Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XVI - Perang Kecil
Berita pertunangan itu sampai ke telinga Kirana, bukan dari mulut Radit sendiri, tapi dari unggahan yang dibagikan rekan kerjanya pagi itu — foto Valerie tersenyum lebar, dengan tangannya yang melingkar erat di lengan Radit.
Resmi! Lamaran kami dipercepat, minggu depan! Nggak sabar mulai babak baru bersama pria terhebat di hidupku.
Kirana menatap layar itu lama. Tidak ada pesan dari Radit. Tidak ada penjelasan.
Jarinya melakukan Gerakan untuk scroll ke bagian komentar di bawah unggahan itu tanpa sadar, ratusan ucapan selamat dari kolega dan kerabat kedua keluarga, sampai jarinya berhenti sendiri, ia baru sadar bahwa ia sedang menyiksa dirinya sendiri.
"Lu udah liat?" Nadia masuk ke ruang kerjanya tanpa mengetuk, wajahnya cemas, ponselnya sendiri masih terbuka di unggahan yang sama.
"Udah," Kirana menjawab pendek, meletakkan ponselnya menghadap ke bawah.
"Lu mau gua batalin rapat pagi ini? Kita bisa geser —"
"Nggak usah." Kirana meraih map presentasinya, memaksakan diri berdiri tegak. "Ini cuma rapat proyek. Gua masih bisa handle sendiri."
Nadia menatapnya ragu.
Layar ponsel Kirana menyala sebelum ia menyimpannya kembali ke tas.
Dimas.
Gua denger soal berita itu. Lu nggak apa-apa, kan?
Kirana menatap pesan itu cukup lama. Dimas, yang baru saja ia tolak, masih jadi orang yang mengecek keadaannya di hari seburuk ini.
Gua aman, Dim. Makasih udah nanya.
Kalau butuh apa-apa, bilang ke gua. Gua masih ada di sini.
Ia mengunci ponselnya tanpa membalas lagi, menyimpan rasa bersalah yang selalu muncul setiap kali nama Dimas terlintas di benaknya.
...****************...
Ruang konferensi Wibowo Group terasa lebih dingin dari biasanya. Radit sudah duduk di ujung meja, wajahnya kaku, matanya menghindari kontak dengan Kirana saat ia duduk di tempatnya.
"Selamat pagi," Kirana menyapa dengan nada datar.
"Selamat pagi," Radit menjawab pendek. Tidak ada lagi kehangatan yang mereka bagi beberapa minggu lalu.
Rapat berjalan dengan ketegangan yang aneh, membuat beberapa anggota tim saling melirik bingung.
Kenapa dua pemimpin proyek yang seharusnya bekerja sama, justru saling melempar argumen tajam untuk setiap detail kecil.
"Saya nggak setuju sama pendekatan ini," Kirana berkata tegas, menatap proposal revisi tim Radit. "Kalian mengorbankan terlalu banyak ruang publik demi memaksimalkan unit komersial. Ini bertentangan sama konsep dasar yang udah kita sepakati sama dewan investor."
"Kami cuma memastikan proyek ini tetap menguntungkan secara finansial," Radit membalas, suaranya lebih tajam dari biasa. "Idealisme sosial bagus, tapi ini tetap bisnis."
"Idealisme sosial itu yang bikin proposal kami lolos ke babak final," Kirana membalas, tidak mau kalah.
Farrel, duduk di samping Radit, melirik cemas ke arah keduanya. "Mungkin kita bisa cari titik Tengah —"
"Nggak ada titik tengah kalau nggak ada yang mau kompromi," Radit memotong, matanya bertemu Kirana, menyimpan sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar perbedaan pendapat bisnis.
Reza, arsitek muda di tim Kirana, mencoba menengahi, menunjukkan sketsa cadangan. "Gimana kalau kita kompromikan rasio ruang publik dan komersial di enam puluh banding empat puluh? Ini bisa mengakomodasi dua kepentingan tanpa mengorbankan konsep dasar."
"Kami perlu diskusi dulu sama tim keuangan sebelum setuju dengan angka pasti," Radit menjawab.
"Atau kalian cuma terlalu hati-hati," seorang anggota tim Radit menyahut.
"Atau kalian yang terlalu buru-buru," Kirana membalas, "kayak biasanya."
"Setidaknya tim kami nggak butuh waktu berminggu-minggu cuma buat nentuin satu keputusan," Radit menyahut cepat, matanya berubah menjadi tajam.
"Karena kami mikirin dampaknya buat masyarakat, bukan cuma angka di laporan keuangan," Kirana membalas, nada di suaranya makin tinggi.
Keheningan menyelimuti ruangan sesaat. Farrel berdeham pelan, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba canggung.
"Baik," Kirana akhirnya membuka suara. "Kita jadwalkan pertemuan terpisah sama tim arsitek buat bahas ulang keseimbangan komersial dan publik. Nggak akan selesai hari ini."
Rapat berakhir tanpa kesepakatan. Beberapa anggota tim buru-buru keluar begitu pertemuan resmi ditutup, tidak ingin terjebak dalam ketegangan yang masih mengisi ruangan.
Kirana mengumpulkan dokumennya dengan cepat, ingin segera pergi sebelum emosinya meluap di hadapan timnya. Tapi saat ia berjalan ke pintu, suara Radit menahannya.
"Kirana." Suaranya lebih tenang sekarang. "Soal berita itu —"
"Aku nggak perlu penjelasan," Kirana memotong, tidak menoleh. "Kita udah sepakat ini cuma proyek bisnis, kan? Nggak ada yang perlu dijelasin."
Ia keluar sebelum Radit menjawab, berjalan cepat menuju lift, menahan air mata agar tidak tumpah di gedung itu. Beberapa staf yang lewat melirik sekilas, tapi Kirana menjaga dagunya tetap terangkat sampai pintu lift menutup.
...****************...
Nadia membuka suara begitu Kirana masuk mobil. "Lu beneran baik-baik aja?"
"Gua baik-baik aja," Kirana menjawab, meski suaranya sendiri terdengar rapuh.
"Kir, lu nggak harus selalu kuat di depan gua. Gua sahabat lu."
Kirana menghela napas, membiarkan sedikit kejujuran keluar. "Rasanya bodoh, Nad. Gua tau dari awal dia bakal nikah sama Valerie. Tapi tetep aja rasanya kayak..." Ia berhenti, tidak sanggup menyelesaikan.
"Kayak kehilangan dia buat kedua kalinya," Nadia menyelesaikan kalimat itu.
"Rapat tadi," Nadia melanjutkan, "kalian berdua kayak lagi berantem beneran, bukan cuma debat tentang bisnis."
"Gua tau, gua kelewata, kan?." Kirana mengaku. "Gua sengaja nyari-nyari alasan buat marah sama dia soal kerjaan, padahal yang bikin gua marah bukan itu."
"Wajar, Kir. Lu manusia, bukan robot yang bisa matiin perasaan pas jam kerja."
"Tapi gua capek, Nad." Kirana menyandarkan kepala ke jok mobil, matanya terpejam sesaat. "Capek jadi orang yang selalu berusaha ngerti keadaan. Capek pura-pura dan meyakinkan diri kalau ini cuma proyek bisnis, padahal setiap kali liat dia, gua masih inget rasanya tangan kita bertaut."
Nadia mengulurkan tangan, meraih tangan sahabatnya erat. "Lu nggak harus capek sendirian, Kir. Nangis aja kalau emang itu yang lu butuh."
Kirana tidak menangis, tapi genggaman Nadia cukup untuk membuatnya bertahan sampai mereka sampai di rumahnya.
Kirana teringat malam di basement itu, tangan Radit menggenggam tangannya dalam gelap, kejujuran di matanya yang begitu ia percayai. Semua itu terasa jauh sekarang, digantikan kenyataan bahwa Radit, pada akhirnya, tetap memilih jalan yang sama seperti tujuh tahun lalu — menyerah pada tekanan keluarganya tanpa perlawanan.
Aku seharusnya udah belajar, pikirnya, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu. Berharap pada Radit cuma bikin aku terluka lagi.
...****************...
Ia sampai di apartemennya tepat jarum jam menunjukkan 18.37, tubuhnya lelah. Lorong lantai sepuluh sepi seperti biasa, cuma diterangi lampu neon yang berkedip pelan di ujung koridor. Tapi begitu melangkah keluar dari lift, langkahnya terhenti.
Sebuah paket kecil tergeletak tepat di depan pintunya. Dibungkus kertas cokelat polos, tanpa label nama pengirim, dan tanpa nama penerima.
Kirana berdiri diam, menatap paket itu dengan was-was. Tidak ada yang tahu alamat apartemennya selain orang-orang terdekat — Nadia, Dimas, ibunya, dan staf kantor yang terpercaya. Siapa pun yang mengirim ini sengaja menyembunyikan identitasnya.
Ia mengangkat paket itu, terasa ringan.
Ia meletakkan paket itu di meja ruang tamu, melepas sepatu dan blazernya, menuangkan segelas air, duduk di sofa, lalu menatap paket itu lekat-lekat. Bagian dari dirinya ingin segera merobek kertas pembungkusnya. Bagian lain, yang sudah belajar untuk selalu berhati-hati, menahannya diam beberapa menit lebih lama.
DRRT. DRRT.
Ponselnya bergetar di meja. Nadia lagi.
Lu udah sampe rumah? Kabarin kalo udah.
Udah.
Kirana membalas singkat, ia tidak menyinggung soal paket misterius itu.
Ia meraih gunting dari laci meja, memotong lakban yang merekatkan kertas pembungkus paket itu. Di dalamnya, terdapat sebuah amplop cokelat tebal tanpa tulisan di permukaannya. Ia membuka amplop itu — tumpukan kertas fotokopi, salinan dokumen resmi, cetakan email, dan catatan tulisan tangan ada di dalamnya.
Di halaman paling atas, ada secarik kertas kecil terselip, tulisan tangan rapi tanpa nama.
Ibu Kirana, saya rasa Anda berhak tahu kebenaran ini. Semua yang anda butuhkan ada di sini.
Jantung Kirana berdegup kencang. Ia menatap tumpukan dokumen itu, tangannya gemetar — bukan lagi karena was-was, tapi karena firasat bahwa apa pun di balik halaman-halaman itu akan mengubah segala yang ada di hidupnya.
Ia menimbang ponselnya di tangan, berpikir untuk menelepon Nadia. Tapi kalau isi dokumen ini seburuk yang ia curigai, ia ingin membacanya sendiri dulu, tanpa suara yang mungkin dapat mempengaruhi pikirannya.
Ia menarik napas panjang, meletakkan ponselnya kembali di meja, dan mulai membalik halaman pertama.
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
para musuh 💪💪