"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25 - Aku Menyukaimu
Posko bencana mulai stabil pada hari kelima.
Bantuan dari kabupaten datang lebih teratur. Tim kesehatan tambahan mengambil alih sebagian pemeriksaan. BPBD memasang tenda besar. Warga yang rumahnya rusak mulai didata untuk relokasi sementara.
Alya akhirnya dipaksa kembali ke kompleks.
Bukan oleh Damar.
Oleh empat orang sekaligus: Rina, Joko, Bu Niken, dan Dokter Nanda.
"Dokter sudah seperti zombie," kata Joko.
"Zombie masih bisa jalan lurus," tambah Rina.
Bu Niken membawa tas Alya. "Kalau Dokter tidak pulang mandi, saya lapor ke Tante Nadia."
Alya menatapnya.
"Ibu mengancam saya pakai mertua?"
"Kalau efektif, iya."
Damar berdiri di samping kendaraan, tampak terlalu puas.
Alya menunjuknya.
"Anda di balik ini?"
"Aku hanya mendukung keputusan tim medis."
"Pengkhianat."
"Istirahat adalah bagian dari terapi."
"Jangan pakai bahasa medis untuk melawan saya."
Namun pada akhirnya, Alya pulang.
Rumah dinasnya terasa asing setelah berhari-hari di posko. Terlalu sunyi. Terlalu bersih. Dia mandi lama, membiarkan air mengalir membawa lumpur dan lelah dari tubuhnya. Luka di betis mulai mengering. Lengan bekas peluru juga membaik.
Setelah mandi, dia memakai pakaian rumah dan duduk di teras dengan rambut basah tertutup handuk.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, tidak ada yang memanggil "Dokter!" dengan panik.
Keheningan itu justru membuat dadanya sesak.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Damar.
Sudah makan?
Alya menatap layar, lalu tertawa lemah.
Belum. Baru mandi.
Balasan datang.
Jangan tidur sebelum makan.
Anda sedang di mana?
Pos komando.
Tidurlah.
Setelah kamu makan.
Alya menggeleng.
Sulit sekali menghadapi pria yang keras kepalanya mirip dirinya.
Sepuluh menit kemudian, suara motor berhenti di depan rumah. Alya mengira prajurit pengantar makanan datang seperti biasa. Dia berdiri, membuka pintu pagar.
Damar ada di sana.
Bukan prajurit.
Damar membawa rantang makanan.
Alya menatapnya.
"Pos komando katanya."
"Tadi."
"Anda berbohong?"
"Aku bergerak setelah membalas."
"Manipulatif."
"Efisien."
Alya mengambil rantang.
"Terima kasih. Sekarang kembali dan tidur."
Damar tidak pergi.
"Aku boleh masuk?"
Pertanyaan itu membuat Alya berhenti.
Dulu Damar masuk ke hidupnya tanpa pernah benar-benar meminta izin. Malam ini, dia berdiri di pagar rumah dinas kecil, menunggu jawaban.
Alya membuka pintu lebih lebar.
"Masuk."
Damar masuk ke ruang depan. Dia sudah pernah masuk saat menggendong Alya, tapi waktu itu Alya setengah sadar. Kali ini berbeda. Dia melihat rak kecil berisi buku medis, sajadah di sudut, gelas enamel, tanaman cabai dalam kaleng bekas, dan jas hujan yang digantung di paku.
"Rumahmu nyaman," katanya.
"Rumah hampir roboh ini?"
"Kamu memperbaikinya."
Alya meletakkan rantang di meja.
"Saya tidak punya pilihan."
"Kamu selalu punya cara."
Dia tidak membalas.
Mereka makan di meja kecil. Damar membawa nasi, ikan bakar, sayur bening, dan sambal. Alya makan lebih banyak dari yang dia kira mampu. Damar tampak puas tapi tidak mengomentari.
Setelah selesai, Alya membuat teh.
"Anda benar-benar tidak mau tidur?"
"Nanti."
"Kapan?"
"Setelah bicara."
Tangannya berhenti saat menuang teh.
"Tentang apa?"
Damar duduk tegak.
"Tentang kita."
Alya menaruh teko lebih pelan dari perlu.
"Kita baru selesai bencana."
"Justru karena itu."
"Damar..."
"Aku tidak mau menunggu sampai ada gempa lain, peluru lain, pasien lain, atau orang lain yang hampir mati baru bicara."
Alya menatapnya.
Suara Damar tenang, tapi matanya tidak.
"Aku tahu kamu belum bisa percaya sepenuhnya. Aku tahu aku terlambat. Aku tahu kata maaf tidak cukup untuk dua tahun."
Alya duduk di seberangnya.
Damar melanjutkan, "Tapi aku perlu mengatakan ini saat kita sama-sama sadar, tidak di depan ruang operasi, tidak di reruntuhan, tidak karena takut kehilangan."
Jantung Alya berdetak makin cepat.
Damar menarik napas.
"Aku menyukaimu."
Tidak ada hujan deras.
Tidak ada alarm.
Tidak ada pasien menjerit.
Hanya kalimat itu jatuh di ruang kecil Alya.
Alya menatapnya, tidak berkedip.
Damar tidak memalingkan wajah.
"Aku tidak tahu kapan tepatnya berubah. Mungkin saat kamu membersihkan rumah ini tanpa mengeluh. Mungkin saat kamu memarahi prajuritku karena kompresi dadanya terlalu lemah. Mungkin saat kamu tertembak karena mendorongku. Mungkin bahkan sebelum itu, tapi aku terlalu sombong untuk melihat."
Alya merasa tenggorokannya kering.
"Jangan..."
Suaranya hampir tidak keluar.
"Jangan bilang kalau Anda belum yakin."
"Aku yakin."
"Jangan bilang karena terbiasa saya ada di sini."
"Bukan."
"Jangan bilang karena saya menyelamatkan Anda."
"Bukan hanya itu."
"Damar, saya tidak bisa menerima lalu besok Anda kembali menjauh."
"Aku tidak akan."
"Anda tidak tahu."
"Aku tahu aku pernah membuatmu takut percaya. Itu salahku."
Alya menunduk.
Tangannya menggenggam cangkir teh.
"Saya juga takut," katanya.
"Pada apa?"
"Pada diri saya sendiri."
Damar tidak memotong.
"Saya takut mulai menunggu pesan Anda. Takut senang hanya karena Anda ingat saya belum makan. Takut merasa rumah ini lebih aman kalau Anda berdiri di depan pagar. Takut semua itu ternyata cuma kebiasaan sementara untuk Anda."
Damar menatapnya dengan mata yang berubah gelap.
"Alya."
"Saya pernah hidup dua tahun dengan mengingat bahwa saya tidak boleh berharap. Ternyata harapan itu tidak mati. Dia cuma tidur. Dan sekarang..."
Dia tertawa kecil, matanya panas.
"Sekarang dia bangun di waktu yang sangat merepotkan."
Damar berdiri, berjalan mengitari meja, lalu berhenti di depan Alya. Dia tidak menyentuh sebelum bertanya.
"Boleh?"
Alya tahu dia bertanya untuk memeluk.
Hal sesederhana itu hampir membuatnya menangis.
Dia mengangguk.
Damar menariknya pelan ke dalam pelukan.
Tidak seperti pelukan di rumah sakit yang singkat dan panik. Kali ini pelukan itu tenang. Hati-hati. Seolah Damar sedang memegang sesuatu yang pernah dia retakkan dan tidak berani menggenggam terlalu kuat.
Alya menempelkan dahi ke dada Damar.
Dia mendengar detak jantungnya.
Cepat.
Jadi bukan hanya dia.
"Aku tidak minta kamu menjawab malam ini," kata Damar di atas kepalanya.
"Bagus."
"Tapi aku akan tetap mengejarmu."
Alya menarik diri sedikit.
"Mengejar?"
"Dengan cara yang kamu izinkan."
"Kalau saya tidak izinkan?"
"Aku tunggu."
"Anda buruk dalam menunggu."
"Aku belajar."
Alya menatapnya.
Damar menunduk sedikit, tapi berhenti sebelum jarak mereka terlalu dekat.
Kali ini dia tidak mencuri.
Dia menunggu.
Alya yang akhirnya bergerak.
Ciuman itu singkat. Hanya sentuhan lembut di bibir. Tapi cukup membuat Damar menahan napas seperti orang yang baru saja selamat dari sesuatu.
Alya mundur lebih dulu.
"Itu bukan jawaban."
Damar menatapnya dengan mata yang untuk pertama kalinya terlihat benar-benar hangat.
"Aku tahu."
"Itu hanya..."
"Kemajuan?"
Alya hampir tertawa.
"Mungkin."
Di luar, seseorang berdeham keras.
Alya dan Damar serentak menoleh.
Bu Wati berdiri di depan pagar dengan rantang kosong di tangan, mata membulat, wajah bersinar seperti baru menemukan bahan arisan sebulan penuh.
"Aduh," kata Bu Wati. "Maaf, Dok. Saya cuma mau tanya rantang kemarin..."
Alya menutup mata.
Damar menghela napas.
Bu Wati tersenyum lebar.
"Saya tidak lihat apa-apa."
Tidak ada satu pun dari mereka yang percaya.
Setelah Bu Wati pergi dengan langkah yang terlalu cepat untuk disebut santai, rumah itu hening lagi. Alya masih berdiri dekat meja makan, pipinya panas. Damar menutup pintu pelan, lalu berbalik seolah tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana.
"Saya bisa jelaskan," katanya.
Alya mengangkat alis. "Kepada Bu Wati atau kepada saya?"
Damar terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak Alya mengenalnya, pria itu terlihat kalah oleh satu kalimat sederhana. Bukan oleh musuh, bukan oleh bencana, bukan oleh aturan markas. Oleh perempuan yang baru saja diciumnya.
Alya menunduk, menyentuh bibirnya dengan punggung jari, lalu cepat-cepat menurunkan tangan.
"Kita belum selesai bicara," katanya pelan.
"Aku tahu."
"Aku tidak mau jadi istri yang hanya menunggu kau berubah lalu bersyukur karena diberi sedikit perhatian."
Damar mengangguk. "Kau tidak perlu menjadi itu."
"Kalau suatu hari aku pergi, bekerja jauh, mengambil keputusan yang tidak nyaman untukmu..."
"Aku akan tetap takut," jawab Damar. "Tapi aku akan belajar tidak memakai takutku untuk mengikatmu."
Alya menatapnya lama.
Di luar, langkah Bu Wati terdengar berhenti di depan rumah tetangga. Dalam lima menit, mungkin seluruh gang akan tahu.
Alya tiba-tiba tertawa kecil.