“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”
Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.
Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.
Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.
Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.
Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.
Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31
Yudha sedang bersandar pada tumpukan bantal sembari membaca sebuah buku biografi. Ketenangannya terusik saat pintu kamar diketuk dengan tidak sabaran, disusul kemunculan Nawang yang melangkah masuk dengan senyuman lebar yang merekah di wajahnya.
Nawang langsung duduk di kursi dekat ranjang ayahnya, melipat tangan di atas kasur dengan mata yang berbinar.
"Pa, aku punya kabar gembira. Aku datang ke sini karena ingin memberi tahu Papa kalau aku ingin segera menikah!"
Yudha seketika menurunkan bukunya ke pangkuan. Dahinya berkerut dalam, menatap putri bungsunya itu dengan tatapan tidak percaya sekaligus kaget yang luar biasa.
"Menikah? Kamu tidak sedang bercanda, kan, Nawang? Bukankah baru kemarin lusa kamu mengamuk dan menolak mentah-mentah saat Papa menjodohkanmu? Kenapa tiba-tiba sekarang berubah pikiran?"
Nawang mendengus pelan, mengibaskan tangannya ke udara. "Ya jelas beda dong, Pa! Aku mau menikah, tapi bukan dengan Satria si pria lumpuh yang duduk di kursi roda itu. Aku sudah menemukan pria pilihanku sendiri. Dia jauh lebih gagah, tampan, dan tentunya sangat perkasa!"
Yudha memperbaiki posisi duduknya, menatap Nawang dengan menyelidik.
"Siapa pria itu? Papa tidak mau kamu salah memilih pasangan hanya karena urusan fisik semata. Apa pekerjaannya?"
Nawang tersenyum licik dalam hati, ingatan tentang postur tegap Hendra terlintas di kepalanya. Ia sudah menyusun kebohongan ini dengan rapi.
"Namanya Hendra, Pa. Dia itu seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang kontraktor dan pengadaan material. Dia baru saja merintis bisnis besar di ibu kota, makanya profilnya sangat menjanjikan. Jadi, Papa tidak perlu cemas soal masa depanku."
Yudha terdiam sejenak, menimbang-nimbang ucapan putrinya. Meskipun masih ada rasa ragu, sebagai seorang ayah yang ingin melihat anaknya menetap, Yudha akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah. Kalau dia memang seorang pengusaha seperti yang kamu katakan, Papa ingin bertemu dengannya secepat mungkin. Bawa dia ke rumah ini besok malam untuk makan malam bersama. Papa ingin menilai langsung bagaimana bobot, bibit, dan bebet pria bernama Hendra itu sebelum Papa merestui hubungan kalian dan menyerahkan hak warismu."
Mendengar kata hak waris, mata Nawang seketika berbinar serakah. Rencananya berjalan sangat mulus tanpa hambatan berarti.
"Siap, Papa sayang! Besok malam aku akan membawa Mas Hendra ke sini. Papa pasti akan langsung suka begitu melihat pembawaannya yang berwibawa."
Nawang pun berdiri, memberikan kecupan singkat di pipi ayahnya lalu melangkah keluar dari kamar dengan senyuman kemenangan yang mengembang sempurna.
"Satu langkah lagi, harta papa akan jatuh ke tanganku!" batinnya bersorak.
Begitu pintu kamar tertutup dan Nawang telah pergi, Yudha menghela napas panjang. Pikirannya mendadak tidak tenang. Entah mengapa, instingnya mengatakan ada yang tidak beres dengan keputusan mendadak putri bungsunya itu.
Setelah merenung beberapa saat, Yudha meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas, lalu mencari sebuah kontak yang paling ia percayai untuk urusan penilaian karakter orang.
Ia mendengarkan nada sambung beberapa saat sebelum suara dingin dan tegas di seberang telepon menyahut.
"Ya, Papa? Ada apa menelepon malam-malam begini? Apa kondisi kesehatan Papa memburuk?" tanya Ningsih langsung tanpa basa-basi.
"Ningsih, Papa sehat, Nak. Khasiat obatnya masih bekerja dengan baik," jawab Yudha dengan suara melembut. "Papa menelepon karena ada hal penting yang ingin Papa sampaikan. Barusan... adik tirimu, Nawang, datang ke kamar Papa. Dia mengatakan kalau dia akan segera menikah dalam waktu dekat."
Di seberang sana, terdengar suara helaan napas malas dari Ningsih.
"Lalu? Apa hubungannya denganku, Pa? Pernikahan Nawang adalah urusannya dan Tante Yeni. Lagipula, aku tidak punya kepentingan apa pun dengan siapa dia akan menikah. Aku sangat sibuk dengan proyek baru."
Yudha memijat pangkal hidungnya, suaranya terdengar memelas penuh permohonan.
"Papa tahu kamu sibuk, Ningsih. Tapi Papa mohon padamu, Nak, datanglah ke rumah utama besok malam untuk makan malam bersama. Nawang akan membawa calon suaminya yang katanya seorang pengusaha bernama Hendra. Perasaan Papa tidak enak, Ningsih. Papa mohon, datanglah untuk membantu Papa menilai karakter calon suami adikmu itu. Kamu memiliki insting bisnis dan penilaian orang yang sangat tajam. Papa hanya tidak ingin Nawang ditipu oleh pria yang salah."
Ningsih terdiam cukup lama di seberang telepon. Mendengar nama 'Hendra' dan 'pengusaha', sebuah seringai dingin yang misterius mendadak terukir di wajah cantiknya. Naluri menangkap sebuah kebetulan yang teramat sangat menarik sekaligus menggelikan.
"Hendra? Pengusaha?" ulang Ningsih.
"Iya, Nak. Apa kamu mau datang demi Papa?" mohon Yudha sekali lagi.
Ningsih menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, mengetukkan jari-jarinya di atas meja kerja dengan ritme yang teratur. Mau tak mau, demi rasa hormatnya yang tersisa pada sang ayah, serta demi menyaksikan sebuah pertunjukan komedi yang tampaknya akan sangat seru besok malam, ia akhirnya mengalah.
"Baiklah, Pa. Besok malam aku akan datang ke rumah utama tepat waktu," jawab Ningsih dengan nada penuh arti.
Setelah sambungan telepon terputus, Ningsih terkekeh dingin ke arah layar ponselnya.
"Aku juga sangat penasaran, ingin melihat sekaya dan sehebat apa pria bernama Hendra yang berhasil meluluhkan hati Nawang."
*
*
Ningsih melangkah keluar dari lift menuju lobi kantor yang sudah mulai sepi. Ia merapikan tas jinjingnya, bersiap untuk pulang setelah seharian berkutat dengan berkas.
Namun, langkah kakinya mendadak terhenti saat melihat sesosok pria yang sangat familiar sedang duduk tenang di atas kursi roda elektriknya, tepat di tengah lobi.
"Satria? Ngapain dia ke sini malam-malam begini?" gumam Ningsih heran.
Ningsih menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah menghampiri Ceo PT Adhitama tersebut.
"Selamat malam, Pak Satria. Maaf, ada keperluan apa nda datang ke kantor saya?" Ningsih sengaja mengangkat pergelangan tangannya, mengetuk layar jam tangan ke arah Satria dengan dahi berkerut.
Satria mendongak, mengulas senyum tipis yang tampak sangat menawan. "Selamat malam, Ningsih. Aku ke sini untuk menjemputmu. Aku ingin mengajakmu makan malam bersama."
"What?!" pekik Ningsih tertahan, matanya membelalak sempurna. Ia sampai menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada karyawannya yang mendengar.
"Makan malam? Pak, tolong lihat jam. Sekarang sudah pukul delapan malam! Dan anda tiba-tiba datang mau mengajak saya makan?"
"Memangnya ada hukum yang melarang makan malam jam delapan, Bu Ningsih?" goda Satria santai, menaikkan sebelah alisnya dengan jenaka. "Aku tahu kamu belum makan karena terlalu sibuk bekerja. Jadi, tidak ada penolakan untuk malam ini."
Ningsih berkacak pinggang, aura dinginnya mendadak goyah karena tingkah ajaib pria di hadapannya ini.
"Pak Satria, kemarin saya sudah menolak kerja sama bisnis anda. Dan sekarang, anda malah mau meretas waktu istirahat saya? Apa anda sudah gila?"
Satria terkekeh renyah, sebuah pemandangan langka bagi pria sekaku dirinya. "Aku tidak gila, Ningsih. Aku hanya gigih. Kalau urusan bisnis ditolak, maka urusan pribadi harus maju duluan. Ayo, mobilku sudah menunggu di depan."
Ningsih hanya bisa melongo gemas, tidak habis pikir dengan tingkat rasa percaya diri pria lumpuh yang sayangnya super tampan dan keras kepala ini.
jika bener bener mau tobat
mka saat di panti nanti coba buka website
jualan apa gitu🤔🤔
kan bisa dpt penghasilan
asale tidak korupsi lgi
dasar satria nyicil melulu kapan lunasnya😀
pagi dan sore🤣🤣🤣
bengek bengek
dului kau congak menghina Ningsi h habis habisan
nah sekarang orang lain yang menghinamu
beres
yang resek justru yang tua
🤣🤣🤣
malam ,pagi
KLO siang untk kerja
maka sore juga bisa 🤣🤣🤣🏃🏃🏃