Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Yang Menjadi Penjara
Aroma sup ayam hangat yang menyeruak di ruang makan tak mampu melunakkan dinginnya suasana malam itu. Nindya merapikan letak piring, lalu menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Di kursi kecil tak jauh darinya, Arka—putra mereka yang berusia tiga tahun—sudah tertidur lelap dengan mainan mobil-mobilan masih berada di genggamannya.
Suara deru mobil di halaman luar memecahkan keheningan. Nindya tersenyum tipis, merapikan bajunya, lalu bergegas membukakan pintu.
"Kamu baru pulang, Mas? Mau aku siapkan makan malam?" tawar Nindya lembut saat melihat Haris melangkah masuk. Pria itu tampak lelah, jasnya dilipat di atas lengan.
"Tidak usah, Nindya. Aku sudah makan di luar," jawab Haris singkat tanpa menatap mata istrinya. Ia melangkah melewati Nindya begitu saja, menuju kamar tidur mereka.
Nindya menelan saliva yang terasa mengganjal di tenggorokan. Rasa hangat dari sup yang ia masak seolah menguap seketika, digantikan rasa dingin yang menusuk dada.
Empat tahun lalu, jika Nindya tidak nekat menarik Haris dari kobaran api kecelakaan mobil di jalan tol malam itu, mungkin Haris tidak akan bernapas hari ini. Luka bakar di lengan Nindya menjadi saksi bisu keberaniannya. Sebagai bentuk tanggung jawab dan rasa terima kasih yang teramat besar, Haris memilih untuk menikahi Nindya.
“Aku akan bertanggung jawab atas hidupmu, Nindya. Aku akan memastikan kamu dan keluargamu tidak kekurangan apa pun,” ucapan Haris saat melamarnya kembali terngiang.
Namun hari ini, Nindya menyadari satu hal: Haris memberikan segalanya—materi, status, perlindungan—kecuali hatinya.
Saat Haris berada di dalam kamar mandi, ponsel pria itu yang tergeletak di atas meja nakas bergetar perlahan. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar yang menyala. Nindya, yang berniat memindahkan ponsel itu agar tidak terjatuh, tak sengaja membaca nama pengirim dan potongan pesannya.
Siska: Terima kasih untuk makan malamnya ya, Mas. Jangan lupa tersenyum untukku besok.
Darah Nindya serasa berhenti mengalir. Jarinya bergetar hebat.
Bukan hanya sekali atau dua kali Nindya merasakan kejanggalan dari sikap Haris—alasan rapat mendadak di akhir pekan, wangi parfum wanita lain yang samar di kemejanya, hingga tatapan mata Haris yang selalu menerawang jauh setiap kali melihatnya.
Pintu kamar mandi terbuka. Haris keluar dengan handuk di lehernya. Tangannya langsung menyambar ponsel di atas meja. Ia sempat melirik Nindya yang berdiri kaku di samping tempat tidur.
"Ada apa?" tanya Haris datar.
Nindya menatap mata suaminya dalam-dalam, mencari sedikit saja rasa bersalah atau kehangatan di sana. Namun yang ia temukan hanyalah dinding tebal yang tak tertembus.
"Mas... sampai kapan kita akan seperti ini?" suara Nindya bergetar.
Haris menghentikan gerakannya. "Maksudmu apa?"
"Empat tahun, Mas. Kita sudah punya Arka. Apakah rasa terima kasih itu sama sekali tidak bisa berubah menjadi sedikit saja rasa sayang?" air mata yang ditahannya akhirnya menetes di pipi Nindya.
Haris menghela nafas panjang, wajahnya mengeras. "Nindya, kita sudah pernah membahas ini. Aku memenuhi semua kewajibanku sebagai suami dan ayah. Arka tidak pernah kekurangan apa pun. Jangan memulainya lagi."
"Tapi hati kamu tidak pernah ada di rumah ini, Mas!" seru Nindya lirih, takut membangunkan Arka di kamar sebelah. "Kamu masih menemui Siska, kan?"
Suasana kamar mendadak hening seketika. Haris tidak membantah. Diamnya pria itu menjadi jawaban yang paling menghancurkan hati Nindya.