Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Hari Pertama yang Kacau
Hari pertama Bima dimulai pukul tujuh pagi.
Ia menerima buku serah terima, radio, kunci ruang utilitas, dan daftar area yang wajib diperiksa. Pengawas keamanan menempatkannya di lobi, tetapi meminta Bima mempelajari jalur evakuasi serta titik kamera seluruh gedung sebelum makan siang.
Bima mengerjakan tugas itu tanpa banyak bicara.
Pintu darurat lantai tiga tertutup rak sampel. Satu kamera dekat ruang bongkar muat memiliki sudut mati. Tabung pemadam di koridor eksekutif melewati jadwal pemeriksaan bulanan dua hari. Ia mencatat semuanya, memotret tanpa menyentuh dokumen perusahaan, lalu mengirim laporan singkat kepada pengawas.
Di luar itu, ia juga mencatat tiga jalur tercepat menuju ruang Vanya Wijaya.
Sekitar pukul sembilan, Bima tiba di lantai eksekutif. Pintu ruang kerja Vanya terbuka sedikit. Suara tawa perempuan terdengar sampai koridor.
"Lalu kamu benar-benar menyiramkan anggur itu ke kepalanya?" tanya sebuah suara tenang.
"Setelah dia bilang aku akan menyesal meninggalkannya? Tentu." Suara kedua lebih cerah dan cepat. "Aku juga menendang lututnya waktu dia mencoba memegang tanganku. Nggak keras. Cuma cukup supaya dia belajar menjaga jarak."
Bima sedang memeriksa segel tabung pemadam di dinding tepat di samping pintu. Ia tidak berniat menguping. Namun percakapan itu berlangsung seolah koridor adalah bagian ruangan.
"Sekarang satu klub malam menganggapmu perempuan berbahaya," ujar suara pertama.
"Bagus. Lagi pula, di kantor ini juga nggak ada laki-laki yang layak diajak bicara. Isinya desainer sibuk, staf penjualan yang lebih cerewet dariku, dan satpam yang menatap lantai setiap aku lewat."
Bima selesai mencatat nomor segel.
"Itu beneran kejadian?" tanyanya dari koridor.
Tawa di dalam berhenti.
Seorang perempuan berblus biru muncul di pintu. Matanya tajam, rambutnya dipotong sebahu, dan kartu akses di dadanya bertuliskan Gita Wisesa.
"Kamu siapa?"
Bima menunjuk kartu di dada. "Satpam baru."
"Aku bisa lihat seragammu. Kenapa menguping pembicaraan orang?"
"Saya memeriksa tabung pemadam. Pintu ruangannya terbuka."
Gita melihat tabung, papan catatan, lalu kembali menatapnya. "Dan semua satpam baru boleh menyela pembicaraan direktur?"
"Tidak. Yang ini gratis karena ceritanya menarik."
"Kurang ajar." Gita melipat tangan. "Siapa yang menerima orang ini? Saya bisa minta SDM membatalkan kontraknya sekarang."
Perempuan lain keluar dari balik meja kerja.
Bima mengenal wajah itu dari layar ponsel. Namun foto perusahaan tidak menangkap kebiasaan Vanya memiringkan kepala saat menilai seseorang. Surya melakukan hal yang sama setiap kali menemukan rencana Bima yang menurutnya bodoh.
Dada Bima terasa sesak sesaat.
Vanya Wijaya berdiri hanya beberapa langkah darinya.
Ia mengenakan blazer krem dan celana panjang gelap, penampilannya sederhana untuk seorang pemilik perusahaan. Tatapannya bergerak ke segel tabung pemadam, lalu kertas di tangan Bima.
"Kapan pemeriksaan terakhir?" tanyanya.
"Terlambat dua hari dari jadwal, Bu Vanya. Saya sudah laporkan ke pengawas. Tabung masih tersegel dan tekanan indikator normal, tapi tetap harus diperiksa ulang hari ini."
Vanya mengangguk. "Berarti dia memang sedang bekerja, Gita."
"Sambil menguping."
"Sambil punya telinga," jawab Bima.
Gita melotot. "Kamu ini sebenarnya siapa?"
Bima mengeluarkan dompet, mengambil KTP, dan menunjukkannya dengan dua tangan seperti menyerahkan bukti perkara besar.
"Bima Prawira. Alamat terbaru belum tercetak karena baru pindah kos. Jenis kelamin laki-laki, kalau Bu Gita masih meragukan bagian 'nggak ada laki-laki di kantor'."
Vanya menutup mulut, tetapi tawanya lolos. Gita merampas KTP itu, memeriksa foto, lalu mengembalikannya dengan kesal.
"Aku tidak bertanya jenis kelaminmu. Aku bertanya siapa yang mengajarimu bicara kepada atasan."
"Hidup, Bu. Gurunya keras."
Vanya menatap formulir inspeksi. "Kamu punya pengalaman keamanan?"
"Satpam apartemen. Sebelumnya kerja kontrak di luar negeri."
"Kenapa keluar dari apartemen?"
Bima memasang wajah sedih yang sedikit terlalu rapi. "Ada salah paham dengan atasan. Saya anak rantau. Kalau keluarga tahu saya menganggur, mereka khawatir. Jadi saya melamar ke sini sebelum sempat pulang dan menjelaskan."
Sebagian benar. Sebagian lagi disusun agar tidak ada pertanyaan lanjutan tentang polisi dan tentara bayaran.
Gita mencibir. "Cerita sedih tidak menghapus kebiasaan menyela."
"Benar," kata Bima. "Saya minta maaf karena ikut bicara. Tapi soal mantan Bu Gita, menendang lutut lebih aman daripada menyiram anggur dekat perangkat listrik."
Vanya tertawa lagi. "Sudah, Gita. Dia baru hari pertama dan laporannya berguna. Beri satu peringatan. Kalau diulang, baru pengawasnya bertindak."
"Kamu terlalu mudah iba," gerutu Gita.
Bima menerima KTP-nya. "Terima kasih, Bu Vanya."
Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu. Vanya hanya melihat satpam baru yang aneh. Bima melihat wajah terakhir yang diminta Surya untuk dijaga.
Ia menundukkan kepala secukupnya lalu kembali bekerja.
Saat istirahat siang, Bima makan bersama tiga petugas lain di area belakang lobi. Percakapan segera beralih kepada seorang perempuan bergaun merah bata yang baru masuk membawa paket kampanye.
"Itu Mbak Vira," bisik salah satu satpam. "Kepala humas. Kalau ketemu klien penting, selalu dia yang maju."
"Katanya banyak klien tanda tangan cuma karena dia senyum," tambah yang lain.
Bima melihat perempuan itu menyerahkan paket ke resepsionis. Penampilannya rapi, langkahnya percaya diri, dan seluruh lobi seolah menyadari kehadirannya.
"Kalau perusahaan hanya mengandalkan penampilan, kontraknya nggak akan bertahan," kata Bima. "Tapi cara dia menguasai ruangan memang bagian dari keahlian komunikasi."
Vira kebetulan melewati pintu belakang saat kalimat pertama terucap. Ia tidak mendengar kelanjutannya.
Langkahnya berhenti satu detik.
Tatapan dingin menyapu seragam Bima, lalu ia berjalan pergi tanpa berkata apa-apa.
"Mati kamu," bisik rekan satpam.
"Kenapa?"
"Mbak Vira paling benci dibilang cuma modal penampilan."
"Saya tidak bilang begitu."
"Yang dia dengar cuma bagian itu."
Belum sempat Bima mengejar untuk menjelaskan, suara sepatu cepat datang dari koridor.
Anindya muncul dengan wajah tegang.
"Bima."
Seluruh meja makan mendadak sibuk melihat piring masing-masing.
"Kak Anin."
"Ke ruang Bu Vanya. Sekarang."
Di ruang kerja Vanya, Anindya berdiri di samping meja dengan tangan mengepal.
"Kamu bilang pekerjaan di sini batal," katanya. "Lalu pagi ini kamu muncul sebagai satpam baru. Kamu mengikuti aku?"
Gita bersandar di lemari, jelas menikmati kekacauan. Vanya tetap duduk, tetapi matanya mengamati setiap perubahan wajah.
"Tidak," jawab Bima.
"Bagaimana kamu tahu ada lowongan?"
"Saya menelepon nomor umum kemarin pagi. Lamaran saya masuk tanpa rekomendasi. SDM memverifikasi langsung ke Danau Utara."
"Kenapa harus Larissa?"
Itulah pertanyaan yang tidak bisa dijawab jujur.
"Karena gajinya lebih baik, prosedurnya jelas, dan saat tawaran Kak Anin ditarik saya sudah tahu perusahaan ini membutuhkan orang."
Anindya masih belum percaya. "Kamu bahkan pindah kos dalam satu pagi."
Bima mengeluarkan ponsel, membuka riwayat panggilan bagian umum dan surel formulir lamaran.
"Bu Vanya bisa periksa waktunya. Kalau terbukti saya meminta alamat pribadi Kak Anin, mengikuti kendaraan, atau menggunakan nama Kak Anin untuk diterima, pecat saya tanpa menunggu gaji pertama."
Pernyataan itu membuat ruangan diam.
Vanya memeriksa surel yang diteruskan Bima, lalu menelepon staf SDM. Jawabannya sesuai: Bima datang sebagai pelamar umum, memenuhi proses, dan tidak pernah menyebut Anindya.
"Dia tidak menguntitmu," kata Vanya akhirnya. "Setidaknya tidak ada bukti ke arah itu."
Anindya mengembuskan napas. Kemarahannya mereda, digantikan rasa canggung.
"Aku minta maaf sudah langsung menuduh."
"Wajar setelah kejadian di apartemen," jawab Bima. "Tapi pekerjaan dan urusan pribadi tetap kita pisahkan, seperti kata Kak Anin."
Gita terkekeh. "Hari pertama dan dia sudah membuat tiga perempuan marah. Bakat langka."
"Tiga?" tanya Vanya.
Di luar ruangan, Vira berjalan menuju lift dengan paket di tangan. Wajahnya tenang, tetapi rahangnya kaku.
Satpam murahan itu akan menyesal pernah meremehkannya.