Gymora Sasami seorang mahasiswa yang terkenal akan kepintarannya, dia juga putri tunggal keluarga kaya.
Dia selalu dipuji dan dieluh-eluhkan di kampus.
Namun, citra yang sebelumnya sudah dibangun olehnya terancam dihancurkan oleh seorang Badboy kampus yang tidak sengaja memergoki dirinya digudang saat sedang memuaskan dirinya sendiri.
Pagi itu digudang, Draka Nilon mengambil alat yang ada ditangan Gymora, hal itu membuat Gymora yang akan mencapai titik kepuasannya terkejut.
"Aku tidak menyangka, seorang wanita cantik yang terkenal pintar dan jual mahal di kampus melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini," sindir Draka.
Gymora langsung menutup tubuh bagian bawahnya.
"Draka aku mohon, jangan sebarkan video itu!" pinta Gymora.
Melihat Draka yang diam, Gymora terus memohon.
"Karena kamu terus memohon dan berlutut, baiklah kita buat kesepakatan. Kalau kamu ingin aku tidak menyebarkan videomu itu. Kamu harus melayaniku!"
Kedua bola mata Gymora membelalak, mengingat dia belum pernah melaku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.
Gymora membuka matanya perlahan, pandangannya kabur menyesuaikan kegelapan malam yang pekat.
Suasana di kamar apartemennya dingin, sunyi, dan sepi, seolah mencerminkan kekosongan yang memenuhi hatinya.
Wajahnya yang dulu penuh semangat kini tampak lesu dan penuh putus asa.
"Sekarang aku nggak punya tujuan untuk hidup lagi," gumamnya pelan, suaranya bergetar penuh keputusasaan.
Matanya menatap kosong ke arah jendela, melihat lampu-lampu kota yang berkelip samar, namun tak mampu mengusir gelap yang menggerogoti jiwanya. Namanya telah tercemar di kota ini.
Tuduhan mencuri teknologi hasil ciptaannya sendiri membuat reputasinya hancur berkeping-keping.
Tunangannya memilih meninggalkannya tanpa sepatah kata, sementara ibunya menatapnya dengan kebencian yang menusuk hati.
Ayahnya yang selama ini menjadi sandaran telah tiada, meninggalkannya sendirian dalam badai hidup yang ganas.
"Ayah, aku akan menyusulmu!! Kita berdua akan hidup bersama di alam lain!" Saat menyebut nama ayahnya, air mata Gymora terus luruh tanpa bisa ia bendung.
Dengan tangan gemetar, Gymora melangkah menuju balkon apartemen lantai lima, napasnya memburu dan pikirannya berkecamuk.
Kakinya sudah menggantung di pinggir balkon, tubuhnya hampir terjatuh ke jurang kesengsaraan.
Namun tiba-tiba, sebuah tangan kuat menarik lengannya, menariknya kembali ke dunia yang pernah ia benci. Draka memeluk Gymora erat-erat, tubuhnya hangat dan penuh ketulusan.
"Jangan lakukan ini, Gymora," suara Draka berat, penuh kekhawatiran namun juga penuh harapan.
Matanya menatap dalam ke mata Gymora, mencoba menembus lapisan kesedihan yang menutupi jiwa gadis itu.
"Aku di sini. Kita akan cari jalan keluar bersama, walau dunia menentangmu." Pelukan itu menjadi satu-satunya jangkar bagi Gymora yang hampir terhanyut oleh gelombang putus asa.
Napasnya yang tercekat mulai berangsur tenang, dan meski hatinya masih berat, ada secercah cahaya kecil yang berusaha menyala kembali di relung hatinya yang paling dalam.
Gymora terisak, suaranya serak dan nyaris putus di tengah kalimat, "Draka, aku hanya sampah. Aku nggak pantas lagi hidup di dunia ini, tolong biarkan aku…"
Namun sebelum kata-katanya selesai, tangan Draka sudah mencekam wajahnya dengan kuat.
Bibir Draka menekan bibir Gymora dengan ganas, seolah ingin merenggut segala luka yang bersarang di hati wanita itu.
Napas Gymora tersengal, dadanya sesak, tapi ada sesuatu yang lebih dalam dari rasa sakit itu—sebuah getaran yang tak bisa dihindari. Saat ciuman itu berakhir, Draka tidak memberi kesempatan Gymora untuk bicara.
Matanya membara penuh tekad, suaranya rendah namun tegas, "Tepati dulu janjimu. Ayo kita melakukannya sekarang!"
Tanpa membuang waktu, Draka menggendong Gymora dengan kekuatan yang mengejutkan, meninggalkan balkon yang membayangkan kehampaan dan kematian.
Mereka masuk ke kamar yang remang-remang, dindingnya seolah menyerap semua rahasia dan kesedihan.
Suasana menjadi sangat intim, berat dan penuh ketegangan.
Gymora hanya bisa pasrah, tubuhnya lemas tanpa daya, namun matanya yang berkaca-kaca perlahan mulai menatap Draka dengan sesuatu yang belum pernah ia rasakan—sebuah harapan yang samar tapi nyata.
Gymora terbaring lemah di atas ranjang, tubuhnya gemetar meski tak lagi mampu melawan.
Mata biru hazelnya yang dulu penuh bara kini redup, menyiratkan pasrah yang dalam.
Draka mulai melepaskan semua pakaian yang menempel ditubuh gadis itu, lalu melepas pakaiannya sendiri.
Draka menekan tubuhnya dengan kekuatan yang hampir brutal, namun ada sesuatu yang lebih dari sekadar kekerasan dalam tatapannya—ada obsesi dan tuntutan yang tak bisa ditolak.
Detak jantung Gymora berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena campuran rasa putus asa dan kelegaan aneh yang merayap ke dalam dirinya.
Janji itu, yang pernah terucap di gudang kampus dengan getir, kini menjadi rantai yang mengikatnya pada realitas pahit ini.
Namun, lebih dari itu, dalam pikirannya sebelum mengakhiri hidupnya, Gymora ingin melunasi utangnya—utang yang lebih dari sekadar materi, tapi juga harga dirinya yang tersisa.
Saat Draka mulai mengambil kesuciannya, bukan derita yang menguasai Gymora, melainkan gelombang kenikmatan yang tak terduga.
Perlahan, segala rasa sakit dan beban yang selama ini membelenggunya mulai pudar, tergantikan oleh sensasi yang membius jiwa dan raganya.
Napasnya memburu, tubuhnya yang dulu penuh luka batin kini terhanyut dalam euforia yang asing namun menggoda.
Seketika, Draka menarik napas panjang, menatap dalam ke arah Gymora dengan nada suara yang dipenuhi kepastian, "Sekarang aku percaya, kamu masih suci."
Ucapan itu bagai cambuk yang membelah kesunyian, menyisakan luka yang tak terlihat namun membekas dalam-dalam.
Gymora hanya bisa menutup matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan yang campur aduk—antara kehilangan, kelegaan, dan penyerahan total yang tak bisa dihindari.
Setelah tiga ronde berlalu, dan napas keduanya yang terengah-engah. Gymora berkata dengan nada tenang, "selama hidup aku memang tidak pernah berbohong. Aku berusaha jujur, dan seperti teknologi inti "Biome" yang aku buat juga."
"Itu murni buatanku!! Aku harap kamu percaya," imbuhnya dengan suara tegar.
Draka bangkit, lalu memeluk Gymora dari belakang. "Mora mulai sekarang aku percaya padamu, aku janji akan membantumu untuk membersihkan namamu!"
Gymora malah menggeleng, "nggak perlu. Besok setelah aku menghadiri upacara pemakaman ayahku. Aku akan ikut membuang abunya ke laut dan menyusulnya."
Deg, jantung Draka seperti di remas.
"Gymora kamu mau ... "
Gymora mengangguk. "Tidak ada gunanya aku hidup lagi! Aku nggak mau nyusahin kamu atau pun orang lain, kalau kamu beneran mau membantuku untuk membersihkan namaku. Aku akan sangat berterima kasih."
"Tapi kalau tidak, aku juga tidak apa-apa."
Gymora ingin bangkit berdiri, tapi Draka menghentikannya dan menarik tubuh kurus itu untuk kembali membaringkannya diatas kasur.
"Gymora aku sudah percaya padamu! Bisakah sekarang kamu percaya padaku." Kata Draka dengan wajah serius.
Sekarang ini keduanya sedang tiduran diatas kasur dengan posisi saling.
Gymora menatap lekat ke arah bola mata biru milik Draka, ia melihat sebuah tekad yang kuat.
Draka memegang kedua pipi Gymora dengan kedua tangannya.
"Tenanglah, aku serius. Aku akan membantumu. Jujur saja aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu, tolong kamu percaya padaku," kata Draka, tanggan mengelus pipi Gymora yang masih sedikit lebam.
"Kumohon Gymora percayalah padaku." Lalu tangan Draka beralih mengambil tangan Gymora dan meletakkan tangan itu tepat didadanya.
"Dengarkanlah detak jantungku, aku benaran nggak bohong. Aku mencintaimu, aku akan bertanggung jawab dengan apa yang barusan terjadi diantara kita."
"Mulai sekarang kamu milikku."
Gymora berusaha mencari kebohongan dari kedua bola mata Draka, tapi tidak ada kebohongan sama sekali.
"Draka aku ... "
"Aku janji nggak akan ninggalin kamu. Mulai sekarang kita adalah sepasang kekasih, walaupun aku tidak sekaya Wiliam, tapi aku janji. Aku bakalan membuat hidupmu bahagia. Percayalah padaku, jangan menyerah dalam hidup ini."
"Ayo kita berjuang bersama!" Kata Draka penuh tekad.
"Kamu serius?" tanya Gymora.
Draka mengangguk, "aku serius."
"Tapi kalau kamu sampai ingkar janji?" tanya Gymora lagi.
cerita nya seruuu👍