Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Guncangan di Pesta Pertunangan
Grand Lotus Ballroom malam itu dipenuhi cahaya.
Kristal menggantung dari langit-langit.
Bunga putih menutup sisi panggung.
Di pintu masuk, nama Vincent Hadiprana dan Angelica Permata tercetak besar di layar digital, dikelilingi logo keluarga Hadiprana dan Permata.
Seolah dua nama itu cukup untuk menahan seluruh gedung agar tidak runtuh.
Vincent berdiri di dekat panggung dengan jas hitam buatan khusus.
Senyumnya ada.
Matanya tidak.
Setiap beberapa menit, ia melihat ponsel. Harga saham PT Megah Sentosa masih merah. Media masih membahas pajak, tanah, dan transaksi aneh. Namun malam ini ia memaksa semua orang melihat satu hal:
Ia masih berdiri.
Ia masih calon menantu keluarga Permata.
Ia masih pewaris Hadiprana.
Herman Hadiprana duduk di meja utama, wajahnya tegang tetapi dagunya tetap terangkat.
Di seberang panggung, para tetua keluarga Permata berbicara pelan. Mereka datang dengan wajah sopan, tetapi tidak hangat.
Angelica Permata berdiri di ruang tunggu pengantin.
Gaun pertunangannya indah.
Wajahnya juga indah.
Tapi matanya seperti jendela yang ditutup dari dalam.
Seorang bibi dari keluarga Permata membetulkan gelang di tangannya.
"Angelica, malam ini jangan membuat kesalahan. Keluarga sedang dilihat banyak orang."
Angelica menatap cermin.
"Saya mengerti."
Ia tidak berkata ia bahagia.
Karena ia tidak berbohong untuk hal yang tidak perlu.
Di ballroom, pembawa acara mulai berbicara.
"Para tamu terhormat, malam ini kita menyaksikan penyatuan dua keluarga besar..."
Tepuk tangan terdengar.
Tidak terlalu panjang.
Tidak terlalu hangat.
Namun cukup untuk membuat Vincent bernapas sedikit lebih lega.
Ia naik ke panggung.
Angelica menyusul.
Mereka berdiri di bawah cahaya.
Kotak cincin dibawa oleh seorang staf dengan sarung tangan putih.
Vincent mengambil cincin itu.
Tangannya sedikit gemetar.
Pembawa acara tersenyum.
"Sebelum pertukaran cincin, apakah calon mempelai pria ingin menyampaikan sesuatu?"
Vincent mengambil mikrofon.
"Terima kasih kepada semua keluarga, rekan bisnis, dan sahabat yang hadir. Banyak rumor beredar tentang Hadiprana akhir-akhir ini. Tapi malam ini saya berdiri di sini untuk membuktikan satu hal."
Ia menatap para tamu.
"Keluarga Hadiprana tetap kuat."
Beberapa orang bertepuk tangan.
Herman mengangguk pelan.
Vincent menoleh ke Angelica.
"Dan saya bangga menjadi pewaris keluarga ini."
Saat itulah pintu ballroom terbuka.
Tidak keras.
Tidak dramatis.
Tapi cukup membuat suara tepuk tangan berhenti setengah jalan.
Hendry Pratama masuk.
Jasnya gelap, potongannya sederhana, tetapi pas di tubuhnya seperti memang dibuat untuk panggung itu.
Di belakangnya, Bagus Prasetyo berjalan dengan bahu lebar.
Rizal Suryadi di sisi lain tampak tenang, berkacamata, membawa map hitam.
Tidak ada yang berteriak.
Justru karena tidak ada keributan, semua mata tertarik ke arah mereka.
Vincent melihat Hendry.
Wajahnya langsung berubah.
"Kamu?"
Herman berdiri setengah dari kursinya.
"Siapa yang membiarkan dia masuk?"
Beberapa security bergerak.
Namun mereka berhenti sebelum mendekat.
Rizal hanya menatap mereka sekali.
Di pintu belakang, kepala security ballroom menerima pesan di earphone, lalu menunduk. Jalur undangan bisnis sudah masuk. Nama Hendry tercatat sebagai perwakilan calon investor melalui jaringan Adrian.
Semua legal.
Semua terlambat untuk dicegah.
Hendry berjalan ke tengah ruangan.
Vincent berteriak, "Security! Keluarkan dia!"
Hendry tersenyum tipis.
"Security kalian cukup sopan. Aku menyebut nama, mereka memeriksa daftar, lalu mempersilakan masuk."
Beberapa tamu saling berbisik.
Nama Hendry Pratama sudah mereka dengar.
Pria yang menari tango dengan Jessica.
Pria yang mengalahkan Vincent di sirkuit.
Pria yang namanya muncul di pinggir-pinggir kehancuran Hadiprana, tetapi tidak pernah bisa disentuh.
Angelica menatap Hendry.
Untuk pertama kalinya malam itu, matanya benar-benar hidup.
Vincent menunjuk Hendry.
"Ini acara pribadi. Pergi sebelum aku..."
"Sebelum kamu apa?"
Suara Hendry tidak tinggi.
Tetapi mikrofon di tangan Vincent menangkapnya.
Satu ballroom mendengar.
Vincent membeku.
Hendry naik ke panggung.
Bagus berdiri di bawah tangga panggung.
Rizal mengambil posisi dekat meja operator layar.
Herman berkata keras, "Hendry Pratama, kamu tidak punya hak bicara di sini."
"Benar," kata Hendry. "Saya bukan keluarga Hadiprana. Bukan keluarga Permata."
Ia mengambil mikrofon cadangan dari pembawa acara yang wajahnya sudah pucat.
"Tapi malam ini, semua orang di sini diminta menjadi saksi kehormatan dua keluarga. Kalau kehormatan itu dibangun di atas kebohongan, para saksi berhak tahu."
Ruangan menjadi sunyi.
Sangat sunyi.
Vincent tertawa kering.
"Kebohongan? Kamu mau membuat rumor lagi? Kamu iri karena aku menikahi Angelica?"
Hendry menatapnya.
"Vincent, aku tidak menyerang orang karena ia diadopsi."
Kalimat itu membuat beberapa tamu langsung mengangkat kepala.
Wajah Herman berubah seputih kertas.
Hendry melanjutkan, "Seorang anak yang diadopsi tetap anak. Tidak ada yang hina dari itu."
Ia berhenti sebentar.
Lalu suaranya menjadi lebih dingin.
"Yang hina adalah menggunakan kebohongan tentang darah dan keturunan untuk menipu keluarga lain, menekan pasar, dan memandang rendah orang lain."
Rizal memberi isyarat.
Layar besar di belakang panggung berubah.
Foto pertama muncul.
Salinan dokumen panti asuhan.
Nama pengadopsi: Herman Hadiprana.
Nama anak setelah adopsi: Vincent Hadiprana.
Tanggal.
Stempel lama.
Tanda tangan.
Ballroom meledak dalam bisik-bisik.
"Itu apa?"
"Vincent diadopsi?"
"Bukankah Herman selalu bilang anak kandung?"
Vincent mundur satu langkah.
"Palsu! Itu palsu!"
Layar berganti.
Dokumen kedua.
Catatan arsip panti asuhan yang sama, difoto dari buku lama.
Lalu dokumen ketiga.
Ringkasan diagnosis medis Herman Hadiprana.
Detail medis tertutup.
Kesimpulan tetap terlihat:
secara biologis tidak dapat memiliki keturunan kandung.
Herman mencengkeram kursinya.
Permata tua yang duduk di meja utama berdiri.
"Herman."
Satu kata.
Lebih tajam daripada tamparan.
Herman membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.
Vincent berteriak, "Ayah! Katakan itu palsu!"
Herman menatap layar.
Lalu menatap tamu.
Lalu menatap keluarga Permata.
Tubuhnya seolah menyusut di bawah jas mahalnya.
Angelica menatap Vincent.
Tidak ada kemarahan besar di wajahnya.
Hanya kelelahan.
Seperti seseorang yang akhirnya melihat pintu keluar dari ruangan terkunci.
Tetua keluarga Permata berjalan ke depan panggung.
Wajahnya dingin.
"keluarga Permata tidak menghina anak adopsi."
Ia menatap Herman.
"Tapi kami tidak akan berbesan dengan keluarga yang menjual kebohongan sebagai darah bangsawan."
Vincent menggeleng panik.
"Om Permata, dengarkan saya. Ini fitnah. Hendry menjebak saya. Dia..."
"Diam."
Suara tetua Permata tidak keras.
Namun Vincent langsung berhenti.
Tetua itu menoleh kepada tamu.
"Atas nama keluarga Permata, pertunangan ini dibatalkan."
Keheningan satu detik.
Lalu seluruh ballroom pecah.
Orang-orang berdiri.
Ponsel terangkat.
Bisikan berubah menjadi suara.
"Dibatalkan?"
"Hadiprana selesai."
"Cepat kirim ke grup."
Angelica perlahan melepas cincin yang baru setengah terpasang di jarinya.
Ia meletakkannya di meja kecil di samping kotak cincin.
Suara cincin menyentuh permukaan kaca terdengar kecil.
Tapi bagi Vincent, suara itu seperti palu terakhir.
"Angelica..." bisiknya.
Angelica menatapnya.
"Saya tidak pernah memilih kebohongan ini."
Lalu ia menoleh ke Hendry.
Tatapannya berhenti lebih lama dari yang pantas dalam acara yang sudah hancur.
Ada rasa lega.
Ada terima kasih.
Dan sesuatu yang belum berani ia sebut.
Hendry tidak membalas dengan senyum.
Ia hanya menunduk sedikit, sopan, lalu mematikan mikrofon.
Vincent jatuh duduk di kursi panggung.
Herman masih berdiri kaku, wajahnya abu-abu.
Beberapa tamu mulai keluar. Beberapa lainnya sibuk mengambil gambar. Nama Hadiprana yang tadi dipasang besar di layar digital kini terasa seperti papan pengumuman kehancuran.
Rizal berjalan kembali ke sisi Hendry.
"File sudah tersebar ke titik yang ditentukan."
"Bagus."
Bagus menatap Vincent yang masih gemetar.
"Pak, selesai?"
Hendry menatap Vincent sekali.
Malam itu, ia bisa saja membuka Hotel Marquis.
Ia bisa saja menayangkan wajah Vincent di depan kamar 1708 dan membuatnya tidak punya ruang bernapas.
Tapi itu menyangkut Jessica.
Nama Jessica tidak akan ia jadikan tontonan.
"Belum."
Hendry berbalik turun dari panggung.
Di belakangnya, suara tamu masih riuh.
Herman memanggil dengan suara serak, "Hendry Pratama!"
Hendry berhenti, tetapi tidak menoleh.
Herman berkata, "Apa maumu sebenarnya?"
Hendry menatap pintu ballroom di depan.
"Malam ini hanya kebenaran."
Ia melangkah lagi.
"Besok baru tagihan."
Bagus dan Rizal mengikuti di belakangnya.
Di luar ballroom, lampu koridor jauh lebih redup.
Hendry berjalan tanpa terburu-buru.
Di dalam, keluarga Hadiprana kehilangan pertunangan, wajah, dan kebohongan yang mereka pakai selama bertahun-tahun.
Namun bagi Hendry, itu baru hantaman pertama.
Pukulan yang benar-benar mematikan baru akan jatuh esok pagi.