Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Cemburu yang Tak Diakui
Lampu ruang tamu masih menyala ketika Laras membuka pintu rumah hampir pukul sepuluh malam.
Arkan duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuannya. Ia sudah berganti kaus hitam dan celana rumah, tetapi rambutnya masih sedikit basah. Di meja ada segelas air yang belum disentuh dan remote televisi yang diletakkan sejajar dengan ujung tatakan.
Laras melepas sepatu sambil melirik jam dinding.
"Kamu belum tidur?"
"Belum mengantuk."
Layar laptop Arkan menampilkan halaman cuaca penerbangan yang tidak bergerak sejak Laras masuk. Ia menutupnya pelan.
"Udah makan?" tanyanya.
"Sudah."
Tatapan Arkan berhenti pada wajahnya sedikit lebih lama daripada biasanya. "Di tempat yang kemarin?"
Laras mengerutkan dahi, lalu teringat ajakan Bagas. "Oh, tadi siang? Iya. Rumah makan dekat kantor."
"Cuma berdua?"
Pertanyaan itu terlalu cepat untuk terdengar sambil lalu.
Laras menggantung tasnya, masih tidak curiga. "Awalnya berdua. Terus Rosa datang sama dua teman unit lain. Kamu tahu dari mana?"
"Rosa kirim foto."
"Dia kirim ke kamu?" Laras tertawa. "Dia memang suka ikut campur."
Arkan hanya mengeluarkan suara pendek. "Hm."
Laras berjalan ke dapur dan menemukan teko berisi air hangat. Di sebelahnya ada cangkir bersih yang telah disiapkan. Ia menuang air, kemudian kembali ke ruang tamu.
"Mas Bagas membahas program instruktur pendamping," katanya. "Namaku mau diusulkan untuk penilaian bulan depan."
Ada cahaya yang langsung hidup di matanya. Arkan melihatnya dan rasa tidak nyaman yang sejak siang mengganjal di dada sempat surut.
"Kamu mau?"
"Mau. Tapi takut juga." Laras duduk di ujung sofa yang lain. "Aku masih suka merasa belum cukup bagus untuk mengajari orang."
"Kalau kamu nggak cukup bagus, dia nggak akan mengusulkanmu."
"Mas Bagas bilang hampir sama."
Ganjalan itu kembali.
Arkan menyandarkan punggung. "Dia sudah lama jadi instrukturnya kamu?"
"Waktu awal pelatihan. Galak banget." Laras tersenyum mengenang. "Dulu aku pernah disuruh mengulang simulasi berkali-kali. Tapi kalau bukan karena dia, mungkin aku nggak akan setenang sekarang saat traffic padat."
"Berarti dekat."
"Dekat secara kerja, iya. Dia senior yang paling aku percaya."
Jawaban Laras begitu terbuka hingga Arkan tidak menemukan celah untuk mengajukan pertanyaan berikutnya. Ia ingin tahu apakah Bagas sering mengajak Laras makan, apakah laki-laki itu selalu mengingat kebiasaan kecilnya, dan apakah senyum Laras di foto memang hanya karena kabar promosi.
Semua pertanyaan itu terdengar konyol bahkan sebelum diucapkan.
Laras adalah istrinya, tetapi pernikahan mereka dimulai dari kesepakatan yang sangat sederhana. Mereka akan saling menghormati. Mereka tidak akan mencampuri pekerjaan. Mereka memberi ruang satu sama lain sampai hubungan ini menemukan jalannya sendiri.
Arkan sendiri yang mengucapkan semua itu.
"Kenapa?" Laras memiringkan kepala. "Ada masalah?"
"Nggak."
"Kamu kelihatan seperti sedang menginterogasi aku."
"Aku cuma tanya."
"Empat pertanyaan tentang satu makan siang."
Arkan menatapnya. Laras menahan senyum, tetapi sudut bibirnya sudah naik. Ia bukannya tersinggung. Sebaliknya, ada kilau kecil di matanya yang membuat Arkan merasa perempuan itu sedang menikmati keganjilannya.
"Kalau kamu nggak mau menjawab, nggak perlu," katanya.
"Aku sudah jawab semuanya."
"Bagus."
"Baik, Kapten."
Laras berdiri sebelum tawanya lepas. Arkan mengikuti geraknya sampai perempuan itu menghilang ke arah kamar. Baru setelah itu ia mengambil ponsel dan membuka percakapan dengan Rosa.
Foto makan siang tadi masih ada.
Ia menutupnya lagi.
Lima belas menit kemudian, Laras keluar dari kamar mandi dengan piyama panjang. Wajahnya sudah bersih tanpa riasan, rambutnya disanggul asal, dan langkahnya melambat karena kantuk.
Arkan masih berada di ruang tamu.
"Katanya belum mengantuk," gumam Laras.
"Memang belum."
"Tapi laptopnya sudah ditutup."
Arkan tidak menjawab. Ia mengambil gelas air hangat yang tadi dibawa Laras, menyentuh sisinya, lalu bangkit.
"Sudah dingin."
"Nggak apa-apa."
"Tunggu."
Ia membawa gelas itu ke dapur dan menggantinya dengan air baru. Ketika kembali, Laras sudah berdiri di depan pintu kamar sambil menutupi mulut saat menguap.
"Minum dulu."
Laras menerima gelas itu dengan kedua tangan. "Terima kasih."
Arkan masuk ke kamar setelahnya. Sejak malam pertama, dua bantal tambahan menjadi batas yang tidak pernah mereka bicarakan lagi. Laras naik ke sisi kanan ranjang, menarik selimut sampai dada, lalu meletakkan ponsel di atas nakas.
"Besok kamu terbang pagi?" tanyanya.
"Siang."
"Aku masuk sore."
"Jam berapa?"
"Setengah tiga sudah harus berangkat."
Arkan mengingat waktu itu tanpa perlu mencatat. Ia mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur di sisi Laras.
"Tidur saja."
"Kamu?"
"Ada yang mau aku cek di ruang kerja."
Laras mengangguk. Beberapa helai rambut jatuh menutupi pipinya. Ketika ia berbaring, ujung selimut tersangkut di bawah siku dan hanya menutup separuh bahu.
Arkan berdiri di samping ranjang. Seharusnya ia langsung pergi, tetapi tangannya lebih dulu menarik selimut itu ke atas. Jemarinya hampir menyentuh rambut Laras. Ia berhenti sesaat, lalu menyibakkannya pelan agar tidak menutupi wajah.
Mata Laras sudah terpejam.
"Arkan," panggilnya lirih.
"Hm?"
"Mas Bagas cuma membahas pekerjaan."
Tangan Arkan tertahan di tepi selimut.
"Aku tahu."
"Kalau begitu, jangan pasang wajah galak lagi."
"Aku nggak galak."
Senyum kecil muncul di bibir Laras tanpa ia membuka mata. "Selamat malam, Kapten."
Arkan mematikan lampu tidurnya. Dalam gelap, ia berdiri satu detik lebih lama sebelum keluar dan menutup pintu tanpa suara.
Ruang kerja terasa terlalu sunyi.
Ia duduk di belakang meja, membuka jadwal penerbangan esok hari, lalu mencoba membaca data cuaca. Lima menit berlalu tanpa satu pun angka benar-benar masuk ke kepalanya.
Yang terbayang justru rumah makan itu.
Bagas yang mengetahui Laras tidak kuat makan pedas setelah sif malam.
Laras yang tersenyum ketika membicarakan senior yang paling ia percaya.
Dan kalimat terakhir Laras sebelum tidur, seolah perempuan itu sudah tahu persis apa yang mengganggunya.
Arkan mengambil ponsel. Foto profil Laras adalah gambar langit senja dari balik kaca ruang kendali. Tidak ada wajah, tetapi ia menatapnya lama.
Ia pernah menghadapi cuaca buruk, perubahan rute mendadak, dan kerusakan teknis tanpa membiarkan pikirannya kehilangan arah. Namun, satu kali istrinya makan dengan rekan laki-laki membuatnya bertanya terlalu banyak, menunggu di ruang tamu, dan mengingat nama orang itu lebih jelas daripada yang seharusnya.
Pernikahan mereka baru dimulai. Tidak ada janji tentang cinta. Tidak ada hak untuk menuntut sesuatu yang tidak pernah mereka sepakati.
Arkan mengetuk meja dengan satu jari, kesal pada pikirannya sendiri.
Ia sempat membuka jadwal Laras yang tersimpan di ponselnya. Sif sore besok berakhir pukul sebelas malam. Tanpa sadar, ia sudah mencari celah untuk menjemput lagi, padahal penerbangannya sendiri baru dijadwalkan mendarat satu jam sebelumnya.
Kalau Laras hanya perempuan yang menikah dengannya karena sebuah kesepakatan, mengapa ia begitu peduli dengan siapa istrinya makan?