NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Supir

Pura-Pura Jadi Supir

Status: tamat
Genre:CEO / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas / Perjodohan / Tamat
Popularitas:3.7M
Nilai: 4.8
Nama Author: SunRise510k

Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Mobil sedan hitam itu berhenti tepat di depan lobi megah Mahardika Tower. Bianca keluar dengan gaya seorang diva, mengenakan kacamata hitam besar dan menenteng tas mewah yang harganya bisa membeli satu buah mobil kecil. Ia bahkan tidak mengucapkan terima kasih kepada Rio; ia hanya mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir lalat.

"Tunggu di sini jam lima sore. Jangan telat, atau aku lapor Ayah!" perintah Bianca sambil melenggang pergi tanpa menoleh.

Raditya, yang masih duduk di balik kemudi sebagai Rio, menatap punggung Bianca melalui kaca spion dengan tatapan dingin yang mematikan. Sebuah senyum tipis yang sarat akan makna terukir di bibirnya.

"Selamat datang di duniaku, Bianca," bisik Raditya pelan.

Begitu Bianca hilang di balik pintu kaca lobi, Raditya segera memacu mobilnya menuju pintu belakang khusus direksi. Di sana, Bram sudah menunggu dengan sebuah koper.

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit di dalam ruang ganti pribadi, "Rio si supir" telah lenyap. Yang tersisa adalah Raditya Mahardika, sang penguasa bisnis properti dan teknologi, yang kini mengenakan setelan jas charcoal grey yang dijahit khusus di London. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memancarkan aura otoritas yang tak terbantahkan.

Sementara itu, di lobi utama, Bianca berjalan menuju gerbang sensor VIP dengan kepala tegak. Ia sudah membayangkan para staf akan membungkuk hormat padanya. Namun, saat ia mencoba melangkah masuk, seorang petugas keamanan bertubuh tegap menghadangnya.

"Maaf, Nona. Kartu identitas Anda?" tanya petugas itu datar.

Bianca membuka kacamata hitamnya dengan gaya dramatis. "Saya Bianca Adytama. Saya magang di sini atas instruksi langsung dari pemilik perusahaan. Minggir, saya sudah terlambat."

Petugas itu memeriksa daftar di tabletnya. "Nama Anda terdaftar sebagai peserta magang divisi interior tingkat dasar. Silakan gunakan pintu masuk sisi selatan di area loading dock. Pintu ini hanya untuk eksekutif dan tamu VIP."

Wajah Bianca memerah seketika. "Apa?! Kamu suruh aku masuk lewat pintu belakang bersama kurir dan kuli angkut? Kamu tidak tahu siapa Ayahku?!"

"Aturan tetap aturan, Nona. Mahardika Group tidak mengenal pengecualian. Silakan lewat sana," tunjuk petugas itu tanpa ekspresi.

Dengan kaki yang menghentak-hentak karena kesal, Bianca terpaksa berjalan memutar menuju pintu belakang yang jauh dan berdebu. Impiannya untuk masuk lewat lobi megah hancur berantakan.

**

Lantai lima Mahardika Tower, tempat aula besar berada, kini dipenuhi oleh sekitar tiga puluh anak magang dari berbagai universitas ternama. Mereka semua tampak tegang, kecuali Bianca yang sibuk mengeluh tentang sepatunya yang sedikit kotor terkena debu di pintu masuk selatan tadi.

"Duh, kantormu ini kok standar keamanannya rendahan banget sih," bisik Bianca pada salah satu temannya, Siska. "Lihat saja nanti kalau aku sudah jadi istri Pak Raditya, petugas tadi orang pertama yang aku pecat."

Siska membelalakkan mata. "Kamu beneran calon istrinya, Bi?"

"Tentu saja. Ayahku dan Papi Raditya itu teman dekat. Ini cuma formalitas saja aku magang di sini, buat cari pengalaman sebelum jadi nyonya besar," bumbunya dengan nada sombong yang terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.

Tiba-tiba, suasana aula menjadi sunyi senyap. Pintu besar di depan terbuka. Bram melangkah masuk, disusul oleh sosok pria yang membuat semua wanita di ruangan itu menahan napas.

Raditya Mahardika berjalan dengan langkah mantap. Setiap langkahnya memancarkan kekuatan. Wajahnya yang tampan terlihat kaku dan dingin, matanya yang tajam memindai barisan anak magang seperti seekor elang yang sedang mengincar mangsa.

Bianca terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Gila, dia jauh lebih tampan daripada di foto! batin Bianca. Namun, ada sesuatu yang aneh. Ia merasa postur tubuh pria itu, bahunya yang lebar, bahkan cara jalannya... terasa sangat familiar. Tapi ia segera menepis pikiran itu. Mana mungkin Raditya Mahardika mirip dengan Rio si supir kampung itu.

Raditya berdiri di depan podium, berdiri berdampingan dengan Bram dan tiga kepala divisi lainnya.

"Selamat pagi," suara Raditya menggema berat dan dingin, membuat bulu kuduk para peserta magang berdiri.

"Di Mahardika Group, saya tidak peduli siapa orang tua kalian, dari mana kalian berasal, atau seberapa mahal tas yang kalian bawa ke ruangan ini. Di sini, kalian hanya sekadar nomor urut yang harus membuktikan kegunaan kalian."

Mata Raditya berhenti tepat pada Bianca. Bianca memberikan senyuman manisnya yang paling menawan, berharap pria itu akan mengenalinya. Namun, tatapan Raditya melewati Bianca seolah-olah gadis itu hanyalah udara kosong. Dingin. Tanpa emosi.

"Bram, bacakan pembagian divisinya," perintah Raditya tanpa ekspresi.

Bram melangkah maju. "Untuk peserta magang desain interior, sebagian besar akan ditempatkan di lantai sepuluh. Kecuali... Bianca Adytama."

Bianca tersenyum lebar. Ia yakin ia akan ditempatkan di lantai paling atas, di dekat ruangan Raditya.

"Bianca Adytama, kamu ditempatkan di Departemen General Affairs & Logistics, bagian manajemen arsip dan gudang material fisik di lantai Basement 2," ucap Bram tegas.

Senyum Bianca langsung hilang. "Apa?! Pak Bram, ada kesalahan! Saya ini jurusan desain interior! Kenapa saya di gudang?!"

Raditya melangkah maju, menatap Bianca dengan tatapan yang bisa membekukan air.

"Seorang desainer yang baik harus tahu bagaimana material dasar dikelola. Di gudang, kamu akan belajar inventarisasi fisik. Itu instruksi saya. Ada keberatan?"

Suasana aula menjadi sangat tegang. Semua orang menatap Bianca. Keangkuhan Bianca mendadak ciut di bawah tatapan Raditya yang sangat mengintimidasi.

"Ta... tapi, Pak Raditya, Ayah saya—"

"Di sini, Haris Adytama tidak punya jabatan. Kamu mau magang atau mau pulang?" potong Raditya dengan nada yang sangat rendah namun tajam.

Bianca menelan ludah, wajahnya merah padam karena malu. "Sa... saya mau magang, Pak."

"Bagus. Segera ke ruang gudang. Jangan biarkan sepatu mahalnya menghalangi pekerjaanmu, karena hari ini ada tiga truk material yang harus kamu data secara manual."

Setelah pertemuan itu bubar, Raditya kembali ke ruangannya yang mewah. Ia berdiri di depan jendela besar, menatap ke arah pelabuhan Tanjung Perak. Bram masuk ke ruangan sambil membawa tablet.

"Pak, Bianca sudah berada di gudang. Dia sedang menangis karena disuruh memindahkan tumpukan katalog kain yang berdebu oleh supervisor gudang," lapor Bram sambil menahan senyum.

Raditya berbalik, menyandarkan tubuhnya di meja kerja. "Bagus. Biarkan dia tahu apa itu kerja keras. Pastikan dia tidak mendapatkan fasilitas AC yang terlalu dingin dan jangan biarkan ada staf yang membantunya."

"Baik, Pak. Tapi... bukankah ini sedikit terlalu kejam untuk adik Mbak Kirana?"

Raditya menatap kartu nama Kirana yang masih ada di atas mejanya. "Kirana menghabiskan waktunya bekerja keras di kafe dan membangun perusahaan farmasinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapapun, sambil dihina oleh adiknya sendiri setiap hari. Apa yang dilakukan Bianca sekarang belum ada apa-apanya dibanding rasa sakit yang dirasakan Kirana."

Raditya mengambil ponselnya. Ia melihat pesan WhatsApp dari Kirana yang masih belum ia balas. Ada rasa rindu yang aneh muncul di dadanya.

"Bram, siapkan mobil sedan yang biasa dipakai Rio. Jam empat sore saya harus sudah ada di basement untuk menjemput 'majikan' saya," ucap Raditya dengan seringai tipis.

Raditya ingin melihat wajah hancur Bianca setelah bekerja di gudang seharian, dan ia ingin segera kembali menjadi "Mas Rio" untuk melihat bagaimana keadaan Kirana di rumah. Permainan ini semakin menarik, dan Raditya Mahardika baru saja memulai babak pertamanya untuk memberikan pelajaran berharga pada keluarga Adytama.

***

1
SisAzalea
so,air minum tadi bagaimana sih?
SisAzalea
Haris hanya takut kerana Kirana sudah punya pembela, apalagi sekarang Aditya sudah menunjukkan taring nya.
Siti Aisyah
pernikahan hanya sekali...jd jgn salah pilih jg...👍❤️
SisAzalea
ohhh..mungkin sengaja ya
SisAzalea
kalau sampai terlupa ganti jam nya ,gimana rio?
Tuti Rumyati
Terima kasih sudah menghibur, ceritanya sangat bagus, sukses selalu
Tirrr
bagus
Anisa92
lama kisahnya, terlalu mendetil jd agak bosan. pdhal rame
Anisa92
auuuu... culik aku mas😄😄
Sri Widjiastuti
sekuriti nya lg ngopi nii
Sri Widjiastuti
mahasiswi bodo.. begitu g bisa paham. sdh dikadih tau mama reva.. perhiasan apa saja & punya siapa yg disimpan?? kebanyakan dandan jd lola🤭🤭
Sri Widjiastuti
asisten gunawan gimana ni? saksi pengalihan harta qanita??
Marina Tarigan
orang kau sakiti terus menerus dgn ketamakanmu Rrva Bianka bertukar 360 # seumur hidup dan 15 thn semoga kamu masih hidup vera dan kau Bianca masa bahagiamu habis renungkan perbustanmu selama ini kasar sombong arogan menghina tak tanggung2 kejinya berubahlah masih ada waktu yg lebih baik nantinya dlm peri laku.mu
Marina Tarigan
pak Haris juga orang tua yg sangat baik tapi sedikit kurang perhatia di rtgga sendiri demi ambisi ayah mengejar dunia padahal setiap hari bpk lihat bagaimana Vera memperlakukan Kirana setiap hari didepan bpk sendiri menghina berucap kasar thdp Karina demi ambisi ayah trdp barang dunia yg menyesatkan tapi untung kirana ttp ayah adalah ayah terbaik masih ada hari esok memperbaiki semuanya Kiran dan Raditia ttp akan menjaga ayah kedelannya
Sri Widjiastuti
sdh dikasih bukti Raditya kan??
Sri Widjiastuti
fuh si haris segitu bodohnya jd bapak
Sri Widjiastuti
disini nih yg bikin anehh😇😇😂
Sri Widjiastuti
mahasiswi sinting yakk🤣🤣 makanya Raditya ogah
Arkan Nuril
mau donk jadi Kirana 😍😍😍😍
Su Kocer
ngeweknya ga di up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!