SANG NAGA PURBA (Garis Darah yang Terbuang)
Di Benua Canglan, garis darah adalah segalanya. Terlahir dari pasangan prajurit kuat Klan Chi, bayi Chi Tian justru dibuang ke kasta terendah karena Altar Naga tidak memberikan respon sedikit pun. Dianggap sampah tak berguna, ia ditinggalkan untuk mati.
Belasan tahun berlalu, Chi Tian kembali menyamar di balik jubah hitam dan zirah perak, siap membalas dendam di Arena Penyisihan.
Namun, empat klan agung tak pernah menyadari kebenaran mengerikan ini: Altar Naga hari itu bukannya mati, melainkan darah Chi Tian terlalu tinggi dan agung untuk dijangkau oleh altar biasa.
Mereka pikir telah membuang sebuah sampah, tanpa tahu telah melepaskan seekor Naga Purba yang siap meruntuhkan seluruh takhta kesombongan benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA DI DALAM GUA PURBA
Tian Xue terus memacu langkah kakinya dengan kecepatan penuh, melompati semak berduri dan batuan terjal di balik lebatnya pepohonan Hutan Purba.
Sensasi panas yang membakar di perut sampingnya terasa semakin menghebat. Setiap kali kakinya menghantam tanah, rasa sakit yang menusuk menjalar liar hingga ke ujung-ujung saraf terkecilnya.
Darah segar terus menetes dari luka robek akibat tusukan kaki Laba-Laba Berwajah Gorila, meninggalkan jejak merah gelap di atas dedaunan kering.
Pandangannya perlahan mulai mengabur, tertutup oleh kabut hitam akibat pasokan darah yang kian menipis.
Namun, di atas bahu kanannya, beban tubuh Lu Shi yang masih tak sadarkan diri terasa kian memberat. Gadis itu kehabisan energi esensi akibat memaksakan manifestasi Garis Darah Rubah Ekor Sembilan melampaui batas fisiknya.
Tian Xue menggertakkan giginya rapat-rapat hingga gusinya terasa asin oleh darah. Ia memaksakan otot fisiknya melangkah tanpa henti.
‘Aku... tidak boleh tumbang di sini...’ batin Tian Xue konsisten, menolak pasrah pada rasa sakit yang siap merenggut kesadarannya.
Setelah satu jam penuh melintasi medan terjal yang sangat menyiksa, sepasang matanya yang mulai meredup menangkap sebuah siluet celah gelap.
Di dasar sebuah tebing batu granit yang menjulang tinggi, tersembunyi rapat di balik lilitan akar-akar pohon beringin raksasa, terdapat sebuah gua alami yang tak tersentuh cahaya bulan.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Tian Xue menyeret langkah kakinya masuk menerobos tirai akar tersebut.
Hawa di dalam gua terasa dingin, lembap, dan ditumbuhi lumut tebal yang empuk. Tempat ini cukup tertutup untuk menyembunyikan bau darah mereka dari endusan Beast buas di luar sana.
Begitu berhasil merebahkan tubuh Lu Shi yang pingsan ke atas batuan datar berlapis lumut, pertahanan fisik Tian Xue akhirnya runtuh.
Daya tahannya telah mencapai batas mutlak yang bisa ditanggung oleh praktisi Peringkat 3 manapun. Kesadarannya terputus seketika, dan tubuhnya ambruk terlentang dengan keras tepat di samping Lu Shi.
Dua sosok muda yang baru saja lolos dari lubang jarum kematian itu tergeletak tak berdaya, tenggelam dalam pingsan total selama tiga hari berturut-turut.
Di tengah masa kritis dan ketidaksadaran tersebut, sebuah keajaiban biologis perlahan bekerja di dalam tubuh Tian Xue.
Garis Darah Naga Purba yang bersemayam jauh di dalam inti sumsum tulangnya merespons trauma fisik fatal yang dialami oleh wadahnya.
Dari balik pori-pori kulit di sekitar perut sampingnya yang robek, untaian energi hangat berwarna hitam keemasan perlahan merembes keluar.
Energi misterius itu bergerak bagaikan benang-benang sutra bercahaya, merajut dan merapatkan kembali jaringan daging, otot, dan pembuluh darah yang hancur.
Proses regenerasi itu berlangsung dengan kecepatan yang berada di luar nalar manusia, membakar esensi murni untuk membangun kembali fisik Tian Xue menjadi jauh lebih padat dan kokoh dari sebelumnya.
Pada hari kedua, Lu Shi sudah lebih dulu tersadar dari pingsannya.
Gadis itu terlalu lemas untuk berdiri. Selama seharian penuh, ia hanya bisa duduk bersandar pada dinding gua yang dingin, menatap lekat-lekat ke arah tubuh Tian Xue yang terbaring kaku di dekatnya.
Sepasang mata Lu Shi membelalak tak percaya.
Dengan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan fenomena tidak masuk akal tersebut. Luka robek menganga yang seharusnya berakibat fatal pada perut pemuda itu secara perlahan menutup, beregenerasi, dan merapat sempurna hingga hanya menyisakan bekas luka tipis.
Lu Shi menyipitkan matanya. Ingatannya kembali berputar pada momen pertempuran maut melawan tiga Beast Peringkat 4 Puncak kemarin.
Saat itu, Tian Xue melepaskan aura kusam berwarna hitam pekat yang begitu menekan. Sebuah gelombang hierarki agung yang sanggup membuat monster setingkat Puncak Peringkat 4 terpaku kaku ketakutan.
‘Aura yang menekan insting binatang dan kemampuan regenerasi segila ini...’ bisik Lu Shi di dalam hatinya, napasnya sedikit tertahan.
‘Itu jelas bukan garis darah naga rendahan, apalagi darah mutasi biasa. Siapa sebenarnya lelaki bodoh ini?’
Namun, saat bayangan momen pertempuran itu melintas lebih jauh, Lu Shi mendadak teringat bagaimana Tian Xue tanpa ragu-ragu menjadikan dirinya sendiri sebagai umpan hidup.
Kejengkelan seketika membakar dadanya. Sikap barbar dan masa bodohnya yang sempat tertahan perlahan bangkit kembali, menyingkirkan rasa kagumnya.
Pada hari ketiga, Lu Shi sudah mendapatkan sebagian besar tenaganya kembali.
Gadis itu berjalan santai ke celah dinding gua bagian dalam yang meneteskan air pegunungan. Ia menampung air dingin itu menggunakan sebuah wadah batu berbentuk cekung.
Lu Shi melangkah menghampiri Tian Xue yang masih tertidur pulas dengan wajah damai, lalu menyunggingkan seringai usil.
BYUURRR!
"Bangun, Bodoh! Mau sampai kapan kau tidur dan bermalas-malasan, hah?!" jerit Lu Shi tepat di depan wajah Tian Xue, menyiramkan air dingin itu tanpa belas kasihan sedikit pun.
"UUKHH! HAKH!"
Tian Xue tersentak kaget, sepasang matanya terbuka lebar seraya batuk-batuk tercekik karena air masuk ke hidungnya.
Ia seketika duduk tegak, memegangi wajah dan dadanya yang basah kuyup, lalu mengusap rambutnya yang berantakan dengan raut wajah kebingungan.
"Hei! Kau...!" seru Tian Xue dengan napas memburu, menatap tajam gadis di hadapannya.
‘Bagaimana bisa ada gadis berwajah bidadari tapi sesadis dan sebarbar ini...?!’ umpat Tian Xue dalam hati.
Ia menarik napas panjang, berusaha keras menahan rasa jengkelnya agar tidak mencekik leher Lu Shi. "Bisakah kau membangunkan orang dengan cara yang sedikit lebih manusiawi?!"
Lu Shi menyunggingkan seringai tipis, mengibaskan tangannya santai seolah tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Manusiawi? Apa kita berdua ini terlihat seperti manusia biasa dari klan yang terhormat?"
Gadis itu melangkah mundur satu langkah, melipat kedua lengannya di dada, lalu menatap lurus tepat menembus manik mata hitam Tian Xue.
"Kau sudah melihat siapa aku dan rahasia kekuatan apa yang kumiliki saat di hutan kemarin."
Lu Shi menjeda ucapannya, raut wajahnya seketika berubah menjadi sangat serius dan tajam.
"Dan aku... selama dua hari ini, juga sudah melihat dengan jelas garis darah misteriusmu menyembuhkan luka fatal itu."
DEG!
Seketika, atmosfer di dalam gua yang lembap itu menjadi membeku. Suhu udara seakan anjlok hingga ke titik nol derajat.
Tian Xue terdiam kaku di tempatnya. Hatinya mencelos.
Ia sadar, dalam desakan situasi hidup dan mati saat melawan Beast kemarin, ia telah bertindak ceroboh dengan melepaskan aura murni Garis Darah Naga Purba miliknya.
Kini, rahasia terbesar dan paling mematikan yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat berada di tangan seorang gadis barbar yang baru dikenalnya!
Naluri bertahan hidup Tian Xue, yang ditempa oleh kekejaman klan murni, bergetar sangat dingin.
Sebuah pemikiran gelap melintas sekilas di benaknya: Apakah aku harus membungkam gadis ini selamanya di dalam gua ini, agar rahasia tentang Marga Xue dan Naga Purba tetap terkubur aman?
Hawa pembunuh yang sangat tipis dan tak kasat mata perlahan merembes keluar dari pori-pori Tian Xue, mengunci keberadaan Lu Shi.
Namun, Lu Shi seolah sanggup membaca gejolak dingin dan mematikan yang melintas di dalam benak pemuda itu.
Gadis itu sama sekali tidak gentar. Ia justru terkekeh pelan, tawanya memecah ketegangan yang nyaris berujung pada pertumpahan darah tersebut.
"Hei, turunkan niat membunuhmu itu, Bodoh. Simpan tenagamu."
Lu Shi tersenyum santai. "Aku tidak peduli siapa kau sebenarnya, atau apa nama klan aslimu. Kita berdua sama-sama punya rahasia besar dan berbahaya, bukan? Mengunci mulut masing-masing adalah pilihan yang paling menguntungkan."
Lu Shi berbalik dengan gerakan luwes, membelakangi Tian Xue dan melangkah menuju ke arah celah akar yang menjadi pintu keluar gua.
"Sebaiknya kau segera bersiap dan kita pergi dari sini," lanjut Lu Shi tanpa menoleh, siluet tubuhnya bermandikan cahaya matahari yang menembus celah akar. "Tujuan utamaku sudah semakin dekat."
Tian Xue menatap punggung gadis itu sejenak. Hawa pembunuh di sekelilingnya seketika memudar.
Pemuda itu perlahan bangkit berdiri. Ia meraba area perut sampingnya yang sebelumnya berlubang. Lukanya telah menutup sempurna.
Bukan hanya sembuh, Tian Xue bisa merasakan bahwa jaringan otot di area tersebut menjadi jauh lebih padat, dan aliran energinya terasa jauh lebih lancar.
Ia menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin.
Setiap pertempuran di ambang maut yang berhasil dilaluinya selalu bertindak sebagai tempaan ekstrem bagi Garis Darah Naga Purba di dalam tubuhnya. Semakin keras ia ditekan oleh kematian, semakin cepat daya tempurnya berkembang pesat.
Waktu tiga bulan yang dijanjikannya pada Sun'an untuk berkumpul kembali di kota terus berjalan.
Untuk bisa mengacaukan panggung Turnamen Generasi Muda dan membalas dendam pada klan-klan murni, Tian Xue tahu targetnya kini sudah sangat jelas:
Sebelum keluar dari Hutan Purba, ia harus segera menembus batas mutlaknya dan menaikkan kekuatan menuju Peringkat 4!