NovelToon NovelToon
Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.

Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.

Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siang yang Penuh Harapan

Bab 31

Setelah Leonid dan Alvaro berangkat, rumah kembali sunyi. Namun kali ini bukan kesunyian yang dingin atau menakutkan, melainkan ketenangan yang hangat dan menenangkan. Elena berjalan perlahan kembali ke kamar, tubuhnya masih terasa sedikit ngilu namun tidak seberat saat pagi tadi. Ia duduk di tepi tempat tidur, memandangi sisa keberadaan Leonid yang masih terasa jelas di sana bau wangi tubuhnya, lipatan seprai bekas berbaringnya, dan kehangatan yang seolah belum hilang sepenuhnya.

Ia teringat perjalanannya yang luar biasa. Dulu ia hanya seorang pekerja keras yang berharap panjang umur agar bisa mengumpulkan cukup uang untuk hidup layak. Namun takdir membawanya melintasi batas kehidupan, menempatkannya di tubuh seorang wanita yang dulu kelakuan buruknya jauh dari kata baik, dan memberinya kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya. Kesempatan untuk mencintai, dilindungi, dan dicintai dengan tulus oleh orang yang paling tidak ia duga.

Perlahan ia berdiri dan mulai bergerak menyusuri ruangan. Rasa sakit itu masih ada, tapi ia jadikan pengingat betapa berharganya penyatuan semalam bukan sekadar hubungan raga, melainkan tanda bahwa tak ada lagi tembok yang memisahkan mereka berdua. Ia mulai menyiapkan rumah, merapikan barang-barang, dan menyiapkan bahan makanan kesukaan mereka. Ia ingin saat mereka pulang nanti, rumah terasa lebih hangat dan lebih nyaman dari biasanya.

Waktu terasa berjalan lambat, namun hati Elena terasa penuh. Ia sering melirik jam dinding, menanti saat di mana pintu depan akan terbuka dan suara tawa kecil Alvaro akan terdengar. Tak lama kemudian, suara mobil yang ia kenal terdengar memasuki halaman. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena rindu yang mulai tumbuh meski hanya berpisah beberapa jam saja.

Pintu terbuka, dan Alvaro langsung berlari kecil menghampirinya dengan wajah berseri-seri. "Mama!" serunya sambil memeluk kaki Elena erat. "Tadi di sekolah seru sekali! Guru Alvaro baik sekali, dan teman-teman baru Alvaro juga ramah!"

Elena mengangkat wajah anak itu, mencium keningnya berkali-kali dengan penuh kasih sayang. "Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Mama senang sekali mendengarnya."

Leonid berjalan masuk di belakang putranya, menatap Elena lekat-lekat dengan senyum tipis yang tak pernah hilang. Ia mendekat, menyentuh lengan istrinya perlahan. "Kau sudah merasa lebih baik?"

"Jauh lebih baik," jawab Elena lembut. "Terima kasih sudah mengantarnya."

Saat makan siang bersama, suasana meja makan begitu hidup. Alvaro tak berhenti bercerita tentang hal-hal kecil yang ia alami di sekolah tentang buku bacaan baru, tentang permainan di halaman sekolah, hingga tentang bekal makanan yang ia habiskan dengan lahap. Leonid mendengarkan dengan sabar, sesekali menimpali atau sekadar tersenyum melihat antusiasme putranya. Sesekali matanya bertemu dengan mata Elena, dan dalam tatapan itu tersirat rasa syukur yang tak terucap bahwa mereka akhirnya memiliki momen sederhana namun begitu berharga ini.

Setelah makan dan Alvaro pergi bermain di halaman, Leonid menarik Elena duduk di sampingnya di ruang tengah. Ia menggenggam tangan istrinya erat.

"Maafkan aku jika kau merasa sakit pagi tadi," ucapnya pelan, nada suaranya penuh penyesalan yang tulus. "Aku terbawa perasaan karena akhirnya kau benar-benar menjadi milikku sepenuhnya. Aku tidak bermaksud menyakitimu."

Elena menggeleng pelan, lalu menyentuh wajah suaminya dengan lembut. "Jangan minta maaf. Itu bukan rasa sakit yang menyiksa. Itu tanda bahwa kita kini benar-benar satu. Aku bahagia, Leonid. Sangat bahagia."

Leonid menariknya masuk ke dalam pelukan hangatnya, membiarkan Elena bersandar tenang di dadanya. Di momen sederhana itu, mereka sadar bahwa perjalanan mereka masih panjang, mungkin masih ada rintangan yang datang. Namun selama mereka saling berpegangan tangan dan saling menjaga, tak ada yang perlu ditakuti. Rumah ini bukan lagi sekadar bangunan megah, melainkan tempat di mana cinta tumbuh dan bersemi selamanya.

 

BERSAMBUNG...

1
ocvia
🤣baik kak
Susi Nugroho
Nanti bikin Elena mengandung kembar.... Lanjut....
yula
👍
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
ocvia: siap kak
total 1 replies
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu.... Semangat
ocvia: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!