Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.
Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 32: Siapa yang Kau Sebut Pembantu?
Tuduhan histeris Nyonya Catherine tentang "buku catatan cokelat" menggantung di udara ruang tengah bak kabut beracun.
Bagi Adrian, frasa itu memicu kembali insting analitisnya yang sempat tertidur.
Matanya yang tajam beralih ke arah Gisella, menangkap riak kepanikan yang teramat samar di sudut mata cokelat istrinya.
Sementara bagi Gisella, rahasia kecilnya tentang buku prediksi masa depan yang kini tersimpan di bawah syal rajut kamar nomor dua terasa seperti bom waktu yang siap meledak.
Namun, Catherine yang merasa telah memegang kendali atas situasi justru salah membaca keheningan tersebut.
Baginya, wajah pucat Gisella adalah konfirmasi dari ketakutan seorang anak perempuan yang tak berdaya di bawah telunjuk ibunya.
"Kenapa diam, Gisella? Kaget karena ibu tahu semua rencanamu?"
cibir Catherine dengan tawa melengking, melangkah lebih jauh ke dalam ruang tengah tanpa memedulikan sepatu hak tingginya yang mengotori karpet rajut mahal milik keluarga Arthur.
Pandangan serakah wanita paruh baya itu kemudian menyapu ruangan, hingga akhirnya berhenti pada sosok Valerie yang berdiri kaku di dekat anak tangga terakhir.
"Ah, dan kau..."
Catherine menunjuk Valerie dengan ujung kukunya yang dicat merah menyala.
"Adik ipar yang tidak punya sopan santun. Berdiri di sana seperti pajangan bodoh. Cepat panggil pembantu di rumah ini untuk membawakan koper-koperku ke kamar tamu! Dan buatkan aku teh earl grey hangat dengan madu alami, sekarang juga! Kakimu tidak lumpuh, bukan?"
Mendengar cercaan itu, bahu Valerie tersentak.
Trauma masa lalu saat Gisella asli dan ibunya sering merendahkannya di awal pernikahan kembali menghantui pikiran gadis muda itu.
Wajah Valerie memucat, tangannya mengepal kuat menahan tangis yang hampir pecah.
Adrian mengepalkan tangannya di dalam saku mantel.
Aura intimidasinya memuncak, siap memerintahkan dua pengawal luar untuk menyeret Catherine keluar dengan paksa.
Namun, sebelum sang profesor sempat melangkah, sebuah suara yang sangat dingin dan penuh penekanan menginterupsi seluruh ruangan.
"Siapa yang kau sebut pembantu, Nyonya Catherine?"
Gisella melangkah maju.
Langkah kakinya begitu mantap, menepuk lantai marmer dengan irama yang menuntut kepatuhan mutlak.
Wajahnya tidak lagi memancarkan kepanikan tentang jurnal rahasia;
mentalitas seorang manajer humas yang biasa menangani krisis korporat skala besar telah mengambil alih seluruh kesadarannya.
Catherine mendengus, berkacak pinggang.
"Siapa lagi? Tentu saja jalang kecil di dekat tangga itu! Dia tidak ada gunanya di rumah ini selain menghabiskan uang Adrian untuk kuliah seni bodohnya!"
"Dia adalah Valerie Arthur. Adik kandung dari Profesor Adrian Arthur, pemilik sah dari seluruh kediaman ini, dan satu-satunya keluarga yang ku hormati di rumah ini,"
ucap Gisella, suaranya naik satu oktav, jernih, tajam, dan berwibawa hingga sanggup membungkam gema suara melengking Catherine tadi.
Gisella berdiri tepat di depan Catherine, menatap wanita tua itu dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang sangat elegan.
"Kau datang ke rumah ini tanpa undangan, merusak hari Minggu kami, mengotori karpet dengan sepatu kotormu, dan sekarang kau berani memerintah anggota keluarga Arthur seolah kau adalah ratu di sini? Di mana harga dirimu sebagai seorang wanita yang mengaku berasal dari kalangan atas, Catherine?"
"Gisella! Kau berani memanggil namaku tanpa sebutan ibu?!"
teriak Catherine, wajahnya memerah padam karena murka.
"Seorang ibu tidak akan datang membawa dua koper besar untuk menumpang hidup setelah melarikan diri dari kejaran penagih utang judi di distrik seberang,"
tembak Gisella telat sasaran.
Gisella memajukan wajahnya sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata Catherine yang mulai bergetar panik karena kedoknya dibongkar.
"Jangan pikir aku tidak tahu. Julian sudah tertangkap, dan semua asetmu di kota seberang telah disita untuk melunasi kerugian kasino tempat kau dan Julian biasa membuang uang. Kau datang ke sini bukan untuk menyelamatkanku, tapi karena kau membutuhkan tameng finansial dari Adrian. Tapi maaf, pintu rumah ini sudah tertutup rapat untuk parasit sepertimu."
Catherine melangkah mundur, syok dengan keberanian dan ketajaman lidah anak perempuannya. "Kau... kau..."
"Bibi Martha!"
panggil Gisella tanpa menoleh ke belakang.
Pelayan senior itu segera muncul dari balik koridor dengan wajah tegang namun siap siaga.
"Ya, Nyonya?"
"Panggil petugas keamanan distrik universitas sekarang juga. Katakan ada sekelompok orang asing yang melakukan tindakan tidak menyenangkan dan percobaan pemerasan di kediaman Profesor Arthur. Jika dua pria pembawa koper di depan pintu itu tidak segera menyingkir dalam waktu tiga menit, pastikan mereka bermalam di sel yang sama dengan Julian,"
perintah Gisella tegas, tanpa keraguan sedikit pun.
Mendengar kata "petugas keamanan distrik"
dan "sel penjara", dua pria berbadan besar yang disewa Catherine langsung saling berpandangan panik.
Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, mereka meletakkan koper Catherine di lantai dan segera berbalik, melarikan diri keluar dari pagar halaman depan secepat mungkin.
"Hei! Kembali! Aku belum membayar kalian!" teriak Catherine histeris melihat pengawalnya kabur.
"Mereka tahu mana yang lebih berharga antara uang recehmu atau kebebasan mereka, Catherine," ucap Gisella dingin.
Dia berjalan mendekati Valerie, merangkul bahu adik iparnya dengan lembut, menyalurkan kehangatan protektif yang membuat Valerie menatapnya dengan mata berbinar penuh rasa kagum dan haru.
"Valerie, masuklah ke kamar bersama Bibi Martha. Biar aku dan Adrian yang menyelesaikan sampah di ruang tengah ini."
Valerie mengangguk cepat, menghapus air mata di sudut matanya, lalu berjalan masuk ke dalam koridor belakang bersama Bibi Martha, merasa sangat terlindungi oleh sosok kakak ipar barunya.
Kini, yang tersisa di ruang tengah hanyalah Adrian, Gisella, dan Catherine yang berdiri gemetar di samping dua kopernya yang tergeletak mengenaskan.
Adrian melangkah mendekat, berdiri di samping Gisella.
Kehadiran masif sang profesor seolah mengunci sisa ruang gerak Catherine.
"Kau mendengar istriku, Nyonya Catherine," ucap Adrian, suaranya sedatar dan sedingin es kutub.
"Waktumu tinggal dua menit sebelum petugas keamanan distrik tiba di sini. Seret kopermu sendiri keluar dari tanah keluarga Arthur, atau aku yang akan memastikan kau keluar dengan cara yang jauh lebih memalukan."
Catherine menatap Adrian, lalu beralih pada Gisella yang menatapnya dengan tatapan kosong tanpa emosi.
Sadar bahwa dia telah kalah telak dan tidak bisa lagi memeras keuntungan dari pernikahan ini, Catherine menggeram marah.
Dia menyambar pegangan kopernya dengan kasar, membalikkan badan, dan berjalan menghentak keluar dari pintu depan sembari memaki-maki dengan suara serak.
"Brak!"
Pintu depan akhirnya tertutup rapat, menyisakan keheningan yang mendalam di ruang tengah.
Badai dari tamu tak diundang itu telah dihalau, namun sisa-sisa bicaranya tentang
"buku catatan cokelat"
masih membekas jelas di dalam kepala Adrian.
Adrian membalikkan tubuhnya menghadap Gisella.
Dia meletakkan kembali kacamata peraknya ke atas batang hidung, menatap istrinya dengan pandangan mata yang sulit diartikan—sebuah campuran antara rasa kagum atas keberanian Gisella melindungi Valerie, dan rasa penasaran ilmiah yang kembali terusik.
"Kau luar biasa saat menghadapi ibumu tadi, Gisella,"
buka Adrian tenang, melangkah satu blok lebih dekat.
"Namun, sains selalu mengajarkanku untuk tidak mengabaikan variabel yang disebutkan oleh subjek yang panik."
Adrian menyipitkan matanya, mengunci pandangan Gisella.
"Tentang buku catatan cokelat yang dia sebutkan tadi... kenapa ekspresi wajahmu sempat menegang selama 0,5 detik saat dia mengatakannya?"
Jantung Gisella kembali berdegup kencang. Pertarungan sesungguhnya untuk mempertahankan kepercayaan Adrian baru saja dimulai, dan kali ini, dia tidak bisa menggunakan taktik humas biasa untuk mengelabui pikiran jenius sang profesor.
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...