NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Tuan Muda, Ternyata Anakku Sendiri

Menyusui Bayi Tuan Muda, Ternyata Anakku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Cinta Terlarang / Ibu susu
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19 Ambulans

Suara mesin meraung saat Angie baru beberapa langkah dari gerbang Kediaman Liem.

Ia baru kembali dari apotek membawa salep untuk lutut Mama, kasa untuk luka kulitnya sendiri, dan dua mainan gigit Guai. Mobil rumah terjebak di jalan utama sehingga Angie meminta turun di seberang gerbang dan berjalan melalui jalur pejalan kaki.

Sedan putih milik Celine sudah berhenti di tikungan ketika ia datang. Kaca depannya gelap. Angie mengira kendaraan itu sedang menunggu gerbang dibuka.

Ia menoleh.

Sedan putih melaju lurus ke arahnya.

Tidak ada klakson. Tidak ada tanda pengemudi berusaha membelok. Jarak mereka menyusut begitu cepat hingga Angie hanya sempat menjatuhkan tas belanja dan melompat ke sisi trotoar.

Kaca spion mobil menyambar lengannya. Tubuh Angie berputar dan jatuh ke aspal. Lututnya menghantam permukaan kasar, disusul siku kanan.

Rasa sakit meledak.

Untuk beberapa detik, suara di sekitar berubah menjadi denging. Bau aspal panas bercampur darah memicu kilatan lain dalam kepalanya.

Hujan deras. Lampu mobil dari belakang. Benturan keras. Seseorang menarik gelang pasien dari tangannya sebelum ia kehilangan kesadaran.

Angie berkedip dan kembali melihat langit Jakarta yang cerah. Tangan kirinya masih menggenggam tombol darurat pada seragam. Ia menekannya sekali untuk keamanan, lalu dua kali untuk Hansen.

Tas belanja pecah di jalan. Mainan Guai menggelinding sampai bawah pagar. Detail kecil itu membuat Angie sadar betapa dekatnya mobil tadi dengan kemungkinan meninggalkan seorang bayi tanpa orang yang biasa membuatnya tenang.

Sedan itu baru berhenti beberapa meter di dalam gerbang. Pintu pengemudi terbuka dan Celine turun dengan wajah pucat.

"Remnya tidak berfungsi!" teriaknya. "Aku tidak sengaja!"

Angie mencoba bangun, tetapi lututnya gagal menopang. Darah mengalir dari luka terbuka dan membasahi ujung celana.

Petugas keamanan berlari dari pos. Salah satu menekan alarm medis, sementara yang lain menutup gerbang agar kendaraan tidak dipindahkan.

"Jangan sentuh mobil," kata Angie di sela napas. "Panggil polisi."

Petugas keamanan ingin memindahkannya dari jalan, tetapi Angie meminta mereka memotret posisi tubuh, tas, bekas ban, dan kendaraan terlebih dahulu. Setelah semua terekam, dua orang mengangkatnya ke kursi dekat pos tanpa memaksa lutut menekuk.

Celine mondar-mandir. "Kalian memperlakukan aku seperti penjahat di rumah sendiri."

"Ini area kejadian sampai polisi datang," jawab kepala keamanan. "Semua orang harus menjaga jarak."

"Aku tinggal di sini!"

"Aturan keselamatan berlaku untuk semua orang."

Kekuasaan gelar `Nyonya Muda` berhenti di depan prosedur yang memiliki saksi dan rekaman.

Celine membelalak. "Untuk apa polisi? Aku bilang remnya rusak."

"Kalau benar rusak, pemeriksaan akan membuktikannya."

Angie mengambil ponsel dengan jari gemetar dan menghubungi layanan darurat. Ia menyebut lokasi, nomor kendaraan, dan adanya dugaan tabrakan sengaja. Petugas keamanan ikut menghubungi polisi sektor terdekat.

"Kamu mau membuat masalah keluarga jadi perkara pidana?" Celine mendekat.

"Berhenti di sana," kata kepala keamanan.

Sirene ambulans terdengar dari ujung jalan beberapa menit kemudian.

Hansen tiba lebih dulu dari dalam rumah. William berlari di belakangnya membawa kotak pertolongan pertama. Begitu melihat Angie duduk di tepi trotoar dengan lutut berdarah, wajah Hansen berubah gelap.

"Siapa?"

Angie menunjuk sedan putih.

Hansen melihat Celine berdiri di samping kendaraan.

Ia tidak langsung menghampirinya. Ia justru berlutut di depan Angie, tidak peduli celana mahalnya menyentuh aspal.

"Boleh aku lihat?" tanyanya.

Angie mengangguk.

Hansen membuka kotak, memakai sarung tangan, lalu menuangkan larutan steril pada luka. Angie mendesis dan refleks mencengkeram bahunya.

"Sakit?"

"Perih."

Jari Angie masih gemetar di bahu Hansen. "Saya melihat mobilnya berhenti dulu."

"Jangan bicara kalau membuatmu pusing."

"Dia menunggu saya masuk jalur."

Rahang Hansen mengeras. Ia tetap menjaga tekanan pada kasa agar tangannya tidak bergerak menuju kemarahan yang belum boleh dilepaskan.

"Kamu melakukan hal yang benar dengan memanggil polisi," katanya. "Jangan biarkan siapa pun membuatmu mencabut laporan."

"Bahkan kalau keluarga Tuan meminta?"

"Terutama kalau keluargaku meminta."

Angie melihat darah meresap ke saputangan putihnya. Pria itu tidak memikirkan harga kain, pandangan polisi, atau celana yang kotor. Seluruh fokusnya berada pada luka di lutut seorang pengasuh.

"Lihat aku."

Angie mengangkat wajah. Hansen menggunakan saputangan linen bersih sebagai penahan di luar kasa steril, menekan ringan sampai perdarahan berkurang. Gerakannya jauh lebih lembut daripada suara yang ia gunakan kepada petugas keamanan.

"Simpan semua rekaman dari kamera gerbang. Buat tiga salinan."

"Baik, Pak Hansen."

Ambulans berhenti. Paramedis memeriksa kesadaran, tekanan darah, gerak sendi, dan kemungkinan cedera kepala. Angie tidak kehilangan kesadaran dan tidak mengalami nyeri leher, tetapi luka perlu dibersihkan lebih menyeluruh di klinik.

Polisi datang ketika paramedis masih bekerja. Dua petugas mengambil keterangan awal dari Angie, Celine, petugas gerbang, dan saksi lain. Mereka memasang garis pembatas kecil di sekitar sedan.

"Saya menginjak rem," kata Celine berulang kali. "Pedalnya kosong."

"Kendaraan akan diperiksa teknisi forensik," jawab polisi. "Jangan menyalakan mesin atau memindahkan barang dari dalam."

Celine menunjuk Angie. "Dia tiba-tiba menyeberang."

Kepala keamanan memutar rekaman pada tablet. Angie terlihat berjalan di sisi jalan yang ditandai untuk pejalan kaki. Sedan Celine berhenti di tikungan selama empat detik, lalu berakselerasi tepat setelah Angie masuk ke jalur kamera.

Tidak terlihat lampu rem menyala.

"Rekaman ini akan disita sebagai bukti," kata polisi.

Petugas lain mengambil kartu memori asli dengan formulir serah terima. Salinan tetap disimpan keamanan, sedangkan kendaraan dibawa menggunakan derek polisi agar sistem rem tidak disentuh pihak mana pun.

"Ibu Celine, kami perlu SIM, STNK, dan ponsel yang digunakan saat kejadian," kata petugas.

"Ponsel saya pribadi."

"Kami hanya meminta data yang berkaitan dengan kejadian sesuai prosedur. Jika Ibu menolak, kami akan mengajukan izin penyitaan."

William berdiri sebagai saksi penyerahan. Jalur bukti dibuat terbuka agar tidak ada keluarga yang bisa menekan petugas secara diam-diam.

Celine kehilangan warna di wajahnya.

Para pekerja berkumpul di balik pagar dalam. Pak Hasan memandang Hansen yang masih berjongkok di depan Angie. Selama puluhan tahun bekerja di rumah tersebut, ia belum pernah melihat pewaris Liem membersihkan darah seorang pekerja dengan tangannya sendiri.

Wati dan Sri berbisik. Lina berdiri paling depan dengan mata cemas.

Hansen membantu paramedis memasang perban baru, lalu berdiri. Saputangan bernoda darah masih berada di tangannya.

Ia berjalan ke arah Celine.

"Jika mobilmu rusak, jangan pakai." Suaranya datar. "Mulai besok, kamu tidak boleh mengemudi di dalam area Kediaman Liem."

"Kamu percaya dia daripada aku?"

"Aku percaya rekaman."

"Itu hanya sudut kamera! Kamu tidak tahu bagaimana pedalnya!"

"Karena itu polisi memeriksa kendaraan."

Celine mencoba meraih lengannya. Hansen mundur sebelum tersentuh.

"Ko Hansen, aku ketakutan. Seharusnya kamu menenangkan aku."

"Angie yang berdarah."

Kalimat itu memutus semua sandiwara.

Angie dibawa masuk ambulans untuk pemeriksaan luka di klinik terdekat. Hansen naik bersamanya, meninggalkan William mengurus polisi dan barang bukti.

Di dalam ambulans, Angie memandang perban di lutut. "Tuan tidak perlu ikut."

"Aku ingin memastikan tidak ada cedera lain."

"Tuan percaya Celine sengaja?"

"Aku percaya dia punya alasan untuk takut pada tes DNA dan cukup putus asa untuk meracuniku."

Angie menatapnya. "Kalau begitu kenapa dia masih tinggal di rumah?"

"Besok tidak lagi."

Nada itu begitu pasti hingga tidak menyisakan ruang bagi Celine.

Di rumah keluarga Lau, Nyonya Lau menerima telepon putri angkatnya dengan tangan dingin.

"Aku tidak berhasil," kata Celine sambil menangis. "Dia menghindar. Polisi mengambil mobil."

Nyonya Lau tidak langsung menjawab. Bayangan wajah Angie di lobi rumah sakit kembali muncul.

Setahun lalu, perempuan yang sama terbaring lemah setelah melahirkan. Nyonya Lau berdiri di dekat pintu ruang pemulihan dengan gelang batu hijau di pergelangan, menerima kabar bahwa bayi laki-laki sudah dipindahkan.

Celine menunggu di kamar lain dengan bantal di bawah gaun, mempelajari cara memegang bayi dari video. Catatan kehamilan palsu sudah disiapkan. Seorang staf administrasi dibayar untuk memasukkan nama Celine ke salinan dokumen, sementara catatan asli Angie ditandai sebagai kasus kematian bayi.

Rencana itu seharusnya sederhana. Keluarga Liem membutuhkan ibu untuk pewaris mereka. Nyonya Lau menyediakan wajah yang bisa dikendalikan, lalu menghapus perempuan yang benar-benar melahirkan.

Ia tidak memperhitungkan tubuh bayi akan menolak kebohongan.

Ia telah membayar seorang pengemudi untuk menabrak mobil yang membawa Angie keluar dari rumah sakit. Kecelakaan itu dirancang agar tampak terjadi karena jalan basah dan kelelahan pengemudi. Setelahnya, orang suruhannya melaporkan Angie tidak mungkin selamat.

Nyonya Lau tidak pernah melihat jenazah.

Kesalahan yang kini berdiri hidup di depan matanya.

"Dia ingat sesuatu?" tanyanya.

"Sepertinya belum."

"Dan anak itu?"

"Semakin melekat padanya."

Nyonya Lau menutup mata. Jika Angie mengingat malam kelahiran, kecelakaan, atau wajah orang yang mengambil bayi, seluruh keluarga Lau akan runtuh.

Ia mengakhiri panggilan dan menoleh kepada pria yang menunggu di ruang tamu.

"Dia masih hidup," kata Nyonya Lau. "Anak itu dan wanita itu harus diam selamanya."

Pria tersebut mengangguk dan membuka ponsel sekali pakai. Nyonya Lau menambahkan satu syarat: kali ini tidak boleh ada kamera, saksi, ataupun tubuh yang kembali tanpa kepastian.

Ketakutan telah mengubah perintah lama menjadi ancaman yang jauh lebih kejam.

Dan kali ini, ia tidak berniat menerima kabar setengah selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!