NovelToon NovelToon
Suami Dadakanku Ternyata Bos Baruku

Suami Dadakanku Ternyata Bos Baruku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.

Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .

Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.

Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.

Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"

Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kedatangan Kafka dan perlindungan Elvan

Ruang tengah rumah paviliun yang semula dipenuhi ketegangan berlebihan mendadak diselimuti keheningan yang mencekam. Udara di dalam ruangan serasa membeku dalam hitungan detik.

Kehadiran Elvan di ambang pintu utama yang hancur membawa tekanan atmosfer yang begitu pekat, sebuah dominasi mutlak dari seorang pria yang terbiasa menguasai takdir ratusan ribu orang di panggung bisnis tertinggi.

Elvan berdiri tegap dengan postur tubuhnya yang tinggi kokoh. Kaus abu-abu yang dikenakannya tidak lagi memancarkan kesan hangat seperti tadi pagi, melainkan membalut bahunya yang tegap dengan aura membunuh yang sedingin es. Sorot mata elangnya menatap lurus ke arah Kafka dan tiga preman sewaannya. Tidak ada sedikit pun raut ketakutan atau keraguan di wajah tegap itu, hanya ada kemurkaan terselubung yang siap meledak menjadi badai.

Di belakang Elvan, Bram bersama lima orang personel keamanan rahasia Adhitama Group berdiri berbaris rapi. Mereka mengenakan setelan jas hitam tanpa celah, dengan gestur tubuh yang terlatih sempurna untuk pertarungan jarak dekat. Keberadaan mereka di lorong teras depan langsung menutup seluruh akses melarikan diri bagi Kafka dan anak buahnya.

Kafka, yang semula berdiri dengan gaya penuh kesombongan, mendadak merasa lidahnya kelu. Jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur. Tatapan mata Elvan yang begitu dingin dan menusuk membuat lututnya terasa lemas. Namun, gengsi dan rasa dendam yang meluap-luap akibat kebangkrutan usahanya membuat Kafka berusaha keras menutupi rasa takutnya.

"Kamu ... kamu akhirnya datang juga, Suami Serabutan!" teriak Kafka dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia menunjuk Elvan dengan jari telunjuknya yang gemetaran. "Bagus kalau kamu datang! Kamu lihat rumah ini? Kamu lihat pintu yang hancur ini? Ini baru permulaan dari apa yang akan kuhancurkan dalam hidupmu dan Aluna!"

Elvan tidak menjawab. Ia bahkan tidak membalas tunjukan jari Kafka dengan ucapan kasar. Langkah kakinya bergerak maju secara perlahan, menapak lantai kayu ruang tengah dengan suara ketukan sepatu yang teratur. Setiap kali langkah Elvan mendekat, aura intimidasi yang terpancar darinya makin mengimpit dada siapa pun yang berada di ruangan itu.

Tiga preman sewaan Kafka, yang biasa berhadapan dengan rakyat biasa atau masyarakat kecil yang lemah, kini saling pandang dengan raut wajah cemas. Sebagai orang-orang yang terbiasa bergelut di dunia malam, naluri liar mereka memberi tahu satu hal dengan sangat jelas: pria di hadapan mereka bukanlah rakyat biasa. Pria ini adalah pemangsa teratas di dalam rantai makanan.

"Bos ... orang ini beda, Bos," bisik preman bertubuh paling besar dengan tato kelabang di lehernya. Suaranya penuh kewaspadaan. "Orang-orang di belakangnya itu ... gaya berdiri mereka seperti mantan personel militer atau pengawal profesional."

"Tutup mulutmu!" bentak Kafka murka pada anak buahnya sendiri. "Dia cuma pekerja kasar yang pinjam rumah temannya! Kalian bertiga kubayar mahal untuk menghajarnya! Hancurkan dia sekarang!"

Terpancing oleh bentakan Kafka dan dorongan gengsi, preman bertubuh besar itu menggeram kencang. Ia mencabut sebuah pisau lipat tajam dari saku celananya, mengibaskan bilah besi yang berkilau di bawah lampu ruangan, lalu melompat menerjang ke arah Elvan dengan tusukan lurus ke arah dada.

"Mas Elvan!" jerit Aluna dari balik pintu kamar utama yang masih terkunci. Meskipun tidak bisa melihat langsung, suara bentakan Kafka dan derap langkah keras di luar membuat Aluna dan ayahnya memeluk satu sama lain dalam doa yang tak putus.

Serangan pisau dari preman itu meluncur deras menuju dada Elvan. Namun, gerakan Elvan jauh lebih cepat dan presisi.

Sebelum mata pisau sempat menyentuh kain bajunya, Elvan bergeser setengah langkah ke samping dengan sangat tenang. Tangannya yang kekar bergerak secepat kilat, mencengkeram pergelangan tangan preman itu dengan cengkeraman baja, lalu memutarnya ke arah luar secara brutal.

KLEK!

Suara patahan tulang pergelangan tangan bergema nyaring di ruang tengah, disusul jeritan histeris dari mulut sang preman ketika pisau lipatnya terlepas dan jatuh ke lantai.

Tanpa memberi kesempatan sedikit pun untuk bernapas, Elvan mengayunkan siku kanannya dengan dorongan penuh, mendaratkannya tepat di rahang kiri preman tersebut. Benturan keras itu membuat tubuh raksasa sang preman terangkat sedikit dari lantai sebelum akhirnya roboh terjerembap menabrak meja kayu hingga hancur berkeping-keping. Pria itu seketika pingsan tak sadarkan diri dengan darah mengalir dari mulutnya.

Dua preman tersisa membelalakkan mata dengan ketakutan yang amat sangat. Rekan terkuat mereka dilumpuhkan hanya dalam waktu kurang dari tiga detik oleh satu tangan tanpa celah.

"Kalian berdua ... masih ingin mencoba?" tanya Elvan dengan nada suara yang sangat datar, hampir tanpa emosi, namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.

Dua preman itu langsung mencampakkan senjata tumpul di tangan mereka ke lantai, mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi, dan mundur perlahan hingga punggung mereka menempel di dinding. Mereka memilih menyerah total daripada harus bernasib sama seperti rekannya yang terkapar tak berdaya.

"Bram," panggil Elvan tanpa menoleh.

"Siap, Tuan Muda!" tegas Bram seraya melangkah masuk bersama dua pengawal.

"Bawa dua orang ini keluar. Biarkan mereka menunggunya di luar bersama pihak kepolisian yang sedang menuju ke sini," perintah Elvan singkat.

"Baik, Tuan Muda!"

Dengan gerakan cepat dan efisien, dua pengawal bersetelan jas langsung mengunci lengan kedua preman yang menyerah, mencengkeram tengkuk mereka, dan menyeret mereka keluar dari rumah beserta tubuh preman yang pingsan.

Dalam hitungan belasan detik, ruang tengah yang semula riuh kini hanya menyisakan Elvan, Kafka, dan Bram yang berdiri berjaga di dekat pintu.

Kafka berdiri mematung. Seluruh persendian tubuhnya terasa lemas seperti lolos dari tulang-tulangnya. Wajahnya yang semula beringas kini pucat pasi, seperti mayat yang baru bangkit dari kubur. Keringat dingin mengucur deras dari dahi hingga membasahi kerah kemejanya.

Mata Kafka berpindah dari tubuh pingsan anak buahnya menuju sosok Elvan yang kini melangkah mendekatinya. Setiap pijakan kaki Elvan ke arahnya terasa seperti hitungan mundur menuju neraka.

"Ka ... kamu ... siapa kamu sebenarnya?!" jerit Kafka dengan suara melengking panik, mundur hingga punggungnya menabrak pinggiran lemari pajangan di sudut ruang tengah. "Pengawal biasa tidak mungkin bisa bertarung seperti itu! Dan orang-orang itu ... kenapa mereka memanggilmu Tuan Muda?!"

Elvan menghentikan langkahnya tepat di depan Kafka, mengikis jarak di antara mereka hingga hanya tersisa setengah meter. Postur tubuh Elvan yang tinggi membuat Kafka harus mendongak penuh rasa tertekan. Aura kegelapan yang menguar dari diri Elvan seolah menyerap seluruh oksigen di sekitar Kafka, membuatnya terengah-engah kesusahan bernapas.

"Siapa aku bukan urusan yang pantas dipertanyakan oleh orang sepertimu, Kafka," ucap Elvan dingin. Suaranya berbisik namun bergetar hebat penuh ancaman mutlak. "Kamu datang ke sini, mendobrak pintu rumahku, mengancam keselamatan ayah mertuaku, dan berusaha melukai istriku. Kamu benar-benar sudah bosan hidup."

Elvan mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram kerah kemeja Kafka dengan satu cengkeraman kuat, lalu mengangkat tubuh pria itu hingga ujung sepatunya menggantung beberapa sentimeter di atas lantai.

"Agh! Le-lepas ... Lepaskan aku!" rintih Kafka mencekik lehernya sendiri, matanya melotot panik menatap mata elang Elvan yang menyala penuh amarah.

"Dulu, saat kamu menghina Aluna karena kemiskinannya, aku masih menahan diri karena menghormati batas hukum," ujar Elvan dengan penekanan kata demi kata yang menusuk jantung Kafka. "Saat kamu menggunakan rentenir untuk menekan keluarganya, aku memilih memberimu kesempatan untuk mundur secara terhormat melalui kebangkrutan bisnismu. Tapi hari ini ... kamu melangkahi garis batas terlarang dalam hidupku."

Elvan memiringkan kepalanya sedikit, menatap Kafka dengan tatapan yang sangat dingin. "Menyentuh Aluna berarti menantang kematianmu sendiri."

Brak!

Elvan menghempaskan tubuh Kafka ke lantai dengan dorongan kuat. Kafka tersungkur, batuk-batuk hebat seraya memegang lehernya yang memerah. Rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya tidak sebanding dengan rasa takut yang kini menguasai jiwanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kafka menyadari betapa bodohnya ia telah membangunkan seekor naga raksasa yang tertidur.

"Mas Elvan?"

Sebuah suara lembut yang bergetar penuh haru dan kecemasan mendadak terdengar dari arah lorong kamar belakang.

Elvan seketika menghentikan aura intimasinya. Ekspresi wajahnya yang semula dingin membunuh instan melunak dalam hitungan milidetik. Ia berbalik dan melihat pintu kamar utama telah terbuka.

Aluna berdiri di ambang pintu bersama Pak Kusuma yang bersandar pada lengannya. Air mata membasahi wajah cantik Aluna, namun matanya terpancar kelegaan yang amat sangat saat melihat suaminya berdiri tegap tanpa luka sedikit pun.

"Aluna ..." panggil Elvan dengan suara baritonnya yang kembali hangat dan lembut.

Tanpa memedulikan keberadaan Kafka yang tergeletak di lantai atau Bram yang berdiri di sudut ruangan, Aluna melepas pegangannya pada sang ayah dan berlari kencang menerjang tubuh Elvan. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang kokoh suaminya, membenamkan wajahnya di dada bidang Elvan, dan terisak hebat dalam pelukan hangat itu.

"Mas ... Mas Elvan ... kamu tidak apa-apa?" bisik Aluna di tengah isakannya, jemarinya meremas kain baju Elvan dengan sangat kuat, seolah takut pria itu akan menghilang. "Aku ... aku sangat takut kamu terluka ..."

Elvan merengkuh tubuh mungil istrinya dengan sangat erat, menyandarkan dagunya di puncak kepala Aluna, dan mengusap punggung wanita itu dengan lembut. Sentuhan hangat dari Aluna seketika memadamkan seluruh gejolak amarah dan aura membunuh yang tadi membakar jiwa Elvan.

"Aku baik-baik saja, Sayang. Tidak ada yang terluka," bisik Elvan tulus, mendaratkan kecupan hangat di rambut Aluna. "Maafkan aku karena terlambat tiba. Maafkan aku karena membuatmu ketakutan."

"Tidak, Mas ... kamu tidak terlambat. Terima kasih ... terima kasih sudah melindungi kami," sahut Aluna terisak penuh rasa syukur.

Pak Kusuma melangkah perlahan mendekati mereka, matanya berkaca-kaca menatap menantunya. Pria tua itu menepuk bahu Elvan dengan tangan yang bergetar. "Terima kasih, Nak Elvan. Kamu benar-benar pelindung bagi putri Ayah."

Elvan menatap Pak Kusuma dan mengangguk penuh rasa hormat. "Ini sudah menjadi kewajibanku, Yah. Selama aku ada di sini, tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuh Ayah dan Aluna."

Sementara kehangatan menyelimuti keluarga kecil itu, Kafka yang tergeletak di lantai mencoba merangkak pelan-pelan menuju pintu keluar, berharap bisa melarikan diri di tengah momen emosional tersebut. Namun, sebelum kakinya sempat melewati ambang pintu yang rusak, Bram melangkah maju dan menginjak bagian belakang kemeja Kafka dengan sepatu kulitnya yang bersih, mengunci pergerakan pria itu di lantai.

"Ingin pergi ke mana, Tuan Kafka?" tanya Bram dingin.

Di luar rumah, suara sirine mobil kepolisian mendadak melengking nyaring, membelah keheningan kompleks dan makin mendekat hingga berhenti tepat di depan rumah paviliun. Beberapa petugas kepolisian berseragam lengkap dengan senjata di pinggang turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam halaman.

Pimpinan petugas, seorang perwira menengah berpangkat Komisaris Polisi, melangkah masuk ke ruang tengah. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan yang berantakan, menatap Kafka yang tergeletak di lantai, lalu matanya tertuju pada Bram yang berdiri tegap.

Perwira polisi itu membungkukkan badannya sedikit ke arah Bram dan Elvan dengan sikap yang sangat segan.

"Selamat siang. Kami menerima laporan mengenai tindak pidana perusakan rumah, pengancaman keselamatan jiwa, serta berkas perkara penggelapan dana atas nama Kafka," ujar perwira tersebut dengan nada resmi dan penuh rasa hormat.

Elvan melepaskan pelukannya dari Aluna secara perlahan, menuntun istrinya untuk berdiri di sampingnya, lalu menatap perwira polisi tersebut dengan pandangan yang tenang dan penuh otoritas.

"Pak Perwira, proses pria ini sesuai hukum yang berlaku di negara ini," tegas Elvan dengan suara yang tidak menerima bantahan. "Pastikan seluruh bukti pengancaman, perusakan, dan rekam jejak kejahatannya diproses tanpa ada celah penangguhan penahanan."

"Siap, Tuan," sahut perwira polisi itu tegas. Ia berpaling menatap dua anggotanya.

"Bawa tersangka Kafka ke mobil tahanan sekarang!"

Dua petugas polisi maju, menarik tubuh Kafka yang lunglai dari lantai, dan memasangkan borgol besi di kedua pergelangan tangannya.

Kafka yang menyadari hidupnya telah hancur sepenuhnya berteriak histeris saat diseret keluar. "Aluna! Lepaskan aku! Elvan, siapa kamu sebenarnya?! Kamu jebak aku! Lepaskan aku!"

Jeritan histeris Kafka perlahan menghilang saat tubuhnya dimasukkan ke dalam mobil tahanan dan pintu mobil ditutup rapat. Sirine kepolisian kembali meraung melaju meninggalkan area perumahan klaster, membawa serta ancaman besar yang selama ini membayangi hidup Aluna.

Ruang tengah rumah paviliun kembali hening. Aluna menatap pintu depan yang terbuka, memandangi mobil polisi yang makin menjauh, lalu berpaling menatap suaminya.

Meskipun kebahagiaan dan rasa lega membuncah di dadanya karena Kafka telah ditangkap, pandangan Aluna kini tertuju pada cara perwira polisi tadi bersikap di depan Elvan dan Bram, sebuah gestur ketundukan yang tidak akan pernah diberikan kepada seorang pekerja biasa.

Di balik rasa terima kasih yang mendalam, pertanyaan besar yang sempat tertunda kini kembali bergema kuat di dalam sanubari Aluna: ("Siapa sebenarnya pria tegap yang menjadi suaminya ini?")

1
sunaryati jarum
Selamat akhirnya persembunyian Nak Elvan selama dua tahun sambil mencari bukti kejahatan Herlina membuahkan hasil ,semoga kamu jadi pemimpin yang bijaksana berwibawa dan mengayomi seluruh karyawan anda.Dan Aluna selalu pendamping yang selalu memberikan motivasi akan kemajuan perusahaan
sunaryati jarum
Aah masih harus sabar menunggu hasil RUPS dan kehancurannya Ny.Herlina
MayAyunda: sebentar lagi kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga apa yang kau rencanakan dan bukti kejahatan Herlina yang sudah kau kumpulkan, berhasil mengalahkan ibu tirimu yang serakah harta , kedudukan dan kekuasaan yang bukan haknya.Dan Aluna diketahui oleh semua karyawan ,bahwa Aluna istri pimpinan perusahaan tempat mereka bekerja tanpa dirahasiakan lagi.
Ayu Padi
pernikahan mereka sudah sah secara negara juga gak Thor? apa masih siri
MayAyunda: sudah sah kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Emak dengan sabar hasil keputusan RUPS
MayAyunda: he he
total 1 replies
sunaryati jarum
Teman - temanmu mulai.curiga Alena.Tapi itu malah bisa mendengar sendiri penilaian kepada suami kamu
MayAyunda: iya kak 😄
total 1 replies
Ayu Padi
laaah seharus ny kn jgn sampe masuk ke dlm rumh si kagak..pas di pagar Sdh di tangkap sama keamanan Elvan...ksihn kn alunan sm ayah ny hrs ketakutan dulu ..malah br nongol keamanan ny ...
MayAyunda: tenang kak Elvan siap siaga kok 😁
total 1 replies
Ayu Padi
loooh Thor ..kn ada orang suruhan Elvan tuk jagain rumah aluna yg lagi nyiram tanaman pas Elvan mau keluar rumah ..pada kemana mereka Thor...masa pergi semua
sunaryati jarum
Pinter juga Elvan punya segala cara agar selalu dekat dan dilayani istri tercinta
MayAyunda: he he
total 1 replies
sunaryati jarum
Sukses selalu Aluna, untuk pertarungan dalam RUPS lusa semoga lancar sesuai tektik dan rencana dan kemenangan di tangan Elvan.
MayAyunda: iya kak 🙏
total 1 replies
sunaryati jarum
Memang harus begitu,saat jadi pemimpin bersikap tegas, bijaksana,berwibawa dan beraura dingin tapi diperlukan pawangnya,ya harus manis,benar kan Nak , Elvan
MayAyunda: he he
total 1 replies
sunaryati jarum
Hati emak ikut meleleh Aluna,hati beku sedingin es kutub Utara akan cair dan memberi kenyamanan jika dihangatkan oleh hati yang dicintainya
MayAyunda: he he ..iya kak 😄
total 1 replies
sunaryati jarum
Itu akal- akal suamimu agar ketemu kamu Aluna.Pemimpin beraura tegas dan dingin tapi bersama istri seperti kucing peliharaan,manis dan menggemaskan /Drool//Drool/
MayAyunda: iya kak 😁
total 1 replies
sunaryati jarum
Teman- temanmu tidak berhenti membicarakan suamimu, Aluna.Lucu dan heboh ,ya.
sunaryati jarum
Bos Elvan sepertinya suami setia'.Belum ada pembongkaran kejahatan Herlina, Thoor
sunaryati jarum
Gebrakan setelah dalam pelarian,Nak Elvan.Membersihkan orang - orang Herlina.Alena semua temanmu mengidolakannya suamimu jangan cemburu
sunaryati jarum
Kok langsung bekerja.lsgi dan Elvan sudah menduduki posisi yang menjadi haknya, kapan terbongkarnya kejahatan Herlina?
MayAyunda: sabar kak sebentar lagi 😄
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga berhasil Nak Elvan,satu gebrakan membongkar banyak kejahatan Herlina
MayAyunda: baca cerita baruku ..judulnya ke grep dengan preman tengil ..
sama suami Kilatku ternyata bosku 🙏
total 1 replies
sunaryati jarum
Herlina mempercepat kehancurannya sendiri
sunaryati jarum
Aluna Elvan telah jujur, jangan mundur.Beri dukungan dan doa setiap langkahnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!