NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7: Sinta Datang Memohon

Karena itu sebutan yang seharusnya digunakan sejak awal.

Kalimat Pak Satria terus berputar di kepala Sinta bahkan setelah panggilan terputus.

Ia berdiri di ruang kerja keluarga dengan ponsel masih menempel di telinga. Di luar pintu, Maryam berdebat dengan Om Besar, suaranya makin lama makin serak. Telepon rumah besar terus berdering. Setiap nada terdengar seperti tagihan baru yang mengetuk pintu.

Tuan Muda.

Siapa yang memanggil mantan suaminya seperti itu?

Dan mengapa suara pria tua itu terdengar begitu tenang, seolah seluruh kekacauan Keluarga Permata hanya debu di ujung sepatu?

Menjelang malam, Sinta mengambil kunci mobil sendiri.

Maryam mengejarnya sampai garasi. "Kamu mau ke mana?"

"Mencari Arya."

"Untuk apa?" Maryam hampir menjerit. "Kamu mau merendahkan diri di depan dia?"

Sinta menatap ibunya. Matanya merah, tetapi kali ini suaranya tidak goyah. "Kalau Ibu punya cara lain menyelamatkan perusahaan, katakan sekarang."

Maryam membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Tidak ada.

Revan menghindar. Bank menekan. Vendor meminta jaminan. Om Besar sudah mulai menyalahkan mereka berdua atas skandal perceraian yang terlalu cepat meledak.

Sinta masuk ke mobil.

Ia tidak tahu alamat Arya yang sebenarnya. Yang ia punya hanyalah alamat kontrakan lama yang dulu pernah ia lihat di catatan pengiriman dokumen. Dulu ia menertawakan tempat itu. Ia mengira Arya menyewa ruangan kecil karena ingin terlihat sibuk.

Malam ini, alamat itu menjadi satu-satunya harapan.

Gang kontrakan itu sempit. Mobil Sinta tidak bisa masuk sampai depan. Ia turun di mulut gang, menahan napas ketika melihat motor-motor terparkir rapat, anak-anak bermain di dekat warung, dan ibu-ibu yang menatap mobil mahalnya dengan rasa ingin tahu.

Sinta berjalan dengan sepatu hak tinggi yang tidak cocok untuk jalan basah.

Di depan kontrakan sederhana itu, Arya sedang duduk di kursi plastik, memegang cangkir kopi hitam. Ia mengenakan kaus gelap dan celana panjang sederhana, seolah tidak ada badai bisnis yang baru saja ia lepaskan ke keluarganya.

Pak Satria berdiri tidak jauh, berbicara pelan dengan dua pria berpakaian sipil.

Sinta berhenti.

Untuk sesaat, ia merasa seperti datang ke tempat yang salah.

"Arya."

Arya mengangkat mata. Tidak terkejut. Tidak marah.

"Sinta."

Nama itu terdengar biasa. Justru karena biasa, dada Sinta terasa sesak.

"Aku perlu bicara."

"Bicaralah."

Sinta melirik Pak Satria dan dua pria itu.

Arya menangkap maksudnya. "Mereka orangku. Kalau yang kamu bicarakan masih berkaitan dengan Permata, mereka boleh dengar."

Wajah Sinta memerah. Dulu, ia yang membuat Arya menunggu di luar ruang keluarga jika keluarganya membicarakan urusan bisnis. Malam ini, ia yang tidak diberi ruang pribadi.

"Takdir memutus kerja sama dengan keluarga kami."

"Aku tahu."

"Kamu tahu?" Sinta maju satu langkah. "Arya, ini bukan kebetulan, kan?"

Arya meletakkan cangkirnya. "Apa yang kamu harapkan dari jawabanku?"

"Aku ingin kamu membantu."

Pak Satria menunduk sedikit, tetapi sudut matanya berubah dingin.

Arya menatap Sinta. "Membantu siapa?"

"Keluargaku."

"Keluarga yang semalam mengusirku?"

Sinta menggigit bibir. "Aku tahu semalam... semuanya buruk. Tapi kita pernah suami istri, Arya."

"Pernah." Suara Arya sangat tenang. "Kata kuncinya adalah pernah."

Sinta seperti ditampar.

Ia memaksa diri tetap berdiri. "Aku tidak minta kamu melupakan semuanya. Aku hanya minta kamu bicara dengan orang Takdir. Kalau audit itu dihentikan, bank akan memberi kami waktu. Kami bisa memperbaiki..."

"Sinta." Arya memotongnya. "Selama tiga tahun, berapa kali kamu bertanya pekerjaanku?"

Sinta terdiam.

"Berapa kali kamu bertanya kenapa aku sering pulang larut? Berapa kali kamu bertanya dari mana uang untuk membayar beberapa tagihan yang ibumu kira dibayar Om Besar?"

"Aku..."

"Tidak pernah."

Angin malam lewat di antara mereka. Dari warung dekat gang, aroma kopi sachet dan gorengan panas bercampur dengan bau tanah basah.

Arya berdiri.

"Aku tidak menghancurkan keluargamu karena emosi. Takdir memutus kerja sama karena kerja sama itu memang rapuh, penuh ketergantungan, dan sekarang membawa risiko reputasi. Kalau Permata kuat, mereka akan bertahan. Kalau tidak, itu bukan salahku."

Sinta menatapnya dengan mata berkaca. "Kamu berubah."

"Tidak." Arya mengambil cangkirnya lagi. "Aku berhenti berlutut."

Kalimat itu membuat Sinta tidak bisa bernapas.

Ia ingin marah. Ingin mengatakan Arya kejam. Ingin menuduhnya membalas dendam. Tetapi setiap kata tersangkut di tenggorokan karena ia tahu, tadi malam ia membiarkan Maryam menyebut lelaki ini pengemis.

"Jadi kamu benar-benar tidak mau membantu?"

"Tidak untuk Keluarga Permata."

"Untuk aku?"

Arya menatapnya lama.

Di mata Sinta, ada panik, takut, dan sedikit sisa kebiasaan lama: keyakinan bahwa selama ia cukup terluka, Arya akan luluh. Dulu mungkin benar. Dulu Arya akan menahan diri agar ia tidak menangis.

Malam ini, Arya hanya berkata, "Pulanglah."

Sinta mundur setengah langkah.

Ia berbalik sebelum air matanya jatuh. Sepatu haknya hampir terpeleset di jalan gang yang licin, tetapi ia menolak melihat ke belakang.

Pak Satria mendekat setelah Sinta menjauh. "Tuan Muda."

"Ikuti dari jauh. Pastikan dia sampai keluar gang."

Pak Satria tersenyum kecil. "Tuan Muda masih..."

"Dia tidak layak kutolong sebagai istri," kata Arya datar. "Tapi tidak ada perempuan yang pantas dijadikan mangsa orang jalanan."

Pak Satria menunduk. "Saya mengerti."

Sinta baru sampai mulut gang ketika sebuah mobil SUV tua berhenti terlalu dekat dengannya.

Tiga pria turun. Yang paling depan bertubuh besar, mengenakan kemeja hitam terbuka di dada. Di lehernya ada rantai emas besar. Wajahnya dikenal di Kota Awan bagian gelap: Juragan Elang, mantan penguasa beberapa jalur parkir, debt collector, dan pengamanan ilegal pasar malam.

"Wah," kata Elang sambil tersenyum. "Nona Permata jalan sendirian malam-malam?"

Sinta membeku. "Minggir."

"Galak juga." Elang menatap mobil mahal di belakangnya. "Keluargamu sedang susah, ya? Aku dengar banyak utang mulai jatuh tempo. Kalau butuh perlindungan, bisa bicara baik-baik."

Dua anak buahnya tertawa.

Sinta mencoba berjalan melewati mereka, tetapi salah satu pria menghalangi.

"Jangan sentuh saya."

Elang mengangkat tangan, pura-pura sopan. "Saya belum sentuh. Tapi orang cantik jangan terlalu sombong. Apalagi kalau mantan suaminya sudah tidak ada yang melindungi."

"Siapa bilang tidak ada?"

Suara Pak Satria datang dari belakang Sinta.

Elang menoleh. Awalnya ia tersenyum malas. Lalu matanya jatuh pada pin kecil di kerah Pak Satria, lambang matahari tua yang hanya dikenal oleh orang-orang yang pernah bersentuhan dengan jaringan Suryanegara.

Wajah Elang berubah.

"Pak... Pak Satria?"

Pak Satria berjalan pelan, dua pria sipil mengikutinya. "Juragan Elang. Lama tidak bertemu."

Elang langsung menurunkan bahu. "Saya tidak tahu Nona ini..."

"Mantan istri Tuan Muda Arya."

Kata Tuan Muda membuat udara di gang seperti membeku.

Elang menatap Sinta, lalu cepat menunduk. "Maaf, Nona Sinta. Saya tidak bermaksud kurang ajar. Anak buah saya bodoh. Minggir!"

Dua anak buahnya langsung menepi.

Sinta berdiri kaku. Jantungnya berdetak begitu keras sampai ia hampir tidak mendengar suara kendaraan di jalan utama.

Juragan Elang takut.

Bukan pada polisi. Bukan pada pengawal. Pada nama yang terhubung dengan Arya.

Pak Satria membuka jalan. "Silakan pulang, Nona Sinta."

Sinta memandangnya. "Arya... menyuruh Anda?"

Pak Satria menjawab sopan, "Tuan Muda tidak ingin Anda terluka di jalan."

Sinta tidak tahu apakah itu membuatnya lega atau semakin hancur.

Saat mobilnya akhirnya pergi, Pak Satria kembali ke kontrakan. Arya masih duduk di kursi plastik, kopi di tangannya sudah dingin.

"Sudah aman," kata Pak Satria.

Arya mengangguk.

Pak Satria meletakkan sebuah paket kecil bersegel di meja. "Ada kiriman lama dari penyimpanan pribadi Nyonya Lestari. Saya menunggu waktu yang tepat untuk menyerahkannya."

Arya menatap kotak tahan api berwarna hitam itu.

Di permukaannya, terukir lambang matahari Keluarga Suryanegara.

Tangannya berhenti di atas kotak.

"Ibu," bisiknya nyaris tanpa suara, "apa yang sebenarnya Ibu tinggalkan untukku?"

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!