Demi rasa iba, Arhan menikahi Dira, seorang gadis yatim piatu yang baru kehilangan kedua orang tuanya. Dira mengira pernikahan itu adalah awal dari kehidupan yang penuh kasih sayang. Nyatanya, ia hanya dijadikan istri untuk mengurus rumah, melayani suami, dan merawat ibu mertuanya.
Lima tahun berlalu tanpa kehadiran buah hati. Dira terus menyalahkan dirinya karena dianggap mandul. Ia tak pernah tahu bahwa setiap hari Arhan memberinya pil KB yang dikemas sebagai obat penyubur agar ia tak pernah mengandung.
Ketika alasan "mandul" itu digunakan Arhan untuk menikahi wanita yang sejak dulu dicintainya, hati Dira hancur. Lebih menyakitkan lagi, ia tak sengaja mendengar percakapan yang mengungkap bahwa selama ini dirinya hanyalah seorang babu yang sengaja dipertahankan sampai wanita pujaan Arhan kembali.
Namun, semua kebohongan memiliki waktunya untuk terbongkar. Saat rahasia pil KB akhirnya terungkap, penyesalan mulai menghantui Arhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Hebat
Ayu sontak terdiam. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang, berganti dengan tatapan tak percaya.
"Mas bentak aku?" suaranya bergetar, antara kaget dan tersinggung.
Arhan mengembuskan napas kasar sambil melempar tas kerjanya ke atas sofa.
"Aku capek, Yu. Jangan mulai minta yang aneh-aneh."
"Yang aneh-aneh? Aku cuma minta sepatu. Selama ini juga kalau aku minta, Mas selalu beliin."
"Itu dulu!"
Jawaban Arhan terdengar begitu keras hingga membuat Ayu refleks mundur selangkah.
"Apa maksud Mas, 'itu dulu'?"
Arhan menutup wajahnya sejenak dengan kedua telapak tangan. Dadanya masih dipenuhi amarah sejak rapat siang tadi.
"Aku sudah bukan direktur lagi."
Kalimat itu membuat Ayu membeku.
"Apa?"
"Aku diturunkan jabatan. Mulai bulan depan aku cuma staf administrasi."
Mata Ayu membelalak.
"Mas bercanda, kan?"
"Apa aku kelihatan sedang bercanda?"
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Wajah Ayu perlahan berubah pucat.
"Kalau Mas jadi staf... berarti gaji Mas juga..."
"Turun." jawab Arhan singkat.
"Berapa?"
Arhan mengepalkan rahangnya.
"Enam juta."
Deg.
Ponsel di tangan Ayu nyaris terlepas.
"Enam juta?"
Suaranya meninggi tanpa bisa ia kendalikan.
"Itu bahkan nggak cukup buat bayar cicilan tas, sepatu, sama kartu kredit aku!"
Arhan menatap Ayu dengan sorot mata dingin.
"Yang ada di pikiranmu cuma barang mewah?"
"Lah terus aku harus mikirin apa? Selama ini Mas yang ngajarin aku hidup begini!"
"Jangan salahkan aku!"
"Bukannya memang salah Mas?"
Ayu mulai kehilangan kesabarannya.
"Dulu Mas bilang aku bakal hidup enak kalau nikah sama Mas. Semua keinginanku dituruti. Sekarang tiba-tiba Mas bilang harus hemat?"
Arhan tertawa hambar.
"Hidup enak? Aku bahkan kehilangan jabatan karena kebodohan kita sendiri!"
Ayu terdiam.
"Kita?"
"Iya, kita!"
Suara Arhan kembali meninggi.
"Kalau saja waktu itu kita nggak melakukan hal memalukan di ruang eksklusif perusahaan, aku nggak akan dipermalukan di depan seluruh direksi!"
Mata Ayu membulat.
"Mas nyalahin aku?"
"Memangnya salah siapa?"
"Mas juga mau waktu itu!"
"Iya! Tapi kamu yang terus maksa!"
"Mas jangan lempar kesalahan!"
Pertengkaran mereka semakin memanas.
Ayu mengambil bantal sofa lalu melemparkannya ke arah Arhan.
"Kalau Mas memang sehebat itu, kenapa bisa diturunkan jabatan?"
Brak!
Arhan memukul meja hingga vas bunga di atasnya bergetar.
"Cukup!"
Napasnya memburu.
"Mulai hari ini tidak ada lagi belanja barang mewah."
"Tidak ada lagi kartu kredit tambahan."
"Tidak ada lagi mobil baru."
"Dan kalau perlu..."
Tatapan Arhan menusuk tepat ke mata Ayu.
"...jual semua barang bermerek yang selama ini kubelikan."
"Mas!"
Air mata Ayu langsung mengalir deras.
"Itu semua barang kesayanganku!"
"Kalau mau tetap hidup mewah, silakan cari uangmu sendiri."
Ucapan itu bagai tamparan keras bagi Ayu.
Wanita itu menangis sambil memandang Arhan penuh kebencian.
Dalam hati, untuk pertama kalinya ia mulai menyesali kehidupannya.
Sementara Arhan hanya berdiri mematung.
"AKU GAK MAU HIDUP MISKIN MAS!" jeritan Ayu mulai memekakkan telinga.
"Jika akut tidak sedang mengandung anakmu, mungkin aku sudah pergi meninggalkan pria yang sudah jatuh miskin sepertimu." amarah ayu semakin meletup-letup. Membuat Arhan semakin mengepalkan tangannya. Ia baru menyadari jika tatapan cinta yang selalu Ayu tunjukkan padanya adalah sebuah kebohongan besar. Ayu yang hanya ingin menumpang hidup dengan nyaman padanya, menikmati harta hasil kerja kerasnya tanpa mempedulikan seperti apa perjuangan Arhan untuk memperoleh jabatan tinggi itu.
Harusnya Arhan menyadarinya sejak awal, Ayu hanyalah wanita matre yang ingin menguras hartanya saja.
Arhan mendengus kesal, ia membalik tubuh dan melangkahkan kaki pada pada undakan anak tangga meninggalkan Ayu yang sudah meraung-meraung sambil mengucapkan umpatan yang sangat menghujam dada Arhan, bukan kamar Ayu yang ia tuju melainkan sebuah kamar kosong yang pemiliknya sudah pergi jauh. Kamar Dira, Arhan perlu menenangkan diri disana.
Arhan mulai membuka pintu, pandangannya langsung tertuju pada sebuah ranjang yang begitu rapi, sebuah foto pernikahan yang masih terpanjang rapi di dinding, menampilkan wajah Dira yang sangat anggun dengan balutan kebaya putih dengan sanggulan rambut yang menambah kesan cantik pada wajahnya.
Arhan melangkah pelan, sebelumnya ia sudah mengunci pintu itu rapat. Arhan. Berdiri tegak, matanya masih belum puas untuk memandangi foto pernikahannya bersama Dira, hatinya berdesir nyeri yang teramat dalam.
Sebuah kebodohan Arhan yang telah termakan rayuan perempuan materialistis yang terus mengejarnya, kini Arhan menyesalinya. Ia sadar bahwa Dira merupakan istri terbaiknya, Dira yang selalu memberinya semangat tanpa pamrih.
"Ra....kembalilah...." lirih Arhan memanggil satu nama perempuan yang ia telah hujami dengan luka yang begitu pedih.
"Kita mulai lagi dari awal, mas rindu akan kehidupan pernikahan kita yang terasa hangat. Mas rindukan Dira dan ibu." Arhan dengan pipi yang sudah dibanjiri oleh air mata.
"Ra, mas sangat terlambat menyadarinya. Jika rasa sayang mas untukmu itu sudah tumbuh, tapi waktu itu mas terlalu bodoh untuk menyadarinya."
"Setelah kamu tiada, hidup mas terasa hampa Ra, sepi dan tidak ada kehangatan didalamnya."
Sementara itu, wanita yang sedang Arhan ratapi karena penyesalannya itu kini sedang tersenyum bahagia, menikmati angin malam yang menyapu lembut wajahnya. Dress berwarna soft yellow membungkus indah tubuhnya. Bu Mira berhasil membuat wanita itu berdandan cantik malam ini.
Keadaan balkon rumah itu kini sudah indah, dihaisi oleh lampu-lampu gantung, berbagai bunga warna-warni dan terdapat meja bundar yang sudah dihiasi oleh makanan lezat yang tersusun rapi diatasnya.
Dira tersenyum ia menyandarkan tubuhnya pada sebuah pagar kokoh, binar matanya tertuju pada kerlap-kerlip lampu jalanan kota, yang terlihat sangat indah diatas balkon.
"Ini sebenarnya ada acara apa tante?" Dira masih bingung, mengapa tiba-tiba Bu Mira mengajaknya untuk naik keatas balkon yang sudah disulap dengan hiasan yang sangat indah.
Mira yang berdiri disamping Dira itu tersenyum hangat, "Ini acara kamu sayang.."
"Acara aku?, Dira sedang tidak berulang tahun tante...." Dira diakhiri dengan sebuah kekehan lembut di ujungnya.
"Memang bukan sayang, tapi malam ini akan ada satu pria yang akan mengutarakan sebuah perasaanya padamu..."
Deg.
Hentakan jantung didalam rongga dada Dira kembali berdetak, jemarinya meras ujung dress dengan tekstur kain yang sangat lembut.
"Coba sekarang kamu balik ke belakang Ra!"
Dengan gerakan perlahan, disertai dengan getaran tubuh yang makin terasa Dira membalikan tubuhnya.
Diujung sana Arya berdiri tegap, dengan stelan kemeja hitam yang membungkus tubuh tinggi tegapnya, senyuman hangat Arya layangkan pada wanita yang sedang menatapnya.
"Mas Arya....."
Bersambung