Ketika keluarganya hancur dihantam utang dan kehancuran finansial, Lin Fan tidak sengaja menemukan gulungan lontar tua milik leluhurnya yang tersembunyi di sudut rumahnya di desa terpencil. Gulungan itu membuka akses ke sebuah ritual terlarang yang membangkitkan entitas misterius bernama [Sistem Pagar Iblis], sebuah kekuatan kuno yang menuntut bayaran mahal untuk setiap keuntungan finansial dan perlindungan yang ditawarkannya. Demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman orang-orang licik di sekitarnya, Lin Fan terpaksa melangkah ke dalam kegelapan, tanpa menyadari bahwa setiap keputusan yang ia ambil mulai mengubah dirinya dan membahayakan nyawa orang-orang yang berusaha ia lindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 : Titik Terendah Lin Fan
Plak!
Tamparan keras itu mendarat tepat di pipi kiri Lin Fan.
Ujung bibirnya pecah dan mengeluarkan sedikit darah segar.
Ia tersungkur ke lantai semen yang dingin dan kotor di ruang tamu rumahnya.
"Uang sewa rumah ini sudah menunggak tiga bulan!" bentak seorang pria berbadan tambun dengan jaket kulit hitam.
Pria itu bernama Zhao Qiang, orang kepercayaan tuan tanah lokal.
Lin Fan menyapu darah di bibirnya menggunakan punggung tangan.
Matanya menatap lantai, tidak berani menatap langsung ke arah Zhao Qiang.
Di sudut ruangan, ibunya menangis terisak sambil memeluk adiknya yang masih SMA.
"Paman Zhao, tolong beri kami waktu seminggu lagi," pangkut ibu Lin Fan dengan suara gemetar.
"Seminggu?" Zhao Qiang tertawa sinis.
Brak!
Zhao Qiang menendang meja kayu tua di dekatnya hingga salah satu kakinya patah.
"Minggu lalu kamu bilang seminggu, sekarang bilang seminggu lagi!" teriak Zhao Qiang dengan nada tinggi.
"Usaha ayahmu sudah bangkrut dan dia melarikan diri entah ke mana!" lanjut Zhao Qiang sambil melangkah mendekati Lin Fan.
Zhao Qiang menarik kerah kaos kusam yang dipakai Lin Fan secara paksa.
Lin Fan terangkat sedikit dan bisa merasakan napas Zhao Qiang yang berbau rokok menyengat.
"Kalau sampai lusa kamu tidak bayar dua puluh ribu Yuan, rumah ini akan disita," ancam Zhao Qiang tepat di depan wajah Lin Fan.
"Dua puluh ribu Yuan? Dari mana kami bisa dapat uang sebanyak itu dalam dua hari?" tanya Lin Fan dengan suara pelan tapi menahan amarah.
"Itu bukan urusanku, Lin Fan," jawab Zhao Qiang sambil melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
Lin Fan kembali jatuh terduduk di lantai.
Zhao Qiang membalikkan badan dan berjalan keluar bersama dua orang anak buahnya.
Srak!
Pintu rumah ditarik kasar dari luar hingga menimbulkan suara berderit yang nyaring.
Suasana rumah seketika menjadi sangat sunyi.
Hanya terdengar suara tangisan ibu Lin Fan yang makin keras.
"Maafkan Ibu, Lin Fan... Maafkan Ibu," ratap ibunya sambil memukul-mukul dadanya sendiri.
Lin Fan bangkit berdiri perlahan.
Lututnya terasa lemas dan dadanya sangat sesak.
"Ibu tidak salah, Ayah yang meninggalkan kita begitu saja," kata Lin Fan berusaha menenangkan ibunya.
Ia berjalan mendekati ibunya dan merangkul bahunya yang berguncang.
"Lalu kita harus bagaimana, Gege?" tanya adiknya, Lin Mei, dengan mata yang sudah sembap.
Lin Fan tidak bisa menjawab pertanyaan adiknya.
Ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Semua tabungan keluarganya sudah habis untuk membayar sebagian utang bisnis ayahnya yang gagal.
Pekerjaannya sebagai buruh lepas di pabrik kayu dekat desa hanya menghasilkan sedikit uang yang bahkan tidak cukup untuk makan sehari-hari.
"Kalian istirahatlah dulu di kamar, aku akan memikirkan caranya," ucap Lin Fan singkat.
Ibunya menatap Lin Fan dengan rasa bersalah yang amat sangat sebelum akhirnya menuntun Lin Mei masuk ke dalam kamar.
Lin Fan berdiri sendirian di ruang tamu yang berantakan.
Ia melihat meja kayu yang patah akibat tendangan Zhao Qiang tadi.
Rasa benci dan putus asa bercampur menjadi satu di dalam hatinya.
Desa tempat tinggal mereka sangat terpencil dan dikelilingi oleh hutan lebat yang jarang dijamah orang.
Hanya ada sedikit peluang kerja di sini, dan hampir semua orang saling kenal sehingga rumor tentang kebangkrutan keluarganya sudah menyebar cepat.
Tidak ada satu pun kerabat yang mau meminjamkan uang kepada mereka saat ini.
Lin Fan berjalan menuju bagian belakang rumah.
Di sana ada sebuah gudang tua yang jarang dibuka sejak kakeknya meninggal sepuluh tahun lalu.
Gudang itu berbau debu tebal dan kotoran tikus.
Kriet...
Lin Fan mendorong pintu kayu gudang yang sudah lapuk.
Ia menyalakan lampu senter dari ponselnya yang layarnya sudah retak di beberapa bagian.
Cahaya remang-remang mulai menerangi isi gudang yang penuh dengan tumpukan barang bekas.
Lin Fan sebenarnya hanya ingin mencari benda yang sekiranya masih bisa dijual ke pengepul barang bekas besok pagi.
Ia mulai membongkar kardus-kardus tua yang ada di sudut ruangan.
Uhuk! Uhuk!
Lin Fan terbatuk-batuk karena debu terbang saat ia menggeser sebuah lemari kayu kecil.
Di belakang lemari tersebut, ia melihat sebuah lubang kecil di dinding bata yang tampak baru saja terkelupas.
"Apa ini?" gumam Lin Fan pada dirinya sendiri.
Ia mendekatkan cahaya senter ponselnya ke lubang itu.
Ada sebuah kotak kayu berwarna hitam pekat yang tersimpan rapat di dalam rongga dinding.
Kotak itu terlihat sangat tua dan tidak memiliki kunci.
Lin Fan mengulurkan tangannya dan menarik kotak kayu itu keluar dari rongga dinding.
Kotak itu terasa sangat dingin saat disentuh, padahal udara di dalam gudang cukup hangat.
Lin Fan duduk di lantai gudang dan meletakkan kotak itu di pangkuannya.
Ia perlahan membuka penutup kotak kayu tersebut.
Di dalamnya tidak ada perhiasan atau uang tunai seperti yang ia harapkan secara diam-diam.
Hanya ada selembar gulungan serat lontar tua berwarna cokelat gelap.
Gulungan itu terikat dengan tali benang merah yang sudah memudar warnanya.
"Hanya gulungan tua?" desah Lin Fan kecewa.
Ia menyentuh gulungan lontar itu dengan rasa frustrasi yang amat sangat.
Namun saat jemarinya menyentuh permukaan lontar yang kasar, rasa dingin menyengat mendadak merambat dari tangan menuju dadanya.
Deg!
Jantung Lin Fan berdetak kencang secara tiba-tiba.
Ia mencoba menarik tangannya kembali, tetapi jarinya seolah menempel pada gulungan tersebut.
Tali benang merah yang mengikat gulungan itu putus dengan sendirinya tanpa ditarik.
Srak!
Gulungan serat lontar itu terbuka lebar di atas pangkuannya.
Di atas permukaan lontar, terdapat ukiran tulisan bahasa Mandarin kuno yang diukir menggunakan tinta berwarna merah kehitaman.
Lin Fan mencoba membaca baris pertama dari tulisan tersebut.
"Ritual Pagar Iblis..." baca Lin Fan secara perlahan.
Tepat setelah Lin Fan mengucapkan kata-kata itu, udara di dalam gudang terasa menjadi sangat berat dan dingin.
Sinar senter dari ponselnya mendadak berkedip-kedip beberapa kali.
Bzzzt! Bzzzt!
Layar ponselnya berubah menjadi hitam total lalu mati.
Kegelapan tebal langsung menyelimuti seluruh ruangan gudang.
Lin Fan panik dan berusaha berdiri dari posisinya.
"Ibu? Lin Mei?" panggil Lin Fan, namun suaranya terasa teredam dan tidak terdengar keluar dari gudang.
Tiba-tiba, sebuah cahaya kebiruan yang redup muncul di udara tepat di depan mata Lin Fan.
Cahaya itu membentuk garis-garis tegas yang tampak seperti kotak persegi transparan.
Di dalam kotak transparan tersebut, muncul barisan tulisan berwarna putih menyala yang sangat jelas.
[Pengikat Kontrak Leluhur Terdeteksi]
[Persyaratan Pengaktifan: Pemilik Garis Keturunan Lin Dalam Keadaan Putus Asa]
[Apakah Anda Ingin Mengaktifkan Sistem Pagar Iblis?]
[Ya / Tidak]
Lin Fan membelalakkan matanya tidak percaya melihat apa yang ada di depannya.
Teks itu mengambang begitu saja di udara kosong tanpa ada proyektor atau alat elektronik di sekitarnya.
Ia menyentuh matanya sendiri untuk memastikan ia tidak sedang berhalusinasi akibat stres berat.
Namun kotak teks melayang itu tetap berdiri kokoh tepat di depan wajahnya.
"Sistem... Pagar Iblis?" bisik Lin Fan dengan napas terengah-engah.
Teks di dalam kotak transparan itu berganti secara perlahan.
[Peringatan: Pengaktifan Sistem Menggunakan Jiwa Dan Kehidupan Sebagai Jamina. Keuntungan Finansial Dan Perlindungan Akan Diberikan Secara Instan]
[Waktu Tersisa Untuk Memilih: 10 Detik]
[9...]
[8...]
Lin Fan teringat wajah ibunya yang menangis dan rasa sakit akibat tamparan Zhao Qiang tadi.
Ia tahu lusa keluarganya akan dibuang ke jalanan tanpa punya apa-apa lagi.
"Uang... Aku butuh uang untuk menyelamatkan keluargaku," ucap Lin Fan dengan nada mantap meskipun tangannya gemetar hebat.
[3...]
[2...]
"Aku setuju!" teriak Lin Fan.
[Kontrak Disetujui]
[Sistem Pagar Iblis Berhasil Ditingkatkan Ke Tahap Awal]
[Menerima Hadiah Awal: 50.000 Yuan]
[Bayaran Pertama Akan Ditagih Dalam Waktu 24 Jam]
Ting!
Tiba-tiba ponsel Lin Fan yang tadi mati mendadak menyala kembali dengan sendirinya.
Sebuah notifikasi pesan singkat masuk dari aplikasi perbankan ponselnya.
Sfx: Ting! (Suara notifikasi ponsel)
Lin Fan dengan cepat meraba ponselnya dan membuka pesan tersebut dengan tangan yang gemetar.
[Rekening Anda telah menerima transfer sebesar 50.000,00 CNY dari Sumber Tidak Terkenal.]
Mata Lin Fan membelalak sempurna melihat angka lima puluh ribu Yuan yang tertera jelas di layar ponselnya.
Namun di saat yang bersamaan, aroma bau busuk seperti bangkai binatang yang terbakar mendadak memenuhi seluruh isi gudang tua itu.