NovelToon NovelToon
Sinyal Terakhir

Sinyal Terakhir

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Fantasi / Tamat
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Mirage Ink

SINYAL TERAKHIR

Sinopsis

Tahun 2487.

Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?

Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.

Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 – Penjaga Terakhir

Tok...

Tok...

Tok...

Langkah kaki itu semakin jelas.

Keempat anggota tim berdiri dalam posisi siaga.

Reza mengangkat senjata kejut.

"Jangan bergerak."

Kael mengaktifkan lampu di pergelangan tangannya dan mengarahkannya ke lorong.

Cahayanya menembus kegelapan.

Namun lorong itu masih tampak kosong.

"AURA."

"Jarak objek?"

"Dua puluh dua meter."

"Masih bergerak."

Lyra berbisik pelan.

"Aku tidak melihat siapa pun."

Tok...

Tok...

Tok...

Langkah itu akhirnya berhenti.

Sesaat kemudian...

seorang pria keluar dari balik lorong.

Ia mengenakan seragam abu-abu yang berbeda dari seragam PPM.

Usianya sekitar enam puluh tahun.

Rambutnya memutih.

Namun posturnya masih tegap.

Tangannya kosong.

Ia menatap keempat tamu itu dengan tenang.

Sofia membelalakkan mata.

"Itu..."

Pria itu memandang Sofia beberapa detik.

"Lama tidak bertemu, Dokter Sofia."

Suara pria itu terdengar tenang.

Sofia menggeleng pelan.

"Tidak..."

"Itu tidak mungkin."

"Siapa dia?" tanya Kael.

Sofia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.

"Namanya Adrian."

"Dia kepala keamanan Pos Observasi Tujuh."

Reza mengernyit.

"Tapi dia tidak ada di ruang hibernasi."

"Itulah yang membuatku bingung."

Adrian berjalan mendekat.

Ia berhenti sekitar lima meter dari mereka.

Tatapannya berpindah kepada Kapten Idris.

"Kapten ESS Horizon."

"Selamat datang."

Kael saling berpandangan dengan Reza.

"Kau mengenal kami?"

"Aku mengenal kapal kalian."

"Dan aku sudah menunggu kedatangan ekspedisi berikutnya."

Kapten Idris melangkah maju.

"Kau menunggu selama seratus dua puluh enam tahun?"

Adrian mengangguk.

"Kurang lebih."

Lyra memperhatikan wajah Adrian.

Tidak tampak seperti seseorang yang telah hidup lebih dari satu abad.

Tidak ada keriput berlebihan.

Tidak ada tanda penyakit.

"Bagaimana kau bisa tetap hidup?"

Adrian tersenyum tipis.

"Pertanyaan itu nanti saja."

"Ada yang lebih penting."

Di ESS Horizon, Leo memperhatikan siaran kamera dari helm Kael.

"AURA."

"Ya."

"Cocokkan wajah Adrian dengan arsip personel."

Beberapa detik kemudian AI menjawab.

"Hasil ditemukan."

"Nama: Adrian Holt."

"Jabatan: Kepala Keamanan."

"Status terakhir..."

Semua menunggu.

"...bertugas."

Darius langsung tertawa kecil karena heran.

"Itu saja?"

"Tidak ada status meninggal atau hibernasi?"

"Tidak ada."

Adrian menoleh ke arah ruang hibernasi.

"Dokter Sofia."

"Syukurlah kau bangun."

Sofia masih tampak belum percaya.

"Selama ini..."

"...kau tidak tidur?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Seseorang harus menjaga tempat ini."

Jawaban itu terdengar sederhana.

Namun membuat ruangan kembali hening.

Reza tidak menurunkan senjatanya.

"Kalau kau memang kepala keamanan..."

"...buktikan."

Adrian tidak tersinggung.

Ia mengangkat lengan kirinya.

Di pergelangan tangannya terdapat gelang identitas logam.

Sofia langsung mengenalinya.

"Itu benar."

"Semua kepala divisi memakai gelang seperti itu."

Reza akhirnya menurunkan senjatanya.

Sedikit.

Belum sepenuhnya.

Kapten Idris menatap Adrian.

"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?"

Adrian menghela napas panjang.

"Kalian datang terlalu cepat."

"Maksudmu?"

"Aku berharap ekspedisi berikutnya datang beberapa tahun lagi."

Kael mengernyit.

"Kenapa?"

Adrian melihat ke arah langit-langit ruangan.

"Karena sistem pelindung Pos Observasi Tujuh..."

"...mulai melemah."

Semua terdiam.

Di ruang mesin ESS Horizon, Owen tiba-tiba berseru.

"Darius!"

"Apa?"

"Medan energi struktur berubah lagi."

Darius melihat layar.

Grafiknya memang berubah.

"Kapten."

Ia segera menghubungi Idris.

"Baru saja ada peningkatan konsumsi energi."

"Berapa besar?"

"Dua belas persen."

"Arah aliran energinya?"

Owen menelan ludah.

"Bukan lagi dari kapal menuju struktur."

"Lalu?"

"Sekarang..."

"...energi dari struktur mengalir menuju kapal kita."

Di ruang hibernasi, lampu-lampu tiba-tiba berkedip.

Robot kecil mengeluarkan bunyi peringatan.

Bip.

Bip.

Bip.

Adrian langsung berubah serius.

"Waktunya habis."

Kael menatapnya.

"Waktu untuk apa?"

Adrian menjawab singkat.

"Untuk berbicara di sini."

"Ikuti aku."

"Kalau terlambat..."

"...kalian akan melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah dilihat manusia."

Tanpa menunggu jawaban, Adrian berbalik dan berjalan cepat menuju lorong lain.

Untuk pertama kalinya sejak memasuki Pos Observasi Tujuh...

raut wajah tenang pria itu berubah menjadi penuh kekhawatiran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!