Bagaimana jadinya jika kamu mengakhiri sebuah hubungan tanpa sebab lalu meninggalkan kekasihmu begitu saja karena suatu alasan?
Begitu pula dengan Serena, ia meninggalkan kekasih nya begitu saja hanya karena suatu alasan yang kurang jelas. Hingga suatu saat ia melamar pekerjaan disebuah perusahaan ternama milik mantannya dan bahkan saat ini seorang president.
apakah yang akan terjadi pada kehidupan Serena selanjutnya?
guyss mampir yuk, istirahat sebentar dinovel aku❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Austrea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My Ex²²
Tanpa menunggu Dirga berbicara lebih lanjut, Serena segera keluar dari ruangan itu.
Langkahnya sedikit tergesa-gesa.
Ia terus berjalan menyusuri koridor tanpa mempedulikan tatapan beberapa karyawan yang berpapasan dengannya.
Pikirannya begitu kacau.
Dadanya terasa sesak.
Seolah ada sesuatu yang menekan hatinya hingga membuatnya sulit bernapas.
Sesampainya di ruang kerjanya, Serena segera menutup pintu.
Pintu itu langsung ia kunci rapat.
Barulah setelah memastikan tidak ada siapa pun di sana, pertahanannya runtuh.
Air mata mengalir begitu saja tanpa bisa ia cegah hingga membasahi kedua pipinya.
Serena menundukkan kepalanya.
Tubuhnya perlahan bersandar pada pintu.
Hatinya terasa begitu sakit, setiap kata yang diucapkan pria itu selalu berhasil mengingatkannya pada kesalahan yang tidak pernah bisa ia jelaskan.
*"Masih belum sadar juga letak kesalahanmu di mana."*
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Serena menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Berusaha menahan isak tangis yang hampir lolos.
Namun semakin ia mencoba menahannya, semakin terasa sesak.
Ia ingin menjelaskan semuanya.
Ingin mengatakan bahwa ia tidak pernah berniat meninggalkan Dirga.
Tidak pernah sekalipun.
Tetapi ia tidak bisa, setelah ancaman yang diterimanya bertahun-tahun lalu, semua pengorbanan yang telah ia lakukan untuk melindungi pria itu.
Perlahan Serena merosot hingga terduduk di lantai.
"Mengapa aku begitu lemah dan bodoh...?"
Suara Serena terdengar pelan di tengah ruangan yang sunyi.
Ia menundukkan kepalanya semakin dalam.
Air mata yang sempat berhenti kembali mengalir membasahi pipinya.
Sebenarnya, ia ingin membela dirinya.
Ingin mengatakan bahwa semua tuduhan Dirga tidak sepenuhnya benar.
Ingin menjelaskan alasan mengapa ia menghilang tanpa memberikan penjelasan bertahun-tahun lalu.
Bahkan jika harus mengulang waktu, Serena tetap akan mengambil keputusan yang sama.
Karena saat itu, keselamatan Dirga jauh lebih penting daripada perasaannya sendiri.
Namun...
Setiap kali keberanian itu mulai muncul, ancaman yang diterimanya di masa lalu kembali menghantuinya.
Membuat seluruh kata-kata yang ingin ia ucapkan tertahan di tenggorokan.
Serena memejamkan matanya rapat-rapat.
Jika bukan karena rasa takut...
Jika bukan karena takut kehilangan kesempatan untuk melihat Dirga lagi...
Mungkin ia sudah mengatakan semuanya sejak lama.
Mungkin ia sudah menjelaskan seluruh kebenaran yang selama ini disembunyikannya.
Tetapi Serena tidak sanggup mengambil risiko itu.
Karena meskipun Dirga membencinya...
Meskipun pria itu terus menyakitinya dengan kata-kata yang tajam...
Jauh di dalam hatinya, Serena masih ingin melihatnya.
Masih ingin memastikan bahwa pria itu baik-baik saja.
Walau hanya dari kejauhan.
Walau tanpa pernah bisa memilikinya lagi.
_____________________________________________****
Dirga menatap laporan yang baru saja ia kembalikan.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan laporan itu.
Serena mengerjakannya dengan baik, bahkan lebih baik dari yang ia harapkan.
Namun, rasa sakit yang masih tersisa membuatnya mencari alasan untuk terus menyulitkan wanita itu.
Ia tidak peduli jika tindakannya terlihat tidak profesional.
Yang ada di kepalanya hanya satu, yaitu membuat Serena merasakan sedikit saja dari apa yang pernah ia rasakan.
*Kau bahkan tidak tahu seberapa sakitnya aku waktu itu...*
Dirga mengusap rambutnya dengan kasar sambil memejamkan mata.
*Dan yang lebih menyebalkan, sampai sekarang aku masih belum bisa melupakanmu.*
Ponsel Dirga tiba-tiba berdering, membuyarkan lamunannya.
Ia melirik layar ponselnya dan mendapati nama sang ibu tertera di sana.
Tanpa banyak berpikir, Dirga segera mengangkat panggilan itu.
"Ada apa, Ma?"
"Dirga, kapan kamu dan Lyora menikah? Mama sudah lama ingin punya cucu. Teman-teman mama sudah sibuk momong cucu mereka."
Dirga mengembuskan napas pelan sambil memijat pelipisnya. Setiap kali ibunya menelepon, topik pembicaraan mereka hampir selalu sama.
"Ma, bukannya dari awal sudah disepakati kalau aku dan Lyora menikah tahun depan?"
"Ya sudah. Tapi jangan sampai ditunda lagi."
Dirga mengernyit.
"Memangnya kapan aku pernah menunda pernikahanku dengan Lyora?"
"Siapa tahu saja," sahut wanita itu. "Kamu ketemu lagi sama mantanmu, terus tiba-tiba balikan."
Nada suaranya berubah tajam.
"Mama tidak suka kamu kembali dengan perempuan seperti dia. Dulu bahkan mama sampai ingin mengirimnya jauh supaya tidak mengganggu hidupmu lagi."
Dirga langsung mengernyit.
"Maksud Mama apa?"
Jantung wanita di seberang sana seakan berhenti sesaat. Ia baru menyadari bahwa dirinya hampir saja keceplosan.
Dengan cepat ia menenangkan diri dan berusaha menjaga nada suaranya tetap normal.
"Maksud Mama, dulu dia meninggalkanmu begitu saja, kan? Mama kecewa melihat kamu hancur waktu itu. Rasanya Mama ingin mengirim perempuan itu sejauh mungkin supaya dia tidak menyakitimu lagi."
Dirga terdiam beberapa saat.
Beruntung, alasan yang diberikan ibunya terdengar cukup masuk akal sehingga kecurigaannya tidak berkembang lebih jauh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
Bersambung.....
Hai para readers kesayangan Author, terimakasih sudah menjadi para pembaca yang setia dan selalu menemani hari² author💞🌹 Love You buat kalian semua yang selalu tinggalkan jejak sehat dan bahagia selalu ya🍃