Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24- Kencan pertama
Sementara itu, kita kembali pada cerita sepasang kekasih yang sedang menautkan asmara mereka.
Lampu-lampu jalanan kota mulai menyala satu per satu, menggantikan semburat jingga senja yang perlahan tenggelam.
Ketegangan yang sempat terjadi di kediaman Bramantyo seolah menguap begitu saja begitu mobil melaju menjauhi kawasan elite tersebut.
Di dalam kabin mobil yang hangat, alunan musik instrumental berputar lambat, menemani keheningan yang nyaman di antara Alena dan Bara.
Setelah beberapa kali mencuri pandang, kini Bara melirik ke arah kiri dan menatap Alena yang sedang bersandar di kaca jendela sambil menatap kerlip lampu kota.
"Ekhm!." Pria itu berdehem. "Alena," panggil Bara dengan sedikit ragu.
Alena pun langsung menoleh dan tersenyum. "Ya, Bara?"
"Ini... kebetulan hari ini malam Minggu," ucap Bara sambil meremas setir mobilnya dengan sedikit lebih erat, tanda ia sedang mengumpulkan keberanian. "Kalau kamu tidak terlalu lelah, apa boleh aku membawamu jalan-jalan sebentar? Kita tidak langsung pulang ke toko."
Alena mengerjapkan matanya dan sedikit terkejut namun matanya langsung berbinar senang. "Jalan-jalan? Tentu saja boleh. Tapi, kita mau ke mana?"
Mendengar persetujuan Alena, wajah Bara pun mendadak berubah menjadi sedikit salah tingkah. Ia lalu merengkuh ponselnya yang terpasang di dashboard mobil.
Layarnya masih menyala dan menampilkan kolom pencarian Google yang belum ditutup dengan kata kunci, 'Tempat pacaran seru malam Minggu untuk pemula'.
Melihat hal itu, Alena tidak bisa menahan tawa renyahnya. "Hhm... Bara... kamu mencari tempat jalan-jalan di Google?"
Wajah Bara seketika memerah hingga ke leher. Ia pun cepat-cepat mematikan layar ponselnya dan berkata, "Maaf... ini pertama kalinya aku berpacaran. Aku benar-benar tidak tau apa yang biasanya dilakukan sepasang kekasih di malam Minggu."
Perkataan Bara jujur dan terdengar sangat lugu, hingga membuat Alena tersenyum manis dan hatinya pun menghangat. "Tidak apa-apa, Tuan Pemula. Jadi, apa rekomendasi dari Google untuk kita malam ini?" tanyanya.
Pilihan Google atau lebih tepatnya keberanian Bara kali ini adalah membawa mereka ke sebuah alun-alun kota yang malam itu disulap menjadi pasar malam yang meriah.
Suara musik dari wahana komidi putar bersahut-sahutan dengan riuh rendah suara pengunjung. Aroma jagung bakar, martabak manis, dan arum manis menusuk hidung, hingga menciptakan atmosfer yang begitu hidup dan merakyat.
Bagi Alena, ini adalah pengalaman yang benar-benar asing. Di masa lalunya saat masih berada di dunia bawah, "malam Minggu" atau "kencan" adalah hal yang mustahil.
Hidupnya dulu hanya dipenuhi oleh pertemuan rahasia di restoran mewah yang tertutup, aroma cerutu, kesepakatan berdarah, dan kewaspadaan tingkat tinggi.
Menikmati malam di tengah kerumunan orang biasa seperti ini terasa sangat membebaskan dan menyenangkan untuk Alena.
"Ramai sekali," gumam Alena, matanya berbinar menatap deretan lampu hias yang menggantung.
Saat turun dari mobil, Bara melangkah di sampingnya dan mengambil posisi di sisi luar jalan untuk melindungi Alena dari senggolan orang-orang yang lalu lalang. "Kamu tidak terganggu dengan keramaiannya?" tanya Bara khawatir.
"Sama sekali tidak. Ini... sangat menyenangkan," jawab Alena.
Bara tersenyum lega. Ia kemudian menarik perhatian Alena ke sebuah kedai kecil yang menjual gulali kapas berwarna merah muda. "Tunggu di sini sebentar," kata Bara.
Beberapa menit kemudian, Bara kembali dengan sebuah gulali kapas besar di tangannya. Wajah tegapnya terlihat agak kontras saat memegang jajanan manis berwarna merah muda itu, hingga membuat Alena kembali terkekeh.
"Ini untukmu," Bara menyerahkannya dengan sopan.
Alena menerimanya, lalu mencubit sedikit gulali manis itu dan menyuapkannya ke dalam mulut. "Manis sekali! Kamu mau coba?" Alena menjulurkan cubitan gulali lain ke arah Bara.
Bara sempat tertegun melihat tangan Alena yang terulur di depan wajahnya. Dengan canggung dan sedikit tersipu, ia pun menunduk dan menerima suapan kecil itu. "Iya, manis," ucap Bara, entah merujuk pada gulalinya atau pada senyuman Alena yang berada tepat di depannya.
Setelah menikmati beberapa wahana, puncak malam Minggu mereka ditutup dengan menaiki wahana bianglala besar yang bergerak lambat.
Begitu bilik yang mereka tumpangi bergerak ke titik tertinggi, seluruh pemandangan lampu kota yang membentang luas langsung tersaji di depan mata.
Alena menempelkan wajahnya ke kaca dan mengagumi keindahan malam dari ketinggian. Di dalam bilik yang sempit itu, Bara duduk di seberangnya, namun matanya sama sekali tidak menatap keluar kaca, karena pandangan Bara sepenuhnya terkunci pada Alena.
"Terima kasih, Bara," ucap Alena tiba-tiba, lalu membalikkan tubuhnya menghadap pria itu. "Hari ini sangat luar biasa. Aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Gaya pacaran orang biasa ternyata jauh lebih indah dari apa yang aku bayangkan."
Bara menatap manik mata Alena dalam-dalam, hingga rasa canggungnya tergantikan dengan rasa tulus yang murni.
"Aku yang berterima kasih, Alena. Karena bersamamu, aku juga bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi pria biasa yang normal. Yang punya seseorang untuk dilindungi dan dicintai."
Bara perlahan mengulurkan tangannya di atas bangku, dan kali ini, dengan penuh keyakinan, ia menggenggam jemari Alena dengan erat, yang membuat Alena merasa sangat aman.
Dan...
Di titik tertinggi bianglala itu, di bawah taburan bintang malam Minggu, Alena menyandarkan kepalanya di bahu tegap Bara. Ia memejamkan mata dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kebahagiaan sederhana ini. Malam ini, ia hanya ingin menjadi Alena, gadis biasa yang sedang jatuh cinta.
(Hmmm... Jatuh cinta, emang berjuta rasanya...😁)
Bersambung...