NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18 : Air mata Winarsih

Keesokan paginya...

Langit Desa Sekar Sari masih diselimuti udara sejuk. Embun pagi masih menempel di dedaunan, sementara matahari baru saja menampakkan sinarnya dari balik perbukitan.

Winarsih sudah berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Matanya masih sembap karena semalaman menangis, tetapi ia berusaha merapikan penampilannya. Ia mengenakan pakaian kerja sederhana, lalu memasukkan salinan surat gugatan cerai ke dalam tas kainnya.

Ia mengembuskan napas panjang. "Aku harus menemui Bu Sulastri dulu," gumamnya lirih. "Apa pun yang terjadi, aku harus mendapatkan nomor telepon Mas Benni."

Setelah berpamitan kepada Bu Ratna, Winarsih keluar dari rumah kontrakan. Ia berjalan kaki menyusuri jalan desa yang masih lengang. Langkahnya pelan, sementara pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang sejak semalam terus menghantuinya.

Tak lama kemudian, ia tiba di depan rumah Sulastri. Winarsih menghentikan langkahnya. Pandangannya tertuju ke rumah yang dulu begitu ia kenal.

Rumah itu kini sedang direnovasi besar-besaran. Beberapa tukang bangunan tampak sibuk memasang bata dan mengecat dinding bagian depan. Tumpukan pasir, semen, serta batu bata memenuhi halaman.

Di sisi halaman, sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam mengkilap terparkir rapi. Kendaraan itu tampak begitu mencolok jika dibandingkan dengan rumah-rumah sederhana di sekitarnya.

Winarsih menghela napas pelan. Ia tahu semua perubahan itu berasal dari uang yang dikirim Benni selama bekerja di Jepang. Sesaat ia menundukkan kepala, berusaha menguatkan hati.

"Aku ke sini bukan untuk melihat semua ini," batinnya. "Aku hanya ingin meminta nomor telepon Mas Benni... agar bisa mendengar langsung darinya."

Dengan langkah pelan, Winarsih berjalan menuju teras rumah. Jantungnya berdegup semakin kencang. Meski hatinya dipenuhi rasa takut dan cemas, ia tetap mengangkat tangan dan mengetuk pintu.

Tok... tok... tok...

"Assalamu'alaikum..."

Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka.

Sulastri berdiri di ambang pintu dengan pakaian yang mencolok. Kalung emas melingkar di lehernya, beberapa gelang menghiasi pergelangan tangannya. Melihat Winarsih berdiri di depan rumahnya, wajahnya langsung berubah masam.

Sulastri memandang Winarsih dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan. "Kamu lagi?" ujarnya ketus. "Masih punya muka datang ke sini?"

Winarsih menundukkan kepala. Meski dadanya terasa sesak, ia tetap berusaha berbicara dengan sopan. "Assalamu'alaikum, Bu."

"Wa'alaikumsalam? Huh!" Sulastri mendengus sinis. "Nggak usah basa-basi. Mau apa kamu ke sini!"

Winarsih menggenggam ujung lengan bajunya erat. "Saya... saya hanya ingin meminta nomor telepon Mas Benni."

Mendengar itu, Sulastri langsung tertawa mengejek. "Nomor Benni?" ulangnya. "Buat apa?"

"Saya hanya ingin bicara langsung dengan Mas Benni, Bu. Saya ingin mendengar sendiri keputusan itu memang benar dari Mas Benni."

"Wah, masih belum sadar juga rupanya." Sulastri melipat kedua tangannya di dada. "Bukankah surat cerai itu sudah cukup jelas?"

Air muka Winarsih semakin pucat. "Saya tidak akan mengganggu Mas Benni, Bu. Saya hanya ingin mendengar penjelasannya sekali saja."

"Tidak perlu!" bentak Sulastri. "Benni tidak mau lagi berhubungan dengan perempuan sepertimu."

Ucapan itu membuat beberapa tetangga yang sedang duduk di depan rumah mulai menoleh. Mereka memperhatikan keributan itu dari kejauhan.

Winarsih tetap menahan diri. "Bu, saya mohon... berikan saja nomor telepon Mas Benni. Setelah itu saya akan pergi."

Namun Sulastri justru melangkah mendekat. "Kamu masih berharap Benni berubah pikiran?" tanyanya dengan nada menghina. "Mimpi!"

"Saya tidak bermaksud begitu, Bu."

"Lalu buat apa datang ke sini? Mau mengiba? Mau berpura-pura jadi perempuan baik?"

Winarsih hanya menggeleng pelan. "Saya hanya ingin meminta penjelasan langsung dari suami saya."

"Suami?" Sulastri terkekeh. "Jangan sembarangan menyebutnya suami. Kamu sudah bukan siapa-siapa Benni lagi."

Beberapa tetangga mulai merasa tidak nyaman mendengar ucapan itu. Seorang ibu paruh baya bernama Bu Arum akhirnya mendekat.

"Sulastri," tegurnya pelan, "sudahlah. Jangan bicara sekasar itu sama Winarsih."

Sulastri menoleh dengan wajah tak senang. "Ini urusan keluarga saya, Bu Arum."

Bu Arum menghela napas. "Kami semua di kampung ini tahu Winarsih anaknya baik. Selama tinggal di sini dia sopan, rajin, dan tidak pernah macam-macam."

"Iya, benar," sahut Pak Darto yang ikut berdiri. "Kalau memang rumah tangga mereka bermasalah, selesaikan baik-baik. Tidak perlu mempermalukan dia di depan orang sekampung."

Wajah Sulastri semakin merah karena kesal. "Kalian semua tidak tahu apa-apa!"

Bu Arum menggeleng pelan. "Justru kami melihat sendiri bagaimana Winarsih memperlakukanmu selama ini. Dia menghormatimu seperti ibunya sendiri."

Seorang tetangga lain ikut menimpali.

"Winarsih, buat apa kamu masih datang ke sini? Mantan mertuamu itu sudah tidak pantas kamu perlakukan sebaik ini."

"Iya, Nak," ujar seorang bapak tua. "Pulang saja. Jangan biarkan harga dirimu terus diinjak."

Namun Winarsih tetap berdiri di tempat. Ia menatap Sulastri dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Bu... saya tidak datang untuk bertengkar. Saya hanya ingin nomor telepon Mas Benni."

Sulastri tersenyum sinis. "Kamu pikir setelah melihat rumah ini, Benni masih mau kembali kepadamu?" Ia mengangkat dagunya dengan angkuh. "Lihat sendiri. Rumah ini sedang direnovasi. Mobil baru juga sudah ada. Hidup kami sekarang jauh lebih baik."

Tatapannya penuh kesombongan. "Dan semua itu berkat Benni. Jadi jangan pernah berpikir kamu masih punya tempat di keluarga ini."

Winarsih hanya menarik napas pelan. Meski hatinya terasa hancur oleh setiap ucapan Sulastri, ia tetap berusaha menjaga sikap. "Saya tidak menginginkan rumah ini, Bu... saya juga tidak menginginkan harta Mas Benni."

Ia menundukkan kepala. "Saya hanya ingin kesempatan berbicara dengannya... sekali saja."

Sulastri mendengus kasar. Kesabarannya benar-benar habis melihat Winarsih yang masih berdiri di depan rumahnya. "Sudah kubilang, Benni tidak mau berbicara denganmu! Kenapa kamu masih keras kepala?" bentaknya.

Winarsih menggeleng pelan. Air matanya kembali menetes. "Bu... saya mohon. Berikan saja nomor telepon Mas Benni. Setelah itu saya janji tidak akan datang lagi ke sini."

"Percuma!" hardik Sulastri. "Benni sudah melupakanmu!"

"Tapi saya hanya ingin mendengar langsung darinya, Bu. Kalau memang Mas Benni yang menginginkan perceraian ini, saya akan menerimanya."

Ucapan itu justru membuat Sulastri semakin naik pitam. "Dasar perempuan keras kepala!"

Tanpa diduga, Sulastri mendorong bahu Winarsih dengan kasar.

Bruk!

Winarsih yang tidak siap kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terjatuh hingga terduduk di halaman rumah. Telapak tangannya membentur tanah berbatu.

"Ah..."

Surat gugatan cerai yang berada di dalam tasnya ikut terjatuh dan terserak di halaman.

Beberapa tetangga langsung terkejut.

"Astaghfirullah!"

"Bu Sulastri, jangan begitu!"

"Kasihan Winarsih!"

Namun Sulastri sama sekali tidak merasa bersalah. "Pergi dari rumah saya! Jangan pernah menginjakkan kakimu di sini lagi!"

Winarsih menggigit bibirnya menahan tangis. Dengan tangan yang gemetar, ia memunguti lembaran surat yang berserakan.

"Bu... tolong... berikan saja nomor telepon Mas Benni." Suaranya nyaris tak terdengar. "Saya hanya ingin mendengar penjelasan dari Mas Benni..."

Air matanya jatuh satu per satu membasahi kertas yang ada di tangannya. Tepat saat itu... sebuah mobil SUV abu-abu metalik berhenti di depan rumah.

Chiiit...

Semua orang menoleh.

Pintu mobil terbuka.

Dokter Arga turun dengan langkah cepat. Ia baru saja hendak berangkat ke Puskesmas Sekar Sari ketika melihat kerumunan warga di depan rumah Sulastri. Begitu melihat Winarsih terduduk di tanah sambil menangis, wajah Arga langsung berubah.

"Mbak Winarsih!"

Tanpa memedulikan tatapan orang-orang, Arga segera menghampiri. Ia berjongkok di hadapan Winarsih.

"Mbak... tidak apa-apa?"

Winarsih buru-buru mengusap air matanya. "Saya... saya tidak apa-apa, Dok."

Arga melihat telapak tangan Winarsih yang memerah akibat membentur tanah. Rahangnya mengeras, tetapi ia berusaha tetap tenang. Perlahan ia membantu mengumpulkan surat-surat yang tercecer, lalu menyerahkannya kembali kepada Winarsih.

"Mbak..."

Winarsih menggenggam surat itu erat-erat. "Saya hanya ingin nomor telepon Mas Benni, Dok," ucapnya dengan suara bergetar. "Saya cuma ingin bertanya... apakah benar Mas Benni yang ingin menceraikan saya."

Arga menatap wajah Winarsih yang dipenuhi air mata. Hatinya terasa sesak melihat perempuan itu terus merendahkan dirinya demi sebuah penjelasan.

Dengan suara lembut ia berkata, "Mbak Winarsih... sebaiknya kita pulang saja."

Winarsih menggeleng pelan. "Tapi saya harus minta penjelasan Mas Benni, Dok. Saya hanya butuh itu."

Arga menganggukkan kepala pelan, menunjukkan bahwa ia memahami perasaannya. "Saya mengerti, Mbak." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang tetap lembut. "Tapi bukan seperti ini caranya."

Winarsih menundukkan kepala. Isaknya semakin terdengar.

"Saya mohon... bangun dulu." Arga mengulurkan tangannya. "Kita pergi dari sini. Setelah Mbak lebih tenang, kita pikirkan bersama bagaimana cara menghubungi Mas Benni."

Winarsih menatap tangan yang terulur di hadapannya. Setelah beberapa saat ragu, perlahan ia mengangkat tangannya dan menerima bantuan Arga untuk berdiri.

Di belakang mereka, para tetangga hanya bisa menghela napas. Sementara Sulastri mendengus sinis, sama sekali tidak menunjukkan rasa iba kepada mantan menantunya. Namun, tanpa disadarinya, sikap kasarnya pagi itu telah disaksikan oleh banyak pasang mata di kampung tersebut.

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!