Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertunjukan Sang Putri
"Tenangkan dirimu, Geneviève. Aku tahu kau masih sangat mencintainya."
Suara lembut Putri Mahkota Camille terdengar mengalun seperti senandung malaikat di telinga Geneviève. Namun, bersamaan dengan sentuhan tangan wanita bergaun putih itu, sebuah hawa dingin yang sangat tidak wajar merayap naik melalui jemari Geneviève.
Hawa dingin itu terasa aneh. Rasanya seperti ada kabut yang menyusup masuk ke balik kulitnya, mengalir cepat menuju kepalanya. Dalam hitungan detik, pandangan Geneviève sedikit kabur. Sebuah dorongan asing tiba-tiba meledak di dalam dadanya. Dorongan untuk menjatuhkan diri ke lantai, menangis meraung-raung, dan memohon agar Lucien tidak meninggalkannya. Rasanya begitu nyata, seolah-olah hatinya memang hancur lebur berkeping-keping.
Tetapi, di sudut otaknya yang paling dalam, jiwa seorang pekerja kantoran yang rasional memberontak hebat.
Menangis berlutut demi pria yang menatapnya dengan jijik? Membuang harga diri untuk sebuah hubungan yang tidak memberikan keuntungan finansial maupun emosional? Itu adalah bentuk investasi paling merugikan yang pernah ada. Logikanya berteriak keras, menolak tunduk pada rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya.
Dengan rahang mengeras, Geneviève menyentak tangannya ke belakang. Ia menarik diri secara paksa untuk memutus kontak fisik tersebut.
Bunyi retakan keras seketika memecah kesunyian ruang tamu utama.
"Ah." Camille memekik tertahan.
Wanita berambut pirang itu tersentak mundur dan bersandar pada sofa. Tangan kanannya terangkat ke udara dengan jemari gemetar. Di pangkuannya, sebuah kipas lipat berwarna putih gading yang sejak tadi ia pegang kini terbelah menjadi dua bagian. Renda sutra yang menghiasi ujung kipas itu robek berantakan.
Suasana ruang tamu mendadak turun beberapa derajat.
Lucien de Vaudémont melangkah maju. Pria itu berdiri menjulang tinggi di depan meja teh, menatap Geneviève dengan sorot mata sedingin badai salju. Tidak ada teriakan marah, namun tekanan aura yang dipancarkan pria itu terasa sangat mencekik. Tangannya secara refleks bertumpu pada gagang pedang di pinggangnya, sebuah kebiasaan ksatria saat menghadapi ancaman.
"Tindakan yang sangat kasar, Nona Montmirail," ucap Lucien dengan bariton yang berat dan pelan. "Yang Mulia Putri Mahkota bermaksud baik menyentuh tanganmu untuk menenangkan emosimu yang labil. Tetapi kau justru menepisnya dengan sengaja dan menghancurkan barang miliknya."
Geneviève menarik napas panjang. Kepalanya masih sedikit berdenyut akibat sensasi dingin yang aneh tadi, tetapi akal sehatnya telah kembali sepenuhnya. Ia menatap wajah tampan Lucien yang dipenuhi penghakiman sepihak, lalu beralih pada Camille yang kini menunduk dengan mata berkaca-kaca.
"Saya hanya menarik tangan saya, Tuan Duke," jawab Geneviève dengan suara datar. "Saya tidak terbiasa disentuh secara tiba-tiba tanpa persetujuan saya."
"Lalu kau membenarkan tindakanmu merusak kipas pusaka milik Dinasti Aurelius?" balas Lucien tajam. Tatapannya berubah semakin tajam. "Itu adalah kipas gading peninggalan mendiang Ratu. Menghancurkan pusaka kerajaan adalah bentuk pelecehan terhadap martabat istana. Apakah kebencianmu sudah membutakan akal sehatmu hingga kau berani melakukan tindakan makar ringan seperti ini?"
Camille menyeka sudut matanya dengan sapu tangan sutra. "Tolong jangan hukum Geneviève, Tuan Duke. Kipas ini memang sangat berharga bagi ibunda saya, tetapi saya yakin Geneviève tidak bermaksud menghinanya. Dia hanya sedang kehilangan kendali atas perasaannya."
Pernyataan Camille yang seolah membela itu justru menjadi amunisi mematikan. Wajah Lucien mengeras. Pria itu menoleh ke arah sudut ruangan.
"Ksatria Gaspard. Siapkan kereta. Kita akan membawa Nona Montmirail ke istana untuk memberikan penjelasan resmi kepada dewan kedisiplinan bangsawan," perintah Lucien dingin.
Gaspard yang bersandar kaku di dekat pintu segera berdiri tegak. Pria berbaju zirah hitam itu melangkah maju. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan emosi, siap melaksanakan perintah tuannya tanpa banyak bertanya.
Namun, sebelum Gaspard bisa mengambil langkah ketiga, sebuah tubuh kecil berbalut celemek putih melangkah maju dan berlutut tepat di tengah ruangan.
Odette menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya nyaris menyentuh karpet Persia. Posturnya menunjukkan ketaatan mutlak yang sesuai dengan etiket pelayan, namun kehadirannya sukses menghentikan langkah Gaspard.
"Mohon ampun beribu ampun atas kelancangan hamba yang hina ini, Yang Mulia Duke Vaudémont," ucap Odette dengan suara bergetar yang terdengar sangat dibuat-buat. "Hamba hanyalah pelayan bodoh yang tidak mengerti banyak hal. Namun, hamba merasa harus memohon belas kasihan Anda sebelum Anda membawa Nona hamba ke istana."
Lucien mengerutkan kening. Ia menatap pelayan itu dengan tatapan meremehkan. "Mundur, Pelayan. Urusan ini tidak ada kaitannya denganmu. Majikanmu harus bertanggung jawab atas pusaka yang ia hancurkan."
"Tentu saja, Tuan Duke. Keadilan harus ditegakkan," balas Odette cepat tanpa mengangkat kepalanya. "Hamba hanya merasa sangat ketakutan melihat kejahatan yang terjadi di depan mata hamba. Hamba sangat khawatir dengan keselamatan Yang Mulia Putri Mahkota."
Mendengar hal itu, langkah Gaspard benar-benar terhenti. Ksatria itu menunduk menatap Odette dengan kening sedikit berkerut. Lucien pun terdiam, menunggu kelanjutan kalimat pelayan yang mendadak peduli pada keselamatan Camille tersebut.
Odette perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah serpihan putih yang berserakan di sekitar kaki meja teh.
"Hamba pernah diberitahu oleh pedagang pasar bahwa kipas pusaka Dinasti Aurelius terbuat dari gading gajah putih murni," lanjut Odette dengan nada cemas yang berlebihan. "Gading murni tidak akan patah dengan suara retakan kayu kering, dan tidak akan meninggalkan bubuk cat putih yang mengotori karpet seperti itu. Hamba sangat ketakutan menyadari bahwa ada penipu ulung di ibu kota yang berani menjual barang palsu murahan kepada Yang Mulia Putri Mahkota."
Suasana ruangan itu membeku seketika.
Tidak ada yang berani bersuara. Gaspard menatap Odette dengan sorot mata yang sulit diartikan. Pelayan ini baru saja menuduh Putri Mahkota membawa barang palsu yang murah. Namun, Odette melakukannya dengan berlindung di balik etiket ketaatan dan kekhawatiran seorang rakyat jelata terhadap majikan tertinggi kekaisaran. Ini adalah provokasi yang dirangkai dengan sangat licik sehingga Lucien tidak bisa memenggalnya karena alasan pemberontakan.
Mata Lucien beralih menatap serpihan di atas karpet. Sebagai pria yang terbiasa memegang senjata berbahan tulang dan gading, insting ksatrianya segera menyadari kebenaran ucapan Odette. Benda yang hancur itu memang meninggalkan jejak serbuk yang mirip dengan cat kering.
Wajah Camille memucat. Tangannya refleks menarik sisa kipas di pangkuannya agar tertutupi oleh lipatan gaun.
"Apa yang kau bicarakan, Pelayan? Ruang penyimpananku mungkin sedikit lembap sehingga membuat kipas ini rapuh," kilah Camille dengan senyum yang dipaksakan.
Odette menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi lega yang dramatis. "Syukurlah. Hamba hampir jantungan mengira ada pedagang penipu yang mencemari martabat istana. Jika kipas ini memang hanya barang rapuh yang tak sengaja patah karena Nona hamba menarik tangan, hamba harap Tuan Duke yang bijaksana bisa mempertimbangkan kembali keputusan untuk menyeret majikan hamba ke dewan kedisiplinan."
Lucien mengertakkan rahangnya. Pria itu menyadari bahwa ia baru saja disudutkan oleh argumen logika seorang pelayan. Jika ia tetap memaksa membawa Geneviève, maka kipas itu harus diperiksa oleh ahli material istana. Jika terbukti palsu, martabat Camille yang akan hancur di depan para tetua bangsawan.
"Tutup mulutmu," desis Lucien dengan nada memperingatkan. Ia benci menyadari bahwa dirinya mungkin saja berbuat kesalahan dalam menilai situasi.
Geneviève yang sejak tadi duduk diam mengamati, akhirnya mengambil tindakan. Ia tahu Odette sudah mencapai batas maksimal provokasi yang aman bagi seorang pelayan.
"Mundur, Odette. Kau terlalu banyak bicara hari ini," perintah Geneviève dengan suara tenang yang memancarkan otoritas penuh.
Odette langsung bangkit, menundukkan kepalanya sekali lagi, dan melangkah mundur ke belakang sofa tanpa bersuara.
Geneviève berdiri perlahan. Gaun birunya yang sederhana berdesir lembut. Tanpa memedulikan tatapan mengancam Lucien, Geneviève berjalan mendekati meja teh. Ia menundukkan tubuhnya, mengulurkan tangan, dan mengambil salah satu patahan kipas yang tergeletak di pangkuan Camille.
Camille menahan napas, namun ia tidak berani menarik barang itu dari tangan Geneviève.
Geneviève membawa patahan kipas itu mendekati wajahnya. Ia meneliti permukaannya dengan keahlian presisi seorang perancang perhiasan. Jari telunjuknya mengusap ujung patahan yang kasar. Ia menyadari bahwa di balik cat putih yang tebal itu terdapat material tulang hewan biasa yang diproses dengan buruk. Namun, bukan hal itu yang menarik perhatiannya.
Ada bau yang sangat aneh menguar dari material kipas tersebut. Wangi manis yang sedikit apak, mirip dengan getah resin dari tumbuhan liar yang sering ia baca di buku panduan material wilayah Montmirail. Entah kenapa, menghirup aroma itu membuat kepalanya kembali mengingat sensasi dingin yang tadi merayap di tangannya.
Sebuah senyum miring terbentuk di bibir Geneviève. Senyum yang sama sekali tidak memancarkan kehangatan, melainkan perhitungan yang sangat rasional.
"Luar biasa," gumam Geneviève perlahan. Matanya yang cokelat terang beralih menatap langsung ke dalam mata biru Camille.
"Apa maksudmu?" tanya Lucien dengan nada waspada.
Geneviève meletakkan patahan kipas itu ke atas meja dengan bunyi ketukan yang memecah ketegangan. Ia menatap kedua tamunya bergantian.
"Saya baru sadar betapa rendah hatinya Yang Mulia Putri Mahkota kita," ucap Geneviève dengan nada ringan yang penuh teka-teki. "Alih-alih menggunakan kipas gading asli, Anda memilih membawa kipas dari tulang sapi yang dilapisi resin berbau tajam untuk mengunjungi saya. Saya sangat menghargai niat baik Anda, Yang Mulia. Namun, lain kali, tolong jangan gunakan resin murahan. Baunya bisa membuat orang yang menghirupnya merasa pusing dan berhalusinasi."
Camille membeku seketika. Tangan wanita itu mencengkeram ujung gaunnya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Sementara itu, Geneviève kembali duduk di kursinya dengan santai. Ia mungkin belum tahu konspirasi besar apa yang sedang dimainkan oleh Putri Mahkota, tetapi satu hal yang pasti. Geneviève tidak akan pernah lagi membiarkan wanita bermuka dua ini menyentuhnya dengan benda-benda aneh.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa komen atau like. Sesekali berkunjung di Tiktok dan Instagram aku untuk mendapatkan update ceritaku yang lainnya🫶🫶
Tiktok & Ig: nadnote__