Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.
Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.
"Kamu siapa ?"
"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"
Duarrr...
Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.
"Sayang ! Siapa yang datang ?"
Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.
Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.
Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Menuju rumah baru
Bab 8: Menuju Rumah Baru
Setelah selesai mengurus segala dokumen di kantor Catatan Sipil, mobil Arga tidak langsung menuju kediamannya.
Ia memerintahkan Radit untuk berbelok ke arah perumahan tempat Diana menyewa kamar kos selama ini.
“Kita mampir sebentar ke tempat tinggalmu dulu, ya. Supaya kamu bisa mengambil semua barang-barangmu” ujar Arga dengan nada lembut sambil menoleh ke arah Diana.
Wajah Diana memerah.
Dia merasa sejak Arga memasuki mobil, matanya tak pernah beralih darinya. Membuat Diana semakin canggung.
“Terima kasih banyak, Pak Arga. Saya memang ingin menyampaikan hal ini sejak tadi, tapi belum sempat mengatakannya.”
"Diana?" Wajah Arga begitu serius.
Membuat Diana was-was.
"Yah, kenapa pak ?" Jawab Diana gugup.
"Kita sudah mendaftarkan pernikahan, kita sudah sah menjadi suami-istri di mata hukum. Dan aku berencana untuk melakukan proses ijab qobul di kampungmu nanti"
Diana tidak tau harus mengatakan apa.
Benarkah dia secara resmi menikah dengan Orang paling berpengaruh ini, di mata negara dan agama ?
"Aku... Aku ..."
"Kamu tidak mau?" Tanya Arga, dia melihat Diana seperti menyimpan keraguan.
"Aku mau !" Jawab Diana cepat sambil tersenyum lebar
Arga ikut tersenyum dan spontan memeluknya.
Jantung Diana berdebar kencang, degupan nya tak bisa di kendalikan.
Tangannya sulit membalas pelukan itu, bukan karena tidak mau, tapi karena gugup dan gemetar.
Arga melepaskan pelukannya.
"Maaf, aku tidak sengaja" Ujarnya canggung
"Hmm tidak apa-apa "
Rasa panas menjalar di pipi keduanya.
Karena sama-sama canggung, mereka hanya diam, tetapi debaran itu masih ada.
Sesampainya di depan rumah kos yang sederhana itu,
Diana turun lebih dulu untuk membuka pintu kamarnya.
Arga dan Radit ikut masuk membantu membereskan barang-barang yang tidak terlalu banyak.
"Bawa yang penting saja, nanti kita bisa beli yang baru" Ujar Arga pada Diana
Dan Diana pun hanya mengangguk kecil.
Hanya satu koper baju, satu tas ransel, dan beberapa kotak berisi buku serta beberapa barang yang menurut Diana penting.
Belum lama mereka beraktivitas,
Bu Siti datang menghampiri dengan wajah terkejut melihat ada tamu dan mobil mewah terparkir di halaman rumahnya.
“Diana? Ini… siapa mereka?” tanya Bu Siti sambil menatap Arga dan Radit dengan rasa ingin tahu.
Diana segera menghampiri dan menggandeng tangan wanita paruh baya itu dengan hangat.
“Bu, ini Pak Arga Wijaya. Dan yang di belakangnya itu Pak Radit, asistennya. Mereka datang untuk membantuku memindahkan barang-barang.”
Ohh jadi ini pak Arga Wijaya, beliau memang terlihat dermawan.Batin Bu Siti dengan kagum
Arga mengangguk sopan sambil tersenyum ramah. “Selamat siang, Bu. Maaf mengganggu Ibu hari ini.”
Bu Siti membalas senyum itu, namun masih terlihat bingung.
“Tidak mengganggu sama sekali. Tapi… kenapa tiba-tiba memindahkan barang? Kamu mau pindah ke mana, Nak?”
Diana menarik napas panjang, lalu menatap Bu Siti dengan pandangan tulus.
“Bu, aku datang untuk berpamitan. aku tidak akan tinggal di sini lagi. Sebenarnya… aku dan Pak Arga baru saja resmi menikah hari ini.”
Duarr!
Seperti mendengar kabar yang tak terduga, mulut Bu Siti terbuka lebar.
Matanya terbelalak menatap Diana, lalu beralih ke Arga, memandang keduanya secara bergantian.
Ia tertegun beberapa saat seolah memastikan apa yang baru didengarnya.
“Menikah? Kalian… sudah menikah?” ulang Bu Siti dengan suara sedikit bergetar karena kaget.
“Ya Tuhan, sungguh di luar dugaan Ibu. Bukankah kalian baru saja kenal beberapa hari yang lalu?”
Dalam ingatannya, Diana baru beberapa hari yang lalu menceritakan tentang sosok Arga Wijaya.
Diana mengangguk pelan, sedikit gugup .
“Benar, Bu. Ceritanya cukup panjang dan aku juga tidak menduganya, tapi keputusan ini sudah kami pikirkan matang-matang. aku datang juga untuk minta doa restu dari Ibu, karena selama ini Ibu sudah seperti ibuku sendiri.”
Bu Siti mengusap dadanya yang terasa berdebar, lalu perlahan senyum tipis terukir di bibirnya.
Ia memegang kedua bahu Diana dan menatapnya dalam-dalam.
“Kalau itu sudah keputusanmu, Ibu tidak berhak melarang. Yang penting kamu bahagia dan tidak salah memilih jalan. Tapi ada satu hal yang ingin Ibu tanyakan: apakah Ayah dan Ibumu di kampung sudah mengetahui hal ini? Mereka pasti akan sangat terkejut mendengar kabar ini.”
Belum sempat Diana menjawab, Arga melangkah maju sedikit dengan sikap sopan.
“Maaf, Bu. Saya izin menjawab. Pernikahan ini bukan dilakukan secara sembarangan atau tanpa pertimbangan.
Sebelum memutuskan, Diana sudah menghubungi kedua orang tuanya, menjelaskan semuanya dengan jujur, dan kami sudah mendapatkan restu penuh dari mereka berdua.
Tidak ada paksaan apa pun, semuanya atas kehendak hati dan kesepakatan bersama.”
Mendengar penjelasan itu, raut wajah Bu Siti terlihat lebih tenang dan lega.
Ia menatap Arga dengan pandangan yang lebih menghormati.
“Syukurlah kalau begitu. Kalau sudah ada restu dari orang tua, itu sudah menjadi tanda yang baik. Terima kasih sudah menjelaskan dengan jujur, Pak Arga. Saya hanya khawatir Diana bertindak tergesa-gesa karena masalah yang dia hadapi belakangan ini.”
“Memang awalnya karena keadaan yang mempertemukan kami, Bu. Tapi saya berjanji akan memperlakukan Diana dengan baik, menjaga kehormatannya, dan memenuhi segala kewajiban saya sebagai suami selama kami berjalan bersama,” jawab Arga tegas namun tetap lembut.
Arga mendekati Radit lalu berbisik pelan, Radit mengangguk dan segera menuju mobil untuk mengambil sesuatu.
Bu Siti mengangguk puas mendengar penjelasan Arga, lalu ia menoleh kembali pada Diana dan memeluk gadis itu erat.
“Nak. Ibu merestui dan mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Semoga rumah tangga kalian diberkahi, dijauhkan dari masalah, dan semoga kalian bisa saling melengkapi. Jangan lupa sesekali kabari Ibu ya, supaya Ibu tidak khawatir.”
“Terima kasih banyak, Bu. aku pasti akan sering menghubungi Ibu. Terima kasih untuk semua kebaikan dan perhatian Ibu selama ini,” ucap Diana dengan mata berkaca-kaca karena terharu.
"Dan ini, ada sedikit rezeki untuk ibu. Mohon di terima, anggap saja, sebagai rasa terimakasih saya. Karena sudah menjaga Diana selama ini" Arga menyodorkan amplop coklat yang di bawa Radit dari mobil
Isinya sejumlah uang.
"Tidak perlu, Pak. itu sudah menjadi tanggung jawab saya dan saya benar-benar ikhlas melakukannya" Ujar Bu Siti sambil mendorong pelan tangan Arga
"Saya juga ikhlas Bu, mohon di terima!"
"Pak ".Ujar Diana , dia begitu terharu.
Dengan sedikit paksaan, akhirnya Bu Siti menerimanya dan berulang kali mengucapkan terimakasih.
Setelah semuanya selesai dan semua barang sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil,
Diana melambaikan tangan perpisahan pada Bu Siti yang masih berdiri di depan pagar.
“Selamat jalan, semoga perjalanan kalian lancar!” teriak Bu Siti sambil tersenyum lebar.
Begitu mobil melaju meninggalkan lingkungan kos yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama beberapa tahun itu,
Diana menoleh ke arah Arga yang duduk di sampingnya.
“Terima kasih Pak, untuk semua yang bapak lakukan untuk saya. Jujur baru kali ini saya merasa sangat dihargai " Ujar Diana tulus
Arga menoleh dan tersenyum lembut. “Itu sudah menjadi kewajiban dan kamu menjadi tanggung jawab saya, sekarang ayo kita pulang ke rumah kamu yang baru"
Diana mengangguk perlahan, menatap ke luar jendela melihat pemandangan kota yang ramai.