoleh dari mejanya. "Ada apa?"
"Detak jantungnya normal, jumlah langkah kakinya juga normal. Tapi..." Ardi memperbesar salah satu grafik di layar, "...ada pola yang berulang."
"Pola apa?"
"Setiap kali Zain berhenti cukup lama, gelangnya mencatat adanya lonjakan sinyal kecil."
Profesor mendekat ke monitor. "Berhenti di titik mana saja?"
Ardi membuka peta digital. Ada beberapa lokasi yang ditandai: halte bus, lampu merah, warung kopi, dan... satu titik yang frekuensinya jauh lebih sering dibanding tempat lain.
Profesor mengernyitkan dahi. "Itu... area kampus."
Ardi mengangguk. "Hampir setiap hari."
Profesor terdiam sejenak. "Itu masih wajar, dia memang sering mampir ke sini."
"Bukan sekadar mampir," Ardi menggeleng pelan. "Lihat catatan waktunya."
Profesor memperhatikan deretan angka di layar. Setiap kali posisi Zain berada semakin dekat dengan area laboratorium, grafik pada gelang selalu terangkat naik. Angkanya sangat kecil dan hampir tak terlihat, namun polanya konsisten.
...
Sore harinya, Zain kembali datang ke bengkel. "Bagaimana hasil data saya, Bro?"
Ardi memutar monitor ke arahnya. "Lihat sendiri."
Zain menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Saya tetap tidak paham cara bacanya."
Profesor tersenyum kecil. "Yang penting kamu tahu satu hal."
"Apa itu, Prof?"
"Semakin dekat posisi keberadaanmu dengan laboratorium, semakin kuat respons yang dicatat oleh gelangmu."
Zain mengangkat alisnya terkejut. "Lho? Padahal motor saya kan ditinggal di sini?"
"Itulah yang membuat kami heran sekaligus penasaran."
Ruangan kembali diselimuti keheningan. Secara logika, jika motor dan Zain dipisahkan tempatnya, seharusnya fenomena interaksi itu menghilang. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Masih ada sebuah keterikatan yang seolah terus menghubungkan keduanya meskipun terpisah jarak. Keterikatan misterius yang belum bisa dijelaskan oleh teori ilmiah mana pun milik Profesor Surya.
Keesokan paginya, Profesor Surya tidak langsung membuka komputer. Ia justru berdiri di depan jendela laboratorium dengan tatapan lurus mengarah ke halaman kampus.
Ardi datang membawa setumpuk laporan baru. "Sudah dibandingkan?"
"Sudah."
"Hasilnya?"
Ardi meletakkan laporan tersebut di atas meja. "Gelang Zain, sensor laboratorium, dan Inti Resonansi—ketiganya selalu berubah hampir bersamaan."
Profesor mengangguk pelan. "Selisih waktunya?"
"Kurang dari satu milidetik."
Ruangan kembali diselimuti kesunyian.
"Kalau begitu..." gumam Profesor, "...kita harus memisahkan semuanya."
Ardi langsung mengerti arah rencana tersebut. "Motornya dipindah?"
"Iya."
"Ke mana?"
"Gedung pengujian lama."
Gedung itu terletak hampir satu kilometer dari laboratorium utama. Meski sudah bertahun-tahun tidak digunakan, sistem kelistrikannya masih berfungsi dengan baik.
"Jaraknya cukup jauh," kata Ardi.
"Itu memang tujuan kita."
...
Siang harinya, motor Zain dimasukkan ke dalam mobil boks tertutup. Tak seorang pun di luar tim mengetahui isi kendaraan tersebut. Setelah perjalanan sekitar lima belas menit, motor itu tiba di gedung pengujian lama.
Ruangan di sana jauh lebih sederhana, hanya dilengkapi beberapa alat ukur dasar. Profesor memasang satu sensor terakhir di bodi motor.
"Kirim laporan setiap lima menit sekali."
"Siap," jawab salah seorang teknisi.
Sementara itu, Zain sama sekali tidak diberi tahu mengenai pemindahan ini. Ia tetap narik dan mengantar penumpang seperti biasa.
Menjelang sore, ponselnya berdering menampilkan pesan singkat dari Ardi:
*Jangan mampir ke laboratorium hari ini. Tetap lanjut bekerja seperti biasa.*
Zain membalas singkat: *Oke.*
Ia mengira tim peneliti sedang melakukan pengujian internal yang membutuhkan ketenangan.
...
Pukul empat sore, Ardi memperhatikan monitor di laboratorium utama. "Gelang Zain stabil. Motor di gedung lama juga stabil."
Profesor mengangguk. "Lanjutkan pengamatan."
Lima menit berlalu... sepuluh menit... dua puluh menit. Semuanya berjalan sangat normal.
Namun tepat pukul 16.37...
*Bip...*
Alarm kecil berbunyi mendengking.
"Ada perubahan," ucap Ardi.
"Yang mana?"
"Bukan dari motor, bukan pula dari gelang Zain."
Profesor mendekat ke layar. "Lalu dari mana?"
Ardi menelan ludah. "Sensor di laboratorium utama."
Seluruh ruangan seketika membeku.
"Mustahil..." gumam salah seorang teknisi.
Motor sudah dipindahkan jauh, dan Zain sendiri sedang berada beberapa kilometer dari lokasi kampus. Seharusnya laboratorium utama tidak lagi mendeteksi sinyal atau gangguan apa pun.
Namun grafik di layar berkata lain. Selama tiga detik penuh, muncul gelombang sinyal yang sama persis seperti anomali sebelumnya, lalu mendadak menghilang.
...
Profesor perlahan-lahan menarik kursi dan duduk. Pria tua itu tidak tampak panik, melainkan justru terlihat semakin tenang.
"Berarti..." katanya pelan, "...selama ini kita mencari di tempat yang salah."
Ardi menatapnya lekat. "Maksud Profesor?"
Profesor memandang layar yang masih menampilkan jejak grafik tadi. "Yang menghasilkan anomali bukan laboratorium ini, bukan motornya, dan kemungkinan besar juga bukan Inti Resonansi."
"Lalu apa?"
Profesor menggeleng perlahan. "Itulah yang harus kita temukan."
Untuk pertama kalinya, arah penelitian mereka berubah secara drastis. Selama berminggu-minggu mereka menganggap motor Zain adalah pusat utama dari eksperimen ini.
Kini, mereka mulai menyadari bahwa motor tersebut mungkin hanyalah sebuah kunci—sedangkan pintu yang sebenarnya masih tersembunyi rapat di tempat lain.