Dilarang Plagiat Karya Saya ‼️
Hidup sendirian berada di suatu pulau terpencil, kawasan tersebut sama sekali tidak pernah dikunjungi oleh manusia. Letaknya sangat jauh dan tidak diketahui, namun pada suatu hari seorang wanita cantik tersesat ketika dirinya healing sendirian.
"Merman? Bukannya merman itu hanya dalam mitos belaka? Hahaha, itu bukan merman!"
"Merman tidak mungkin ada dan mustahil jika muncul di dunia nyata! Mitos tetaplah mitos, dan tidak akan pernah menjadi nyata!"
"Hufh... aku salah melihat pasti!" Namun dugaannya salah, makhluk yang ia anggap mitos ternyata memang nyata.
"Ace..." Merman itu bergumam pelan.
"Hah? Kau mengatakan apa?" Dahi wanita itu mengernyit kebingungan.
"Ace... mm ngan igi!"
"....." Mengerjapkan mata dan terdiam membisu.
"Maksudnya?" Pikirnya wanita itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengungkapkannya Pada Mate
"Pasrah dengan semuanya ini." Lirih matenya berkata demikian.
Lalu wanita itu mengalihkan pandangannya, ia melihat ekor milik Chio masih ada, lantas bertanya.
"Chio, ekor kamu?" Perkataannya terhenti.
"Avy, aku pengen air." Ujar pria merman itu sambil menggelayut manja di lengannya.
Mendengar ucapannya barusan, Thienvra terdiam sebentar guna mengolah pikirannya.
"Tunggu, air? Maksudnya si Chio ingin berenang?" Pikirnya wanita itu.
Tanpa pikir panjang wanita itu langsung menggendongnya, dan mereka keluar dari kamar.
Sesampainya di tempat tujuan, wanita itu perlahan memasukkan Chio ke dalam kolam renang.
"Kenapa?" Tanya Thienvra kala Chio menatapnya lekat.
"Main sama Chio, ya??" Pintanya pria merman tersebut.
Chio berkeinginan agar matenya ikut berenang bersama dengannya.
"Tidak, Chio saja yang mainnya, sana gih." Titahnya Thienvra, tapi pria merman tetap di dekatnya, tak bergerak sedikit pun.
Terlihat pria merman siap-siap menangis lagi, mau tak mau akhirnya Thienvra ikut menuruti keinginannya.
"Huh...baiklah." Thienvra beranjak berdiri.
"Kamu tunggu disini sebentar, aku mau mengganti pakaian dahulu." Ujar wanita itu, ia pergi dari sana.
Sedangkan Chio, pria merman itu menatap punggung matenya yang masuk ke dalam rumah.
***
Beberapa Menit Berlalu.....
Wanita itu telah kembali ke tempat Chio berada, belum masuk ke dalam air, ia masih berdiri yang dimana Chio menatapnya dengan polos.
"Ekhem, kenapa?" Tanyanya Thienvra.
"....." Pria merman itu tersenyum manis padanya, lalu mulai berenang.
Cipratan air mengarah pada wajahnya, dan dirinya menyusul Chio.
Berenang bersama di kolam renang, terkadang beriringan, bertolak arah, dan sampai sengaja mengejutkan matenya. Contohnya seperti saat detik ini.
"Lah? Chio, mana? Hilang begitu saja?" Celetuknya wanita itu sambil celingak-celinguk.
Kemudian tiba-tiba sebuah tangan mungil mendekap tubuhnya dari dari belakang.
Grep
"Mate!" Bisiknya pria merman itu.
"Astaga! Terkejut aku, Chio!" Ucap Thienvra, lalu Chio mencium pundaknya.
Cup
"Sayang banyak-banyak Matenya Chio!" Kini berganti posisi menjadi pria merman itu tengah di hadapannya, dan mencium singkat pipi sebelah kanannya.
Cup
Di akhiri senyuman manis ala Chio, reaksi Thienvra, wanita itu tersenyum tipis sembari mengangkat tangannya, dan mengelus lembut pipi kemerahannya Chio.
"Chio, kamu jail banget sih." Wanita itu berkata demikian.
"Mate." Panggilnya Chio, tangannya merambat ke pinggangnya.
"Ya? Kenapa?" Thienvra tanya.
"....." Tapi Chio tak memberikan jawaban, pria merman itu terdiam.
"Apakah Chio memiliki kepribadian lain? Atau alter ego?" Batinnya Thienvra.
Sontak Chio yang mendengarnya, ia mengernyitkan dahi, tampak bingung.
"Hah?" Pria merman refleks membuka mulutnya.
"Hei, Chio, tutup mulutnya! Nanti kemasukan lebah loh." Perlahan menutup mulutnya Chio.
"Ayo kita lanjutkan berenang." Ajaknya Thienvra.
Akan tetapi pria merman tidak kunjung gerak, ia melihat tangan milik Chio diarahkan padanya.
"....." Tatapan pria merman sedu.
"Berenangnya berhenti?" Thienvra bertanya, dibalas anggukkan kepala oleh lawan bicaranya.
"Oke, sini aku gendong kamu." Tutur wanita itu, segera menggendong pria merman dengan brydal style.
***
Saat ini keduanya sedang berada di kamar mandi, Thienvra fokus mengurus perlengkapan akan diperlukan, lalu memasukkan Chio ke dalam bathup yang telah diisi air hangat.
"Nah, kamu mandi ya? Kalau begitu aku tinggal." Kala Thienvra akan pergi, lengannya dicekal Chio, lalu dirinya menatap pria merman.
"Kenapa?" Tanyanya wanita itu.
"Mate, jangan pergi." Pintanya pria merman.
"Baik, aku disini temani kamu mandi." Mengelus lembut rambutnya Chio.
Setelah selesai mandi, Thienvra mengeringkan rambutnya Chio, pria merman terlihat anteng.
Senyuman tipis terukir di bibirnya Thienvra, ia sungguh senang akhirnya Chio sudah kembali ke bentuk manusianya, kemudian ia menggendong Chio ke tempat tidur.
"Stt..tidur ya." Thienvra menepuk-nepuk punggungnya Chio.
"Mmm..tidak mau tidur, Mate!" Rengeknya Chio.
"Terus maunya apa, hm?" Tanya Thienvra sambil mengelus rambut Chio.
"Pengen dipeluk sama Mate!" Jawabnya Chio.
"Sini aku peluk kamu." Chio pun masuk ke pelukannya, sepasang makhluk berbeda jenis saling berpelukan dengan mesra.
"Hmm..." Terdengar gumaman pelan dari Chio, pria merman sangat nyaman ketika dalam pelukan wanita itu.
"Mate." Chi memanggil dirinya sambil mendongakkan kepala.
"Ingin berbicara? Coba katakan saja, Chio." Balasnya wanita itu.
"Tapi mmm Mate janji dulu jangan marah." Lantas wanita itu mengangguk disertai senyuman tipis.
"Mate, tahu kan kalau Chio itu merman?" Katanya pria merman itu.
"Iya, tahu kok." Thienvra berkata.
"Sebenarnya Chio itu merman yang tersisa." Chio memberitahukannya.
"Lalu merman lainnya dimana?" Thienvra penasaran jadi bertanya.
"Sudah mati karena ada seorang pria gila yang membawa paksa mereka, namun Chio tidak ketahuan, dan untungnya pria gila itu tak tahu." Ungkapnya pria merman itu.
Deg
Jantungnya berdegub dengan kencang setelah mendengar ucapan Chio.
"Pria gila? Apa jangan-jangan!?" Thienvra melepaskan pelukan, ia membaringkan Chio di kasur, sementara dirinya membuka laptop untuk menelusuri sesuatu.
"Ya Tuhan." Lirihnya wanita itu sambil menutup mulutnya, kaget saat mengetahui siapa yang dimaksud pria gila oleh Chio.
"Mate, baik-baik saja?" Tanyanya pria merman.
"....." Tapi Wanita itu tidak menghiraukannya.
"Pria gila itu merupakan Profesor Kusuma Dimo Armaza, pernah menangkap sampai membawa paksa korbannya yang tak lain merman, dibawa ke pulau terpencil disana ia....." Thienvra tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya itu.
Wanita itu menangis sesegukan, melihat matenya Chio ikut menangis.
"Hiks..Mate." Thienvra beranjak dari duduknya, ia pindah ke kasur, lalu memeluk Chio dengan erat.
"Chio, jangan pergi dariku ya?" Kata Thienvra.
"Aku tak akan pergi dari Mate, cuman aku takut jika Mate hiks...pergi dan hiks..tinggalin Chio." Tangisannya kencang.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Chio. Sttt..jangan menangis lagi, ya?" Wanita itu menenangkan pria merman.
Beruntungnya Profesor Kusuma Dimo Armaza, pria gila itu telah tiada, bahkan tidak ada satu orang pun yang tahu. Pria itu yatim piatu, dan tak memiliki teman, sahabat, atau saudara.
"Aku jadi lega." Batinnya Theinvra.
Mendengar ucapan batinnya matenya, tangisnya Chio seketika berhenti, sungguh ajaib.
"Aku sayang kamu, Chio." Secara sadar wanita itu mengatakannya.
"Chio tidak salah mendengar? Mate bilang sayang ke Chio?" Tanyanya dengan beruntun.
"Tidak." Bahagianya Chio akhirnya perasaannya dibalas oleh matenya.
Cup
Cup
Diciumnya kedua pipi Thienvra, pelakunya tersenyum malu, dan wajah mereka berdua sama-sama merah merona.
"Hm, jadi?" Satu alis terangkat ke atas.
"Mmm, Mate peluk Chio dong!" Chio pinta dengan manja.
Tanpa pikir panjang wanita itu memeluknya, tak kalah eratnya dibalas Chio. Dua insan dilanda rasa tidak karuan, terlebih Chio, pria merman itu berbunga-bunga hatinya, dan perutnya seolah ada kupu-kupu yang terbang.
"Mate, Chio sayang sekali sama Mate." Bisiknya pria merman itu.
"Aku juga sayang sama, Chio." Thienvra berbisik.