HELENA KANAYA ATMAJAYA gadis enam belas tahun yang masih duduk di bangku sekolah, sejak kecil Helena sudah di jodohkan dengan anak teman mendiang Ibunya, yang bernama RAVELO TRIAN ADITAMA yang sama sama masih duduk di bangku sekolah, kebetulan Helena dan Velo masih satu sekolah namun beda kelas.
Dari dulu Helena memang sudah menyukai Velo, dan saat tahu kalau keduanya di jodohkan Helena semakin menempel pada Velo, membuat Velo terkadang merasa risih sendiri.
Helena sebenarnya gadis yang baik, hanya saja dia memiliki sifat posesive pada sesuatu yang memang sudah jelas jelas miliknya termasuk pada Velo. Helena tahu kalau Velo dekat dengan gadis satu kelasnya yang bernama HANA LARASATI, jadi Helena selalu berusaha menjauhkan Hana dan Velo.
Dan sikap Helena yang seperti itu, membuat semua murid di sekolahnya mengecap Helena sebagai gadis Antagonist, awalnya Helena tidak terima dirinya di anggap Antagonist, namun pada akhirnya Helan benar benar memerankan sosok Antagonist yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Esok hari di kelas dua belas B, saat guru sedang menerangkan mata pelajaran, Helen terlihat memegang perutnya bahkan menekannya, kemarin jadwal tamu bulanan Helen datang, dan biasanya Helen akan mengalami sakit perut hebat saat esok sore harinya, tapi entah kenapa sekarang rasa sakit itu datang saat hari masih siang, dan dalam keadaan waktu sekolah.
Setengah jam kemudian jam istirahat pun tiba, saat guru sudah meninggalkan kelas, Helen langsung meletakkan kepalanya di atas meja, dia benar benar sudah tidak kuat menahan rasa sakit di perutanya yang semakin menjadi jadi, bahkan seluruh tulangannya rasanya seperti remuk.
''Ishhh'' desis Helen.
Helen tahu kalau teman satu kelasnya tidak akan ada yang perduli dengannya, jadi Helen hanya bisa menahan rasa sakit itu sendirian tanpa meminta bantuan pada salah satu teman di kelasnya, namun apa yang di fikirkan Helen itu salah, saat tiba tiba salah satu teman kelasnya menghampirinya.
''Helen, kamu kenapa?'' tanya murid itu.
Helen mendongak dan seutas senyum muncul di sudut bibir Helen, saat melihat Rania berdiri di depannnya dengan expresi khawatir.
''Perut gue sakit'' lirih Helen.
Rania si gadis berkacamata itu langsung membungkukkan badannya, dan expresinya semakin terlihat khawatir.
''Perut kamu sakit, apa kamu bawa obat, atau kita ke ruang kesehatan saja?'' tanya Rania panik sendiri.
Helen tiba tiba merasa terharu melihat kepanikan Rania, pasalnya ini pertama kalinya ada teman satu sekolahnya yang perduli terhadapnya.
''Tolong antar aku ke ruangan kesehatan saja ya'' pinta Helen.
''Oh, ok, ayo aku bantu berdiri'' tukas Rania.
Kebetulan jarak antara kelas Helen ke ruang kesehatan tidak terlalu jauh, jadi Helen masih bisa menahan rasa sakitnya untuk sampai di sana.
Sedangkan di kantin sekolah, Exel yang tengah melahap makan siangnya terus menatap Hana yang duduk bersebrangan dengannya, Hana duduk bersebelahan dengan Maxim dengan santai, begitu juga dengan Maxim, dia seakan akan lupa dengan ungkapan cintanya pada Hana yang di tolak di taman sekolah kemarin.
''Xel, kenapa lo natap gue terus?'' tanya Hana.
''Ga papa'' sahut Exel.
''Vel, lo nunggu siapa sih?, Helen'' tanya Maxim karna Velo terus menatap ke pintu masuk kantin.
Velo mengangguk. ''Iya, gue perhatikan dari tadi dia belum ada kelihatan masuk ke kantin'' ujarnya.
Exel yang sedang mengunyah makan siangnya, langsung celingak celinguk mencari keberadaan Helen di kantin.dan benar gadis itu tidak ada, dan kebetulan Exel melihat teman satu kelas Helen yang melintas di depannya, lalu Exel langsung menghentikannya.
''Eh, tunggu!''
''Ada apa?'' tanya teman satu kelas Helen.
''Helen dimana?'' tanya Exel.
''Gue tadi lihat dia pergi ke ruang kesehatan di anter sama si cupu'' jawab teman satu kelas Helen.
Velo yang mendengar itu langsung saja berlari keluar, begitu juga dengan Exel dia juga ikut berlari ke ruang kesehatan, dan meninggalkan makan siangnya yang masih banyak begitu saja.
''Mereka berdua kenapa buru buru sih?, lagian Helen juga belum tentu kenapa napa'' cetus Hana.
''Mereka khawatir'' sahut Maxim, lalu dia juga ikut bangkit dan menyusul kedua sahabatnya ke ruang kesehatan.
Tak jauh dari ruang kesehatan, Velo dan Exel melihat Rania yang sedang memapah Helen hendak masuk ke ruang kesehatan, namun selang beberapa detik mereka berdua di buat syok, saat melihat Helen tiba tiba jatuh pingsan.
''Helen!'' pekik mereka berdua dan bergegas berlari menghampiri Helen.
Velo langsung mengangkat tubuh Helen dan membawanya masuk ke dalam ruang kesehatan, dan merebahkan tubuh lemahnya di atas ranjang pasien, Velo panik saat melihat wajah Helen yang sangat pucat seperti tidak ada aliran darah yang mengalir.
''Hel, bangun, lo kenapa?'' lirih Velo panik sekaligus khawatir.
Sedangkan Exel dia berlari mencari dokter jaga yang kebetulan sedang keluar entah kemana.
''Kenapa dengan Helen?'' tanya Velo pada Rania yang masih ada di sana.
''Ta,,, tadi dia bilang perutnya sakit'' jawab Rania yang tak kalah paniknya dari Velo.
Velo tidak bertanya lagi, dia memilih menggenggam kedua tangan Helen yang dingin, hingga tak berselang lama Exel dan dokter penjaga datang.
''Cepat, periksa Helen, dia tiba tiba pingsan'' pinta Exel.
Dokter penjaga itu langsung mengambil alat stetoskop untuk memeriksa Helen, namun di urungkannya saat Helen tiba tiba membuka matanya.
''Enggak perlu di periksa, aku gak apa apa, biarkan aku istirahat sebentar saja'' ucap Helen lirih.
''Hel, ga apa apa gimana, kamu barusan pingsan'' timpal Velo nadanya terdengar sangat khawatir, Helen langsung menoleh ke samping, dia fikir di ruangan itu hanya adan dokter penjaga dan Rania saja, ternyata juga ada Velo, Exel, bahkan juga ada Maxim yang baru masuk.
''Iya Hel, di periksa dulu ya, barusan kamu pingsan, wajah kamu juga pucat banget tadi'' bujuk Rania dengan tatapan khawatir.
Helen tersenyum menatap Rania yang menghawatirkannya. ''Gue gak papa Ran, gue cuma sakit perut karna tamu bulanan gue datang, gue juga udah biasa seperti ini, jadi cukup tidur saja sebentar nanti sembuh sendiri'' jelas Helen.
''Gitu ya'' ucap Rania.
''Ya sudah, kalau gitu Nona Helen, anda istirahat saja'' sela dokter penjaga.
Helen mengangguk lalu memejamkan matanya dengan posisi miring ke kanan, menghadap ke jendela.
Setengah jam berlalu di atas ranjang pasien, Helen masih terlelap dengan nyenyak, namun posisinya sudah berubah menghadap ke kiri, dan di samping ranjang terlihat Velo duduk di kursi menemani Helen, tadi dia meminta Exel agar mengizinkannya pada guru, jika dirinya tidak bisa mengikuti jam kedua.
Velo menunggu Helen sembari mengotak atik ponselnya, dan sesekalai memijat kaki Helen yang tertutupi dengan selimut tipis.
Di ruangan sebelah dokter penjaga yang sedang bertugas diam diam mengulum senyum, saat melihat calon pasutri dari dua keluarga berpengaruh di Ibu kota, yang terlihat sangat romantis.
''Aku pikir selama ini Tuan Muda Velo cuek sama Nona Helen, ternyata romantis juga, mana perhatian banget lagi'' gumam dokter penjaga itu.
Dokter penjaga itu tidak ikut masuk ke forum HSI, jadi dia tidak tahu hiruk pikuk apa saja yang terjadi di forum, yang dia tahu hanyalah kejadian yang terjadi di depan matanya saja, selain itu dokter penjaga itu memang benar benar menjalankan perannya sebagai dokter, dia tidak pernah ikut campur dengan hal yang tidak berhubungan dengan tugasnya.
Velo yang sedang memijit kaki Helen, menoleh saat mendengar ada notifikasi pesan masuk di ponsel Helen yang di letakkan di atas nakas, namun Velo mengerutkan dahinya saat melihat nama si pengirim pesan.
''Hana'' gumam Velo.
Karna penasaran akhirnya Velo memberanikan diri untuk membuka ponsel Helen yang tidak di kunci, lalu membaca pesan yang di kirim oleh Hana.
[ Hel, lo pasti cuma pura pura sakit kan, untuk mencari perhatian Velo, dasar cewek gak sadar diri ]
coba KLO dicabut apa kamu masih bisa sekolah disitu,
saat kamu dan ibumu di usir dari rumah majikan🤣🤣🤣
kan Hana yg keliling lapangan
bukan Hellen,,
kan malu sendiri udah nantangin masa dibatalin👊👊