Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 — Wajah yang Sama
Langkah kaki Yana tak bersuara saat menyusuri semak-semak beracun di balik rute tebing rahasia. Mantel kulit serigala hitam yang dikenakannya menyatu sempurna dengan kegelapan malam. Angin utara di Hutan Hitam berembus kencang membawa aroma es, tanah basah, dan dedaunan cemara yang pekat.
Di depan sana, pendar cahaya kemerahan dari obor yang dibawa rombongan ayahnya mendadak berhenti di dekat sebuah celah tebing batu perak.
"Tahan obor kalian!" Suara Aron bergaung pelan namun tegas memecah keheningan malam. "Ada sesuatu di bawah ceruk batu itu!"
Paman Bimo melangkah paling depan, mengacungkan tombak besi baru mereka sambil mendekatkan obornya ke tanah. "Aron... kemari. Lihat ini!"
Yana bersembunyi di balik batang pohon cemara raksasa yang berukuran dua pelukan orang dewasa. Matanya menyipit tajam, memperhatikan setiap gerakan rombongan pencari dari jarak aman.
Di bawah pendar cahaya obor yang bergoyang ditiup angin, terbaring sesosok tubuh kecil yang meringkuk kaku di atas tanah es. Pakaian yang dikenakannya sangat aneh dan mencolok—sebuah jaket tebal berwarna merah terang dan celana dari bahan kain halus yang tidak pernah dikenal oleh siapapun di dunia binatang ini.
"Seorang gadis?" gumam Dirga kaget, matanya melotot menatap sosok itu. "Bagaimana bisa ada anak perempuan sendirian di dalam Hutan Hitam?"
Aron berlutut di atas salju, membalikkan tubuh gadis yang tergeletak pingsan itu dengan sangat hati-hati. "Napasnya masih ada, tapi sangat lemah. Tubuhnya membeku. Dia pingsan karena udara dingin."
Aron tanpa ragu melepas mantel kulit tebal miliknya, membungkus tubuh gadis asing itu rapat-rapat sebelum menggendongnya ke dalam pelukan.
Saat pendar cahaya obor menyinari wajah gadis yang pingsan tersebut, Yana yang mengintip dari balik pohon mendadak menegang. Jantungnya seperti berhenti berdetak selama satu detik.
Wajah itu.
Paras mungil, kulit putih bersih tanpa cela, serta bentuk alis dan bulu mata yang lentik. Yana mengenalnya dengan sangat amat baik. Wajah yang sama persis dengan sosok yang di kehidupan pertamanya membawa kehancuran, api, dan pembantaian bagi Suku Serigala.
Gadis transmigrator itu telah datang.
Yana mengepalkan tangannya rapat-rapat di balik mantel hitamnya hingga buku-buku jarinya memutih dan kaku. Rasa benci yang amat sangat membakar dadanya dari dalam. Tanpa bersuara sedikit pun, Yana membalikkan badan lalu berlari menyusuri celah rahasia untuk kembali ke pemukiman lebih dulu sebelum rombongan ayahnya tiba.
.
Satu jam kemudian, suasana di dalam gua kediaman Kepala Suku mendadak riuh dan hangat. Asap tipis membumbung dari perapian utama. Bibi Nora dan Nenek Greta sibuk meletakkan daun penghangat serta memanaskan air di dekat perapian.
Gadis asing itu dibaringkan di atas pembaringan dari tumpukan kulit rusa yang empuk. Dia belum sadar, namun warna pucat pada kulitnya perlahan-lahan mulai hilang berganti rona hangat akibat hawa perapian gua.
Yana berdiri menyendiri di sudut gua yang paling gelap. Ia bersandar pada dinding batu dingin, menyilangkan tangan di dada sambil terus mengawasi sosok yang terbaring itu tanpa mengedipkan mata sedikit pun.
Tetua Gordon melangkah mendekati pembaringan, memandangi gadis asing itu lama sebelum matanya melirik ke arah Yana. Sang tetua menyadari perubahan aura dingin yang memancar dari tubuh Yana, tetapi ia memilih diam dan tetap mengamati situasi.
Tiba-tiba, jemari tangan gadis di atas pembaringan itu bergerak pelan. Sebuah lenguhan halus dan napas pendek terdengar dari tenggorokannya.
"Dia sudah sadar!" seru Bibi Nora gembira.
Gadis itu perlahan-lahan membuka matanya. Kelopak matanya berkedip beberapa kali sebelum ia mendudukkan dirinya dengan perlahan. Wajahnya memasang ekspresi bingung, polos, dan sedikit ketakutan saat melihat orang-orang berselimutkan kulit binatang yang mengelilinginya.
Aron melangkah mendekat dengan raut wajah hangat dan tenang. "Jangan takut. Kamu aman di sini. Aku Aron, Kepala Suku di pemukiman ini."
Gadis itu menatap Aron dengan mata berbinar, memasang raut takjub sekaligus rapuh. "Paman... yang menyelamatkanku dari hutan dingin itu?"
"Benar," jawab Aron mengangguk ramah. "Siapa namamu, Nak? Dan bagaimana bisa kamu berada di dalam hutan utara sendirian tanpa perlengkapan sama sekali?"
Gadis itu menundukkan kepalanya sejenak dengan raut wajah sedih yang sangat menyentuh hati.
"Namaku... Ayla," jawabnya dengan suara pelan dan lembut. "Aku berasal dari tempat yang sangat jauh, Paman. Aku tersesat dan tidak tahu bagaimana bisa terbangun di dalam hutan yang sangat dingin itu."
Ayla lalu membungkukkan tubuhnya secara mendalam ke arah Aron, Nenek Greta, dan Bibi Nora dengan raut penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih banyak, Paman Aron... Nenek... dan kalian semua," ucap Ayla dengan nada suara yang begitu santun. "Jika bukan karena kebaikan kalian, aku pasti sudah mati membeku di luar sana. Aku janji tidak akan merepotkan dan siap membantu apa saja di sini."
Mendengar ucapan manis dan sikap sopan dari gadis asing itu, rasa curiga warga suku seketika menguap. Bibi Nora bahkan tersenyum lebar.
"Anak yang sangat santun dan manis..." puji Bibi Nora penuh rasa kasihan. "Lihat betapa sopannya dia berbicara."
Aron menepuk bahu Ayla pelan. "Istirahatlah dulu, Ayla. Kamu aman di sini bersama kami. Nanti Bibi Nora akan menyiapkan makanan hangat untukmu."
"Terima kasih banyak, Paman Aron. Paman adalah orang yang sangat baik," tutur Ayla dengan senyuman yang begitu tulus.
Yana yang memperhatikan seluruh drama itu dari sudut ruangan tidak merespons sama sekali. Ia tetap berdiri mematung di tempatnya dengan pandangan menusuk tajam.
Ayla melirik ke arah sudut gua tempat Yana berdiri. Gadis transmigrator itu menyunggingkan senyum paling ramah dan manis yang ia miliki ke arah Yana.
"Halo..." sapa Ayla lembut sambil melambaikan tangannya kecil. "Namamu siapa? Mantel kulit hitam yang kamu pakai sangat bagus."
Yana menatap Ayla tanpa balas tersenyum. Matanya yang abu-abu kehijauan menancap dingin dan penuh permusuhan. Pandangan itu membuat senyum ramah di wajah Ayla sempat membeku kaku selama satu detik, sebelum gadis itu dengan cepat memulihkan raut polosnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Yana membalikkan badan lalu melangkah keluar dari dalam gua, meninggalkan kerumunan warga yang sibuk menghibur Ayla.
.
Di luar gua, angin malam berembus kencang menerpa wajah Yana. Salju tipis mulai turun membasahi tanah es pemukiman Suku Serigala.
Saat ini, Yana berjalan sendirian menuju tepi tebing desa, memandangi hamparan langit malam Hutan Hitam yang membeku.
Gadis bernama Ayla itu telah benar-benar tiba di tengah-tengah sukunya. Cara bicaranya yang manis, tatapan matanya yang berpura-pura polos, serta aktingnya sebagai korban yang tidak berdaya—semuanya mulai berjalan persis seperti garis takdir di kehidupan sebelumnya.
Di kehidupan pertamanya, kepura-puraan itulah yang membuat seluruh suku bertekuk lutut, mengagumi Ayla sebagai "Gadis Utusan Dewa", sampai akhirnya Ayla menghancurkan suku ini dari dalam demi kepentingannya sendiri.
Yana merogoh pinggangnya, menggenggam erat gagang belati besi yang ia dapatkan dari pertukaran dengan Suku Elang. Dinginnya besi di genggamannya memberikan rasa tenang yang rasional.
"Semua memang mulai terasa sama persis..." gumam Yana pelan pada dirinya sendiri, suaranya habis ditelan suara angin malam.