Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.
Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Makan Malam Keluarga Dimitri
Pagi itu Luna terbangun dengan perasaan yang sedikit berbeda.
Untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Alex, ia tidak lagi merasa terlalu canggung berada di rumah itu.
Memang masih banyak hal yang belum ia ketahui tentang suaminya.
Tapi setidaknya sekarang mereka sudah mulai berbicara.
Meski hanya sedikit.
Meski sering berakhir dengan keheningan.
Namun bagi Luna, itu sudah merupakan kemajuan besar.
Saat turun ke ruang makan, Alex sudah duduk di sana seperti biasa.
Pria itu sedang membaca berita bisnis di tabletnya.
"Pagi."
Alex mengangkat kepala.
"Pagi."
Luna mengambil roti panggang.
"Kamu kerja hari ini?"
"Iya."
"Hari Minggu juga?"
Alex mengangguk.
"Ada rapat keluarga."
"Rapat keluarga?"
"Keluarga Dimitri."
Luna mengernyit.
"Kedengarannya menyeramkan."
Alex menatapnya sesaat.
"Lumayan."
Luna langsung menyesal bertanya.
Kalau Alex yang bilang lumayan menyeramkan, berarti kemungkinan besar memang menyeramkan.
---
Menjelang siang, Luna baru tahu maksud sebenarnya.
Hari itu ternyata keluarga besar Dimitri akan berkumpul untuk makan malam bersama.
Dan sebagai istri Alex, ia wajib hadir.
"Kenapa aku baru dikasih tahu sekarang?" protes Luna saat berada di kamar.
Alex yang sedang memilih jas hanya menjawab santai.
"Karena kalau kubilang dari kemarin, kamu bakal gugup semalaman."
Luna terdiam.
Sayangnya itu benar.
"Memangnya banyak yang datang?"
"Hampir semua."
Luna langsung memegangi kepalanya.
"Ya Tuhan."
Alex menahan senyum.
"Tenang aja."
"Aku nggak bisa tenang."
"Kenapa?"
"Aku bahkan belum hafal nama mereka."
"Kalau lupa, senyum aja."
Luna menatap Alex tidak percaya.
"Saran yang sangat membantu."
"Aku tahu."
Pria itu terlihat santai sekali.
Seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Padahal Luna merasa seperti akan menghadapi ujian hidup dan mati.
---
Malam harinya.
Mobil mereka memasuki halaman sebuah mansion yang bahkan lebih besar daripada rumah utama keluarga Dimitri.
Lampu-lampu taman menyala terang.
Puluhan mobil mewah sudah terparkir.
Luna langsung gugup.
"Bisa batal nggak?"
"Tidak."
"Tolong bilang bisa."
"Tidak."
Luna mendesah pasrah.
Alex membuka pintu mobil lalu mengulurkan tangan.
"Ayo."
Luna menerima uluran tangan itu.
Meski tanpa sadar jantungnya sudah berdebar tidak karuan.
Begitu masuk ke dalam rumah, suara percakapan langsung memenuhi ruangan.
Puluhan anggota keluarga sedang berkumpul.
Dan dalam hitungan detik...
Semua mata tertuju pada mereka.
Atau lebih tepatnya...
Pada Luna.
"Alex datang."
"Itu istrinya?"
"Yang menggantikan Liana?"
Bisikan mulai terdengar di mana-mana.
Luna berusaha mengabaikannya.
Meski sebenarnya ia ingin kabur.
Seketika.
---
"Alex!"
Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.
Wanita itu terlihat elegan dengan gaun mahal dan perhiasan yang berkilauan.
"Bibi Clara," sapa Alex.
Wanita itu tersenyum.
Lalu menatap Luna.
"Kamu Luna?"
"Iya, Bi."
Wanita itu mengangguk.
"Cantik."
Luna tersenyum lega.
Setidaknya ada satu orang yang ramah.
Namun harapan itu tidak berlangsung lama.
Karena beberapa menit kemudian, seorang wanita lain mendekat.
Usianya mungkin sekitar dua puluh lima tahun.
Cantik.
Tinggi.
Dan terlihat sangat percaya diri.
"Oh."
Tatapannya langsung tertuju pada Luna.
"Jadi ini pengantin penggantinya?"
Suasana langsung menjadi canggung.
Luna bisa merasakan beberapa orang mulai memperhatikan.
Wanita itu tersenyum tipis.
Namun senyum itu sama sekali tidak terasa ramah.
"Aku Vanessa."
Luna mengangguk sopan.
"Halo."
Vanessa melirik Alex.
"Lumayan juga."
Luna tidak menyukai cara wanita itu berbicara.
Dan ternyata Alex juga tidak.
"Vanessa."
Suara Alex terdengar datar.
Tapi cukup membuat wanita itu diam.
"Oke, oke. Aku cuma bercanda."
Namun jelas sekali dia tidak bercanda.
---
Sepanjang makan malam, Luna beberapa kali menerima tatapan penasaran.
Sebagian ramah.
Sebagian menilai.
Dan sebagian lagi seperti sedang mencari kekurangan dirinya.
"Aku mulai ngerti kenapa kamu bilang menyeramkan."
bisik Luna pelan.
Alex yang duduk di sebelahnya hampir tersenyum.
"Hanya sebagian kecil."
"Maksudmu masih ada yang lebih parah?"
"Kamu akan lihat nanti."
Luna langsung menatapnya.
"Tolong bilang kamu bercanda."
"Aku tidak bercanda."
Luna hampir menangis.
---
Di tengah acara, seorang pria paruh baya berdiri.
Semua orang langsung diam.
"Itu siapa?" tanya Luna pelan.
"Paman Viktor."
Alex menjawab tanpa mengalihkan pandangan.
Pria itu tersenyum.
"Kita semua tahu beberapa minggu terakhir cukup mengejutkan."
Luna langsung punya firasat buruk.
Dan firasatnya benar.
"Terutama soal pernikahan Alex."
Beberapa orang tertawa kecil.
Luna mulai tidak nyaman.
"Pernikahan yang awalnya untuk Liana lalu berubah menjadi Luna."
Ruangan menjadi sunyi.
Alex langsung meletakkan gelasnya.
Pertanda pria itu mulai tidak suka.
Namun Paman Viktor tetap melanjutkan.
"Untung saja keluarga kita masih mendapat pengantin."
Kalimat itu terdengar seperti lelucon.
Tapi Luna bisa merasakan pipinya memanas.
Ia tahu maksud sebenarnya.
Pengganti.
Lagi.
Selalu itu yang mereka lihat darinya.
Bukan Luna.
Bukan dirinya.
Hanya pengganti.
---
Tepat saat Luna berusaha tersenyum dan mengabaikannya, suara Alex terdengar.
"Sudah selesai?"
Semua orang langsung diam.
Paman Viktor mengernyit.
"Apa?"
"Aku tanya sudah selesai?"
Nada suara Alex tetap tenang.
Tapi dingin.
Sangat dingin.
Ruangan langsung terasa tegang.
"Kalau sudah selesai, kita lanjut makan malam."
Paman Viktor terlihat tidak senang.
Namun bahkan dia tahu kapan harus berhenti.
"Baiklah."
Pria itu akhirnya duduk kembali.
Luna menoleh ke arah Alex.
Pria itu masih fokus memotong steak di piringnya.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun Luna tahu.
Alex baru saja membelanya.
Dengan caranya sendiri.
Dan entah kenapa...
Hal itu membuat dada Luna terasa hangat.
---
Saat acara selesai dan mereka kembali ke mobil, Luna akhirnya tidak tahan.
"Terima kasih."
Alex yang sedang menyetir meliriknya sekilas.
"Untuk apa?"
"Kamu tahu untuk apa."
Alex kembali fokus ke jalan.
"Kamu istriku."
Jantung Luna langsung berdegup lebih cepat.
Kalimat itu sederhana.
Sangat sederhana.
Namun untuk pertama kalinya sejak menikah, Luna merasa dirinya bukan sekadar pengganti.
Karena setidaknya...
Di mata Alex.
Ia adalah istrinya.
Dan tanpa mereka sadari, jarak yang selama ini memisahkan keduanya perlahan mulai berkurang.
Sedikit demi sedikit.