Cinta pertama seharusnya indah.
Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.
Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.
Tapi di balik senyum mereka... ada darah.
15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.
Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.
Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.
Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.
Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."
Salah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
BAB 31
TAMAN ANGSANA
Jam dinding menunjukkan pukul 21.37.
Rumah sudah sunyi. Hanya suara kipas angin dan sesekali bunyi jangkrik dari halaman belakang.
Ahber masih duduk di depan laptop. Tatapannya tidak lepas dari email misterius yang baru saja ia baca beberapa jam lalu.
> Kalau mau ketemu aku, datang sendiri ke Taman Angsana. Besok jam 10 malam. Jangan bawa siapa-siapa.
Kalimat itu pendek.
Tapi cukup membuat pikirannya kacau.
Selama lima belas tahun, ia mencari jawaban.
Sekarang, ketika jawaban itu seolah datang sendiri, justru muncul rasa takut.
Bagaimana kalau itu bukan Arka?
Bagaimana kalau itu jebakan?
Atau...
Bagaimana kalau Arka memang sudah berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda?
Ahber menutup laptop perlahan.
Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Papa..."
Suara kecil membuatnya menoleh.
Layla berdiri di depan pintu kamar sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya.
Rambutnya masih berantakan.
"Belum tidur, Sayang?"
Layla menggeleng pelan.
"Aku mimpi buruk."
Ahber segera menghampiri lalu menggendong putrinya.
"Mimpi apa?"
Layla menyandarkan kepala di bahu Ahber.
"Ada orang jahat bawa Papa pergi."
Kalimat sederhana itu membuat dada Ahber terasa sesak.
Ia mengusap rambut Layla perlahan.
"Itu cuma mimpi."
"Tapi rasanya nyata."
Ahber tersenyum tipis.
"Papa janji akan pulang."
Layla menatap mata ayahnya beberapa detik.
"Janji?"
"Janji."
Barulah gadis kecil itu mengangguk.
---
Keesokan harinya...
Eskay datang sejak pagi membawa beberapa kotak sarapan.
"Aku beli bubur ayam sama roti."
Layla langsung berlari menghampiri.
"Asyik!"
Melihat Layla tertawa, wajah Eskay sedikit lebih tenang.
Namun berbeda dengan Ahber.
Sejak bangun tidur, pria itu hampir tidak mengucapkan sepuluh kalimat.
Pikirannya masih dipenuhi email semalam.
Eskay duduk di hadapannya.
"Kamu tetap mau datang?"
Ahber mengangguk.
"Iya."
"Aku ikut."
"Nggak bisa."
"Kenapa?"
"Dia minta aku datang sendiri."
Eskay menghela napas panjang.
"Kamu percaya begitu saja?"
"Bukan percaya."
"Lalu?"
"Aku cuma nggak mau kehilangan kesempatan."
Eskay terdiam.
Ia tahu keras kepala Ahber tidak akan mudah berubah.
Kalau sudah memutuskan sesuatu, hampir mustahil dibujuk.
"Aku tetap nggak tenang."
"Aku akan hati-hati."
"Kalau ternyata itu jebakan?"
Ahber tersenyum kecil.
"Setidaknya aku akhirnya tahu siapa yang mengirim semua ini."
Eskay tidak menjawab lagi.
---
Hari berlalu sangat lambat.
Setiap kali melihat jam, rasanya jarum menit hampir tidak bergerak.
Pukul 20.30.
Layla sudah selesai makan malam.
Ia duduk di ruang tamu menggambar memakai gelang persahabatan biru yang kemarin ditemukan di rumah kayu.
"Papa."
"Hm?"
"Lihat."
Layla menunjukkan gambarnya.
Empat orang bergandengan tangan.
Di atasnya ada tulisan besar.
SAHABAT SELAMANYA
Ahber memandangi gambar itu cukup lama.
Tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca.
"Bagus sekali."
Layla tersenyum bangga.
"Ini Papa, Bunda Eskay, Om Andkay, sama Om Arka."
Ahber mengusap kepala putrinya.
"Iya."
"Kalau nanti Om Arka ketemu, suruh main ke rumah ya."
Ahber mengangguk pelan.
"Kalau memang dia mau."
---
Pukul 21.45.
Ahber mengenakan jaket hitam.
Ia mematikan lampu ruang tamu.
Sebelum keluar, ia masuk ke kamar Layla.
Putrinya sudah tertidur lelap sambil memeluk boneka.
Ahber membetulkan selimutnya.
"Papa sebentar saja."
Ia mengecup kening Layla.
Lalu keluar perlahan.
Di depan rumah ternyata Eskay sudah menunggu.
"Kamu benar-benar pergi."
"Iya."
Eskay mengeluarkan sebuah ponsel kecil.
"Ini."
"Apa?"
"Ponsel cadangan."
Ahber menerimanya.
"Kalau terjadi sesuatu, langsung hubungi aku."
Ahber tersenyum.
"Terima kasih."
Eskay masih tampak gelisah.
"Ber..."
"Hm?"
"Kalau firasatmu nggak enak... pulang."
Ahber tidak menjawab.
Ia hanya mengangguk pelan sebelum masuk ke mobil.
---
Taman Angsana...
Pukul 22.00 tepat.
Tempat itu jauh lebih sepi dibanding yang Ahber ingat.
Lampu taman hanya beberapa yang masih menyala.
Daun-daun berguguran tertiup angin malam.
Ayunan tua bergerak sendiri karena hembusan angin.
Suasananya membuat bulu kuduk merinding.
Ahber berjalan perlahan menuju pohon angsana paling besar.
Di sanalah dulu mereka sering berkumpul.
Empat remaja yang percaya persahabatan mereka tidak akan pernah berakhir.
Kini...
Ia berdiri sendirian.
"Arka."
Suara Ahber terdengar pelan.
"Aku datang."
Tidak ada jawaban.
Hanya suara dedaunan bergesekan.
Beberapa detik berlalu.
Lalu terdengar langkah kaki.
Tok...
Tok...
Tok...
Ahber langsung menoleh.
Dari balik pepohonan muncul seorang pria bertubuh tinggi memakai hoodie hitam.
Wajahnya tertutup topi.
Ia berhenti sekitar lima meter dari Ahber.
Keduanya saling menatap tanpa bicara.
Jantung Ahber berdetak semakin cepat.
"Arka?"
Pria itu tidak menjawab.
Namun bahunya tampak bergetar.
"Kalau benar kamu..."
Ahber melangkah satu langkah.
"...kenapa baru muncul sekarang?"
Pria itu akhirnya membuka mulut.
"Maaf."
Hanya satu kata.
Tetapi suara itu...
Ahber mengenalinya.
Tidak mungkin salah.
"Itu benar kamu..."
Pria itu menundukkan kepala.
"Aku nggak pernah berani menemui kalian."
"Kenapa?"
"Aku malu."
Ahber mengepalkan tangan.
"Lima belas tahun, Ka."
"Aku tahu."
"Kamu tahu seberapa hancurnya hidup kami?"
Pria itu tidak sanggup mengangkat wajahnya.
"Aku tahu."
"Aku kehilangan sahabat."
"Aku tahu."
"Aku hidup dengan rasa bersalah selama lima belas tahun!"
Suara Ahber mulai meninggi.
Pria itu akhirnya menangis.
"Maaf..."
Ahber memejamkan mata.
Ia ingin marah.
Ingin memukul orang di depannya.
Namun begitu melihat tubuh Arka yang tampak jauh lebih kurus dan lelah...
Kemarahannya perlahan berubah menjadi rasa kecewa.
"Aku cuma mau satu jawaban."
Arka mengangkat wajahnya.
"Apa?"
"Kenapa kamu menghilang?"
Arka menarik napas panjang.
"Aku..."
Belum sempat kalimatnya selesai...
Dor!
Suara tembakan memecah keheningan malam.
Burung-burung beterbangan dari atas pohon.
Ahber dan Arka sama-sama menoleh.
Dari pintu masuk taman...
Empat mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi.
Rem mereka berdecit keras.
Pintu mobil terbuka hampir bersamaan.
Belasan pria berbaju hitam turun sambil membawa senjata.
Wajah mereka dipenuhi bekas luka.
Salah satu pria berteriak lantang.
"Dia ada di sini!"
"Jangan sampai orang keempat lolos!"
Arka langsung membelalakkan mata.
"Wah... mereka menemukan kita."
Ahber menatapnya bingung.
"Mereka siapa?"
Arka menggigit bibirnya.
"Aku nggak punya waktu menjelaskan."
"Arka!"
"Dengar aku."
Arka menatap Ahber dengan wajah penuh penyesalan.
"Kalau kamu masih menganggapku sahabat..."
"Tolong..."
"Jangan ikuti aku."
Tanpa menunggu jawaban...
Arka berbalik.
Lalu berlari memasuki gelapnya hutan kecil di belakang taman.
"Arka!"
Ahber ikut berlari mengejarnya.
Sementara dari belakang...
Belasan pria bersenjata juga mengejar mereka.
Malam yang seharusnya menjadi malam penuh jawaban...
Kini berubah menjadi awal dari sebuah perburuan yang jauh lebih berbahaya.
Jangan lupa komen dan like dong, thak you
BERSAMBUNG...
like + bunga biar semangat deh/Smile/