NovelToon NovelToon
Kelas Abadi

Kelas Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:512
Nilai: 5
Nama Author: TEMOLLA

Reuni kelas yang seharusnya menjadi malam penuh tawa berubah menjadi titik balik kehidupan.
Di hadapan murid-muridnya, Mo Yuan mengungkapkan rahasia yang terdengar mustahil—ia berasal dari dunia kultivasi dan akan segera kembali ke sana. Tak seorang pun mempercayainya, hingga semuanya benar-benar terjadi.
Dalam sekejap, Qin Shang dan seluruh teman sekelasnya terlempar ke dunia yang dipenuhi para kultivator, iblis, dan berbagai bahaya yang belum pernah mereka bayangkan.
Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mereka harus memulai kehidupan baru dan menapaki jalan kultivasi dari titik nol. Namun, semakin jauh melangkah, semakin banyak rahasia yang tersembunyi di balik perpindahan mereka ke dunia ini.
Akankah Qin Shang mampu mengubah takdirnya, atau justru tenggelam di tengah kerasnya persaingan menuju keabadian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TEMOLLA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Lin Yan tertegun.

Pria misterius itu tidak merampoknya.

Tidak pula berniat membunuhnya.

Orang itu begitu saja melewatinya.

Sama sekali di luar dugaan.

Sementara itu, Qin Shang memang tidak memiliki permusuhan dengan Lin Yan.

Bahkan, Lin Yan pernah memberinya bimbingan dan bisa dianggap sebagai setengah gurunya.

Tentu saja Qin Shang tidak mungkin membunuhnya.

Tanpa membuang waktu, ia mempercepat langkah mengejar Wen Ren.

Begitu menyadari pria misterius itu terus memburunya, Wen Ren begitu ketakutan hingga kulit kepalanya terasa kebas.

Sambil berlari sekuat tenaga, ia berteriak,

"Tolong! Tolong! Ada yang mau membunuhku! Ada yang mau membunuh!"

Teriakannya bergema di seluruh lembah.

Namun, lokasi itu masih berjarak sekitar enam hingga sepuluh kilometer dari puncak utama Gunung Tianyuan.

Tak ada seorang pun di sekitarnya.

Qin Shang mengernyit sambil terus menambah kecepatan.

Tak lama kemudian, ia berhasil menyusul Wen Ren.

Begitu Qin Shang berdiri tepat di hadapannya, Wen Ren sama sekali tidak berniat melawan.

Pluk!

Ia langsung berlutut sambil memohon dengan suara gemetar,

"Pahlawan, ampuni aku! Kumohon, ampuni aku!"

Wen Ren terus bersujud.

Tubuhnya menempel di tanah dan gemetar hebat. Jangankan melawan, mengangkat kepala pun ia tak berani.

Barulah pada saat itulah Wen Ren benar-benar menyadari betapa kejamnya Dunia Xuanwu.

Selama ini, berkat bakat bela dirinya yang luar biasa, ia selalu menonjol dalam setiap ujian dan memperoleh banyak pembinaan.

Enam bulan terakhir, di hadapan teman-teman Kelas 11, ia selalu menjadi sosok yang dipuji-puji.

Bahkan Gu Yang, sang ketua kelas, tidak pernah berani menyinggungnya dan selalu memperlakukannya dengan penuh hormat.

Semua itu sempat membuatnya yakin bahwa datang ke Dunia Xuanwu adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Namun sekarang...

Ia menyesal.

Kalau dulu aku tidak datang ke Dunia Xuanwu, meski hanya menjadi orang biasa, setidaknya aku masih bisa hidup sampai usia tujuh puluh atau delapan puluh tahun sambil menikmati segala kemudahan teknologi...

Saat melihat sepasang kaki pria misterius itu berhenti tepat di depannya, tubuh Wen Ren semakin gemetar.

Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

Boom!

Tiba-tiba pria misterius itu menginjak lengan kanannya.

Rasa sakit yang luar biasa membuat Wen Ren menjerit sejadi-jadinya.

Butiran keringat sebesar kacang bercucuran di wajahnya.

Tulang lengan kanannya remuk seketika.

Ia tergeletak di tanah, menatap pria misterius yang perlahan mendekat dengan wajah penuh ketakutan.

Pria itu membungkuk, melepas ransel dari punggung Wen Ren, lalu melangkah pergi dan menghilang ke dalam hutan yang gelap.

Baru setelah sosok itu benar-benar lenyap dari pandangan, Wen Ren berani mengembuskan napas panjang.

...

Di sisi lain, Qin Shang membawa ransel rampasan itu menjauh.

Ia tidak jadi membunuh Wen Ren.

Padahal, sejak awal memang itulah niatnya.

Namun pada akhirnya, ia mengurungkan niat tersebut.

Pertama, di tengah jalan muncul pria misterius.

Mengenai identitas orang itu, Qin Shang sudah memiliki sedikit dugaan.

Kedua, Lin Yan juga tiba-tiba muncul.

Kalau ia membunuh Wen Ren tetapi membiarkan Lin Yan tetap hidup, besar kemungkinan Lin Yan akan melaporkannya kepada Tim Penegak Hukum agar kasus ini diselidiki.

Orang yang memiliki permusuhan dengan Wen Ren sebenarnya tidak banyak.

Setidaknya, Qin Shang adalah salah satu musuh yang diketahui semua orang.

Begitu Tim Penegak Hukum mulai menyelidiki para tersangka, kemungkinan besar kecurigaan akan mengarah kepadanya.

Saat itu, fakta bahwa dirinya telah mencapai Tahap Peningkatan Darah Ketiga juga bisa ikut terbongkar.

Karena itulah, demi menghindari masalah, Qin Shang hanya mematahkan satu lengan Wen Ren sebagai balasan atas semua dendam mereka selama ini.

Qin Shang membuka ransel itu dan segera memeriksa isinya.

Di dalamnya terdapat tujuh porsi Sup Peningkat Darah.

Selain itu, ada uang senilai 150 Poin Kontribusi.

Juga tiga keping mata uang dunia fana.

Yang paling mengejutkannya, di dalam ransel itu ternyata tersimpan sebuah kitab teknik bela diri berjudul 《Telapak Penghancur Jantung》.

Qin Shang langsung teringat pada teknik telapak yang baru saja digunakan Lin Yan.

Kemungkinan besar itulah 《Telapak Penghancur Jantung》.

Alasan Lin Yan tetap kalah meski telah menggunakan teknik itu adalah karena ia memilih beradu kekuatan secara langsung dengannya.

Seandainya Lin Yan tidak memilih menghadapi Qin Shang secara frontal, siapa yang akan menang atau kalah masih sulit dipastikan.

Sebab kelemahan Qin Shang sangat jelas.

Ia sama sekali belum menguasai satu pun teknik bertarung.

"Memiliki teknik bela diri dan tidak memilikinya benar-benar bagaikan langit dan bumi. Tapi kalau aku mempelajari 《Telapak Penghancur Jantung》, suatu hari identitasku bisa terbongkar. Sebaliknya, kalau tidak kupelajari, untuk sementara aku juga tidak punya cara mendapatkan teknik bela diri yang benar-benar dapat dipercaya."

Qin Shang merenung cukup lama.

Pada akhirnya, ia tetap memutuskan untuk mempelajarinya.

Bagaimanapun, saat ini ia memang tidak memiliki satu pun teknik bertarung.

Menggunakannya sebagai solusi sementara bukanlah pilihan yang buruk.

Lagipula, ia tidak berniat bertarung sembarangan di depan orang lain.

Begitu turun tangan, ia akan memastikan lawannya mati tanpa meninggalkan seorang saksi pun.

Dengan begitu, rahasianya tidak akan terbongkar.

"Seratus lima puluh Poin Kontribusi. Sekali beraksi saja hasilnya sebesar ini. Ternyata bekerja mati-matian memang masih kalah cepat dibanding menjadi perampok."

Qin Shang menghela napas dalam hati.

Tentu saja, itu hanya sekadar lintasan pikirannya.

Di Gunung Tianyuan, Alam Peningkatan Darah hanyalah tingkatan paling rendah.

Kalau suatu hari ia bertemu seorang ahli Alam Penempaan Tulang, tamatlah riwayatnya.

Qin Shang pun kembali ke tempat tinggalnya.

Saat itu Lu Chen masih belum tidur.

Ia terus menunggu dengan gelisah di dalam rumah.

Ia tahu Qin Shang pergi ke Pasar Gelap untuk membelikannya Sup Peningkat Darah.

"Akhirnya kau kembali juga. Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Lu Chen penuh kekhawatiran.

Qin Shang menjawab, "Aku baik-baik saja. Hanya saja Sup Peningkat Darahnya tidak berhasil kubeli."

Lu Chen sempat terdiam.

Tak lama kemudian, ia tersenyum.

"Tidak apa-apa. Yang penting kau pulang dengan selamat. Dari tadi aku benar-benar khawatir kau dirampok lalu mayatmu dibuang di tengah hutan."

"Oh ya, kupikir-pikir lagi, sebaiknya kau saja yang meningkatkan kekuatanmu lebih dulu. Selama ada kau, aku tidak akan kekurangan makan atau pakaian. Lagi pula bakat bela diriku memang buruk. Kalaupun minum Sup Peningkat Darah, hasilnya mungkin juga akan sia-si—"

"Aku bohong."

Qin Shang memotong ucapannya sambil meletakkan empat belas kantong Sup Peningkat Darah di atas meja.

"Sup Peningkat Darahnya sudah kubawa."

"Ya ampun! Sebanyak ini?!"

Melihat meja yang dipenuhi kantong-kantong Sup Peningkat Darah, mata Lu Chen langsung membelalak.

Qin Shang berkata, "Sup Peningkat Darah hanya bertahan selama tujuh hari. Minumlah dua kantong setiap hari. Dan ingat, jangan sampai memberi tahu siapa pun dari mana barang ini berasal. Asal-usulnya tidak terlalu bersih. Kalau sampai bocor, kita akan mendapat masalah."

"Aku tahu. Aku tahu."

Lu Chen mengangguk berkali-kali.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Ia segera berkata, "Qin Shang, kau saja yang meminumnya! Tingkatkan dulu kekuatanmu. Setelah kau menjadi lebih kuat, baru bantu aku menyusul."

Lu Chen sama sekali tidak tahu bahwa Qin Shang telah mencapai Tahap Peningkatan Darah Ketiga.

Ia masih mengira Qin Shang baru berada di Tahap Peningkatan Darah Pertama.

Sementara itu, Qin Shang sendiri sudah tidak tertarik lagi pada Sup Peningkat Darah.

Karena ia memiliki sesuatu yang jauh lebih sempurna.

Qi Abadi.

Menurutnya, pembasuhan tubuh dengan Qi Abadi telah membuat tubuhnya jauh melampaui petarung lain yang berada pada tingkat yang sama.

Kalau sekarang ia justru mengandalkan ramuan obat, ia malah merasa tubuhnya akan tercemar.

"Sudahlah. Kalau kubilang minum, ya minumlah. Begitu kau mencapai Tahap Peningkatan Darah Pertama, kau bisa pindah pekerjaan. Penghasilanmu nanti juga akan lebih besar."

"Baik! Baik!"

Lu Chen mengangguk mantap.

Ia menepuk bahu Qin Shang, tetapi tidak berkata apa-apa lagi.

Mereka berdua telah tumbuh bersama sejak kecil.

Di antara mereka, ucapan terima kasih sudah tidak lagi diperlukan.

Keesokan paginya, Lu Chen meminum satu kantong Sup Peningkat Darah, lalu berlatih Jurus Kuda-Kuda Giok Matahari bersama Qin Shang di tepi sungai.

Sementara kantong yang kedua disimpannya untuk diminum saat istirahat makan siang ketika bekerja.

Meminum Sup Peningkat Darah dalam jumlah banyak sekaligus memang menghasilkan khasiat yang paling kuat.

Namun, hal itu juga berisiko merusak fondasi tubuh sehingga akan semakin sulit menembus tingkat berikutnya di masa depan.

Qin Shang dan yang lain baru mengetahui hal tersebut belakangan. Itulah sebabnya Lin Yan tidak pernah menyuruh mereka meminum beberapa mangkuk Sup Peningkat Darah sekaligus.

Tanpa terasa, tujuh hari pun berlalu.

Selama tujuh hari itu, setiap pagi Qin Shang berlatih Jurus Kuda-Kuda Giok Matahari, sedangkan setiap malam ia berlatih 《Telapak Penghancur Jantung》 di dalam kamarnya.

Teknik 《Telapak Penghancur Jantung》 lebih menitikberatkan kelembutan dalam setiap gerakannya, sehingga gerakannya tidak terlalu besar dan hampir tidak menimbulkan suara.

Lu Chen tidak banyak bertanya.

Lagipula, ia tidak mungkin membocorkan apa pun yang berkaitan dengan Qin Shang.

Selama tujuh hari itu, Lu Chen telah menghabiskan seluruh Sup Peningkat Darah yang dimilikinya.

Sayangnya, ia tetap belum berhasil menembus Alam Peningkatan Darah.

Mengenai hal itu, Qin Shang sebenarnya sudah menduganya sejak awal.

Ia meminta Lu Chen bersabar menunggu tiga hari lagi.

Tiga hari kemudian, Pasar Gelap kembali dibuka.

Kali ini, Qin Shang mengajak Ma Haoran pergi bersamanya, dan Ma Haoran pun menyetujuinya dengan senang hati.

Larut malam, keduanya berjalan menembus hutan lebat.

Memanfaatkan kegelapan malam, Qin Shang diam-diam mengamati lengan kanan Ma Haoran. Dibandingkan lengan kirinya, terdapat sedikit tonjolan yang nyaris tak terlihat pada lengan kanan itu.

"Jadi benar... memang dia!"

1
TEMOLLA
Mohon dukungannya🙏🏻😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!