Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Darah Berat dan Sambutan Ujung Pedang
Tetesan emas yang mengambang di atas altar batu itu tidak memancarkan hawa dingin maupun panas. Tidak ada fluktuasi Qi spiritual yang membuat udara bergetar. Benda itu murni, sunyi, dan tenang, persis seperti detak jantung Awan sesaat sebelum ia melepaskan tebasannya.
Awan menjulurkan tangannya yang gemetar. Saat ujung jarinya menyentuh tetesan tersebut, tidak ada perlawanan. Tetesan emas itu langsung meresap ke dalam kulitnya layaknya tetesan air hujan yang jatuh ke tanah kering.
Seketika, pandangan Awan menjadi gelap. Kesadarannya ditarik ke dalam sebuah visi singkat.
Ia tidak melihat dewa-dewa yang terbang membelah langit, naga purba, atau siluman mistis yang menguasai alam semesta. Ia melihat tanah berlumpur. Ia melihat ribuan manusia biasa yang tak memiliki meridian, bertelanjang dada, bahu-membahu menarik batu raksasa untuk membangun peradaban. Ia melihat manusia fana menombak siluman raksasa menggunakan kayu runcing dan kekuatan otot murni, mati berguguran, namun terus maju dengan raungan tekad yang menggetarkan langit.
Ini bukanlah darah dewa purba. Ini adalah Esensi Darah Fana—sebuah warisan yang diekstrak dari esensi vitalitas murni jutaan manusia prasejarah yang hidup, bertarung, dan bertahan hidup murni menggunakan raga mereka sebelum metode penyerapan Qi Spiritual ditemukan.
DHUM!
Jantung Awan berdetak dengan suara yang menyerupai tabuhan genderang perang kuno.
Jika Pil Pemecah Batas membakar kelemahan organnya, dan Teratai Magma serta Darah Siluman Angin memadatkan kulit dan tulangnya, maka Esensi Darah Fana ini merekonstruksi fundamental biologisnya.
Awan jatuh terjerembap ke lantai besi. Rasa sakitnya kali ini berbeda. Tidak ada rasa terbakar atau membeku, melainkan rasa gatal dan denyut yang luar biasa dalam di tingkat sel.
Meridian-meridian di tubuhnya yang sejak lahir tertutup dan tersumbat mati, kini perlahan meluruh. Meridian itu tidak terbuka untuk menampung Qi, melainkan hancur dan melebur, menyatu langsung dengan pembuluh darah dan jaringan ototnya. Awan kini benar-benar terputus dari jalan kultivasi spiritual; tubuhnya menolak konsep meridian.
Sebagai gantinya, sumsum tulangnya mulai memproduksi darah baru yang luar biasa kental. Darahnya tidak lagi berwarna merah terang, melainkan merah pekat yang membawa sedikit rona keemasan. Bobot darahnya meningkat drastis, mengalir di dalam pembuluh darahnya dengan berat menyerupai air raksa, memberikan pasokan oksigen dan nutrisi dengan kecepatan yang mustahil bagi biologi manusia normal.
Luka-luka sayatan di dada dan bahunya menutup dalam hitungan detik. Sel kulit mati mengelupas, menampilkan kulit perunggu yang kini terlihat sehalus batu giok fana, namun menyimpan ketangguhan yang bisa mematahkan pedang baja hanya dengan pantulannya.
Seluruh proses itu berlangsung dalam diam.
Ketika Awan membuka matanya, tidak ada ledakan aura. Ruangan itu tetap hening. Namun, ketika Awan bangkit berdiri, ia merasa seolah belenggu tak kasatmata yang selama ini mengikat tubuhnya telah hancur berkeping-keping.
Rasa lelah yang meremukkan tulangnya lenyap tak berbekas. Napasnya panjang dan dalam. Ia menoleh ke arah pedang besi berkarat, Bumi Pijar, yang sebelumnya terasa seperti gunung kecil di punggungnya. Awan mencabut pedang seberat tiga ratus kilogram itu dengan satu tangan.
Wush.
Ia memutar pergelangan tangannya. Pedang berat itu berputar di udara dengan mulus. Berkat kepadatan otot dan sirkulasi darah barunya, berat tiga ratus kilogram kini terasa sangat wajar, seolah pedang itu memang perpanjangan dari lengannya sendiri.
"Vitalitas absolut," gumam Awan. "Aku masih tidak memiliki setetes pun Qi... tapi aku merasa bisa membelah gunung hanya dengan ayunan fisik ini."
Tiba-tiba, menara hitam itu bergetar hebat. Ujian telah selesai, dan warisan telah diwariskan. Sebuah formasi cahaya putih muncul di bawah kaki Awan. Tanpa peringatan, menara itu "memuntahkan" Awan ke luar.
ZRAAAASH!
Cahaya putih melintas di pelataran luas di luar Menara Warisan Pusat.
Ratusan kultivator yang sedari tadi mengepung area tersebut langsung menegang. Formasi pengekang diaktifkan, jaring-jaring spiritual berpendar terang, dan berbagai senjata spiritual langsung diarahkan ke titik kemunculan.
"Siaga! Siapa pun yang keluar, serang lututnya dan paksa dia menyerahkan warisan!" teriak Zhao Meng dari barisan depan, kipas lipatnya memancarkan bilah angin yang tajam.
Cahaya memudar. Sosok yang keluar dari menara itu perlahan terlihat dengan jelas.
Seorang pemuda tanpa jubah atas, memperlihatkan otot perunggu yang padat dengan banyak bekas luka yang baru saja menutup. Ia berdiri santai. Tangan kanannya menggenggam sebilah pedang besi berkarat yang bentuknya sangat jelek, sementara sisa jubah birunya yang robek terikat di pinggang.
Keheningan melanda pelataran itu sejenak. Mata Zhao Meng dan ratusan kultivator lainnya membelalak tak percaya.
"S-Si Pelayan Fana?!" seru salah seorang murid, suaranya melengking karena kaget. "Dia benar-benar selamat dari dalam sana?!"
Zhao Meng mengerjap, lalu seketika tawa arogannya meledak memecah kesunyian.
"Hahahaha! Jadi tebakanku benar! Kau pasti menggunakan semacam jimat fana penangkal angin untuk menyusup ke dalam badai! Dan di dalam menara, karena kau tidak memiliki Qi, jebakan formasi tidak mendeteksikanmu sebagai ancaman, kan?!"
Logika Zhao Meng langsung diaminkan oleh murid-murid lainnya. Di dunia kultivasi, banyak formasi kuno yang dirancang khusus untuk menyerang fluktuasi Qi. Jika seseorang murni manusia fana, terkadang formasi itu gagal bereaksi. Mereka tidak tahu bahwa Awan justru harus menghadapi ujian brutal yang dirancang untuk menghancurkan fisik dan jiwanya.
Melihat Awan hanya menggenggam pedang besi berkarat layaknya rongsokan, kepercayaan diri Zhao Meng kembali penuh. Ia maju selangkah, menatap Awan dari atas ke bawah dengan jijik.
"Dengar, Gembel. Keberuntungan fanamu berakhir di sini," ucap Zhao Meng dengan nada memerintah. Ia melepaskan aura Puncak Pengumpul Qi Tingkat Sembilan, membuat udara di pelataran menjadi sesak. "Serahkan cincin atau kantong penyimpanan yang kau dapatkan dari dalam menara itu. Lalu, patahkan kedua kakimu sendiri. Jika kau patuh, aku akan membiarkanmu merangkak hidup-hidup dari reruntuhan ini."
Di sekeliling Zhao Meng, ratusan kultivator dari berbagai faksi mempersempit kepungan mereka. Ratusan aura bermacam elemen saling berbenturan, menciptakan tekanan yang seharusnya bisa membuat manusia biasa pingsan memuntahkan darah.
Awan berdiri di tengah kepungan itu. Angin reruntuhan meniup rambut hitamnya. Ekspresinya setenang permukaan air di musim dingin. Matanya menyapu ratusan kultivator arogan itu, dan akhirnya berhenti pada Zhao Meng.
"Kau bilang..." suara Awan terdengar pelan, namun berkat getaran organ dalamnya yang kuat, suaranya menembus hiruk-pikuk angin dan mencapai telinga semua orang dengan sangat jelas. "...keberuntunganku?"
Awan perlahan mengangkat pedang Bumi Pijar.
"Formasi pengepungan yang rapi. Senjata spiritual yang bersinar terang. Jumlah yang menembus ratusan," Awan mengangguk pelan. "Kalian adalah para jenius pilihan langit."
Pemuda fana itu menggeser kaki kirinya ke belakang.
"Tapi di mataku..." Niat membunuh yang selama ini ia tekan dengan Seni Penyamaran Bayangan tiba-tiba meledak keluar. Hawa itu begitu pekat dan brutal hingga beberapa murid yang kultivasinya rendah tanpa sadar mundur selangkah, merasa seolah ada harimau purba yang baru saja membuka matanya di tengah-tengah mereka. "...kalian semua hanyalah tumpukan kayu bakar yang menunggu dibelah."
Wajah Zhao Meng memerah karena dihina di depan ratusan orang. "Tikus sombong! Kau mencari mati! Semuanya, tahan serangannya! Biar aku yang menguliti manusia fana ini!"
Zhao Meng melompat ke udara. Qi elemen angin di dalam Dantiannya meletus sepenuhnya. Kipas lipat di tangannya membesar, menciptakan pusaran badai berwarna hijau pekat yang menyelimuti tubuhnya. Ia menggunakan teknik terkuat dari Klan Zhao.
"Tebasan Puting Beliung Pembelah Gunung!"
Zhao Meng meluncur turun layaknya bor angin raksasa, mengincar kepala Awan. Tekanan angin dari serangannya bahkan membuat ubin pelataran retak sebelum ia mendarat. Ratusan kultivator bersorak, yakin bahwa serangan dari seorang ahli Puncak Tingkat Sembilan akan merobek manusia fana itu menjadi debu merah.
Awan tidak menghindar. Ia tidak perlu mencari celah angin lagi.
Langkah Besi Jatuh: Akar Bumi.
Awan menjejakkan kedua kakinya, mengunci titik beratnya langsung menembus ke dasar pelataran batu. Otot punggungnya mengembang. Ia menggenggam gagang Bumi Pijar dengan kedua tangan, lalu mengayunkan pedang berkarat seberat tiga ratus kilogram itu dari bawah ke atas dalam satu tebasan diagonal yang sangat kasar.
Jurus Dasar: Menebas!
Tidak ada Niat Pedang Semu yang dipancarkan. Tidak ada kompresi udara jarak jauh. Awan murni menggunakan kecepatan otot dan massa absolut pedang berkarat tersebut.
Ketika pedang tiga ratus kilogram diayunkan dengan kecepatan supersonik oleh kekuatan otot setara makhluk Fondasi Roh, realitas fisika di sekitarnya terdistorsi.
DHUAAARRR!
Bukan suara benturan senjata, melainkan suara ledakan vakum. Ayunan pedang Awan menghancurkan udara di sekitarnya, menciptakan daya hisap dan gelombang kejut kinetik yang brutal.
Puting beliung raksasa milik Zhao Meng bertabrakan langsung dengan punggung bilah Bumi Pijar.
KRAAAAK! KRAAASSSHH!
Mata Zhao Meng membelalak dalam teror yang membekukan jiwa. Badai Qi kebanggaannya... hancur layaknya kertas basah yang ditabrak kereta kuda. Ia bahkan tidak merasakan perlawanan apa-apa; energi spiritualnya langsung hancur berserakan saat bersentuhan dengan tekanan fisik murni dari pedang Awan.
Momentum Bumi Pijar tidak berhenti. Pedang tumpul itu melaju menembus pusaran angin yang hancur, dan menghantam tepat di tengah dada Zhao Meng yang masih melayang di udara.
Suara tulang rusuk yang patah serentak terdengar menjijikkan.
Zhao Meng memuntahkan darah bagaikan air mancur. Tubuhnya tidak terlempar ke belakang, melainkan terhempas ke atas dengan kecepatan peluru, melayang belasan meter di udara sebelum akhirnya jatuh menghantam lantai batu di luar formasi pengepungan dengan suara berdebum keras.
Kipas spiritualnya hancur menjadi serpihan, dan dada jenius elemen angin itu melesak rata. Ia pingsan seketika, nyawanya berada di ujung tanduk akibat organ dalamnya yang hancur oleh gelombang kejut fisik.
Hening.
Lebih dari tiga ratus kultivator yang sedari tadi bersorak kini terdiam membeku. Udara di pelataran terasa membeku. Mulut mereka terbuka, mata mereka menatap horor pada tubuh Zhao Meng di kejauhan, lalu beralih menatap pemuda fana yang masih mempertahankan kuda-kuda tebasannya.
Pedang besi berkarat di tangan Awan tidak bergetar sama sekali.
Awan menurunkan pedangnya, membiarkan ujung tumpulnya menghantam lantai batu hingga membuat ubin retak. Ia menatap ratusan kultivator yang kini memucat di sekelilingnya.
"Satu," ucap Awan dingin. Ia lalu melangkah maju ke arah lautan kultivator tersebut. "Siapa selanjutnya?"