"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Setelah mengenakan kaki prostetik, tatapan Ilona tertuju pada gaun putih bermotif bunga yang ada di gantungan. Gaun panjang model A-line yang sejak semalam ada disana, dan membuat tak sabar untuk memakainya.
Ia mengambil gaun tersebut, kainnya lembut, flowly, dingin, benar-benar gaun yang akan membuat nyaman si pemakai. Bibirnya tersenyum kala menyentuh pita di bagian pinggang yang membuat gaun tersebut semakin terlihat manis. Bayangan wajah Elang melintas, buru-buru ia menggeleng, berusaha mengenyahkannya.
Ilona mematut diri di depan cermin setelah mengenakan gaun tersebut. Ukurannya pas sekali di badannya. Ada rasa membuncah di dada, sekaligus deg-degan, memikirkan bagaimana reaksi Elang nanti saat melihatnya memakai gaun ini. Elang lagi yang ia fikirkan. Sumpah, ia sampai bingung, kenapa sekarang kepalanya selalu di penuhi Elang.
"Sadar Ilona, kamu dan Elang itu berbeda. Meski Elang sudah putus dengan tunangannya, bukan berarti sekarang seleranya adalah kamu." Ilona bermonolog, menatap diri di depan cermin.
Setelah memoles make up, Ilona menyisir rambut panjangnya. Mengikat separuh di bagian tengah, lalu memberinya jepitan bunga warna putih.
Grand opening jam 9 pagi, dan jamm 7.30, Elang sudah datang menjemput.
Ilona menunduk, Elang menatapnya tanpa berkedip untuk beberapa saat. Wajahnya memanas, kedua telapak tangannya meremat gaun.
"Elang, Nak Elang."
"I, iya, Bu." Elang terperangah saat Bu Ella muncul di ruang tamu, memanggil.
"Bisa tolong angkatin tumpeng di dapur, masukin ke mobil."
"Iya." Elang mengangguk sambil tersenyum. Ia berjalan menuju dapur. "Kamu cantik sekali," ujarnya saat melewati Ilona.
Bukan karena serangan jantung, namun jantung Ilona berdetak dua kali lebih cepat karena jatuh cinta. Dadanya seperti dipenuhi kembang api, meledak-ledak tak karuan. Bahkan saat dulu Arya PDKT, tak seperti ini rasanya. Ia tak ada rasa saat pertama kali Eliana memperkenalkan. Namun seiring berjalannya waktu, perhatian Arya membuat ia nyaman, lalu jatuh cinta.
Di Blossom florist sudah rame. Bukan orang-orang yang mau memesan bunga, melainkan karena sudah ada Kenan, Ilham, Eliana dan seorang videografer. Sebagai konten kreator, Kenan tak akan melewatkan momen seperti ini untuk dijadikan konten. Konten sekaligus ajang promosi toko bunga Ilona. Tadi pagi, Kenan meminta kunci toko pada Elang, mau bikin surprise katanya.
Spanduk grand opening blossom florist sudah di bentangan di atas pintu masuk. Ada balon putih dan gold di sebelah kanan dan kirinya. Tak ketinggalan, pita merah juga sudah disiapkan. Kata Kenan, tak afdol kalau pembukaan tanpa acara gunting pita.
Di depan toko, ada dua kardus besar berisi ciki dua ribuan yang disiapkan Eliana. Nanti rencananya, Kenan, Elang dan Ilham, akan bagi-bagi brosur di depan sambil bagiin snack. Orang gak akan melipir kalau hanya demi selembar kertas brosur, tapi kalau ada snacknya, pasti banyak yang akan memelankan laju kendaraan, bahkan berhenti sejenak.
Musik dangdut menyala kencang, memutar lagu negoro angin milik Denny Caknan.
"Mabur dhuwur melayang-layang,
Terbang di atas awan
Ingin melepas rindu, Sayang." Kenan berkaraoke dengan sangat percaya diri meski suaranya pas-pasan.
"KEEEENAN MATIIN!" teriak Eliana sambil nutup kuping. "Ini grand opening toko bunga elegan, bukan hajatan!" protesnya. Gimana ia tak protes, grand opening toko bunga, tapi vibes nya kayak kondangan di kampung, suara musiknya mau nyaingin karnaval sound horeg.
Kenan ketawa. Malah dikerasin volume musiknya. "Biar semangat Bu! Biar laris!" Ia goyang bersama Ilham. "Sini!" Ia menarik lengan Eliana agar mendekat. "Ikutan goyang."
"OGAH!" Eliana menarik tangannya hingga lepas, menjauh. "Yang, nanti ada tetangga protes!"
"Tenang, sebelah belum buka. Terus pojokan itu warkop, pasti malah seneng kalau diputerin lagu gini." Kenan memegang tangan Eliana, mengangkat ke atas. "Muter, Honey."
"Ogah!" Eliana kembali menarik tangannya. "Lagu apaan ini, gak enak. Mana aku gak faham liriknya apa," gerutunya dengan bibir monyong.
"Makanya, belajar bahasa jawa. Bojomu iki wong jowo." Kenan menunduk, mengecup perut Eliana. "Daddy bakalan sering-sering dengerin kamu lagu Jawa, biar bisa bahasa jawa."
Eliana cuma nyengir.
"Bisa-bisa, jadi biduan dangdut nanti anak lo," celetuk Ilham sambil ngakak.
"Heis, dia ini calon orang hebat. Orang sukses."
"Iya deh, gak jadi biduan, jadi manager aja kalau gitu. Manager kopdes." Ilham makin ngakak. Ia mengambil alih mic di tangan Kenan, gantian nyanyi. "Isih kebayang-bayang....isih dadi kenangan..."
Ilham keluar, memanggil orang-orang yang lagi nongkrong di warkop. "Maseh, nyanyi bareng yuk!"
"Ampun dah si Ilham!" Eliana berdecak kesal. Kalau Kenan lagi ngumpul sama Ilham, bawaannya emang bikin kesel. Mana Ilham tetep jomblo aja sampai sekarang, tiap malam kerja nanya nongkrong di kafe Kenan, pesen kopi tapi gak pernah bayar.
"ASEKKK. TAREEKK!"
Di dalam, Eliana hanya bisa menghela nafas panjang. Di luar sudah mulai rame. Dari yang muda, agak tua, hingga tua, pada nyanyi sambil joget. Parahnya, Ilham dan Kenan malah bagi-bagiin snack yang udah dia siapkan pada mereka. "Awas nanti kalau gak diganti!" Ia mendengus kesal.
Jam 8.15 WIB, mobil Elang tiba di halaman toko.
Ilona kaget, teras toko bunganya dipakai untuk ajang dangdutan. Suara musiknya kenceng banget.
"Kenan nih pasti," Elang geleng-geleng.
"Owner kita sudah datang guys, mari kita sambut pasangan yang sedang berbahagia, Ilona dan Burung Elang," teriak Kenan menggunakan mic. Music dikecilkan.
Semua orang disana langsung bertepuk tangan meriah saat Elang, Ilona dan Bu Ella, turun dari mobil.
Ilona dan Elang saling tatap, sama-sama tersenyum malu.
Satu persatu bubar, kembali ke tongkrongan semula.
Ilham dan Kenan menghampiri Bu Ella yang ada di bagian belakang mobil bersama Elang, mengambil makanan yang ada di bagasi.
"Ayah Ibu kamu gak kesini, Ken?" tanya Bu Ella saat menantunya salim.
"Mereka minta maaf, tidak bisa kesini, sedang pulang kampung, Bu. Ada saudara yang hajatan. Mereka titip salam buat ibu."
"Salam balik ya. Orang tua Elang katanya belum pasti bisa tangan atau tidak, orang tua kamu gak datang, terus ini nanti siapa yang mau makan makanan sebanyak ini."
"Tenang Bu, nanti saya yang habiskan," ujar Ilham yang sedang mengangkat tumpeng nasi kuning.
Eliana keluar, menghampiri kakaknya, memeluknya. "Congrats." Ia benar-benar ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan kakaknya. "Akhirnya mimpi Kakak jadi kenyataan."
Ilona melepas pelukan Eliana, menatap bagian depan toko yang dihias cantik. Selain itu, ada papan bunga di samping, ucapan selamat dari Eliana dan Kenan. "Makasih ya."
"Sama-sama."
Semua makanan di taruh di dalam, musik dangdut di ganti dengan lagu-lagu romantis.
Eliana menarik lengan Kenan ke sudut ruangan. Acara pembukaan sudah mau dimulai, tapi ia tak melihat batang hidung Alisya.
"Alisya gak datang?" tanyanya pada Kenan.
"Enggak kek nya."
"Kok gitu? Kok gak support usaha pacarnya?" Eliana merasa ada yang aneh. Ia tahu Alisya bucin parah. Aneh saja rasanya jika diacara Elang, dia tidak datang.
Kenan tersenyum absurd sambil mengedikkan bahu.
"Yank, gak ada yang kamu sembunyikan dari aku kan?" Eliana menatap Kenan curiga. "Hari itu kamu gak ngijinin aku ikut kamu dan Alisya ngobrol. Kamu juga kayak menyembunyikan sesuatu saat aku tanya soal apa yang kalian obrolkan. Gak ada yang sedang kamu sembunyikan dari aku kan?"
Kenan mulai gugup.
"Jujur!" Eliana melotot. "Apa yang kamu sembunyikan dari aku? Atau...apa perlu aku WA Alisya, tanya apa yang hari itu kalian obrolkan? Aku punya kok, nomornya Alisya. Statusnya galau terus, apa yang aku gak tahu?"
"E..." Kenan mengusap tengkuk, tenggorokannya tercekat.
"Jawab!" Eliana melotot, mencubit lengan Kenan.
"Hon, jangan KDRT dong." Kenan mengusap lengannya.
Eliana mendengus kesal, melipat kedua lengan di dada.
"Honey."
Eliana menepis tangan Kenan yang menyentuh bahunya. "Gak usah sentuh-sentuh, nanti malam tidur di luar."
"Apa sih ngomong gitu." Kenan berusaha merayu. "Nanti dedek utun galau kalau gak ditengok Daddy nya."
Eliana buru-buru meletakkan telunjuk di depan bibir. "Jangan keras-keras." Ia belum memberi tahu keluarganya soal kehamilannya, masih menunggu waktu. Rencananya bulan depan, pas ulang tahun ibunya, sebagai hadiah. Ia menatap Ilona. "Yank, aku sedih lihat Kak Ilona. Aku udah nikah, udah mau punya anak, sementara ia belum menikah. Aku jahat gak sing Yank, sebagai adik?"
"Enggaklah." Kenan menarik bahu Eliana, memeluknya. "Jodoh udah diatur yang di atas. Ya kalau jodoh kamu udah datang duluan, sementara Ilona belum, ya gimana lagi."
Eliana terisak, menatap Ilona yang tersenyum, berdiri di samping Elang. Hari ini, kakaknya itu terlihat sangat cantik.
"Kamu pengen Ilona cepat nikah?" tanya Kenan.
"Ya iyalah."
"E...bagaimana kalau kita comblangin Ilona dan Elang?"
Mata Eliana membulat sempurna, ia melepas pelukan Kenan, menatapnya. "Apa maksud kamu?"
.
nangis bener-bener dengan ketulusan & cinta elang yang bukan sekedar mau bertanggung jawab...
beri kesempatan elang untuk menceritakan kejadian 8 Th lalu ILona.. apalagi silikonnya waktu dulu tidak sama dengan elang yang sekarang...
semoga Harimu Luluh dengan ketulusan Cintamu pad elang yang akan membawa kebahagiaan dalam hidupnya ILona...
Semua tidak lepas dari takdir.. begitupun pertemuanmu dengan elang... 😭😭😭💙💛💙😘😘😘
prihatin dengan hubungan yang tulus tapai dinhancurkan hanya gara² masa lalu yang sebenarnya tidak mungkin akan bisa di ulang apalagi kembal... 😥😥😥
klo pun elang hrus dipenjara semoga hub elang dan ilona bisa membaik
Pinter kamu Lang, ngedeketin Ilona biar dia jatuh cinta sama kamu padahal kamu sendiri entah mencintai Ilona secara tulus atau karena rasa iba, entahlah.🙄