Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Tanda Tangan Di Atas Kertas
Suara rintik hujan yang mulai menetes basah membasahi kaca jendela ruang perawatan VIP seolah memperjelas kesunyian di hati Aura Zhafira. Waktu di dinding terus bergulir tanpa ampun, mendekati pukul tujuh malam. Di atas meja kecil di samping ranjang, map hitam berisi salinan dokumen dari Reno Adhyastha seolah terus memanggil-manggil namanya, menuntut sebuah kepastian.
Aura menatap wajah ibunya yang tertidur lelap di bawah pengaruh obat penenang. Wajah tua yang kini dipenuhi kerutan itu tampak begitu rapuh. Ibu adalah satu-satunya alasan Aura bertahan dan bekerja keras hingga detik ini. Jika esok hari rumah peninggalan almarhum ayahnya benar-benar disita dan berita utang piutang tersebut mencuat ke media, bukan hanya reputasinya sebagai presenter berita yang akan hancur, tetapi kesehatan ibunya yang sudah sangat lemah juga tidak akan sanggup menanggung kejutan sesakit itu.
"Maafkan Aura, Bu..." bisik Aura sangat pelan. Ia membungkuk, mendaratkan kecupan hangat di kening ibunya yang dingin seraya menahan air mata yang mendesak di pelupuk mata. "Aura harus mengambil keputusan ini. Tolong doakan Aura..."
Aura menegakkan tubuhnya kembali. Ia menyapu sisa air mata di pipinya dengan ujung jari, merapikan hijab instan berwarna pink lembut yang membingkai wajah cantiknya, lalu melangkah keluar dari kamar rawat.
Di koridor rumah sakit yang lengang, Pak Aslan asisten pribadi bertubuh tegap kepercayaan Reno,ternyata masih setia menunggu. Begitu melihat Aura keluar, pria paruh baya bersetelan rapi itu membungkuk sopan.
"Bagaimana, Nona Zhafira? Apakah Anda sudah siap?" tanya Pak Aslan dengan nada suara yang sangat terjaga.
"Saya siap pergi ke lokasi, Pak," jawab Aura dengan suara mantap, walau dadanya bergemuruh hebat.
"Baik, Nona. Mobil Alphard Tuan Reno sudah bersiap di area basement," balas Pak Aslan seraya membukakan jalan dengan gestur yang sangat menghormati.
Tepat pukul 19.50 WIB, mobil mewah bernomor polisi B 1899 RNO itu perlahan berhenti di depan sebuah restoran privat bergaya modern-minimalis di kawasan elit Senopati. Tempat itu tampak sangat tertutup dari luar, dikelilingi pepohonan tinggi dan penerangan yang samar,tempat yang sempurna untuk transaksi rahasia kalangan kelas atas.
Pak Aslan membukakan pintu mobil dan memandu Aura melangkah menuju area VIP di lantai dua. Penerangan di dalam ruangan itu didominasi pendar warm white yang eksklusif dan elegan.
Di ujung meja panjang berbahan kayu mahoni, seorang pria sudah duduk tegap. Pria itu masih mengenakan setelan jas hitam kustom tanpa cela. Jemarinya yang panjang dan dihiasi jam tangan mewah berwarna gelap tampak sedang mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan tempo teratur.
Reno Adhyastha.
Saat langkah kaki Aura mendekat, Reno mendongak. Pandangan matanya yang tajam, kelam, dan penuh kalkulasi langsung mengunci netra Aura. Wajahnya sangat tampan dengan garis rahang yang tegas, namun ekspresinya begitu datar dan kaku,seolah tak ada satu pun emosi manusiawi yang diizinkan keluar dari dalam dirinya.
"Duduk, Miss Zhafira," suara Reno terdengar berat, dalam, dan tanpa basa-basi.
Aura menarik kursi kayu di seberang Reno dan duduk dengan posisi tegap yang anggun. Di balik penampilannya yang tetap tenang bak pembawa berita profesional, Aura menyembunyikan kedua tangannya yang saling bertautan erat di bawah meja untuk menutupi rasa gemetar.
Reno melirik jam di pergelangan tangannya sekilas. "Tepat waktu. Saya suka orang yang menghargai waktu dan tidak berbelit-belit."
Pria itu memberi isyarat pelan pada Pak Aslan. Sang asisten segera melangkah maju dan meletakkan dua rangkap dokumen tebal berikatan pita merah tepat di depan Aura, lengkap dengan dua lembar materai dan sebuah pulpen berornamen emas.
"Di dalam dokumen itu terdapat tiga puluh pasal perjanjian pernikahan yang sudah disusun oleh tim hukum saya," buka Reno, pandangannya lurus menatap Aura tanpa berkedip. "Saya tidak suka membuang waktu, jadi saya akan memperjelas poin utamanya secara langsung."
Aura menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokannya. "Saya mendengarkan, Mr. Adhyastha."
"Pertama, seluruh utang almarhum ayahmu sebesar dua miliar rupiah telah dilunasi oleh tim keuangan saya sepuluh menit yang lalu," ucap Reno datar, seolah membicarakan uang miliaran rupiah seperti membalikkan telapak tangan. "Begitu pula dengan deposit jaminan biaya rumah sakit dan perawatan medis ibumu untuk satu tahun ke depan."
Dada Aura berdesir hebat. Rasa lega luar biasa seketika membuncah di dalam dirinya rumah ibunya selamat, dan perawatan ibunya terjamin. Namun di saat yang sama, rasa takut mulai merayapi benaknya. Ia sadar betul konsekuensi besar yang harus ia serahkan sebagai gantinya.
"Dan imbalannya," lanjut Reno, bersandar pada kursi kayunya seraya melipat kedua tangan di dada, "kamu resmi menjadi istri saya di atas kertas selama tiga ratus enam puluh lima hari ke depan."
Reno menatap Aura dengan ketajaman yang begitu mengintimidasi sebelum membacakan poin-poin utama kesepakatan mereka.
"Aturan main kita sangat sederhana:"
"Satu, tidak ada hubungan suami-istri yang sesungguhnya di antara kita. Kita akan tinggal di bawah satu atap, tetapi berada di kamar yang terpisah dan menjaga privasi masing-masing."
"Dua, keberadaan pernikahan ini harus dirahasiakan dari publik dan rekan media berita tempatmu bekerja. Saya tidak ingin kehidupan pribadi saya disorot oleh kamera atau dijadikan bahan berita gosip."
"Dan yang ketiga..." Reno jeda sejenak, memberikan penekanan dingin pada setiap kata, "...jangan pernah melibatkan perasaan. Jangan jatuh cinta pada saya, dan jangan pernah berharap saya akan menganggapmu lebih dari sekadar mitra kontrak."
Ruangan VIP itu mendadak hening. Syarat-syarat itu diucapkan dengan begitu kaku, lugas, dan tanpa empati, seolah Aura hanyalah sebuah aset bisnis yang baru saja ia beli demi mengamankan posisi CEO di perusahaan.
Aura menatap dokumen tebal di depannya, lalu beralih menatap mata pria dingin di hadapannya. Ada rasa tersinggung yang menyengat harga dirinya sebagai seorang wanita. Namun, Aura dengan cepat menepis gejolak emosi itu. Ini bukan saatnya mengedepankan gengsi. Ini adalah transaksi bisnis yang adil.
"Bagaimana jika ada pihak media atau wartawan yang mencium pernikahan ini secara tidak sengaja?" tanya Aura menguji, mengingat profesinya sendiri adalah seorang jurnalis senior.
"Tim hukum dan keamanan saya cukup tangguh untuk memblokir berita tersebut sebelum sempat naik ke publik," balas Reno tegas dan percaya diri. "Tugasmu hanya satu: berakting sempurna sebagai istri yang anggun saat berada di depan Nenek saya dan dewan komisaris, lalu menjadi 'orang asing' saat kita hanya berdua."
Aura menghela napas panjang dan perlahan. Ia merengkuh pulpen emas di meja. Jemarinya memegang pena itu dengan erat, mengusir keraguan terakhir yang tersisa di sudut hatinya.
"Baik," ucap Aura mantap. "Saya terima semua kesepakatannya."
Aura membuka halaman terakhir dokumen tersebut, menempelkan materai pada kolom nama, dan membubuhkan tanda tangannya yang terukir rapi di atas garis nama *Aura Zhafira*.
Reno memperhatikan setiap pergerakan jemari Aura tanpa berkedip sedikit pun. Tidak ada senyuman atau riak kepuasan di wajah tampan pria itu ketika dokumen tersebut digeser kembali ke arahnya. Reno hanya mengambil pulpen miliknya sendiri, menyapukan tanda tangan yang tegas di sebelah tanda tangan Aura, lalu menutup dokumen itu dengan ketukan pelan.
Brak.
"Selamat datang di perjanjian kita, Miss Zhafira," kata Reno seraya berdiri dari kursinya, merapikan kancing jas hitamnya. "Mulai malam ini, barang-barang pribadi milikmu akan dipindahkan oleh tim saya ke penthouse saya di kawasan SCBD. Kamu akan langsung tinggal di sana bersama saya."
Aura mendongak terkejut. "Malam ini juga? Tapi ibu saya..."
"Ibumu ditangani oleh dokter-dokter terbaik di rumah sakit ini, dan Pak Aslan sudah menyiapkan penjaga khusus dua puluh empat jam di depan kamarnya," potong Reno dingin tanpa cela. "Pernikahan resmi kita secara tertulis akan diproses oleh negara besok pagi. Jadi tidak ada alasan untukmu menunda kepindahan. Jangan buat saya menunggu di mobil."
Tanpa menunggu tanggapan atau bantahan dari Aura, Reno berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruangan VIP tersebut dengan langkah tegap. Meninggalkan Aura yang terduduk sendirian dalam keheningan malam, menatap lembaran kertas yang baru saja mengubah seluruh takdir hidupnya.