Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendaki kota
Malam itu, suara klakson bersahutan dari jalan raya yang padat. Deretan kendaraan bergerak perlahan seperti ular panjang yang tak pernah berhenti merayap. Asap kendaraan bercampur debu menggantung di udara sore, sementara suara mesin dan teriakan pedagang kaki lima memenuhi setiap sudut kota. Bagi sebagian orang, pemandangan itu adalah tanda kehidupan. Namun bagi Arga, itu adalah alasan mengapa ia selalu ingin pergi. Remaja berusia delapan belas tahun itu berdiri di balkon kamar lantai dua rumahnya. Dari sana ia bisa melihat gedung-gedung tinggi yang menjulang dan jalan utama yang nyaris tak pernah sepi. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"Aku butuh udara yang lebih segar," gumamnya.
Di dalam kamar, sebuah ransel gunung berukuran besar tergeletak di atas tempat tidur. Berbagai perlengkapan pendakian tersusun rapi di sekitarnya. Sleeping bag, jas hujan, headlamp, kompas, pisau lipat, hingga kotak P3K telah diperiksa satu per satu.
Besok pagi ia akan berangkat mendaki.
Mendaki gunung bukan sekadar hobi bagi Arga. Kegemaran itu telah menjadi bagian penting dalam hidupnya sejak duduk di bangku SMA. Saat teman-temannya menghabiskan akhir pekan di pusat perbelanjaan atau kafe, Arga justru lebih suka menghabiskan waktu di alam.
Di gunung, ia merasa bebas.
Tidak ada suara klakson.
Tidak ada kemacetan.
Tidak ada tekanan.
Hanya udara dingin, suara angin, dan hamparan pepohonan yang seolah tak berujung.
"Ayah bilang kamu harus lebih hati-hati kali ini." Suara ibunya membuat Arga menoleh.
Perempuan itu berdiri di ambang pintu sambil membawa segelas teh hangat.
"Aku selalu hati-hati, Bu."
Ibunya tersenyum tipis.
"Kalau begitu kenapa waktu mendaki bulan lalu kakimu keseleo?"
Arga tertawa kecil.
"Itu kecelakaan kecil."
"Yang namanya kecelakaan tetap saja kecelakaan. Obat maag juga jangan lupa dibawa."
"Aman Bu. Sudah aku letakkan ditempat teraman dan mudah dijangkau."
Ya, dia selalu membawa butir-butir pil kecil itu dalam weisbag nya, yang memudahkan nya untuk menemukan dan mengambilnya.
Arga menerima gelas teh yang disodorkan ibunya.
"Aku janji akan baik-baik saja. Ibu doa nya jangan berhenti juga."
"Kalau itu pasti dong."
Sang ibu mengangguk dengan tersenyum meski raut wajahnya masih menyimpan kekhawatiran.
Sebagai anak tunggal, Arga memang sering membuat kedua orang tuanya cemas. Namun mereka juga tahu bahwa melarangnya mendaki sama saja dengan melarang seekor burung untuk terbang.
Malam itu Arga tidur lebih cepat dari biasanya. Ia ingin berangkat dalam kondisi segar. Namun rasa antusias membuat matanya sulit terpejam.
Pikirannya sudah melayang ke jalur pendakian, ke hutan-hutan lebat, dan ke puncak gunung yang akan ia kunjungi.
Gunung itu terkenal di kalangan pendaki.
Masih sangat alami.
Belum banyak tersentuh pembangunan.
Medannya menantang.
Dan yang paling penting, pemandangannya luar biasa indah.
Itulah alasan komunitas pendaki yang diikutinya memilih lokasi tersebut.
Pukul empat pagi Arga sudah berada di titik kumpul.
Sebuah minibus besar menunggu di tepi jalan.
Beberapa anggota komunitas terlihat sibuk memindahkan perlengkapan ke bagasi.
"Arga!"
Seorang pemuda bertubuh tinggi melambaikan tangan.
Namanya Dimas, ketua komunitas.
"Siap menaklukkan gunung?" tanyanya.
"Selalu siap."
Mereka tertawa. Tak lama kemudian perjalanan dimulai. Kota perlahan tertinggal di belakang.
Gedung-gedung tinggi berubah menjadi rumah-rumah kecil. Jalan raya berubah menjadi jalan desa yang berkelok.
Udara pun terasa semakin sejuk.
Arga menyandarkan kepala ke jendela sambil menikmati pemandangan yang terus berganti.
Perjalanan menuju kaki gunung memakan waktu hampir delapan jam. Namun rasa lelah itu langsung menghilang ketika mereka tiba. Gunung yang akan mereka daki berdiri megah di hadapan mereka. Puncaknya menjulang tinggi menembus awan. Hutan hijau menutupi hampir seluruh lerengnya.
Arga tersenyum lebar.
Inilah tempat yang selama ini ingin ia kunjungi.
Pendakian dimulai menjelang siang.
Jalur awal masih cukup ramah.
Mereka melewati perkebunan warga, ladang sayur, dan jalan setapak yang relatif landai.
Sesekali mereka berhenti untuk beristirahat dan minum.
Suasana rombongan terasa hangat.
Canda dan tawa terdengar sepanjang perjalanan.
Namun semakin tinggi mereka mendaki, jalur mulai berubah.
Pepohonan menjadi lebih rapat.
Akar-akar besar melintang di tanah.
Udara terasa lebih dingin.
Sinar matahari yang menembus dedaunan menciptakan bayangan-bayangan panjang di atas jalur.
Arga justru menyukai bagian ini.
Ia selalu merasa hutan memiliki kehidupan tersendiri.
Suara burung.
Gemerisik daun.
Aliran air kecil yang tersembunyi di antara semak.
Semuanya menghadirkan ketenangan yang tidak pernah ia temukan di kota.
Menjelang sore mereka tiba di area perkemahan.
Tempat itu berada di sebuah tanah lapang yang dikelilingi pohon-pohon tinggi.
Pemandangannya menakjubkan.
Di kejauhan tampak deretan bukit yang memanjang hingga ke cakrawala.
Langit mulai berubah warna menjadi jingga keemasan.
"Ini luar biasa," kata Arga pelan.
Dimas mengangguk.
"Besok dari puncak lebih bagus lagi."
Mereka segera mendirikan tenda.
Setelah makan malam, sebagian anggota berkumpul mengelilingi kompor lapangan.
Obrolan mengalir ringan.
Tentang pengalaman mendaki.
Tentang sekolah dan kuliah.
Tentang mimpi-mimpi masa depan.
Arga ikut tertawa bersama mereka.
Malam itu terasa sempurna.
Udara dingin.
Langit penuh bintang.
Dan perasaan damai yang sulit dijelaskan.
Namun tanpa ia sadari, perjalanan ini akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pendakian biasa.
Sesuatu yang akan mengubah hidupnya.
Sesuatu yang akan membawanya ke sebuah kampung terpencil yang tidak tercantum di peta wisata mana pun.
Sebuah kampung yang menyimpan rahasia selama bertahun-tahun.
Rahasia yang tersembunyi di balik hamparan perkebunan kopi.
Rahasia yang perlahan membusuk di sebuah rawa kecil di belakang rumah yang telah lama ditinggalkan salah satu warganya.
Dan semuanya bermula dari gunung ini.
Dari langkah-langkah sederhana seorang remaja kota yang hanya ingin mencari ketenangan di alam.
Arga memandang langit malam untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke dalam tenda.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa beberapa hari kemudian dirinya akan berharap bisa kembali ke malam yang tenang itu.
Malam sebelum kabut datang.
Malam sebelum ia tersesat.
Malam sebelum takdir membawanya menuju sebuah kebenaran yang selama bertahun-tahun terkubur dalam lumpur hitam dan kesunyian.