NovelToon NovelToon
Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Sri Wahyuni

Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Tetangga Baru di Golden Crown

Seminggu setelah pesta ulang tahun Lily Yao, Liana resmi menempati unit 1601 di Apartemen Golden Crown.

Keputusan itu datang setelah Arman menyampaikan hasil evaluasi keamanan dari insiden gelang berlian. Jessy sebenarnya keberatan Liana pergi dari rumahnya, tetapi ia juga tahu rumah biasa tanpa akses kontrol tidak cukup aman jika orang seperti Yuni dan Lily mulai bermain kotor. Unit 1601 adalah unit kosong yang dikelola Loh Group untuk tamu kerja jangka pendek. Edwin hanya berkata, "Anggap ini fasilitas kerja sementara. Sewanya tetap dipotong sesuai aturan."

Kalimat itu membuat Liana akhirnya bisa menerimanya.

Tiara membantu pindahan dengan dua koper, satu kardus dokumen, dan satu rice cooker kecil yang menurut Jessy wajib dibawa agar Liana tidak hidup hanya dari roti dan kopi.

"Ci, jujur ya," kata Tiara ketika mereka keluar dari lift lantai enam belas sore itu. "Kalau fasilitas kerja semua sebagus ini, aku juga mau kerja di Loh Group."

Liana tersenyum lelah. "Jangan menggoda. Aku sudah cukup pusing menerima kunci apartemen ini."

"Aku tidak menggoda. Ini lift saja wanginya seperti hotel."

Koridor Golden Crown bersih, dingin, dan terlalu tenang. Lantai marmer memantulkan cahaya lampu panjang. Di sisi kiri pintu 1601, beberapa kotak kardus milik Liana sudah tersusun rapi. Di sisi kanan, pintu 1602 terbuka lebar.

Liana berhenti.

Pagi tadi, unit itu masih kosong.

Sekarang dua pekerja sedang mengangkat meja konsol berlapis marmer putih. Seorang pria membawa kotak besar bertuliskan merek lampu Italia. Di dekat pintu, ada koper kulit, rangkaian bunga segar, dan gulungan karpet tebal warna krem.

Tiara ikut berhenti. "Tetangga baru?"

"Sepertinya."

Salah satu pekerja hampir menabrak koper Tiara. Tiara menarik koper itu cepat, lalu mengerutkan dahi.

"Baru pindah tapi barangnya seperti mau buka showroom."

Liana tidak menjawab. Ada rasa tidak nyaman yang naik perlahan. Terlalu banyak benda mahal. Terlalu banyak pekerja. Terlalu cepat setelah pesta itu.

Pintu lift di ujung koridor terbuka lagi.

Lily Yao keluar dengan gaun knit putih sederhana, kacamata hitam terselip di rambut, dan ponsel di tangan. Ia tampak seperti baru pulang dari brunch, bukan pindahan. Di belakangnya, seorang asisten membawa map dan tas belanja kecil.

Empat mata bertemu.

Udara koridor yang dingin terasa lebih tipis.

Lily tersenyum lebih dulu.

"Wah, ternyata kita bertetangga sekarang, Ibu Liana. Dunia sempit sekali ya."

Tiara langsung melangkah setengah badan ke depan Liana. Gerakannya kecil, tetapi jelas melindungi.

"Kebetulan sekali," kata Tiara. Suaranya masih sopan, tetapi ujungnya tajam. "Baru satu minggu setelah kejadian di villa, Ibu Lily pindah tepat ke sebelah unit Ci Liana."

Lily menurunkan kacamata hitam dari rambut dan memasukkannya ke tas.

"Jakarta memang kecil untuk orang-orang tertentu," jawabnya ringan. "Golden Crown lokasinya strategis. Dekat ke SCBD, dekat juga ke beberapa tempat yang sering saya datangi."

"Atau dekat ke orang yang ingin Ibu awasi?"

"Tiara," Liana menegur pelan.

Tiara tidak mundur, hanya menekan bibir.

Lily tertawa halus. "Tidak apa-apa. Anak muda memang biasanya lebih terus terang."

"Saya bukan anak kecil," balas Tiara.

"Tentu. Saya tahu kamu mantan menantu keluarga Phua, kan?" Lily memandangnya sekilas. "Berarti kita sama-sama pernah melihat orang salah memilih keluarga."

Wajah Tiara langsung mengeras.

Liana meletakkan tangan di lengan Tiara. Hangat, singkat, menahan.

"Ibu Lily," kata Liana, "kalau benar kita bertetangga, saya harap kita bisa saling menjaga batas."

"Batas?" Lily mengulang kata itu seolah mencicipi rasanya. "Tentu. Saya sangat menghargai batas."

Ia melirik pintu 1601, lalu pintu 1602.

"Tapi kadang batas itu hanya tembok tipis. Suara dari sebelah bisa tetap terdengar kalau malam terlalu sunyi."

Tiara hampir membuka mulut lagi, tetapi Liana lebih dulu menjawab.

"Kalau begitu, kita sama-sama tidak perlu membuat suara yang tidak pantas didengar."

Senyum Lily berhenti sepersekian detik.

Kemudian ia tertawa kecil.

"Menarik. Ibu Liana sekarang makin berani."

"Saya hanya belajar tidak diam saat orang masuk terlalu dekat."

Pekerja di belakang Lily menahan langkah, jelas merasakan percakapan yang tidak ramah. Asisten Lily menunduk, pura-pura memeriksa ponsel.

Lily akhirnya mengangkat bahu.

"Anggap saja takdir," katanya. "Kita lihat, tinggal bersebelahan bisa membuat siapa lebih mengenal siapa."

Ia masuk ke unit 1602. Pintu belum tertutup ketika aroma diffuser mahal mengalir ke koridor, manis dan menusuk.

Tiara menatap pintu itu seperti ingin menendangnya.

"Ci, ini bukan kebetulan."

"Aku tahu."

"Dia sengaja. Pasti karena Pak Edwin."

Nama Edwin membuat Liana menunduk mencari kunci di tas, padahal kunci sudah ada di tangannya. Setelah kejadian gelang, Edwin mengantar pulang tanpa banyak bicara. Di mobil, ia hanya memastikan Liana minum air dan bertanya apakah ia mau melapor resmi malam itu juga. Perhatian seperti itu terlalu tenang untuk disebut manis, tetapi justru menempel lama di dada.

Sekarang Lily pindah ke sebelah.

Seharusnya Liana hanya merasa terganggu. Namun ada rasa lain yang lebih asing, lebih kecil, dan lebih mengganggu daripada takut.

Asam.

Seperti melihat seseorang meletakkan tanda kepemilikan di jalan yang bahkan belum berani ia akui ingin ia lewati.

Di dalam unit 1601, Tiara langsung mengunci pintu dan menaruh koper di ruang tengah.

"Aku menginap beberapa malam ya, Ci. Jangan bilang tidak perlu. Aku sudah bawa skincare, charger, dan mie instan. Artinya keputusan final."

Liana tertawa pelan meski pikirannya masih tertinggal di koridor. "Baik. Tapi jangan terlalu sering makan mie."

"Iya, Bu."

Mereka membereskan barang sampai malam. Tiara memasang sprei, Liana menata dokumen perceraian dan map Yayasan Temu Kembali di rak kecil. Di dapur, rice cooker baru mulai mengeluarkan uap. Untuk pertama kalinya setelah keluar dari rumah Phua, Liana menatap ruangan yang tidak dipinjam dari Jessy dan tidak berbau kenangan lama.

Tempat ini belum terasa seperti rumah.

Tetapi setidaknya, ia punya pintu yang bisa ia kunci sendiri.

Menjelang tengah malam, Tiara tertidur di sofa sambil memeluk bantal. Liana bangun untuk mengambil air minum. Lampu ruang tengah sengaja ia redupkan. Dari balkon, cahaya unit 1602 masih menyala samar.

Ia seharusnya kembali tidur.

Namun ketika ia melewati kaca balkon, sebuah bayangan bergerak di balkon sebelah.

Seorang pria.

Liana berhenti, gelas di tangannya menggantung.

Bayangan itu hanya muncul sebentar sebelum masuk kembali ke dalam unit Lily. Bahunya agak membungkuk, cara berjalan sedikit ragu, tetapi Liana terlalu mengenalnya untuk salah melihat.

Jason Phua.

Gelas di tangan Liana terasa licin.

Untuk apa Jason berada di apartemen Lily Yao tengah malam?

1
Yusnani Siregar
👍
Yusnani Siregar
👍👍
Lulu kartika Mediani
aduuh beneran yaah..pantesan Albert sifat nya gitu..licik dan manipulatif ternyata nurun dr emak nya...Kim hwa ,buah jatuh tak jauh dr pohon nya.. 😄😄..parraaahh..dasar ratu drama...😌
Lia Aulia
tapi yang ini menantu mode badas
Lia Aulia
kok aku ketemunya mertua laknat semua ya
Lulu kartika Mediani
si Albert licik nya kebangetan yah...suhu nya manipulatif ..😮‍💨😮‍💨
Lulu kartika Mediani
Bagus sekali cerita ini...tidak bertele2..tapi konflik nya seru dan tak mudah ditebak.....dan masih relate dgn dunia nyata...cuman duuh yg jahat ,jahat nya kebangetan..kayak si Yuni itu ..udah mah merebut tpi masih ada niat juga buat nyelakain ,fitnah istri sah .. dunia jetset itu penuh duri tajam yah... kejahatan pun bisa datang dr keluarga sendiri,, apalagi klo bukan soal harta... bnerr lah ..harus bermental baja masuk kedunia org2 kaya raya mah...
Lulu kartika Mediani
Liana apa kamu lupa...Dede punya tanda lahir bentuj bulan sabit berwarna coklat kan di bahu nya..knp ga di cek...😌😮‍💨
Aprilinda
novel nya keren
EMINEM Resi
lanjut baca,
Lisa sari katriani
Karya yang bagus thor 👍

Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Lisa sari katriani
Semangat thor 💪

Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Soraya Febriyanti
thor.. berarti Kevin dan Isha nikah beda agama yah..??
Yusnani Siregar
siapa yg bocor rahasia klrg loh
Yusnani Siregar
👍👍👍
Soraya Febriyanti
apa apa an ini..baru satu kali nyangkul..kok langsung garis dua.. ngapain nyimpen teks pack. di tas Kalu gk pernah maen sama cowok.. author ini bikin pusing pembaca aja
Yusnani Siregar
yes
/Pray/
Yusnani Siregar
ok
Yusnani Siregar
👍👍
Yusnani Siregar
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!