“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”
Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.
Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.
Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.
Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.
Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.
Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
Malam semakin larut, namun Ningsih masih terjaga di dalam kamar putrinya. Suasana kamar Luna begitu tenang, hanya menyisakan gemercik sisa hujan di luar jendela.
Ningsih duduk di tepi ranjang dengan penerangan lampu tidur yang temaram, fokus menatap layar iPad di pangkuannya.
Jari-jemarinya bergerak lincah, memeriksa satu per satu dokumen digital, laporan keuangan, serta mutasi rekening perusahaan yang telah ia kumpulkan. Ningsih sedang menyusun rencana matang untuk menghancurkan Hendra berkeping-keping. Pria itu sudah terlalu jauh melangkah. Keangkuhannya, kesombongannya, serta ketegaannya berselingkuh dan menelantarkan Luna demi wanita simpanan benar-benar telah melewati batas toleransi Ningsih.
Ningsih tersenyum sinis menatap nama Hendra yang tertera sebagai direktur utama di dokumen itu.
"Kamu benar-benar lupa daratan, Mas. Kamu tahu siapa yang mengangkatmu dan seluruh keluargamu dari kemiskinan? Tanpa modal dan jaringan bisnisku, kamu itu bukan siapa-siapa. Dan sekarang kamu seolah lupa diri dan menganggapku tidak punya kuasa?"
Memikirkan kelakuan suaminya yang sangat menyebalkan itu membuat napas Ningsih memburu. Namun, ia langsung meredam emosinya saat mendengar suara selimut yang bergeser di sampingnya.
"Mama, kenapa Mama belum tidur?"
Ningsih menoleh, mendapati Luna tengah mengerjapkan matanya yang bulat. Bocah kecil itu baru saja terbangun dari tidurnya.
"Eh, putri Mama terbangun ya? Maaf ya, Mama mengganggu tidur Luna. Mama sedang sibuk sedikit, Sayang," jawab Ningsih sembari menunjukkan sekilas layar iPad-nya yang penuh dengan grafik dan angka-angka rumit.
Luna mengubah posisinya menjadi duduk, menyandarkan kepalanya di lengan Ningsih.
"Mama sedang kerja?" tanya bocah itu lagi.
Ningsih mengangguk pelan sembari tersenyum. "Iya, Mama sedang mengurus beberapa pekerjaan penting."
"Wah, keren banget!" Luna berseru lirih, matanya mendadak berbinar kagum menatap ibunya. "Selama ini Luna pikir Mama cuma di rumah saja, masak dan menemani Luna. Tapi ternyata, Mama juga bisa kerja hebat seperti papa ya?"
Mendengar pujian tulus dari putri kecilnya, dada Ningsih terasa sedikit sesak. Ia mematikan layar iPad-nya, lalu meletakkannya di atas meja nakas. Dipeluknya tubuh mungil Luna dengan penuh kasih sayang, mencium puncak kepalanya lama.
"Mama sengaja menyembunyikannya dari Luna, karena bagi Mama, tugas paling penting di dunia ini adalah menjaga dan membesarkan Luna dengan baik."
Ningsih terdiam sejenak. Menatap wajah polos anaknya, ia tahu badai besar akan segera datang menghantam rumah tangga mereka. Sebelum segalanya runtuh, Ningsih harus menyiapkan mental putrinya.
"Luna, Mama boleh bertanya sesuatu tidak? Tapi Luna harus jawab dengan jujur ya?" tanya Ningsih pelan.
Luna mendongak, menatap ibunya dengan serius. "Apa, Mama?"
"Kalau suatu hari nanti papa memutuskan untuk menikah lagi, dan Luna dipaksa untuk punya mama baru, Luna mau?"
Luna sontak menggelengkan kepalanya dengan kuat tanpa perlu berpikir dua kali. "Nggak mau! Luna nggak mau punya mama baru!" jawab bocah itu tegas, bibir kecilnya langsung mengerucut kesal.
"Kenapa tidak mau, Sayang?" Ningsih memancing ingin tahu.
"Kata teman-teman di sekolah, dan kata dongeng Bawang Merah Bawang Putih yang sering Mama bacakan, mama tiri itu semuanya jahat! Mereka suka memarahi anak kecil kalau tidak ada papanya," cerocos Luna dengan polosnya. "Luna cuma mau punya satu mama, yaitu Mama Ningsih! Nggak mau yang lain!"
Ningsih tidak bisa menahan tawa kecilnya mendengar jawaban jujur dan menggemaskan dari putrinya. Rasa bersalahnya sedikit berkurang. Ia tahu, ke mana pun ia melangkah nanti, Luna akan selalu berdiri kokoh di pihaknya.
Raut wajah Luna tiba-tiba berubah menjadi cemas. Ia meremas ujung baju tidur Ningsih dengan erat.
"Ma, papa nggak akan nikah lagi kan sama tante genit yang baju merah tadi? Luna takut sama tante itu, Ma. Pandangan matanya galak, tidak seperti Mama yang matanya baik."
Ningsih tertegun. Pertanyaan Luna bagai menghantam lubang kenyataan di hatinya. Mengingat bagaimana sikap Hendra yang begitu tunduk dan membela Arumi habis-habisan di meja makan tadi, Ningsih sangat yakin seratus persen bahwa suaminya itu berniat mendepaknya dan menikahi Arumi.
Ningsih menarik napas dalam-dalam, lalu menggenggam kedua tangan kecil Luna. Ia menatap anaknya dengan pandangan yang sangat bijak dan menenangkan, tidak ingin menanamkan kebencian yang merusak mental sang anak, namun tetap memberikan kepastian.
"Luna, dengarkan Mama ya, Sayang. Di dunia ini, ada banyak hal yang tidak bisa kita tebak atau kita paksakan. Apa pun pilihan yang dibuat oleh papa nanti, itu adalah urusan papa. Tapi ada satu hal yang harus Luna ingat dan pegang seumur hidup Luna."
"Apa itu, Ma?" tanya Luna, mendengarkan dengan saksama.
"Siapa pun yang nantinya datang di hidup papa, tidak akan pernah ada satu orang pun di dunia ini yang bisa memisahkan Luna dari mama. Di mana ada mama, di situ pasti ada Luna. Mama yang melahirkan Luna, dan Mama yang akan selalu menjaga Luna sampai Luna besar nanti. Kalau papa memilih orang lain, maka Luna akan ikut bersama Mama, kita bangun kebahagiaan kita sendiri berdua. Luna tidak usah takut, ya?" ucap Ningsih dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
Luna menatap ibunya lama, lalu senyuman manis kembali terukir di wajahnya. Rasa takutnya seketika sirna digantikan rasa aman yang luar biasa.
"Iya, Mama! Luna mau ikut Mama ke mana saja. Luna sayang banget sama Mama."
"Mama juga sangat sayang sama Luna," balas Ningsih, mendekap erat tubuh putrinya.
Sembari menepuk-nepuk punggung Luna hingga bocah itu kembali terlelap, mata Ningsih menatap tajam ke arah dinding kamar.
"Yang tepenting bagiku sekarang itu, Luna, mas. Bukan kamu," gumam Ningsih.
*
*
Tok! Tok! Tok!
Arumi mengetuk pelan pintu kamar Hendra, lalu memaksa masuk. Begitu melihat ke sekeliling, senyum liciknya mengembang.
"Mas, ternyata istrimu nggak ada di sini ya?"
Hendra yang sedang membaca berkas langsung menoleh.
"Arumi? Ngapain kamu ke atas? Kalau Ningsih lihat gimana?"
"Ih, biarin aja," rajuk Arumi manja, melangkah mendekat sembari mengunci pintu kamar dari dalam. "Aku nggak nyaman tidur di kamar tamu bawah, Mas. Dingin. Aku mau minta kamu temenin tidur di sini."
"Jangan gila, Arumi! Ini kamar utama," bisik Hendra panik.
"Kenapa harus takut?" Arumi tersenyum menggoda. Dengan gerakan lambat yang sangat lancang, ia menurunkan ritsleting gaun merahnya, membiarkan pakaian kurang bahan itu merosot jatuh ke lantai di depan Hendra, menyisakan pakaian dalam yang sangat seksi.
Mata Hendra langsung melotot sempurna. Jakunnya naik-turun, menatap lekuk tubuh Arumi yang menantang.
"A–arumi... kamu..."
"Mas Hendra nggak suka?" bisik Arumi, merapatkan tubuhnya yang polos ke dada Hendra, lalu jemari lentiknya mulai meraba dada pria itu dengan sen-sual.
Hendra kelabakan, napasnya mendadak memburu mematikan akal sehatnya. Pesona nakal Arumi benar-benar membuatnya lemas tak berkutik.
Demi harta dan kemewahan, Arumi rela menjadi wanita murahan malam ini, dan Hendra dengan senang hati menyerahkan dirinya masuk ke dalam perangkap.
ingat ya Luna sangat cerdas ,,
ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut