Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?
Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.
Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunas Baru di Pelataran Dinoyo
Tujuh bulan berlalu dengan cepat, mengiringi setiap perubahan fisik dan batin yang dialami oleh Zaza. Perutnya yang kini telah membesar sempurna menandakan bahwa waktu penantian itu sudah berada di penghujung jalan. Memasuki usia kehamilan trimester ketiga, Rayyan menjadi jauh lebih protektif. Ia bahkan sengaja mengurangi jam lemburnya di Dafril Group dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Dinoyo, memastikan bahwa sang istri tidak kekurangan perhatian sedikit pun.
Sore itu, hawa dingin Kota Malang sedikit diredam oleh hangatnya mentari senja yang menyelinap masuk lewat jendela kaca yang terbuka. Di teras rumah, aroma tanah basah sisa hujan siang tadi berpadu dengan wanginya bunga-bunga segar dari RayyZa Florest yang baru saja ditata rapi. Zaza duduk di kursi rotan bertumpu bantalan empuk, jemarinya perlahan bergerak merajut sepasang kaos kaki bayi mungil berwarna hijau sage.
Langkah kaki yang tergesa namun ritmis terdengar dari arah ruang tengah. Rayyan keluar membawa secangkir susu khusus ibu hamil yang masih mengepulkan uap hangat, lengkap dengan sepiring kecil buah potong segar.
"Diminum dulu susunya, Sayang. Buahnya juga dihabiskan ya," ucap Rayyan lembut sembari menaruh cangkir itu di atas meja kayu kecil di samping Zaza. Ia kemudian mengambil posisi duduk di hamparan karpet kecil di bawah, tepat di dekat kaki istrinya.
Zaza menurunkan rajutannya, menatap suaminya dengan binar mata penuh kehangatan. "Terima kasih, Mas. Kamu ini repot sekali, padahal aku baru saja mau berdiri mengambil air."
"Gak boleh," potong Rayyan cepat dengan nada bercanda namun sarat akan ketegasan yang manja. Ia meraih telapak tangan Zaza, lalu menempelkannya ke pipinya sendiri sebelum akhirnya beralih mengusap lembut perut buncit istrinya. "Dokter kan bilang minggu-minggu ini kamu harus lebih banyak istirahat, jangan terlalu banyak angkat-angkat vas bunga lagi. Biar urusan toko bunga urusanku dan pegawai baru kita."
Tepat saat telapak tangan Rayyan mengusap permukaan perut Zaza, sebuah gerakan kecil namun kuat terasa dari dalam. Janin di dalam rahim Zaza seolah memberikan respons hangat atas kehadiran sang ayah.
Rayyan terkesiap, matanya berbinar takjub. "Za! Dia bergerak lagi. Masyaallah, tendangannya kuat sekali kali ini."
Zaza terkekeh pelan, mengusap puncak kepala Rayyan yang berambut legam. "Dia tahu kalau ayahnya sedang manja, Mas. Setiap kali mendengar suaramu pulang kerja, dia pasti langsung aktif seperti ini."
Rayyan mendekatkan wajahnya ke perut Zaza, berbisik dengan nada suara yang teramat tulus. "Sehat-sehet di dalam sana ya, Nak. Ayah sama Bunda sudah gak sabar mau melihat wajahmu. Mau menggendongmu, mengajakmu sujud bersama di ruangan ini."
Mendengar bisikan itu, air mata haru perlahan menggenang di sudut mata Zaza. Pikiran gadis itu mendadak terbang mundur ke beberapa tahun lalu. Ke masa-masa di mana mereka berdua harus menahan rindu teramat dalam di koridor kampus, melewati malam-malam sepi dengan membatasi rasa karena takut melanggar syariat, hingga hantaman fitnah keji dari masa lalu yang hampir saja meruntuhkan pondasi rumah tangga mereka.
"Mas..." panggil Zaza lirih.
Rayyan mendongak, mendapati tatapan istrinya yang begitu dalam. "Iya, Sayang? Ada yang sakit perutnya?"
Zaza menggeleng perlahan, menyunggingkan senyum terbaiknya. "Tidak, Mas. Aku hanya sedang berpikir... betapa indahnya skenario yang Allah gariskan untuk kita. Dulu, kita mengira menahan gejolak hati itu adalah hal yang paling menyiksa. Tapi ternyata, dari sanalah Allah membentuk kita menjadi tanah yang siap ditanami tunas baru ini. Jika dulu kita tidak sabar, mungkin kita tidak akan sekuat ini menghadapi badai yang kemarin."
Rayyan terdiam sejenak, meresapi setiap untaian kalimat yang keluar dari bibir sang Penyulam Aksara. Ia menggenggam erat kedua tangan Zaza, lalu menciumnya dengan takzim.
"Kamu benar, Za. Menjaga batasan di masa lalu ternyata adalah cara langit menyaring ketulusan kita," sahut Rayyan, suaranya terdengar begitu berwibawa sebagai calon ayah. "Dan tunas baru yang sedang tumbuh di rahimmu saat ini adalah hadiah atas setiap air mata yang kita tumpahkan di atas sajadah sepertiga malam. Aku berjanji, Za... kelak anak ini akan kita didik dengan prinsip yang sama. Prinsip bahwa mencintai sesuatu harus selalu meletakkan Allah di atas segalanya."
Matahari senja akhirnya tenggelam sepenuhnya di balik pegunungan Malang, meninggalkan semburat warna keunguan yang magis di langit Dinoyo. Azan magrib lamat-lamat mulai berkumandang dari masjid jami, memecah keheningan sore dengan syahdu.
Rayyan berdiri, membantu Zaza bangkit dari kursi rotannya dengan sangat hati-hati. "Ayo, Sayang. Waktunya kita menghadap Pemilik Semesta. Kita sambut malam ini dengan sujud syukur yang paling panjang."
Zaza mengangguk patuh, melangkah beriringan bersama suaminya masuk ke dalam rumah. Di bawah naungan rida dan keberkahan yang kini menetap kokoh, mereka siap menyongsong babak baru kehidupan—bukan lagi sekadar sebagai sepasang kekasih yang menjaga rasa, melainkan sebagai orang tua yang siap menenun masa depan bagi tunas baru yang suci.
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe