NovelToon NovelToon
Nona Kota Di Posko Kkn

Nona Kota Di Posko Kkn

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”

Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8.

Suasana ruang tamu itu mendadak ramai, kontras dengan karpet tua yang serat-seratnya sudah kasar di kaki.

Arga Pratama duduk bersandar di dinding, menatap teman-temannya dengan sorot mata tajam tanpa ekspresi. Dia sedari tadi hanya diam, membiarkan kebisingan di sekitarnya mengalir begitu saja.

Meski pembawaannya sangat cuek, dingin, dan irit bicara, tak ada yang membantah saat namanya diusulkan menjadi ketua. Mungkin karena aura wibawanya yang intimidatif.

Arga berdeham sekali, membuat ruangan yang tadinya ribut mendadak hening. Dia menunjuk buku catatan di tangan Laura.

"Laura. Sekretaris," ucapnya singkat, datar, tanpa basa-basi.

Laura, cuma mengangguk kecil. Sepertinya ia sudah mulai terbiasa dengan gaya Bicara yang selalu singkat dan datar begitu.

"Oke, Ar. Gue catat."

Lalu Arga mengalihkan pandangannya ke arah Amel yang duduk di dekat pintu.

"Nadia, Bendahara. Pastikan nggak ada dana yang meleset," perintahnya pendek.

"Siap, Bos," jawab Amel santai, sudah hafal betul dengan karakter Arga yang memang tidak suka bertele-tele.

Tiba-tiba, Arga melirik Alya Mahendra yang sedang asik mengobrol dengan Siska.

"Alya," panggilnya.

Alya langsung menoleh begitu mendengar namanya tiba-tiba dipanggIl oleh arga, ekspresinya berubah bingung karena tidak menyangka namanya akan ikut disebut.

"kamu yang jadi humas karna kamu yang paling cerewet. Manfaatin itu buat cari relasi."

Sontak, Kevin dan Dimas langsung tertawa Lebar mendengar ucapan itu.

"Tuh kan, Al! Arga aja ngakuin lo cerewet!" seru Kevin sambil menepuk lantai karpet.

Mendengar itu, Alya langsung memasang wajah cemberut. Pipi gadis itu memerah, jelas menahan rasa kesal.

"Gue nggak cerewet, ya! Gue cuma ekspresif!" protesnya, yang justru memancing gelak tawa orang-orang di ruangan itu.

Rizki hanya bisa ikut tertawa sambil menggelengkan kepala, merasa lucu dengan ekspresi Alya.

"Udah, Al, terima aja. Emang bener kok."

Tiara Calista yang duduk di pojok ruangan akhirnya angkat suara, mencoba mencairkan kekakuan yang diciptakan Arga.

"Terus, Ar, kita yang lain gimana? Masa cuma nonton?"

Adrian dan Reza saling lirik, lalu menatap Arga menunggu instruksi.

Arga hanya mengedikkan bahu pelan, matanya menyapu wajah teman-temannya satu per satu.

"Siska, Tiara, Rizki, Adrian. Tim lapangan. Kevin, Dimas, Dion, Andre dan Reza. Tim teknis dan survei. Kerjakan bagian masing-masing. Jangan nunggu disuruh."

Setelah mengatakan itu, Arga kembali terdiam, matanya menatap lurus ke depan, seolah-olah rapat sudah selesai baginya.

Dion menghela napas, tersenyum geli melihat gaya ketuanya.

"Singkat, padat, jelas banget ya kalau Arga yang ngomong."

"Iya, dingin banget kayak es kutub," tambah Andre sambil terkekeh.

Arga hanya merespons dengan lirikan tipis, nyaris tidak terlihat. Baginya, tugas sudah terbagi, dan sekarang saatnya mereka membuktikan diri tanpa perlu banyak drama.

“Eh, gue tadi sempat ke dapur,” Siska akhirnya buka suara.

“Dan jujur… itu mengenaskan. Nggak ada kompor, cuma ada tungku.”

"Kita beneran bakal masak pakai tungku? Gue seumur hidup belum pernah nyalain api lewat kayu bakar!" Ucap Tiara.

"Tadi gue juga cek kamar mandi, nggak ada mesin pompa. Harus nimba di sumur belakang pakai timba manual." ucap Adrian.

Dengan napas panjang, Tiara menunduk pelan, matanya jatuh Pada tangannya sendiri.

"Nimba sih oke lah ya, latihan otot. Tapi masak pakai tungku? Bisa-bisa baju kita bau asap semua, belum lagi ribetnya."

Rizki dan Dimas saling pandang, tampak mulai berpikir keras soal logistik. Suasana yang tadinya cair kini diselimuti sedikit kecemasan.

Alya mendadak bangkit, wajahnya tegas dan mantap. Ia kemudian melangkah cepat menuju kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Al? Lo mau ke mana?" tanya Laura bingung.

Namun Alya tidak merespons. Hanya dalam hitungan detik, ia sudah kembali ke ruang tamu.

Napasnya sedikit terengah, tapi dia membawa sebuah benda besar yang terbungkus kardus.

Dengan bunyi brak yang cukup keras, dia meletakkan kardus itu tepat di tengah lingkaran mereka.

Perhatian semua orang tertuju pada benda tersebut. Dengan gerakan cepat, Alya meMbuka bungkusnya.

"Tadaa!"

Sebuah kompor gas portabel yang masih kinclong terhampar di atas karpet tua itu.

"Ini kompor gas portabel," ucap Alya penuh percaya diri.

"Gasnya nggak ada, tapi nanti kita beli di warung depan. Tadinya mau gue bawa sekalian gasnya, tapi beneran bingung cara bawanya gimana."

Ruangan itu mendadak sunyi. Semuanya tercengang, menatap Alya seolah dia baru saja melakukan sulap.

“Anjir, isi koper lo itu sebenarnya apa, Al?” Reza yang biasanya pendiam justru kali ini tampak antusias.

Dengan langkah pelan, ia mendekat dan menatap kompor itu tak percaya.

Kevin kemudian menimpali sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Buset, serasa pakai kantong Doraemon aja lo, Al. Serba ada!"

Alya cuma nyengir, bangga dengan respons teman-temannya.

"Namanya juga sedia payung sebelum hujan, ya kan?"

Adrian tak kuasa menahan tawa, lalu menepuk lantai sambil tertawa lepas.

"Gila, ini sih bakal jadi barang paling berharga selama kita di sini. Mantap, Al!"

Arga, yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, akhirnya menarik sudut bibirnya sedikit ke atas sebuah senyum yang sangat tipis dan hampir tak terlihat.

Dia menatap kompor itu, lalu menatap Alya.

"Kerja bagus, Humas," gumamnya singkat.

Alya yang dipuji langsung membusungkan dada, melupakan kekesalannya soal pembagian tugas tadi.

Kini, masalah dapur setidaknya sudah teratasi, dan semangat mereka untuk memulai kegiatan di tempat itu mulai bangkit lagi.

Peran Alya sebagai orang yang "serba ada" benar-benar menyelamatkan situasi nih.

Arga bangkit dari duduknya perlahan, lalu menatap satu per satu anggota kelompok yang masih berkumpul di ruang tamu. Suasana langsung mereda, obrolan kecil pun berhenti seketika.

“Rapat hari ini cukup sampai di sini dulu,” ucap Arga akhirnya, suaranya tenang namun tegas.

“Sisanya kita lanjut nanti atau besok, lihat situasi.”

Tanpa banyak reaksi, satu per satu mulai bergerak dari duduk mereka di lantai. Ada yang menepuk-nepuk lutut karena pegal, ada yang merapikan barang bawaan kecil di sampingnya. Suasana yang tadi penuh diskusi pelan-pelan berubah jadi kesibukan masing-masing.

Sebagian dari mereka bergegas menuju kamar mandi di bagian belakang, sementara sisanya sibuk di dapur.

Suasana di dapur mendadak riuh dengan suara denting alat masak dan tawa renyah yang berusaha menutupi rasa canggung menghadapi kondisi rumah yang sangat sederhana.

Beruntung, mereka semua cukup sigap; sebagian membawa beras dari rumah masing-masing, sehingga urusan karbohidrat utama sudah aman.

Namun, tantangan sesungguhnya adalah lauk pauk. Saat mereka bingung melihat rak dapur yang kosong melompong, Alya kembali menjadi pahlawan.

Dengan sigap, ia mengeluarkan tumpukan mie instan dalam jumlah banyak dari tasnya yang seolah tidak memiliki dasar itu.

"Tenang, ini cukup buat semuanya," ujar Alya sambil membagikan bungkusan mie dengan antusias.

Namun, saat Alya melangkah ke kamar mandi, ia tertegun. Bak penampungan air benar-benar kering. Ia pun beralih ke sumur belakang, namun ia terdiam di bibir sumur, bingung bagaimana cara kerjanya.

Apakah langsung dilempar saja? Saat Alya sedang mematung penuh kebingungan, Arga dan Adrian mendekat.

"Nona kota kita kayaknya lagi kebingungan, ya?" goda Adrian.

Alya seketika merasa malu luar biasa, Wajahnya langsung panas dan ia refleks menunduk, tidak tahu harus bersikap bagaimana.

Arga tanpa bicara langsung mengambil timba dari tangan Alya. Dengan gerakan terampil, ia menurunkannya ke dalam sumuR lalu menariknya kembali sampai penuh.

"Bisa bawa sendiri?" tanya Arga datar.

Alya mencoba mengambil alih, namun saat tangannya menyentuh gagang ember, ia tersentak berat sekali.

Ia berusaha melangkah dengan kaku sementara Adrian hampir meledak karena menahan tawa melihat Alya yang tampak hampir oleng meski embernya kecil.

Arga, yang memperhatikan kegigihan Alya, langsung merebut kembali ember itu lalu berjalan santai menuju kamar mandi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Arga terus melakukan hal itu berkali-kali hingga bak penampungan penuh.

"Makasih ya, Arga," ucap Alya pelan dengan wajah tertunduk karena malu.

Arga hanya menjawab, "Hmm," dengan suara beratnya, lalu berbalik pergi meninggalkan Alya yang masih terpaku.

Adrian tiba-tiba batuk kecil, memecah keheningan. Suara kecil itu langsung bikin Alya salah tingkah, sementara Arga tetap santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Arga justru menoleh pelan ke arah Adrian, menatapnya dengan tatapan tajam yang dingin. Tidak perlu kata-kata, cukup satu sorot mata saja sudah membuat suasana berubah.

Adrian yang ditatap seperti itu hanya bisa nyengir canggung, cengengesan sambil menggaruk belakang kepala, berusaha menutupi rasa kikuknya sendiri.

1
Revalina
akhirnya yang di tunggu" up jugaa🤩
Aylnn_: kemarin² sudah up tapi di review mulu..
total 1 replies
Revalina
gak expek alya bakal ngomong itu🤣🤣🤣 lanjutkan Alya lanjutkan 🤣🤣
Revalina
apasihhh liaaa gak suka dehhh, ketauan banget hidupnya gak pernah bahagia karna terlalu iri sama kehidupan orang lain😏😏😏 lanjut thorrr
Revalina
seseru itu yaa ternyata KKN tapi tambah in konfliknya donggg kaya monoton kalo gitu" aja🤭🤭
Aylnn_: baikk kak..
total 1 replies
Revalina
seseru itu yaa ternyata KKN tapi tambah in konfliknya donggg kaya monoton kalo gitu" aja🤭🤭
Revalina
nahh kan tau rasa tuhh di Lia sama Laura emang gampang jadi komentator yang bisa menghidupkan suasana? susah taukk sukurin dehhh 🤣🤣🤣 lanjut thorrr
Revalina
kamu extrovert banget alyaa, energinya gak habis" kalo aku mungkin suaranya udah habis🤭🤭🤭 lanjut thorr
Revalina
makanya Arga cepet Ngomong dong kalo suka, tembak nanti ke duluan adeknya pak kades lohhh🤭🤭 lanjut thorr
Aylnn_: Siap kak..
total 1 replies
Revalina
wihhh seru bangettt yaa Alya🤣🤣🤣
Revalina
plisss gak sukaaa liaaa, Alya terlalu befikir positif terhadap semua orang. menganggap semua orang itu baikkk 🥲🥲
Revalina
semoga besok gak ada Drama dari penggemar arga🤭🤭 lanjut thorr 🤣🤣
Aylnn_: Besok akan lebih seru lagi kak☺
total 1 replies
Revalina
suka dehh sama Alya, walaupun dari orang ber ada tapi gak lebah kayak jijik sama anak kampung gitu. mau berbaur🫰🫰
Revalina
nahhh tau rasaaaa kannnnn, sok iyeee bngt ihhhh gakk Sukaaa. 😏😏
Aylnn_: nanti malam up lagi kok kak☺
total 2 replies
Revalina
kayanya ada bau" orang ketiga lagi di antara Arga dan Alya nihhh😏😏
Revalina
menurut ku alur ceritanya menarik mudah di mengerti, dan tidak terburu-buru, sukaa🤩🤩
Aylnn_: Makasih kak, syukur lah kalo suka🥰
total 1 replies
Revalina
cerita seru bangettt sukaa 🤩🤩 semangat yaa thorr
Aylnn_: iyaa kak☺
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirr👍🤣
Aylnn_: Terimakasih Sudah mampir kak☺
total 1 replies
Aylnn_
...
Ny.
Bagus Sekali..
Ny.
bagus kak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!